Hujan perlahan mulai turun, mengguyur bumi dengan derasnya saat Rizkan baru saja mengeluarkan mobilnya dari area parkir restoran tempatnya bertemu dengan dosennya tadi. Ditambah lagi dengan petir yang menggelegar di langit, menambah ramai suasana malam minggu di jalan raya yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang terus membunyikan klakson karena kemacetan di jalan.
"Ini yang ngebuat aku males kalo keluar malem minggu, kejebak macet," celetuk Geulis yang diiringi dengan dengusan kesal di akhir kalimatnya.
"Masih mending terjebak macet daripada terjebak kenangan bersama mantan," balas Rizkan dengan senyum geli yang bertengger di bibirnya.
Geulis hanya mendengus lantas melayangkan pandangannya ke luar jendela, menatap mobil yang berhenti tepat di samping mobil Rizkan dengan jarak yang sangat tipis. Sejujurnya, ia malas sekali pulang bersama Rizkan malam ini. Namun, pria itu memaksa papanya agar menyuruh dirinya untuk mau pulang bersamanya. Dan papanya yang memang sudah ingin melihat Geulis mengubah status single-nya menjadi taken, dengan senang hati menuruti permintaan Rizkan. Menyebalkan.
"Gimana sensasinya?" tanya Rizkan setelah terjadi keheningan selama beberapa saat.
Geulis memutar tatapannya ke arah Rizkan, menatap pria itu yang juga sedang menatapnya dengan senyum sumringah. "Sensasi apa?" kerutan samar tampak menghiasi dahinya saat pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya.
"Sensasi kejebak macet sama orang ganteng," Rizkan menaik turunkan alisnya.
Geulis langsung mengeluarkan cibirannya. "Nggak ada sejarahnya orang ganteng bilang kalo dia itu ganteng. Itu bukan ganteng lagi namanya, tapi sok ganteng."
Rizkan tergelak. "Kamu kenapa sekarang jadi judes gini, sih? Dulu pas abis nyiram saya, kamu sampe nangis segala."
"Suka-suka saya. Bukan urusan kamu."
"Tuh kan, judes."
Geulis tak bisa menahan dirinya untuk tak memutar kedua bola matanya. Rizkan yang sekarang berbeda dengan Rizkan yang pertama kali ia temui. Pria itu sudah bukan lagi Rizkan yang galak, tetapi Rizkan yang banyak bicara. Dan itu sedikit membuatnya jengah. Sejujurnya, ia sadar bahwa kondisi mereka saat ini sudah berputar haluan. Apalagi sebabnya kalau bukan karena insiden cabai yang ada di giginya waktu itu.
"Nggak usah banyak omong, perhatiin aja jalanan di depan," ucap Geulis, menyampaikan secara tersirat kepada Rizkan bahwa ia sudah malas berbicara dengan pria itu.
"Saya maunya merhatiin kamu. Gimana dong?"
Geulis langsung melayangkan tatapan beringasnya kepada Rizkan yang membuat pria itu kembali tertawa. Pertama kali bertemu dengan Rizkan, ia pikir pria itu adalah tipe pria dingin berwajah datar mengingat betapa galaknya Rizkan saat itu. Namun, semakin ke sini, ia sadar bahwa pria itu tak berbeda jauh dengan pria yang sering ia temui. Tipe-tipe pria bermulut manis yang suka merayu perempuan sana-sini. Dan tentu saja pria seperti itu tidak masuk ke dalam kategori pria idamannya selama ini.
"Kamu belum menanggapi pengakuan saya tadi," ucap Rizkan dengan fokus yang mengarah pada jalanan di depannya.
Helaan napas berat keluar dari bibir Geulis saat telinganya kembali mendengar Rizkan berbicara. Sungguh, apakah pria itu tidak mengerti dengan kalimat yang ia sampaikan sebelumnya? Kenapa dia masih saja mengajaknya berbicara?
Geulis yang sudah malas meladeni Rizkan pun memilih untuk mengabaikan ucapan pria itu barusan lantas menatap jauh ke luar jendela, melihat hujan yang sudah sedikit mereda. Hanya tersisa rintikan saja.
"Maaf," Rizkan kembali berujar saat ia tahu bahwa Geulis mencoba untuk mengabaikannya.
Mendengar kata maaf keluar dari bibir Rizkan, Geulis mau tak mau memutar pandangannya ke arah pria itu. Dahinya kembali dihinggapi oleh kerutan dalam yang sarat akan rasa bingung.
"Maaf karena udah ngebuat kamu nggak nyaman. Seharusnya saya nggak minta kamu untuk pulang sama saya," Rizkan menambahi saat Geulis tak kunjung membuka suaranya.
Geulis diam seribu bahasa setelah mendengar Rizkan menyampaikan maaf kepadanya dengan nada suara yang terdengar getir di telinganya. Dan entah kenapa, ia langsung merasa bersalah dan tak enak hati. Sejak tadi, ia memang terus berprasangka buruk kepada Rizkan yang membuat dirinya bersikap tak acuh dan cenderung galak.
Sejujurnya, kalau diselisik lebih dalam, apa yang Rizkan lakukan kepadanya memang terdengar tulus. Apalagi pria itu sepertinya memang ingin sekali memperbaiki hubungan mereka. Dan ia sadar bahwa perkataan-perkataan Rizkan sebelumnya bermaksud untuk mencairkan suasana. Namun, entah kenapa ia malah bersikap seperti itu kepadanya. Entahlah, mungkin ia masih merasa malu dengan insiden cabai waktu itu setiap kali bertemu dengan Rizkan dan menutupi semua itu dengan bersikap garang.
Menghela napas panjang, Geulis pun akhirnya menerbitkan senyum di bibirnya. Kalau ia terus bersikap jutek kepada Rizkan, hubungan mereka tak akan pernah membaik. Dan sekarang, ia akan mencoba bersikap lebih baik lagi dengan Rizkan. Berteman dengan pria itu tidak salah bukan?
Geulis mengangkat jari kelingkingnya ke arah Rizkan sebelum berkata, "Maaf ya karena saya jutek banget sama kamu. Damai aja, deh. Biar sama-sama enak."
Sudut-sudut bibir Rizkan tertarik ke atas, ikut tersenyum seperti yang dilakukan oleh Geulis saat mendengar apa yang baru saja gadis itu katakan. Ia lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Geulis.
"Jadi, sekarang hubungan kita seperti apa?" tanya Rizkan setelah kaitan jari mereka terlepas.
"Uhm ... berteman?" kata Geulis yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.
Rizkan kembali tersenyum. "Oke. Dimulai dengan aku-kamu gimana? Terlalu baku kalau ngomong pake kata saya."
Geulis mengangguk cepat. "Setuju."
Dan setelahnya, keduanya memilih untuk diam. Senyum keduanya juga sudah hilang dari bibir mereka masing-masing, tetapi hati mereka masih terus tersenyum, merasa lega setelah akhirnya hubungan mereka menemui titik terang yang sekarang sudah mendapat julukan baru: teman.
Rizkan menyerahkan ponselnya kepada Geulis saat mobil yang dikendarainya akhirnya berhasil keluar dari kemacetan yang merayap di sepanjang jalan raya.
"Apa?" tanya Geulis yang tak mengerti apa maksud Rizkan menyerahkan benda persegi panjang tersebut kepadanya.
"Aku minta kontak kamu."
Jawaban Rizkan barusan membuat Geulis paham. Ia lantas mengambil ponsel pria itu dan mencatat nomor ponselnya di sana sebelum kembali menyerahkan benda tersebut kepada sang empunya.
"Aku belum berubah pikiran, lho," tutur Rizkan yang lagi-lagi membuat Geulis mengernyit bingung.
"Berubah pikiran?"
Rizkan mengangguk. "Aku masih tertarik sama kamu," jawabnya yang tak memandang Geulis sama sekali karena kedua matanya sedang fokus pada jalanan di depan.
"Wajar kalau kamu tertarik sama aku. Itu artinya kamu masih normal," balas Geulis bercanda, berusaha untuk menutupi rasa gugup yang membanjiri dirinya sejak Rizkan mengakui kalau pria itu tertarik dengannya.
Rizkan tertawa renyah. "Ya, aku memang masih normal. Dan mataku masih sehat karena aku tertarik sama perempuan cantik seperti kamu."
Geulis tak bisa menahan bibirnya untuk tak membentuk senyum. Senyum yang terlihat malu-malu karena ucapan Rizkan barusan. "Iya-iya, aku memang cantik, kok. Nggak perlu dibilang lagi," katanya kemudian, masih dengan maksud yang sama—menutupi rasa gugup yang semakin bertambah.
"Nggak ada sejarahnya orang cantik bilang kalo dia itu cantik. Itu bukan cantik lagi namanya, tapi sok cantik," ucap Rizkan dengan senyum gelinya, membalikkan kata-kata yang sempat terlontar dari bibir Geulis beberapa saat yang lalu.
Geulis menggembungkan pipinya dengan kesal, tetapi tetap tak bisa menghilangkan perasaan bahagia yang secara perlahan memenuhi relung hatinya. Untuk pertama kalinya setelah bertemu dengan Rizkan, ia merasa sebahagia ini.
"Nggak mau turun kamu?"
Geulis menoleh ke arah Rizkan lantas menatap sekelilingnya, dan ia baru sadar kalau mereka sudah sampai di depan rumahnya.
"Makasih ya udah nganterin aku," ucap Geulis dengan senyum tipisnya seraya membuka sabuk pengaman sebelum membuka pintu mobil dan bergegas keluar dari sana.
Namun, baru saja tangannya menyentuh pintu mobil, Rizkan sudah lebih dulu menahannya dengan memegang lengannya. Hal itu sontak membuat Geulis segera menoleh ke arah pria itu dengan gamam.
"Di luar masih hujan," ujar Rizkan.
"Terus?"
Rizkan menarik tangannya dari lengan Geulis sebelum mengambil payung yang biasanya selalu ia bawa ke mana-mana. Ia lalu menyerahkan benda tersebut kepada Geulis.
"Kamu masuk pake payung ini biar nggak kehujanan. Maaf, aku nggak bisa nganter kamu sampe dalem. Aku mau nganter kamu sampe dalem kalau status kita udah berubah jadi sepasang kekasih," ucap Rizkan dengan senyum lebarnya.
Geulis yakin wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat ini. Merah. Astaga! Kenapa Rizkan bisa mengatakan hal itu secara terang-terangan kepadanya.
"Sana, masuk. Nanti dikira Papa kamu aku ngapa-ngapain kamu lagi," suruh Rizkan sembari mengacak rambut Geulis yang lagi-lagi membuat wajah gadis itu semakin memerah.
Geulis berdehem pelan, berusaha untuk mengubah raut wajahnya agar kembali terlihat normal. "Aku masuk dulu," pamitnya yang lantas segera keluar dari mobil Rizkan.
Sepeninggal Geulis, Rizkan langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Ia lalu memegang jantungnya yang entah sejak kapan sudah menggila di dalam sana. Menggelengkan kepalanya, Rizkan memilih untuk tak memikirkan soal itu lebih lanjut. Ia yakin itu hanya perasaan senang karena bisa berteman dengan orang baru. Ya, hanya rasa senang yang tak berarti apa pun.