Di hari minggu sebelumnya, Rizkan pasti akan bangun saat matahari sudah berada di puncak. Namun, tidak dengan hari minggu kali ini. Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi, tetapi ia sudah rapi dengan setelan sederhana yang melekat di tubuhnya. Ditambah lagi dengan beberapa semprotan parfum yang menandakan bahwa dirinya akan keluar pagi ini.
"Tumben rapi banget lo, bang. Biasanya jam segini masih meluk guling," celetuk Dara saat ia melihat Rizkan yang memasuki dapur dengan setelan yang tak biasa jika dilihat di hari minggu pagi seperti ini.
"Mau cari angin," jawab Rizkan sambil lalu sebelum mengambil duduk di meja makan dan memakan sarapan yang tersedia di sana.
Dara hanya mengedikkan kedua bahunya dan memilih untuk kembali makan sembari memainkan ponsel yang sejak tadi tak lepas dari genggamannya.
Getaran yang berasal dari ponsel Rizkan membuat pria itu segera mengambil benda tersebut dari saku celananya lantas menghentikan sejenak sarapannya.
Bukan cabe-cabean: Aku udah siap. Jadi nggak nih?
Senyum tampak terbit di bibir Rizkan saat ia membaca satu pesan yang dikirim Geulis yang ia namai bukan cabe-cabean di ponselnya. Ia lantas membalas dengan mengatakan bahwa mereka jadi pergi hari ini sebelum kembali melanjutkan sarapannya yang masih tersisa setengah piring lagi.
Ya, setelah pertemuan mereka tadi malam yang lagi-lagi terjadi tanpa disengaja dan berakhir pada hubungan keduanya yang benar-benar telah membaik karena saat ini mereka telah berteman, Rizkan memutuskan untuk mengajak Geulis keluar hari ini.
Jangan salah sangka terlebih dahulu, ajakan jalan hari ini bukan bagian dari sebuah kencan. Ia hanya ingin bersenang-senang saja setelah dua tahun ini dirinya selalu diliputi oleh kesedihan yang tak kunjung hilang. Ia hanya ingin mencari kesenangan bersama orang baru, bersama Geulis, orang yang sejak pertemuan kedua mereka membuat dirinya seperti melihat sesuatu yang baru. Sesuatu yang tak ia mengerti.
"Udah berapa kali Bunda bilang kalo lagi makan itu jangan mainin HP dulu," tegur Meli saat melihat Dara yang fokusnya terbagi antara makanan yang ada di hadapannya dan ponselnya.
"Tampol aja, Bun. Nanti jadi kebiasaan," ucap Rizkan sembari meletakkan piringnya di bak cuci piring.
Dara menunjukkan raut sebalnya kepada Rizkan yang hanya dibalas pria itu dengan wajah songongnya. "Iya, Bun. Enggak lagi," katanya kemudian seraya meletakkan ponselnya di atas meja dan fokus pada sarapannya saja.
"Itu Dara HP mulu pasti udah punya pacar dia, Bun," Rizkan kembali berucap yang lagi-lagi membuat adiknya kesal.
Meli hanya mendesah pelan lantas menggeleng-gelengkan kepalanya saja sambil menyusun meja makan setelah kedua anaknya menyelesaikan sarapan mereka.
"Pergi dulu ya, Bun," pamit Rizkan kepada Meli.
"Mau ke mana kamu? Tumben banget jam segini udah keluar."
"Ada janji sama temen, Bun."
Meli hanya menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya mulutnya sudah gatal ingin meledek anak sulungnya itu. Meledek kalau pria itu pasti akan pergi berkencan, tetapi ia menahan diri agar kata itu tak keluar dari mulutnya.
Sejak Rizkan putus dari Laura dua tahun yang lalu dengan alasan bahwa Laura suka bermain dengan pria lain, pantang bagi mereka semua untuk meledek atau membicarakan soal perempuan kepada Rizkan. Itulah sebabnya mereka semua tak mau memaksa pria itu untuk menikah walaupun umurnya saat ini sudah menginjak angka tiga puluh satu. Karena mereka tahu kalau Rizkan masih belum sepenuhnya bangkit dari masa lalu.
Setelah mencium punggung tangan bundanya dan mengacak rambut Dara, Rizkan segera bergegas pergi menuju rumah Geulis.
Jalanan yang sedikit lengang membuat Rizkan sampai di rumah Geulis hanya dalam belasan menit saja. Ia kemudian memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, tepat di depan rumah Geulis. Langkah kakinya segera membawa dirinya masuk ke dalam pekarangan rumah gadis itu.
Beberapa minggu yang lalu, ia pernah menginjakkan kakinya di rumah ini untuk mengambil bunga milik adiknya, tetapi kali ini tujuannya sudah berbeda. Ia datang ke sini untuk menjemput Geulis dan mengajak gadis itu menghabiskan akhir pekan bersamanya.
Menghabiskan akhir pekan bersamanya. Entah kenapa kalimat tersebut membuat dirinya merasa senang sampai tak kuasa menahan senyum yang hinggap di bibirnya. Dan senyumnya semakin merekah lebar saat matanya melihat Geulis yang sedang duduk di beranda rumah dengan pakaian yang terlihat rapi, tetapi tetap tampak sederhana, dan tentu saja menawan.
Sepertinya Rizkan memang baru sadar kalau Geulis sangatlah cantik. Kulitnya yang cerah dengan bentuk badan yang hampir mendekati kata sempurna serta rambut lurus sebahu, membuat gadis itu layak diberi nilai delapan puluh sembilan dari seratus. Seperti itulah penilaiannya kepada Geulis dari segi penampilan. Dan nilainya akan naik menjadi seratus kalau gadis itu bersedia menjadi istrinya. Astaga! Sepertinya otaknya mulai tidak waras.
"Lama banget kamu. Bedakku sampe luntur," ucap Geulis dengan dengusan lelah di akhir kalimatnya.
Rizkan meringis pelan sambil mengusap tengkuknya. "Maaf."
Geulis hanya menganggukkan kepalanya sebelum mengunci pintu rumahnya.
"Papa kamu mana?" tanya Rizkan saat Geulis mengajaknya untuk langsung berangkat saja.
"Seminar."
"Kamu marah, ya?" Rizkan kembali bertanya.
Langkah kaki Geulis terhenti seketika yang membuat Rizkan juga ikut berhenti. Ia kemudian memutar pandangannya ke arah pria itu. "Marah?"
"Iya. Kamu nggak banyak omong. Jawab pertanyaanku juga singkat banget."
Putaran bola mata pun tak kuasa Geulis tahan. "Sejak kemarin, yang banyak omong itu kan kamu."
Rizkan kembali meringis, merasa malu. "Maaf."
Menghela napas panjang, Geulis kembali melanjutkan langkahnya lantas mengajak Rizkan untuk segera pergi.
Sepanjang perjalanan, keduanya memilih untuk diam. Hanya musik dari radiolah yang menemani mereka karena keduanya enggan untuk membuka suara. Lebih memilih untuk bergabung bersama pikiran yang menaungi kepala mereka masing-masing.
Sejujurnya, Rizkan mau-mau saja membuka percakapan bersama Geulis, mengganti kesunyian dengan keramaian. Namun, perkataan Geulis yang mengatakan kalau ia banyak omong, membuat dirinya mengunci rapat mulutnya. Dan ia memang baru sadar bahwa ia terlalu banyak omong, omongan yang tak berarti apa pun. Seperti yang tadi malam ia lakukan.
Ya Tuhan! Rasanya malu sekali. Pasti Geulis menganggap dirinya suka merayu perempuan. Sungguh, ia tidak seperti itu. Hanya dengan Geulis sajalah kalimat-kalimat yang bisa diartikan sebagai rayuan, keluar dari mulutnya. Bahkan, saat ia mendekati mantan-mantannya dulu, ia tidak suka melakukan hal itu. Sial. Ini pasti efek karena belakangan ini ia suka bergaul dengan Rizki.
"Kita mau ke mana, sih?" Geulis membuka suaranya setelah sekian lama Rizkan tak kunjung mencari tempat perhentian.
"Jalan-jalan."
"Iya, ke mana?"
"Jalan-jalan, Geulis. Kita nggak mampir ke mana-mana. Kan aku bilang cuma jalan-jalan. Bukan jalan sambil mampir."
Mata Geulis sontak membesar setelah mendengar jawaban Rizkan barusan. "Jadi, satu harian ini kita bakal di mobil terus gitu?"
Rizkan menganggukkan kepalanya lantas menoleh sekilas ke arah Geulis untuk menunjukkan cengiran lebarnya. Ia lantas berkata, "mampir untuk makan siang doang. Selebihnya, kita keliling-keliling kota Jakarta."
Geulis menatap Rizkan dengan aneh sebelum menghela napas kasar dan bersandar pada sandaran kursi dengan arah pandang yang melayang jauh ke luar jendela.
Sungguh, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Rizkan. Jujur saja, ia begitu senang saat pria itu mengajaknya pergi pagi ini. Entahlah, sejak kejadian tadi malam, saat Rizkan menyampaikan secara tidak langsung kepadanya bahwa pria itu ingin menjadi kekasihnya, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Rasa bahagia perlahan mulai memenuhi dirinya entah untuk alasan apa. Namun, saat ini rasa bahagia yang melingkupinya sejak tadi malam sudah hilang tak bersisa.
Ternyata apa yang sudah ia bayangkan untuk hari ini tidak terjadi. Ia pikir Rizkan akan mengajaknya berkencan atau paling tidak membawanya ke suatu tempat. Namun, pria itu malah mengajaknya berkeliling kota Jakarta yang sialnya tidak akan mampir ke mana pun. Dan itu membuatnya sadar kalau ia tak boleh mengharapkan sesuatu secara berlebihan. Lihat sendiri apa hasilnya. Mengecewakan. Dan ia juga tak tahu kenapa ia sangat ingin berkencan dengan pria itu. Semoga saja itu hanya perasaan sesaat.