10 :: Berusaha Bangkit

1623 Kata
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Rizkan keluar dari rumahnya dengan membawa korek api. Ia kemudian meletakkan benda tersebut di atas teras lantas merogoh saku celana training-nya untuk mengambil beberapa foto yang ia simpan sejak beberapa tahun yang lalu—foto Laura yang merupakan mantan kekasihnya. Ia sadar bahwa selama dua tahun ini ia selalu hidup bersama kenangan di masa lalu. Tak pernah mencoba untuk bangkit karena ia tahu hal itu akan sia-sia. Ia hanya pasrah dan yakin bahwa suatu saat nanti dirinya pasti akan bangkit secara perlahan. Namun, setelah dua tahun berakhir, ia sadar bahwa dirinya masih tertahan bersama bayang-bayang masa lalu. Dan sekarang, ia sadar bahwa dirinya tak bisa bangkit dengan sendirinya dari luka lama yang menancap di hatinya kalau tidak dibarengi dengan usaha. Selama ini, ia hanya pasrah yang berakhir pada dirinya yang tak pernah bangkit dari keterpurukan. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk bangun dari kelamnya masa lalu. Ia akan berusaha. Mencoba untuk melupakan tidak salah, bukan? Rizkan melempar beberapa foto Laura di atas tanah. Ia lalu mengambil satu foto tersebut secara acak, melihat sebentar sebelum akhirnya menyalakan korek api dan membakar foto tersebut lantas melemparkannya ke dalam foto yang berserak di sana, membuat api segera menyambar semua foto Laura yang ia simpan selama ini. Senyum tampak menghiasi bibirnya saat matanya melihat semua foto itu sudah hampir menjadi abu. Selama ini, ia sadar bahwa sulit baginya untuk melupakan Laura yang sudah tujuh tahun bertempat tinggal di hatinya. Sulit menggeser posisi wanita itu di sana. Namun, sudah saatnya ia mengganti Laura dengan perempuan lain yang mampu menyembuhkan lukanya. Terkadang, untuk menyembuhkan luka yang disebabkan oleh cinta, kita harus mencari cinta yang baru. Karena luka yang dibuat oleh cinta hanya bisa disembuhkan dengan cinta. Itulah yang belakangan ini menaungi benak Rizkan. Ia ingin sembuh. "Yakin gue, si Laura pasti lagi kepanasan gara-gara fotonya lo bakar," celetuk Rizki yang entah sejak kapan sudah berada di samping Rizkan. Pria itu dengan santainya menghidupkan rokok yang ia bawa dengan api yang sedang membakar foto-foto Laura. "Rokok rasa mantan," Rizki kembali berucap seraya menghisap tembakau tersebut dan mengembuskannya secara perlahan. "Mau nyoba lo?" tawarnya kepada Rizkan sambil menyodorkan rokok tersebut kepada kembarannya. Rizkan hanya berdecak sebelum melangkah mundur, memilih untuk duduk di undakan tangga yang ada di beranda rumahnya dengan mata yang tak lepas menyorot foto-foto Laura yang sedang dilahap api. Begitupula dengan Rizki yang ikut duduk di samping Rizkan sambil menghisap rokoknya. "Lo capek?" tanya Rizki seraya membuang puntung rokoknya di atas foto Laura yang sekarang sudah berubah menjadi abu. Rizkan menoleh ke arah Rizki dengan sebelah alis yang terangkat ke atas. "Apa?" "Lo capek karena belum bisa move on?" Rizkan menghela napas panjang. Kembali memutar arah pandangnya ke depan, menatap abu dari foto-foto Laura yang telah habis dimakan api. Berbicara lelah atau tidak, jujur saja, ia lelah sekali harus terus bertahan bersama masa lalu yang membuatnya harus kembali mengingat satu per satu luka yang ditancapkan Laura di hatinya. Terasa nyeri setiap kali ingatan itu datang. Bahkan, tanpa sadar luka tersebut menciptakan rasa trauma dalam dirinya. Trauma untuk kembali mencintai seseorang. Rizki naik satu tangga lantas berbaring di atas lantai teras rumahnya yang terasa dingin sampai menembus ke tulangnya saat Rizkan tak kunjung membuka mulutnya. "Gue tahu move on itu nggak gampang karena gue pernah ngerasain itu. Tapi masalahnya sekarang, lo mau bener-bener move on atau enggak? Percuma lo bakar foto Laura kalo di hati lo masih ada dia," ucap Rizki dengan matanya yang memandang langit yang saat ini dipenuhi bintang. Rizkan tak menyahuti, bingung harus berkata apa. Yang dikatakan Rizki memang benar, tak ada gunanya ia membakar semua kenangan tentang Laura kalau di hatinya masih ada wanita itu. Namun, ia melakukan itu sebagai bentuk bahwa ia ingin memulai awal yang baru dengan melupakan kenangan lama. Dan ia memulainya dengan menghapus semua kenangan tersebut. "Ada dua tipe orang yang harus move on. Yang pertama: orang yang udah disakiti. Mereka harus bangkit, jangan mau kalah sama rasa sakit yang udah dia terima. Yang kedua: orang yang udah nggak bisa ngeraih apa yang dia mau. Yang kedua ini, tergantung diri masing-masing. Kalo gue, sih, masih pengen berjuang. Tapi kalo bener-bener udah nggak bisa, nggak ada salahnya buat move on." Rizkan menerbitkan senyum tipis di bibirnya sebelum menoleh ke arah Rizki. "Kenapa malah elo yang curhat." Rizki hanya menunjukkan cengiran lebarnya lantas bangkit dari tidurnya. "Ada satu lagi, lupa gue. Yang ketiga: berkumpul lah dengan orang saleh. Itu kata Opick di lagu Tombo Ati. Nah! Itu artinya lo harus banyak-banyak bergaul sama gue." "Sialan!" Rizkan mengumpat yang disertai dengan kekehan yang keluar dari bibirnya. "Tidur dulu lah gue," pamit Rizki. "Yakin lo mau tidur?" "Enggak, sih. Biasalah, noton bokep dulu. Baru download bokep Jepang gue. Nanti gue kirimin ke lo biar tidur lo nyenyak." "Gila!" Rizki terbahak sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Rizkan. Dan Rizkan, pria itu menatap langit yang malam ini tampak begitu cerah. Senyumnya perlahan melebar, seperti halnya bulan sabit yang malam ini menghiasi angkasa. Benar apa yang dikatakan Rizki, ia harus bangkit untuk melawan rasa sakit. Dan ia tahu dengan siapa ia harus memulai semuanya. Siapa lagi kalau bukan dengan Geulis, gadis yang telah menjalin pertemanan dengannya selama kurang lebih satu bulan ini. Ya, ia akan mencobanya.   ••••   Geulis tak bisa menahan dirinya untuk tak tersenyum saat menerima satu pesan dari Rizkan yang katanya akan menjemputnya setelah jaga sorenya selesai. Hubungannya dengan Rizkan belakangan ini membuatnya lupa dengan prinsip awalnya—tidak akan jatuh cinta dengan pria mana pun karena cintanya hanya untuk papanya seorang. Sekarang, ia seperti sedang menjilat ludahnya sendiri. Ia tak tahu apakah yang ia rasakan saat ini benar-benar cinta atau hanya rasa senang biasa karena baru kali ini ia mau menjalin hubungan sampai sejauh ini dengan seorang pria. Ia perempuan normal yang sering tertarik dengan berbagai macam pria yang dekat dengannya. Tetapi ia tak pernah mau menjalin hubungan dengan pria-pria itu. Ia lebih memilih menghindar saja. Berbeda dengan Rizkan. Entah apa yang salah dengan dirinya karena ia terus menjalin hubungan dengan pria itu dalam jangka waktu yang cukup lama-hampir satu bulan sejak mereka benar-benar berdamai. Dan selama itu pula ia mulai merasakan suasana baru yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Perasaan aneh yang sialnya membuatnya nyaman dan bahagia. Suara ponselnya yang berdering membuat lamunan Geulis buyar. Ia kemudian mengambil ponselnya lantas membuka satu pesan yang berasal dari Rizkan.   R: Aku udah di depan rumah sakit.   Lagi-lagi, Geulis tak bisa menahan senyum yang ingin menaungi bibirnya setelah membaca pesan dari Rizkan yang hanya ia namai dengan huruf R saja di ponselnya. Dekat dengan Rizkan hampir satu bulan lamanya membuat ia mulai mengenal pria itu dengan baik. Sejujurnya, Rizkan tak pernah menjemputnya seperti ini. Ini pertama kalinya. Selama ini, mereka lebih sering berkomunikasi lewat ponsel. Dan mereka hanya bertemu setiap hari minggu saja. Jalan-jalan seperti biasanya. Namun, kali ini Rizkan sudah mengajaknya mampir ke suatu tempat sehingga bokongnya tak panas karena terlalu lama duduk. Tanpa menunggu waktu lagi, Geulis segera bergegas untuk pulang karena jam jaganya juga sudah selesai. "Hai," sapa Rizkan yang saat itu tengah bersandar di badan mobil ketika Geulis menghampirinya. "Hai. Tumben jemput?" "Pengen aja," jawab Rizkan dengan senyum tipisnya sebelum membuka pintu mobilnya untuk Geulis dan menyuruh gadis itu untuk segera masuk. "Kamu udah makan belum?" tanya Rizkan yang baru mengambil duduk di balik kemudi. "Makan roti doang tadi." "Kenapa nggak makan nasi?" "Tadi bantu pasien melahirkan. Nggak sempet." "Kita mampir ke restoran dulu, ya. Makan," ajak Rizkan. "Nggak usah. Aku makan roti sampe tiga bungkus tadi. Udah kenyang." "Yang ngajak kamu makan siapa? Aku ngajak kamu ke restoran cuma untuk nemenin aku makan aja. Lagian, kamu makannya banyak. Tanggal tua, nih. Bisa nangis darah dompetku nanti." Geulis mencebik kesal sebelum memukul lengan Rizkan dengan sedikit kuat yang langsung membuat pria itu tergelak. Namun, sesampainya di restoran, Rizkan tetap mengajak Geulis untuk makan. Ia bahkan memesan banyak sekali makanan. Apa yang dikatakan pria itu tadi hanya bercanda. Tidak mungkin ia mengajak Geulis ke sini hanya untuk menemaninya makan saja. Potong saja k*********a kalau sampai itu terjadi. Biarkan burung miliknya bebas mengudara dan digantikan dengan sangkarnya saja. "Ayo, buka mulut kamu," perintah Rizkan yang sudah menyodorkan sendok yang penuh di depan mulut Geulis. "Nggak mau, Rizkan. Aku udah kenyang," tolak Geulis dengan satu telapak tangannya yang menutupi mulutnya. "Makan atau aku teriaki maling kamu biar dibawa ke kantor polisi. Kalo kamu masuk penjara, kamu cuma makan tempe, tahu, sama sayur kangkung hambar doang. Ini aku kasih ayam lho kamu. Pilih mana, hm?" Geulis berdecak kesal. Bukan kesal karena Rizkan begitu pemaksa, tetapi karena cara pria itu membujuk dirinya yang seperti sedang membujuk anak umur lima tahun yang bisa ditakut-takuti seperti itu. "Ayamnya aja, nggak usah pake nasi," ucap Geulis pada akhirnya, menerima suapan yang diberikan Rizkan setelah pria itu menyisihkan nasi dari sendok tersebut. "Kamu itu harus banyak-banyak makan," kata Rizkan sambil kembali menyuapi Geulis yang kali ini langsung diterima oleh gadis itu tanpa protes. "Males. Nanti aku gendut." "Baguslah. Jadi, nanti kalo kita nikah, aku nggak perlu beli kasur lagi." Seharusnya yang dilakukan Geulis setelah mendengar omongan Rizkan barusan adalah memaki-maki pria itu karena dengan seenaknya menyamai dirinya dengan kasur. Namun, setelah mendengar kata "kita menikah nanti" membuat dirinya membeku. "Nikah?" tanya Geulis sambil menatap Rizkan dengan alis yang bertaut. Rizkan tersenyum kecil sembari mengusap sudut bibir Geulis yang terkena sambal. "Kamu mau nikah samaku?" "Hah?!" Rizkan menarik hidung Geulis lantas mengeluarkan tawanya dengan kencang yang berhasil menarik perhatian pengunjung lainnya. "Muka kamu gitu banget. Aku cuma bercanda," ucapnya kemudian sebelum kembali melanjutkan makannya. Geulis hanya tersenyum masam. Entah kenapa, ia merasa marah karena Rizkan mengutarakan ajakan itu hanya sebagai lelucon saja yang pada akhirnya membuat dirinya kecewa. Entahlah, ia juga tidak tahu kenapa dirinya begitu mengharapkan Rizkan. Apa ia memang sudah jatuh cinta dengan pria itu? Secepat itukah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN