Bab3

1222 Kata
"Assalamualaikum wr wb" "Waalaikumsalam wr wb" Lagi-lagi suara bariton itu yang menjawab. Dengan cepat dan semangat aku merapikan pakaian dan hijabku, serta dengan cepat pula aku menata jantungku yang entah kenapa ikut bergemuruh layaknya suara air terjun, haha.. 'MasyaALLAH' batinku begitu pintu terbuka dan terlihat sosok yang nyaris sempurna dengan balutan baju kokoh berwarna biru laut dipadu dengan celana kain berwarna hitam. "Mau cari siapa mbak?" Tambahnya. "Tante Ratih atau Auliya mas eh pak" "Oo.. mari masuk" Lanjutnya sambil membuka pintu lebih lebar. "Silahkan duduk, saya panggilkan dulu" Tambahnya. 'MasyaALLAH punggungnya aja bidang datar enak banget untuk dilihat apalagi melihatnya dari depan. Seandainya saja..' "Halooo Kak Alfiii... " Panggil Auliya sebelum pikiranku selesai berimajinasi, haha.. "Kak Alfi lihatin siapa hayoooo???" "G lihat siapa-siapa Aul" Bantahku sambil mengalihkan pandangan dan mengeluarkan buku dan alat tulis dari dalam tasku. "Hayoooo ngakuuuu lihatin siapa?? Om Yusuf yahh?" Goda Auliyah sambil mengedipkan matanya kearahku. Oh namanya Yusuf, kemajuan bisa tahu namanya, hehe. "Om Yusuf itu gitu mbak dingin dan pendiam banget, tapi anehnya temen-temennya Umi pada minta dikenalin, katanya mau dijodohkan sama anak mereka, atau sama saudara mereka pokoknya banyak teman Umi yang pengen jadiin Om Yusuf menantunya." Tambah Auliya. Ya Tuhan ternyata sainganku banyak, haha.. seandainya kamu tahu Aul, meskipun dingin dan pendiam tapi auranya dalem banget sampai pengen menyebutnya disepertiga malamku. "Tuh kan bener sepertinya ngelamunin Om Yusuf" Tambah Auliya menyadarkan lamunanku. "Haha ngawur.. sudah ayok Aul, kita belajar sekarang" Baru saja nawaitu belajar menuntut ilmu tapi ada godaan syaitan ampuh yang membuat konsentrasiku terpecah. "Mari diminum Mbak" Sosok idaman itu membawakan dua gelas es jeruk yang terlihat sangat segar, ditambah yang membawakannya juga terlihat sangat menyegarkan. "Eheemm... Tumben nih Om, tanggap kalau ada tamu, biasanya cukup minum air mineral yang ada di meja aja" "Umi kamu yang ngasih pesan tadi, biar lebih semangat belajar katanya" Jawabnya dengan lembut sambil mencubit pipi perempuan di depanku. Aduh... kenapa aku yang jadi baper lihatnya. "Eitss... g boleh, nanti ada yang kepengen" Ucap Auliya sambil melepaskan tangan besar di pipinya. "Maaf mbak" Ucap singkat laki-laki itu sambil pergi meninggalkan kami berdua. Dengan cepat aku mengambil gelas yang berisi es jeruk tersebut dan meneguknya begitu pipiku tiba-tiba terasa panas entah kenapa. "Eciyee... Kak Alfi haus yah?" "Hehe.. iya maaf yah Aul, aku minum duluan" "Atau jangan-jangan karena Om Yusuf yang buatin hayoo?" "Haus Aulll" "Yang bener?" "Haus Aul, beneran ini." "Masa sihh?" "Sudah-sudah,, kita lanjutin lagi sekarang" "Haha.. siap kakakk" Kamipun mulai serius mendalami angka-angka di dalam buku, membolak balikkan lembar demi lembar, mencoret-coret beberapa soal sampai tidak terasa suara adzan isya terdengar. Dan tak berselang lama setelah adzan selesai dikumandangkan, sosok laki-laki itu keluar dari dalam rumah dengan menggenakan baju koko putih dipadu dengan sarung warna hitam, peci hitam dan sajadah yang tersampir di pundaknya. Perpaduan yang sangat sempurna, seneng banget lihat laki-laki memakai kokoh, peci dan sarung, terasa adem banget. Rasanya cepat-cepat ingin ku tekan tombol slow sehingga tercipta adegan slowmotion ketika beliau lewat didepanku dengan menundukkan pandangannya. "Ehem" Suara Auliya membuyarkan lamunanku. Lagi-lagi tertangkap basah lagi deh sama Auliya."Terkesima ya?" Tambahnya. "Hehe" Jawabku hanya tersenyum karena sudah tertangkap basah dan tidak bisa mengelak lagi. "Om Yusuf masih single kok kak, dia g pernah pacaran. Kata Umi Om Yusuf maunya langsung nikah aja" Bocoran info yang sangat berguna dan dinantikan semua umat, haha. "Sejak pulang dari pesantren setiap shalat Om Yusuf selalu jamaah di Masjid Ar-Rahman kak, kadang habis subuh g pulang, Om Yusuf langsung lanjut dhuha di masjid" Jelas Auliya yang sangat menguntungkan dan menjawab beberapa rasa penasaranku, terutama rasa penasaran ketika pagi beberapa hari yang lalu beliau terlihat di masjid saat aku dan Ami sarapan di warung Buk Jah. Senang rasanya dapat beberapa bocoran yang belum tentu didapat emak2 yang mengincar Pak Yusuf jadi mantunya. haha. Tidak terasa setelah satu setengah jam berlalu, tandanya waktu belajar bersama telah selesai. Entah rasa senang, lega, atau kecewa karena waktu sudah berlalu tapi belum terlihat sosok calon imamku kembali dari masjid, tapi senang juga karena waktu tidak berhenti di sini, besok masih ada waktu lagi untuk bertemu dan melihatnya, sosok calon imamku. "Sudah ya Aul, besok dilanjutin lagi. Aku pamit dulu ya" "Okeh kakak,, makasih yah" "Siip,, aku pamit dulu yah Aul. Salam ke Tante Ratih, Assalamualaikum wr wb". Pamitku dan menitipkan salam ke Tante Ratih karena Tante Ratih belum pulang dari acara kondangan bersama suaminya. "Waalaikumsalam wr wb". # # # "Assalamualaikum wr wb" Ucapku begitu masuk kedalam kos. "Waalaikumsalam wr wb" "Amiiiii" "Apaan sih,, datang-datang langsung heboh" "Tau ga aku tadi ketemu siapa?" "Auliyah" "Trus?" "Tante Ratih" "Bukan,, Tante Ratih tadi tidak ada di rumah" "Trus?? Tunggu-tunggu.. jangan bilang kamu ketemu adiknya Tante Ratih yang.. apa awesome, good looking, aura Ikhwan banget yang kapan hari kita ngelihatnya dari jauh pas di masjid" "Yupz" "MasyaALLAH rejeki banget ente, trus trus sempet ngobrol ga?" "Ya gaklah, orang diem banget gt kok orangnya" "Wah g asyik,, ada kesempatan tapi kenapa g km manfaatkan" "Eh tapi beliau sempat buatin minuman es jeruk loh" "Yah wajar kan menghormati tamu" "Tapi sudah ada air mineral Beb di meja ruang tamu itu" "Seriusan?" "Iya" "Berarti ada kesempatan dong" " Tapi bilangnya sih karena sudah dipesenin Tante Ratih gitu biar semangat belajarnya, haha" "Hahaha.. itu mah amanah beb,, kirain aja lampu hijau" "Lampu hijau gundulmu, ketemu aja baru pertama, eh kedua kali ini" "Kan bisa aja beb, jatuh cinta pada pandangan pertama, hahaha" "Haha ngaco" "Kan kita harus husnudzon biar diijabi sama Allah beb" "Aamiin deh, aamiin" Jawabku sekenanya sebelum bertambah panjang percakapan yang tidak masuk akal ini, dan semakin berharap terlalu jauh, berharap pada sesuatu yang tidak pasti, berharap pada sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Setelah selesai menunaikan ritual sebelum tidur, akhirnya aku bisa dengan tenang memarkirkan punggungku di atas kasur. Meskipun tidak seempuk di rumah tapi tetap terasa nyaman, dimana ditemani oleh sahabatku yang entah sejak kapan sudah seperti keluarga bagiku. "Miii" Panggilku pada sosok yang berada di sampingku dengan tidur membelakangiku. Diam, hening tanpa ada jawaban. Sepertinya dia sudah terlelap dan berenang mengarungi lautan mimpi. Dengan cepat kucoba menutup mata dan berusaha untuk menyusul Ami mengarungi kedalam lautan mimpi. Mimpi dimana terlihat sosok laki-laki berdiri membelakangiku dengan punggungnya yang bidang dan lebar, punggung yang sepertinya pernah aku lihat sebelumnya, punggung yang sangat ingin kuraih. Dengan langkah yang berat aku berusaha mendekatinya, melangkah demi langkah, mencoba untuk berlari tapi terasa berat. Perjuanganku tidak sia-sia, akhirnya satu langkah lagi aku bisa meraih punggung itu, dengan pelan dan hati-hati kusentuh punggung itu dan mencari tahu siapa sosok pemiliknya. Dengan lembut aku menarik punggung itu dan mencoba untuk membalikkannya menghadapku, dan ternyata dia adalah.. KRING... KRING... KRING... Alarm di HPku membuyarkan siluet dalam mimpiku. Dengan cepat aku meraih HP dan mematikan alarmnya sebelum Ami marah2 karena berisik. Kulihat layar Hp, terlihat jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Selain itu ada notif pemberitahuan pesan w******p yang terlihat dari Auliya. Dengan cepat aku membukanya dan bertanya-tanya kenapa dia mengirim pesan malam-malam, apa ada soal yang tertinggal. - Kak,, Om Yusuf nanyain Kakak ? - Deg,, Isi pesan yang seketika membuat jantungku berhenti berdetak. Dengan cepat aku mengetik ingin tahu apa yang ditanyakan Om Yusuf, tapi setelah dipikir-pikir masih terlalu pagi untuk mengirimkan pesan, akhirnya kuhapus dan mengurungkan niat untuk bertanya. Sebelum tangan mulai membuka-buka Hp lagi, dengan segera aku mengambil wudhu, menggelar sajadah, bersujud dan bersimpuh di sepertiga malam. Bolehkah aku menyebutnya disepertiga malamku? # # #
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN