"Assalamualaikum wr wb"
"Waalaikumsalam wr wb" Jawab suara bariton dari dalam rumah. Suara yang sangat merdu dan enak sekali untuk didengarkan. "Ada yang bisa dibantu?" Tambahnya sambil membuka pintu rumah. MasyaALLAH ganteng banget, aura dan suaranya seperti menyatu dan membuat orang seketika membatu.
"Ada yang bisa dibantu mbak?" Ulangnya yang begitu menyadarkanku dari lamunan.
"Oiyah mas, eh pak.. mau ketemu sama Ibu Ratih"
"Oh.. Mbak Ratih masih keluar, apa mbak sudah buat janji sebelumnya?"
"Sudah mas, eh pak" Jawabku asal karena masih terkesima dengan sosok yang berada di hadapanku saat ini.
"Ya sudah mbak ditunggu di dalam dulu, mungkin sebentar lagi juga pulang Mbak Ratihnya" Ucapnya sambil membuka lebar pintu yang ada di belakangnya. "Silahkan duduk dan dibuat nyaman dulu mbak sambil menunggu"
"Iya Pak"
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya"
"Iya Pak"
Sungguh mataku hari ini benar-benar dimanjakan dengan duniawi, hehe.. Sosok tinggi dengan d**a bidang, kulit putih dengan bingkai kaca mata yang menghiasi netranya, mulut manis tipis dengan beberapa helai rambu yang tumbuh menghiasi janggutnya, suara bariton yang merdu, wah.. duniawikuu terkoyak. Hahaha.. Tak cukup dengan itu, begitu memasuki rumah, netraku juga dimanjakan dengan suasana rumah yang sangat damai dengan rumah tipe dua lantai, tembok putih bersih dengan perpaduan warna biru laut, terlihat ruang tengah yang terbuka separuh atapnya dimana terdapat joglo tepat dibawahnya. Joglo yang sepertinya digunakan untuk musholla dengan rerumputan mengelilinginya dan tempat wudhu di pojokannya.
"Assalamualaikum wr wb" Belum selesai netra ini menjelajah tiba-tiba terdengar suara wanita paruh baya memasuki rumah.
"Waalaikumsalam wr wb" Jawabku sambil reflek berdiri dan menjabat tangan wanita paruh baya tersebut begitu mengenali pemilik suara itu.
"Nak Alfi dari tadi?" Tanyanya sambil memeluk tubuh mungilku dan menempelkan pipi beliau ke pipi kanan kiriku atau kata anak jaman sekarang itu cipika cipiki, hehe..
"Barusan kok Bu Ratih"
"Maaf yah, jadi nunggu soalnya tadi saya ke rumah bu RT sebentar untuk membahas arisan"
"Tidak apa-apa kok Bu"
"Loh Aulia mana?"
"Saya belum ketemu Aulia Bu"
"Loh tadi yang bukain pintu siapa? Bukan Aulia?"
"Bukan Bu, tadi yang buka pintu laki-laki"
"Auuullll" Teriak Ibu Ratih. " Sebentar yah Mbak Alfi" Sambungnya sambil masuk ke dalam rumah.
"Iya bu"
"Iya Mii" Jawab seorang perempuan sambil menuruni tangga. "Ada apa Mi? Loh ada tamu Mi?"
"Lah Umi juga mau tanya sama kamu, katanya Mbak Alfi tadi yang bukain pintu laki-laki, umi kirain kamu yang bukain. Siapa? Kamu bawa laki-laki ke rumah? Kamu punya paacar? Kamu yah bener-bener...."
"Umi stop mi,, jangan dilanjutkan suudzonnya, dosa mi, inget dosa" Potong perempuan kecil itu sebelum uminya nyerocos lebih banyak.
"Terus siapa?"
"Itu tuh orangnya" Jawab singkat perempuan kecil itu sambil menunjuk ke sosok laki-laki yang menuruni tangga.
"Yusuf"
"Assalamualaikum Mbak" Jawabnya sambil meringis memperlihatkan deretan giginya yang dari samping aja terlihat manis, ya Tuhan bagaimana kalau aku melihatnya dari depan.
"Waalikumsalam wr wb" Jawab Bu Ratih sambil merangkul laki-laki di depannya dengan penuh kegirangan. "Kapan kamu datang? Mbak kangen banget sama kamu. Ayo-ayo duduk sini, cerita sama Mbak"
"Mbak mbak.. itu masih ada tamu"
"Iya ini Umi, ada Kak Alfi gitu loh malah dicuekin. Kak Al apa kabar?" Ucap perempuan kecil itu sambil menghampiriku.
"MasyaALLAH lupa... Maaf yah nak Alfi." Sambung Bu Ratih sambil menyusul Aulia ke ruang tamu. "Suf, kamu masih lama kan disini?"
Sambungnya sebelum duduk dan menoleh ke sosok laki-laki di seberang.
"Iya iya Mbak" Jawabnya sambil kembali pergi ke lantai atas.
"Maaf ya Nak Alfi, itu tadi adik kandung saya. Satu-satunya keluarga saya karena orang tua kita sudah meninggal. Sudah lama tidak bertemu karena dia tinggal di pondok. Ketemu juga pas waktu liburan atau hari raya aja, momen kaya gini jarang banget."
Ngapain di pondok Bu? Pondok mana? Sudah menikah belum? Beberapa pertanyaan yang tercekat di tenggorokan dan tidak bisa dikeluarkan. "Iya Bu, tidak apa-apa" Dan akhirnya hanya kalimat itu yang bisa keluar dari pita suaraku.
"Umi ini banyak cerita, kasihan Kak Alfi ini akhirnya terabaikan maksud dan tujuannya kesini" Timpal Auliya sambil mendekatkan air mineral yang ada di meja. "Diminum dulu Kak" Tambahnya.
"Iya Aul,, Terimakasih"
"Gimana gimana nak Al? Mau ga bantuin Auliya belajar fisika, kima dan matematika?"
"Saya coba dulu ya bu, mungkin saya tidak begitu pintar tapi mari kita belajar bareng yah Aul"
"Asyikkk" Jawab perempuan kecil di samping bu Ratih. Namanya Auliya, dia anak pertama dan satu-satunya bu Ratih. Dia kelas 1 SMA. Pertama kali kita bertemu saat pengajian rutin di Masjid Ar-Rahman, Auliya yang datang bersama bu Ratih mengeluh ingin segera pulang karena dia belum mengerjakan tugas Fisika yang diberikan gurunya di sekolah, tetapi bu Ratih tetap kekeh ingin Auliya mengikuti kajian itu sampai akhir. Mendengar percakapan kedua ibu anak tersebut. Begitu pengajian itu selesai, perempuan itu duduk di serambi masjid dengan muka cemberut sambil menunggu ibunya. Ketika melewatinya reflek akhirnya aku bertanya dan tidak disangka dia bercerita dengan kesal dan panjang kali lebar apa yang dirasakannya yang berujung meminta tolong untuk membantunya mengerjakan tugasnnya. Karena merasa kasihan jawabku iseng akan membantu jika dia mau datang ke kosku.
"Oke kak,, aku akan ke kos kakak habis ini" Dan itulah jawaban yang tidak aku prediksi. Dan benar saja setelah selesai kajian, selesai bertukar nomor, perempuan itu datang ke kos dengan ibunya. Dari situlah awal mulanya sampai sekarang aku berada di rumahnya.
"Jadi kita bisa mulai kapan Nak Alfi?"
"Iya kak, kita mulai kapan nih? Sudah g sabar pengen belajar sama Kak Alfi"
"Mmm.. Habis maghrib aja yah Aul, kecuali kamis dan minggu"
"Sabtu juga kak, takutnya Kakak malming sama pacarnya, hehe"
"Pacar apaan sih Aul"
"Loh kak Alfi belum punya pacar?" Pertanyaan ringan yang sangat sulit untuk dijawab karena sudah lama aku tidak atau lebih tepatnya fokus kuliah dan tidak ingin punya pacar. Pengennya sih nanti langsung nikah aja, hehe
"Privasi Aul, ngapain sih tanya-tanya privasi orang" Sela ibu Ratih yang sangat menyelamatkanku yang kemudian kututup dengan senyuman.
"Okeh-okeh, berarti setiap habis maghrib kecuali kamis, sabtu dan minggu ya kak?"
"Siap"
"Makasih yah nak Alfi"
"Sama-sama Bu. Kalau begitu saya pamit dulu ya Bu" Pamitku setelah selesai memutuskan hasil dari tujuanku kesini.
***
"Al pulang jam berapa tadi malam? Sudah mulai privat kah?" Tanya Ami teman satu kosku begitu aku keluar dari kamar mandi.
"Belum Mi"
"Kok lama?"
"Iya, Soalnya bu Ratih tadi malam ke rumah bu RT jadi aku nunggu lumayan lama. Dan kamu tahu g Mi, bu Ratih punya adek yang nyaris sempurna menurutku"
"Tumben ngomongin cowok"
"Ini beda Mi, auranya itu beda banget, sopan, adem, kalem, dan jaga pandangan banget Mi kaya ikhwan gitu, apalagi selama ini beliau tinggal di pondok Mi, aduhhh idaman banget Mi buat dijadiin imam"
"Seleramu bapak-bapak ternyata Al"
"Ngawurr... masih muda banget Mi, mungkin 5 tahun di atas kita"
"Sepertinya kamu belum bangun tidur sepenuhnya Al atau kamu lagi sakit" Ucapnya sambil mendekat dan memegang dahiku yang tentu saja dingin setelah diguyur air saat mandi.
"Apaan sih, dibilangi g percaya" Jawabku sambil menepis tangan Ami yang masih menempel di dahiku.
"Sudah ayo Al, siap-siap kita berangkat menuntut ilmu sampai ke negeri Cina"
"Sarapan dulu"
"Wajib itu Al, sebelum cacing pithonmu menggeliat mencari mangsa"
Setelah selesai bersiap kamipun pergi ke kampus dan mampir sarapan terlebih dulu di tempat langganan kami. Warung makan yang berada di seberang masjid Ar-Rahman. Warung Buk Jah warung makan kecil yang menyediakan aneka masakan rumahan mulai dari nasi pecel, sayur sop, sayur bening, soto, rawon dan aneka lauk pauk yang menggugah selera, dan tentunya dari segi harga warung Buk Jah sangat aman di kantong anak kos seperti kami. Tanpa pikir panjang akhirnya kamipun memesan nasi pecel dengan telur dadar yang sangat diminati banyak orang di warung tersebut. Mungkin karena Buk Jah asli orang Madiun jadi bumbu pecelnya mantap, beda daripada yang lain.
"Al, lihat arah jarum jam 12" Ucap Ami sambil menunggu sarapan kami siap.
"Kenapa?'
"Udah lihat aja, arah jarum jam 12" Ulang Ami sambil tetap menatap ke depan. Dengan malas akupun mengikuti kemana arah mata Ami menatap. Dimana ada beberapa orang yang duduk di serambi masjid. Dimana yang paling mencolok dan menyita perhatian adalah sosok laki-laki berbadan tinggi besar memakai baju taqwa putih dilengkapi dengan balutan sarung hitam dan berkopyah hitam. MasyaALLAH dia lagi, dia yang mengguncang naluri duniawiku, dia yang membuatku ingin selalu menatapnya tanpa ingin berpaling.
"Al, tahan Al jangan berkedip. Dosa kamu kalu kedip Al. Cukup satu kali pandangan itu rejeki, pandangan selanjutnya dosa Al"
"Hahahaha" Sontak kami berdua tertawa setelah mendengar ucapan Ami.
"Ganteng yah Al?" Tanya Ami sambil menyikut sikuku.
"Hemmm"
"Auranya beda yah Al?"
"Hemmm"
"Kaya wibawa banget yah Al?"
"Hemmm"
"Mau banget Al yang kaya gitu"
"Hemmm"
"Ente kenapa sih Al, dari tadi ham hem ham hem aja. G tertarik?"
"Ami sayang... itu laki yang aku omongin tadi pagi"
"Tadi pagi? Adiknya Bu Ratih?"
"Hemmm"
"Seriusan?"
"Hemmm"
"Aliyaaaa"
"Amiiiiii"
"Hussh... kalian ini kenapa pagi-pagi teriak-teriak, ini nasinya sama teh hangatnya, cepetan dimakan mumpung masih hangat"
"Iya Buk Jah" Jawab kami hampir bersamaan.
Tanpa ba bi bu lagi akhirnya kami menyantap nasi yang sudah di meja kami.
"Al" Sela Ami ditengah kegiatan makannya
"Hush.. makan dulu, ceritanya nanti aja" Potongku sebelum makanannya berhamburan keluar dari mulutnya, hahaha..
Setelah menyelesaikan kegiatan sarapan yang penuh dengan tanya dan menerka-nerka, seketika reflek netra kami menoleh ke arah serambi masjid yang tidak sesuai dengan harapan. Serambi masjid kosong dan tidak ada tanda-tanda orang disana.
"Jadi?"
"Apa?"
"Siapa tadi?"
"Adikny Bu Ratih"
"Yang kamu ceritakan tadi pagi?"
"Bener sekali, yang kamu bilang bapak-bapak"
"Hahaha"
"Trus tanggapanmu? Bapak-bapak?"
"Bukan, hehe"
"Ganteng?"
"Banget"
"Auranya adem kan?"
"Banget"
"Pengen kamu sebut dalam do'amu kan?"
"Banget"
"Hahaha, Mimpiii"
"Hahahaha"