12

2054 Kata
"Kean mau Papa ambilin cheese cake?" Arion berdiri. Ia sangat ingin menghindari perbincangan yang membuatnya merasa tak nyaman. April menatapnya, sekilas. Seolah bisa membaca pikiran Arion, Daren dan Nathan juga tahu diri. Mereka berdua tersenyum tipis pada April. "Kita duluan, ya. Sorry." April mengangguk. "Iya. Kalem aja.." Jantungnya berdegup. April sensiri tak tahu harus bagaimana mengelola situasi yang sedang canggung seperti sekarang. Bisa di bayangkan berapa ratus pertanyaan yang muncul di benak Arion? "Mau kemana?" Tanya April. Arion diam. Tak menjawab. Pria itu hanya melirik sebuah stand yang menyediakan berbagai macam makanan penutup di ujung kanan. "Biar aku yang ambilin." April mengintruksi. Akhirnya Arion hanya menghela nafas jengah, lalu kembali duduk karena tubuh perempuan itu sudah berjalan menjauhi meja. *** Makanan manis. Kinan dan Kean sangat suka jenis makanan itu. si Kembar adalah penggila Keju. Mata mereka akan langsung berbinar ketika melihat atau mencium sesuatu yang berhubungan langsung dengan Keju. Cheesecake salah satunya. Stand penyedia makanan penutup berupa cake lembut itu agak sepi pengunjung. April mengerutkan dahi, mengambil dua piring kecil yang di atasnya sudah tersaji potongan Cheesecake dengan topping Blueberry dan porsi sama rata. Tapi ia mengurungkan niatnya dan kembali menautkan kedua alisnya ketika melihat sebuah stand yang agak tertutup di sudut Taman. Sayup-sayup terdengar beberapa suara seperti orang tertawa dan berteriak tak jelas. Mereka semua membentuk sebuah kerumunan kecil, terdiri dari beberapa Pria yang menggunakan kemeja dan Jas juga sedikitnya dua orang wanita dengan gaun glamour. April menyipitkan mata. Berusaha memperjelas pandangannya. Satu di antara mereka menoleh ke arah April, dan celaka! Pria itu mulai menghampirinya. "R-Marvin?" Tangan April kembali bergetar. Ia ingin sekali kabur untuk menghindari Marvin. Tapi sayangnya, seperti ada tarikan tersendiri untuk tetap mematung di tempat. "Hai," Tatapan matanya sayu. Marvin mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Satu tangannya di masukkan ke dalam saku celana, dan satunya lagi memegang segelas wine berwarna merah. April baru tau, kalau minuman beralkohol sudah mulai di keluarkan sebelum jam sepuluh malam. Padahal disini masih banyak anak-anak yang berkeliaran. Bau alkohol begitu menusuk hidung April ketika Marvin terus mendekat. "Lo mabuk?" "Hai," Marvin mengulang kata yang sama. Satu langkah maju. April melakukan hal sebaliknya. Ia terus memundurkan langkah, dan Marvin terus membuatnya terpojok. Hingga ia merasa, punggungnya dingin. Tubuhnya sudah terlanjur membentur sebuah pilar dan tak bisa melakukan gerakan lagi. Dua piring Cheesecake di tangannya mulai goyah, tangan April terlalu bergetar untuk membawanya. "Jangan deket-deket!" April mencicit. Marvin hanya tersenyum. Yang ia lihat sekarang, April adalah mangsa. Ia harus melumatnya sebelum mangsa itu kabur duluan. Dua piring Cheesecake tadi jatuh ke tanah. Dan April tidak bisa memungkiri lagi bahwa Marvin benar-benar dekat sekarang. Ia bahkan sampai mencubit hidungnya sendiri saking tak kuatnya menahan aroma alkohol yang begitu menyengat. Ketika Marvin mulai memiringkan kepalanya, April menutup matanya rapat-rapat. Berusaha mendorong d**a Pria itu sebisa mungkin agar menyingkir. *** "Pa? Mama kok lama, sih?" Arion mengerutkan dahi. Menatap Kean dengan tatapan yang sama kalau ia juga penasaran mengapa perempuan itu tak kembali setelah lima menit yang lalu. "Ngantri kali," Kinan berkomentar. Kean berdiri, berjinjit-jinjit untuk melihat apakah Mama ada disana atau tidak. "Stand-nya kosong. Mama nggak ada disana, tuh?" Arion mengelus lengan Kean. "Tunggu bentar, mungkin Mama lagi cari cemilan lain." Kean mengangkat bahu. "Nggak, ah. Kean nyusul kesana, ya!" "Eh! Awas ati-ati!" Arion berseru. Matanya terus mengawasi kemana bocah laki-laki itu melangkah. Tapi setelah beberapa meter, Langkah Kean terhenti. Anak itu berhenti tepat di depan stand tanpa melakukan apa-apa. Membeku. Mematung. . . Arion mengerutkan dahi. "Kok malah berhenti di tengah-tengah gitu?" Banyak orang yang berlalu lalang disana. Dan Kean hanya berdiri tanpa gerakan sedikit pun. Arion melirik Kinan yang asyik bermain dengan game yang ada di ponsel Papa. "Kinan tunggu sini, ya? Inget! Jangan kemana-mana!" "Ih, Papa mau kemana?" "Tunggu, sebentar kok. Tetep disini, ya." Arion melangkahkan kakinya. Menjawil daun telinga Kean dari belakang. Jail. "Loh, kok malah diem-" Arah pandangnya berubah. Mengikuti kemana dua bola mata elang milik Kean itu tertuju. *** April terus memejamkan mata rapat. Tangannya terus mendorong tubuh Marvin yang seperti kehilangan kendali di bawah pengaruh alkohol. Hembusan nafas Pria itu sampai ke wajahnya. Dan April tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai Marvin berani menyentuhnya. Air matanya menetes. Ia mengharapkan seseorang; Siapa pun itu. Karena April tak bisa mengandalkan dirinya sendiri. "WHAT THE f**k!!" Bhuuggkkk! Tinjunya tak sia-sia. Arion bahkan melancarkan tinju selanjutnya hingga Pria yang masih dalam keadaan mabuk itu terhempas ke tanah. Tak tanggung-tanggung, dengan brutalnya Arion mendorong Marvin hingga membentur meja-meja yang menyediakan souvenir dan makanan kuliner lain. Semuanya berantakan. Seketika musik akordeon yang tadi mengalun langsung berhenti. Menciptakan keheningan kecuali suara gaduh dari taman belakang. April tak lagi melihat Arion sebagai sosok yang lembut. Ia melihat Arion seperti seorang monster yang kesetanan. Membabi buta. Kehilangan kendali. Menghajar siapa pun yang berani menghalanginya. Semuanya berantakan, acara Reuni itu berubah menegangkan karena Arion tak juga menghentikan aksinya. Ia terus memukul, menendang bahkan ia bisa saja membunuh Marvin di tempat kalau saja empat orang petugas keamanan tidak menarik tubuh Arion agar menyingkir dan berhenti membuat keributan. Kinan mengerutkan dahi. Sedikit bergetar karena ia takut dengan kegaduhan di ujung sana. Papa dimana? Kakinya yang di balut sepatu kaca tiruan mulai melangkah mendekati kerumunan, sampai ia menemukan Kean yang tak juga bergerak. "K-Kean?" Anak laki-laki itu menoleh dan berbalik, wajahnya pucat dan bibirnya gemetaran. Kean merentangkan tangannya lebar-lebar, menghalangi Kinan agar tak melihat sesuatu yang harusnya tak ia lihat. "Jangat liat apapun, Ki! Liat aku aja!" Kinan tak berkedip. Sayang, ekor matanya terlanjur menangkap sebuah adegan yang sangat membuat hatinya mengerut. Papa yang di amankan oleh beberapa Pria berseragam, dan di sana... Om Marvin, yang baru-baru ini masuk ke Dunia-nya. Tampak terkulai lemah dengan bercak darah dan luka memar di wajahnya. Puncak adegan yang membuat Kinan kecewa karena; Mama memberikan pertolongan pertamanya pada Om Marvin, daripada Papa. Padahal mereka sama-sama babak belur. "LEPAS!!" Arion meronta, mengerahkan seluruh tenaga agar bisa melepaskan diri dari cengkraman beberapa orang yang menghentikannya. "Orang kaya gitu emang pantes mati!!" Arion kembali brutal, mencengkram kerah kemeja Marvin hingga Pria itu kembali terangkat. "Mana nyali lo, hah?! Beraninya main di belakang gue!! b******k!" "Arion berhenti!!" April menahan tubuh Arion. "Kamu bisa kontrol diri kamu nggak, sih!!" "MAMA!" Sebuah suara memekik keras. Kean menerobos kerumunan orang-orang dewasa yang lebih tinggi dari tubuhnya itu. Semuanya hening. Bahkan mereka semua dengan senang hati memberi Kean ruang agar sampai ke barisan paling depan. Sedangkan Kinan yang gantian mematung. Tapi Kean tak tinggal diam, tangan mungilnya menggapai lengan Kinan agar ikut bersamanya. Meskipun takut, Kinan memberanikan diri. Kean maju selangkah. Melihat bagaimana Papa dengan wajah memar-memar dan keadaan yang begitu berantakan. Dari sini, ia dapat melihat dengan jelas bagaimana Om Marvin terkulai lemah. Sejak dulu, Kean memang nggak suka dengan laki-laki itu. Kean meraih tangan Arion yang bengkak dan lecet-lecet. Menggenggamnya. Lalu kepalanya menoleh, menatap April dengan pandangan sarat akan rasa kecewa. "Siapa pun yang salah.Buat Kean, Disini Papa tetep jadi Superman." Keduanya membeku. Sampai Kinan maju selangkah lagi, menyusul Kean dan meraih tangan Arion yang satunya. "Ayo Pulang, Pa." Dua anak itu langsung menarik Arion keluar dari kerumunan. Kean nggak ingin lebih lama lagi di jadikan pusat perhatian. Selama Kinan menuntun Arion keluar, Kean melepaskan diri. Gantian mengulurkan tangan untuk April. "Kalau Mama sayang sama Papa, Mama bakalan ikut Kean pulang, kan?" April diam. Melirik Marvin yang masih tak bisa berdiri sama sekali. Bodoh! Harusnya dia tak peduli lagi. Tapi ada rasa tidak enak hati ketika harus meninggalkan Marvin dengan keadaan seperti itu. Bagaimana pun juga, Marvin babak belur karena Arion. Dan insiden Marvin yang hampir menciumnya juga di bawah pengaruh alkohol. "Pulang?" Kean mengulang pertanyaannya. Tangan mungil itu tetap terulur di depan April. Namun sedetik kemudian, April menggeleng. "Maafin Mama sayang, kamu bisa duluan. Om Marvin-" "Pulang!!" Tiba-tiba Arion kembali, menyerobot kerumunan, menggeret April dan memaksanya untuk bergerak. "Pulang, Pril!" "Tapi, Marvin-" "Aku suami kamu!" Arion mencengkram tangan April. "Kamu masih ngehargain aku atau enggak?!" April menunduk. "Lepasin dulu." Arion melepas tangannya. April berjongkok, menggendong Kean ke pelukannya dan membawanya pergi. "Ayo kita pulang.." Lirihnya. *** April membuka pintu belakang mobil untuk Kean. Di dalam mobil sudah ada Kinan yang terus memperhatikan jendela. April menghela nafas, setelah memastikan Kean masuk ke dalam mobil, ia membuka pintu depan dan duduk di samping Arion. Mesin mobil mati. Arion sengaja tak menyalakannya. Ia hanya butuh waktu untuk tenang. Pria itu memijat kepalanya yang agak berdenyut. Luka memar dan lecet di mana-mana sudah tak ia pedulikan lagi. Semuanya yang tak terasa sakit. Kecuali hatinya yang sakit. April terus memperatikan Arion. Tangannya terulur untuk meraih dagu Pria itu dan memeriksa wajahnya. "Yang mana yang sakit?" Arion menggeleng, tapi ia tetap membiarkan tangan April memegangi wajahnya. "Nggak papa." "Aku udah bilang; harusnya kamu kontrol emosi kamu.." Arion berdecak, kali ini menyingkirkan tangan April dari wajahnya. "Kamu mikir nggak, sih?!" April berjengit. Terkejut dengan perubahan nada bicara Arion yang lebih kasar. "Tapi tadi kamu tuh malah bikin ribut! Marvin tadi mabuk, dan kita nggak-" "Kamu mikir, dong! Gimana perasaan aku waktu liat kamu tadi? Hah? Nggak mikir? Atau malah nggak kepikiran sama sekali?!" "Ya, tapi kamu nggak perlu marah kayak orang kesetanan gitu! Acara Reuni jadi kacau gara-gara keributan tadi! Kamu tuh berlebihan, Li!" Arion berdecak. Ia tak bisa mengontrol emosinya lagi. "Aku buka cowok bego! Aku nggak bakal diem aja liat kamu di apa-apa in! Kamu nggak mikir sampai segitu?!" "Kamu tau Marvin tadi mabuk, kan?!" "Mabuk atau sadar, Pada dasarnya Marvin bakal tetep berusaha ngerebut kamu dari aku, Pril! Dan asal kamu tau, yang aku perjuangin disini itu kamu!" Hening. Bahkan Kean dan Kinan yang duduk di belakang mereka hanya bisa diam dan pura-pura tak mendengar. Mereka tidak ingin dan tidak akan pernah ingin tahu apa yang terjadi antara Papa dan Mama. Untuk pertama kalinya; Kinan merubah haluannya. Mama bukan lagi sosok yang Kinan banggakan. Kinan sudah terlanjur kecewa. Faktanya, Kinan mulai tahu siapa yang salah dalam posisi ini. "Gue suami lo, Pril," Arion berkata dengan suara yang lebih pelan. "Harusnya lo ngehargain gue, lo ngejaga perasaan gue. Lo ngehormatin gue. Dan dengan lo yang masih peduli sama Marvin dan nyalahin gue dalam kejadian ini, itu artinya lo nggak respect sama gue. Lo tau apa? Gue kecewa sama lo." "Kamu marah?" April menatap Arion. Pandangannya meredup. "Gue kecewa," Arion menahan nafas. Memalingkan wajah dan memandang ke luar jendela. "Dan kecewa lebih sulit di hilangin." "..." April diam menyembunyikan wajahnya. "Aku, Kean dan Kinan kecewa sama kamu." Bahu April berguncang, lalu perlahan terdengar suara rintihan, di lanjutkan oleh suara tangisan yang terdengar lirih. Lagi. Hati Arion luluh lagi. Arion tak bisa menahan dirinya untuk membiarkan April menangis sendirian. Kean dan Kinan juga tak bisa melakukan apa-apa selain mendengarkan suara tangisan yang membuat mereka ngilu. Arion mengulurkan tangannya, menyingkirkan rambut April yang menjuntai agar tak menutupi wajahnya. "Yang harus kamu tau, kenapa aku ngelakuin ini; Karena aku sayang sama kamu. Aku..," Arion menarik tangannya kembali, memegang setir mobil dan menatap lurus ke depan. "Aku cinta sama kamu. Dan nggak akan ada sedikit pun yang berubah." Arion mulai menyalakan mesin mobil. Selama perjalanan, April tak berhenti menangis dan menyembunyikan wajahnya. *** Pukul sebelas malam, Arion menemukan April sedang memuntahkan isi perutnya di wastafel. Arion memijat lehernya, agar April dapat lebih lega. Matanya bengkak dan wajahnya pucat. Sisa make up sudah memudar. Entah April sengaja menghapusnya, atau make up itu terhapus dengan sendirinya oleh air mata. "Masuk angin?" April menggeleng. "Nggak papa, cuma nggak enak perut." Ia melirik Arion. "Luka kamu?" "Nggak papa," Balas Arion tanpa ekspresi. "Besok paling udah kering." Selanjutnya, Arion melengos meninggalkan April dan mengambil gelas kosong di Meja pantry untuk mengisinya dengan air putih. Melanjutkan niat awalnya turun ke dapur. April menunduk lagi, sebelum air matanya jatuh lebih banyak perempuan itu menghapusnya dan segera meninggalkan dapur. Alasan kenapa April menangis begitu banyak hari ini karena; Rasa bersalah. Rasa Kesal karena tak bisa mengendalikan dirinya. Merasa bodoh karena selalu gegabah mengambil langkah. *** Kinan mendorong pintu Kamar dengan ukiran kayu itu pelan. Saat ia melihat ke dalam, Kinan tak menemukan Arion. Hanya ada April yang meringkuk di balik selimut dan menangis sendirian di atas ranjang. "Ma..," Kinan menghampiri perempuan itu dan berusaha stabil agar segelas air putih yang ia pegang tidak tumpah. "Berhenti nangis, ya Ma.." April terduduk. Menghapus sisa air mata dan berusaha tersenyum di depan Kinan. "Kenapa?" Kinan memberikan segelas air putih yang ia ambil dari dapur. "Bu Guru selalu ngasih air putih kalau ada temen Kinan yang lagi nangis, katanya air putih bikin semuanya lebih tenang, iya, kan?" April mengangguk. Menerima segelas air yang di suguhkan Kinan dan meminumnya beberapa tegukan sebelum akhirnya meletakkan gelas air yang tersisa setengah itu di atas meja sisi tempat tidur. "Kamu mau tidur sama Mama?" Kinan diam. Lalu beberapa detik setelahnya anak itu menggeleng dan mulai melangkah ke arah pintu. "Kinan tau, Mama butuh waktu buat sendiri." *** Kean dan Arion sama-sama menolehkan kepalanya ke arah pintu ketika melihat seorang anak perempuan dengan piyama motif beruang berdiri di ambang pintu. "Kinan?" "Aku pengen tidur disini, boleh, ya?" Arion tersenyum, menggeser tubuhnya dan melambaikan tangan pada Kinan. "Sini," Kean mendengus. Tapi pada akhirnya, Kean mau berbagi ranjang dengan Papa dan Kinan meskipun sempit-sempitan. Namun terasa hangat. Arion mengelus pucuk kepala dua anaknya. Mengecupnya bergantian. "Maafin Papa, ya?" "Papa nggak salah," Kean memiringkan tubuhnya, memeluk sebagian tubuh Arion seakan seperti sebuah guling raksasa. "Kalau udah gede, Kean pengen jadi kaya Papa." Kinan hanya diam mendengarkan, tangannya melingkar pada perut Arion. Lalu ia mulai bersuara. "Papa... sayang sama Mama?" "Banget," Arion menjawab tanpa ada jeda yang terselip. "Sebesar apa?" Tanya Kean. "Menurut kalian sebesar apa?" "Sebesar rumah ini?" Kinan menimpali. "Lebih dari itu." "Ah, sebesar.. Kota Jakarta?" Kean tak mau kalah. "Lebih," "Sebesar Gunung? Sebesar Bumi? Sebesar apa, Paa?" Kinan masih penasaran. Arion tertawa kecil. "Lebih besar dari apa kalian bayangin. Cinta dan sayang itu nggak akan bisa di ukur." "Apa Papa bakal maafin Mama?" Tanya Kinan lagi. Arion diam. Tak menjawab untuk beberapa detik. Kean dan Kinan masib tetap menunggu. "Mungkin, suatu saat nanti." Karena gimana pun juga Papa pernah ngelakuin kesalahan yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN