Panas.
Itu yang Arion rasakan. Ia sudah terlanjur berapi-api dan sudah berusaha juga sebisa mungkin untuk meredamnya. Dan saat puncaknya, Arion tak bisa menahan diri lagi.
Marvin adalah mantan April.
Masa lalu April.
Bahkan sudah jauh lebih lama menghuni hati April sebelum dirinya sendiri.
Fakta yang lebih menyakitkan; karena Arion baru tau setelah mereka melalui masa-masa indah, masa jatuh bangun, menikah dan memiliki Kean dan Kinan.
Sudah terlambat, kah?
Arion tak peduli. Ia bangkit berdiri, meninggalkan ruang keluarga tanpa menatap April lagi. Pria itu mengambil jaket yang tergantung di pintu kamar dan kunci mobil di atas nakas.
Marvin, sialan!
Arion tak berhenti memaki. Bahkan Marvin panjang umur karena beberapa detik setelah Arion meraih kunci mobil. Sebuah ponsel yang letaknya tak jauh di sebelah kunci, bergetar.
Unread Message. -Marvin
Tai.
Arion berdecih, tanpa membaca pesan yang masuk ke ponsel April. Sekalian, Arion membawa ponsel istrinya itu tanpa peduli soal privasi lagi.
"Arion kamu mau kemana?!"
Bahkan suara itu seolah tak masuk ke telingannya. Arion langsung melengos pergi begitu saja dengan emosi yang terlanjur menggebu. Dan terakhir, debaman pintu yang begitu keras langsung menggema ke penjuru rumah.
***
Tenang.
Tenang.
Tenang.
Arion mensugesti dirinya sendiri. Mencoba mengontrol diri, mengingat ia sedang membawa mobil di jalan raya yang cukup padat. Arion menstabilkan kecepatan mobilnya di angka 40 km/h.
Tenang, Arion.
Lo nggak bawa dompet.
Lo harus tenang.
Jangan ngebut, biar nggak kena tilang polisi.
Tenang...
Semuanya bakal baik-baik aja.
Arion menghela nafas kasar, seraya menghentikan mobilnya ketika traffic light menyala dengan lampu merah. Pria itu mengusap wajahnya frustasi.
Shit. Arion berdecak.
Ponsel April yang ia letakkan di dashboard, bergetar lagi. Dan kali ini ada sebuah panggilan yang masuk. Tangannya mengepal, ingin rasanya membunuh Marvin lewat ponsel kalau saja Arion bisa.
Tanpa banyak tingkah, Arion langsung menempelkan ponsel April ke telingannya.
"Hallo, Pril?"
"..." Arion mendengarkan suaranya.
"Hallo.. Pril? Lo disana?"
"...Dimana alamat rumah lo?"
"Hallo ini siapa, ya? Kok suara cowok? Pril! Lo baik-baik aja, kan?"
"Najis, Njir." Arion menjauhkan ponsel dari telingannya, kemudian menempelkannya kembali. "Gue Arion."
"..." Ada jeda beberapa detik sampai suara gemerusuk tak jelas terdengar di seberang sana. "O-oh, Arion, ya?"
"Kenapa telfon?"
"April... ada?"
Arion tertawa. Berharap Marvin mendengarkan tawa hambarnya. "Urat malu lo udah putus, ya?"
"Maksud lo apa?"
"Bego," Arion berdecih. "Rumah lo dimana? Gue pengen tau."
"Mau ngapain?"
"Main. Nggak boleh? Bukannya lo juga sering main ke rumah gue, kan?"
"Y-Ya... udah, ntar gue sms alamatnya. M-mau di siapin apa?" Jelas sekali terdengar, kalau Marvin sedang gugup sekarang.
"Siapin mental lo aja. Cukup."
***
Arion menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah minimalis berlantai satu. Marvin mengaku, ia tinggal disini. Jari telunjuknya langsung menekan Bell, dan selang sekitar sepuluh detik pintu terbuka.
Menampilkan sosok laki-laki yang selama ini mengganggu pikiran Arion.
Bhugk.
Tanpa senyum, sapa, salam. Arion langsung mendaratkan tinju pertamanya tepat di sudut bibir Marvin. Membuat laki-laki itu sedikit terhuyung ke belakang, tapi untuk beberapa detik Marvin membulatkan matanya, mencengkram jaket yang Arion kenakan sebagai wujud perlawan. "Maksud lo apa, Bang?! Dateng ke tempat orang nggak pake etika!"
Arion tersenyum. Melepaskan cengkraman tangan Marvin, kasar. "Ya... itu tadi sebagai bentuk salam gue. Kenapa? Nggak suka?"
"Ngajak ribut, ya lo?!" Marvin melayangkan tinjunya di udara. Tapi, tepat sebelum pukulan itu mendarat di wajah Arion, tangannya langsung menangkis dengan sigap.
Arion menyeringai. "Lo nggak pantes adu tonjok sama gue. Lo bahkan lebih b******k dari gue, nyadar nggak, sih?"
"Apa maksud lo?! Apaa?! Hah?!"
Arion menghempaskan tangan Marvin. "Gue pengen omongin ini baik-baik, nggak pake tonjok-tonjokan, karena lo tau? Kita bukan anak SMA lagi."
Marvin menatap Arion tajam. Matanya tak kalah berkilat dengan mata milik Arion. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya ke ambang pintu. Menunggu apa yang akan Arion sampaikan.
"Lo sayang sama April?" Arion tak butuh basa-basi. Pria itu lebih suka langsung ke point utama.
Marvin awalnya diam. Malas membicarakan sesuatu yang klise seperti ini. "Iya, kenapa?"
"Dan lo tau gimana cara ngehadapin kenyataan?"
"..." Marvin diam.
"Gue berdiri disini itu sebagai fakta, kalau April udah punya orang lain. Dan lo," Arion menaikkan nada bicaranya. "Lo nggak berhak buat ganggu rumah tangga orang!"
"Kenapa lo ngomong gitu?! Gue nggak ngerasa ngeganggu siapa-siapa. Dan asal lo tau, gue dan April itu murni teman."
"Tapi kalian punya masa lalu yang nggak bisa di spele-in. Gimana pun juga, nggak ada yang tau kedepannya apa yang bakal terjadi antara lo dan April. Dan gue minta, lo jauh-jauh dari April."
"Siapa elo?"
Anjir. Arion menyeringai. Marvin adalah cowok paling arogant yang pernah ia temui seumur hidup. Reflek, Arion mencengkram kaus yang Marvin kenakan hingga tubuh cowok itu sedikit terangkat. "Lo tuh sebenernya pura-pura bego, atau emang bego beneran?!"
"Lepas," Marvin menginterupsi. Tapi, Arion mempertahankan cengkramannya. Karena tak ada pilihan lain, Marvin mendorong Arion hingga Pria itu mundur beberapa langkah. "Sejak awal, April emang harusnya jadi milik gue."
Arion menghela nafas kasar. "Ternyata lo lebih sulit dari yang gue kira!" Pria itu melangkah mendekati Marvin, menepuk pundaknya. "Lo bisa nggak, sih? Ngomongin masalah ini secara dewasa?! Semua omongan lo itu nyampah, Man."
Arion berdecak. "Gini aja, deh. Bayangin diri lo ada di posisi gue, Menurut lo gimana? April jadi milik lo, dan lo.. punya dua anak yang jadi tanggung jawab lo juga. Lo mikir nggak, sih? Tiba-tiba gue dateng, seolah ngegantiin posisi lo di mata April juga anak-anak lo sendiri? Menurut lo gimana rasanya?"
"..." Marvin diam. Lagi.
"Lo nggak perlu susah payah buat ngerebut April yang kenyataannya udah punya jalan sendiri. Yang harus lo lakuin cuma liat kenyataan, bahwa sekarang April udah punya gue. Lo bisa percayain April sama gue, kalau seandainya lo bener-bener sayang sama dia, Man."
"..."
"Apa selama ini lo nggak nyadar? Lo cuma hidup di masa lalu lo sendiri?" Arion menarik tangannya dari bahu Marvin. "Jadi lo cuma ngikutin ambisi buat dapetin April. Tanpa mikir fakta, kalau dia udah sama gue. Kalau lo sayang sama dia, harusnya lo biarin dia bahagia sama kehidupannya sendiri."
Arion tersenyum, melihat perubahan ekspresi wajah Marvin. "Selama ini lo cuma buang-buang waktu. Dan saran gue, lo harus tau gimana cara ngehadapin kenyataan."
"...Selesai?" Marvin menaikkan sebelah alisnya. Ia berusaha menetralkan emosi meskipun telingannya terasa memerah dan panas sejak Arion datang kesini.
"Ah, satu lagi," Arion menginterupsi. Melayangkan jari telunjuknya di depan wajah Marvin seolah memberi peringatan. "Gue kasih tau sama lo, Gue bukan cowok bego yang bakal diem aja waktu ada maling masuk ke rumahnya. Jadi, jangan pernah main-main sama gue."
Hening.
Arion tersenyum puas karena berhasil membuat mulut Marvin terkatup rapat.
"Kalau lo emang laki-laki dewasa, seenggaknya lo ngerti gimana harus bersikap, kan?" Arion kembali bersuara. "Terakhir, Gue ikut prihatin sama hidup lo. Lo keliatan menyedihkan, Man."
Deg.
.
.
.
.
.
.
Gue ikut prihatin sama hidup lo.
Lo keliatan menyedihkan, Man.
.
.
.
Nafasnya langsung naik turun, matanya berkilat saat itu juga. Kata-kata Arion secara tak langsung adalah bentuk penghinaan.
"b******k!"
Arion menolehkan kepalanya, tersenyum sinis. Ia berharap, ini adalah terakhir kalinya Arion melihat Marvin.
***
April langsung membuka pintu ketika mendengar suara mesin mobil di pekarangan rumah. April memeluk lengan Arion bahkan ketika Pria itu baru keluar dari dalam mobil.
"Kamu kemana aja? Handphone kamu ketinggalan, aku nggak bisa hubung-"
"Lepas," Arion menginterupsi, seraya menyingkirkan tangan April pelan. "Aku capek."
April menatap Arion nanar. Lalu perlahan, ia melepaskan tangannya dari lengan Arion. Menarik diri dan memilih untuk tak mendekati Arion untuk saat ini.
***
Saat April membuka matanya. Seluruh ruangan sudah terang benderang. Di luar sana, Langit mulai cerah. Dan itu artinya, ia kesiangan.
Dalam keadaan panik, April melirik jam weker di atas nakas. Pukul 07.15. Perempuan itu hanya menggelung rambutnya asal sambil berjalan ke arah ruang makan dengan terburu-buru.
Untuk beberapa saat, April mematung.
Ruang makan sepi. Menyisakan tiga gelas s**u yang sudah kosong dan dua mangkuk sereal yang salah satunya masih tersisa setengah.
April tak tahu pasti, dimana semalam Arion tidur. Karena malam itu kondisi rumah benar-benar sedang tidak kondusif. April tidur di kamar sendirian, dan Arion.. entah dimana.
Pada akhirnya, April menjatuhkan bokongnya di kursi makan. Menenggelamkan kepalanya di antara lipatan lengan.
April mengaku, Ini semua salahnya.
***
Sebuah kotak dengan bungkus kertas berwarna cokelat ia temukan di depan pintu. April berjongkok, meletakkan gagang sapunya sejenak di sudut pintu untuk mengambil kotak tersebut. April mengerutkan dahi, membolak-balik setiap sisinya untuk menemukan siapa pengirim paket tersebut. Dan ternyata setiap sisinya polos tanpa tulisan apapun.
April langsung membawanya masuk, merobek kertas cokelat yang membungkus kotaknya karena rasa penasaran.
"Gaun?"
April mengangkat potongan gaun berbahan sutera. Berwarna hitam dengan model tanpa kerah dan mengekpos bagian bahu.
April berlari ke kamar, memandangi refleksi tubuhnya di cermin dan berusaha mencocokkan gaun tersebut dengan tubuhnya.
Kira-kira, siapa, ya yang ngirim ini?
April tersenyum. Pas.
Gaun itu rencananya akan ia kenakan untuk acara Reuni nanti.
.
.
.
.
.
Tapi, April harus berpikir dua kali ketika melihat secarik kertas memo yang terlipat rapi di dalam kotak paling bawah.
Gue janji, Ini yang terakhir. -Vin
April mengurungkan niatnya. Memasukkan kembali potongan gaun itu ke dalam kotak dan menaruhnya di bawah kolong tempat tidur.
Bukannya nggak menghargai, tapi, ia tak ingin membuat semuanya menjadi lebih sulit.
***
Dan malam ini, tepat perayaan acara Reuni SMP Nusa. Dua minggu setelah April menerima kotak berisi gaun sutera itu. April cukup puas mengenakan gaun merah marun berbahan satin dengan renda-renda dan aksen bunga-bunga yang sudah menjadi miliknya selama beberapa tahun.
Hadiah ulang tahun dari Arion. Lima tahun lalu.
Setelah puluhan menit hening selama perjalanan, akhirnya April bisa mendengar suara-suara musik dan teriakan-teriakan dari orang-orang yang berada di dalam gedung Aula.
April tersenyum tipis. Menggandeng Kean yang baru saja keluar dari mobil dengan tuxedo mini berwarna hitam yang di padukan dengan kemeja putih dan celana berwarna hitam senada. Sedangkan Arion menyusulnya keluar sambil menggendong Kinan yang menggunakan Gaun yang sama seperti April, namun mengembang di bagian rok-nya.
April melemparkan pandangannya pada Arion sebelum memasuki gedung aula. Arion tampak berbeda dengan jas hitam yang melekat di tubuh atletisnya. Terlihat lebih dewasa dan maskulin.
Sayangnya, Arion hanya menatapnya sekilas, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ah. Perang dingin baru saja dimulai.
***
Alunan musik akordeon menjadi pengiring acara Reuni malam ini. Setelah acara penyambutan dari beberapa orang penting, juga beberapa acara seperti kolaborasi musik dan permainan klasik lainnya. Para tamu di persilahkan untuk menikmati kuliner yang ada di setiap stand yang berdiri di area taman belakang sekolah.
SMP Nusa sering menggelar acara tahunan. Nggak heran kalau fasilitas yang paling di banggakan adalah gedung Aula yang hampir seperti ballroom dan juga taman belakang sekolah yang luas. Lampu-lampu kuning melilit di antara tangkai pohon yang ada disana, aroma makanan yang menggoda juga menjadi daya tarik tersendiri untuk para tamu yang cinta kuliner.
Kean dan Kinan bisa menjadi salah satunya.
"Kita duduk di sini dulu," April bersuara. Mengajak Arion, Kean dan Kinan untuk duduk dalam satu meja bundar yang pas dengan empat kursi.
Tadi, April sudah bertemu dengan teman-teman lamanya. Sekedar mengobrol singkat dan bernostalgia.
Beberapa diantara mereka sudah sukses dengan karir dan keahlian masing-masing, dan beberapa juga ada yang masih fokus kuliah untuk jenjang yang lebih tinggi.
"April!"
Yang di panggil langsung menolehkan kepalanya, mencari sumber suara. Dan tatapannya berhenti pada sosok perempuan dengan gaun berwarna hijau pucat. "Daren!! Sini!"
Daren menghampirinya dengan langkah anggun. Tangannya melingkar pada lengan seorang Pria yang kurang lebih umurnya hanya selisih dua tahun dengan Daren. Memakai Jas abu-abu dan celana hitam tanpa menggunakan dasi.
"Kenalin, Ini Nathan!"
April tersenyum, lalu membalas jabatan tangan Nathan seramah mungkin. "April,"
Arion bangkit berdiri, ikut membalas salam Nathan dengan senyum yang tak kalah ramahnya. "Arion,"
Daren mengerutkan dahinya. Bingung. Perempuan itu baru melihat Arion yang agak asing di matanya. "Loh, Suami lo mana? Marvin emang nggak ikut, ya?"
Anjir. Arion berdecak.
April tersenyum kikuk. Mengamati bagaimana perubahan ekspresi Arion yang begitu drastis. "Daren, Yang ini suami gue."
Tangannya mengelus pundak Arion, meskipun terasa kaku. Meski begitu, Daren langsung salah tingkah dan hanya tertawa kecil. "S-Sori, Gue kira kemarin itu..."
"Enggak, lo salah paham."
.
.
Prediksinya benar, harusnya Arion tak perlu ikut dalam acara ini.
"Kean, mau Papa ambilin chesecake?"
.
.
.
(TBC)