10

2170 Kata
"Ma! Ayo pulang!" "Gila, gue pikir dia nggak bakal secantik itu, loh!" April memperhatikan sosok perempuan dalam foto yang ada di ponsel Marvin. "Seriusan jadi model dia?" "Iya, model buat majalah fashion gitu." "Mamaa!" Kean yang merasa di abaikan menarik tangan April dengan paksa. Perempuan itu hanya menoleh pada Kean sesekali, tapi kembali fokus dengan topik obrolan. "Padahal dulu Sheila nggak suka make up, dan tingkahnya tomboy banget. Sekarang, cantik abis!" "Mama!! Ayo pulang!!" "Apa, sih?" April menatap Kean jengah. "Kean nggak boleh nakal, ah! Kalau ada orang lagi ngobrol dengerin dulu.." Kean berdecak. "Tapi, aku mau pulang!" Marvin mengalihkan perhatiannya pada anak laki-laki yang sedang cemberut di depannya. Laki-laki itu mengacak rambut Kean gemas. "Kamu laper nggak? Kita makan siang dulu gimana?" Kean menggeleng. Ia masih berusaha menarik ujung baju April agar mau bangkit dari kursi dan segera membawanya pulang ke rumah. "Ayo pulang, Maa.." April menghela nafas. "Sekarang jam berapa, sih?" Marvin melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam empat sore." "Tuh, kan! Kalian belum pada makan siang," Omel April. "Kita makan siang dulu bentar, ya?" Kean berdecak. Meskipun ia tidak bisa mengelak fakta bahwa perutnya benar-benar keroncongan sekarang karena hampir selama tiga jam mereka bermain di taman kota. Kemudian, Kean berteriak agar Kinan segera meninggalkan ayunan-nya. Kali ini, Kean akan menurut saja. Baru Marvin dan April akan bangkit berdiri. Seorang perempuan berpostur tinggi dengan pakaian formal menghentikan langkah mereka. "Eh, April.. ya?" Dahi April berkerut. Antara ia dan perempuan di depannya sama-sama mencoba mengingat dan meyakinkan. "Lo.. Daren, kan?" "IYA! YA AMPUN!!" Perempuan bernama Daren itu langsung berteriak heboh. "Gila, Gila! Kok lo bisa disini?" "Nggak, sih.. cuma lewat doang. By the way, lo apa kabar?" Daren memeluk pundak April. Terakhir mereka bertemu waktu kenaikkan kelas sembilan. Daren pindah sekolah karena ikut bisnis Papanya di Kalimantan dan April baru tau, kalau Daren sekarang balik lagi ke kota kelahirannya, Jakarta. April dan Daren dulu menjadi sepasang sahabat. Satu organisasi OSIS di sekolah, dan jadi kandidat cewek paling populer pada masanya. "Lo nggak mau nyapa gue, nih?" Marvin mengerutkan dahinya. Bingung. Karena Daren pernah jadi mantan cinta monyetnya waktu SMP dulu. "Eh! MARVIN?!" Daren memekik. Baru tau kalau laki-laki di sebelahnya juga teman SMP mereka. "Ya ampun, lo beda banget, gila!" Kean dan Kinan saling melempar tatapan jengah. Rupanya mereka di abaikan. "Makin ganteng, ya, nggak?" Daren tertawa kecil. "Ahaha. Lo masih nggak berubah. Pede banget lagian." "Sekarang kerja dimana?" Tanya April. "Gue? Kerja di perusahaan bokap. Bagian Majemen Keuangan, hehe. Lo sendiri?" April mengangkat bahu. Melirik dua anak kecil di sampingnya. "Ngurus rumah. Biasa, lah." Daren membulatkan matanya. Baru menyadari dua anak kecil ini adalah buah hati April. "Astaga! Ini anak kalian?" April mengangguk. Karena sepertinya dia nggak terlalu 'ngeh' dengan kalimat yang Daren utarakan. Perempuan itu justru membuat gesture pada Kean dan Kinan agar memberi salam pada Daren. "Kenalan sama Tante dulu, dong!" Daren berjongkok di depan Kean dan Kinan. "Kembar?" "Ih! Lucu banget, sih kaliaan!" Daren mencubit pipi keduanya bergantian. Menurutnya, yang perempuan mewarisi wajah April. Tapi.. yang laki-laki, kok? Sama sekali tak mewarisi wajah Marvin. Ah. Hanya perasaannya saja. Nggak semua anak terkadang mirip Ayahnya. "Namanya siapa?" "Kean sama Kinan," April menjawab. "Lo sendiri? Udah ada jodoh?" "Ah, lo mah gitu.. Alhamdullilah, ya.. udah tunangan bulan kemarin." Daren mengangkat tangan kanannya, lebih tepatnya memerkan sebuah cincin emas yang tersemat di jari manis perempuan itu. "Ntar pas Reuni SMP gue ajak tunangan gue, kok." Marvin dan April sama-sama mengerutkan dahi. "Reuni? Kapan?" Tanya Marvin. "Minggu depan. Kok lo nggak tau?" Marvin menggeleng. "Gue baru tau dari lo malah. Seriusan ada Reuni? Biasanya SMP jarang Reuni, kan ya?" Daren mengangguk. "Iya, Reuni angkatan kita. Sekaligus ngerayain acara.. apa gitu.. gue lupa. Jam sembilan malem, deh. Kayanya. Ntar gue share ke-grup deh. "Oke, siaap!" Marvin mengacungkan jempolnya ke udara. "Kalau gitu gue duluan, ya. Udah sore juga." Daren melambaikan tangan. "Bye!" "Lo mau dateng?" Tanya April, setelah Daren meninggalkan mereka beberapa detik yang lalu. "Pasti, ini pertama kalinya ada Reuni dari SMP kita, iya nggak, sih?" April mengangguk. Seolah bisa membaca pikiran Marvin, ia menatap laki-laki itu. "Dateng atau enggak, gue pikir-pikir dulu. Tapi kayanya, acaranya pasti seru." "Ya makanya, lo harus dateng!" Marvin mengacak rambut April pelan. Saat itu juga Kean ingin sekali menggigit tangan Marvin hingga berdarah. *** Jam menunjukkan pukul tujuh malam lewat lima belas menit ketika Marvin menghentikan mobilnya di depan pintu komplek. April menolaknya untuk mengantar sampai rumah, karena takut-takut Arion sudah pulang. "Sampai sini aja," "Kenapa?" "Arion pasti udah pulang. Nggak enak juga kalau dia liat kita pulang malem gini." "Ohh," Marvin mengangguk. Ia melirik dua orang anak yang setengah tertidur di jok belakang. "Mereka tidur, tuh?" April menengok ke belakang. Sambil berusaha melepas seatbelt yang mengikat tubuhnya. "Gampang, ntar gue bangunin pelan-pelan." Marvin mengangguk lagi. Kemudian dahinya berkerut melihat April yang sangat kesulitan melepaskan diri dari seatbelt-nya. "Susah, ya?" "Nggak tau, nih. Macet kali." Marvin mencondongkan tubuhnya. "Sini, gue bantu." Deg. Lagi. April harus menahan nafasnya. Ia bisa mencium aroma parfum dan aroma rambut Marvin dengan jelas. April hanya bisa menahan diri, berharap ini waktu cepat berloncatan. Marvin menjentikkan jarinya di depan wajah April, membuat perempuan itu mengerjap kaget. "Eh, kok bengong?" "Oh—udah, ya?" Bodoh. April baru sadar, bahwa tubuhnya sekarang terbebas dari jeratan sabuk pengaman sialan itu. Marvin hanya tertawa geli. "Nggak perlu ngerasa canggung. Kita temen, kan?" Ada jeda sejenak. . . . Barulah April mengangguk. "I-Iya." Duh. Bego. Gue-nya aja kali, ya.. gampang baper. Mereka sekarang menjadi teman. Jadi, nggak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Sekarang April tak harus merasa terancam oleh keberadaan Marvin di sekitarnya; Karena mereka hanya sekedar teman. Tanpa banyak tingkah lagi, April membuka pintu mobil, keluar dari sana dan beralih pada pintu belakangnya. Dengan gerakan selembut mungkin, April menepuk pipi Kean dan Kinan pelan-pelan. "Kean.. Kinan.. bangun, sayang. Kita udah nyampe rumah." "..." Hanya ada lengguhan kecil dari keduanya. Hal itu membuat Marvin tersenyum geli saking gemasnya. Sampai beberapa kali tepukan. Kinan yang pertama kali mengerjapkan matanya. Anak itu segera keluar dari dalam mobil meskipun masih agak linglung. Sedangkan Kean masih bertahan di dalam mobil dengan dengkuran halusnya. "Kean, jangan kaya Papa, ya! Nggak boleh ngebo' di mobil orang.." Marvin tertawa mendengar itu. "Udahlah, Pril.. lo gendong dia aja, lagi ngantuk banget mungkin." "Turunan Arion, sih.. jadi ya gini.." April menggerutu, seraya mulai mengangkat tubuh Kean ke pelukannya. "Duh.. berat banget ini anak Papa!" Dengan sebelah tangan April langsung menutup pintu mobil Marvin. Laki-laki itu melambaikan tangannya pada April dan Kinan secara bergantian. "Gue balik, ya?" "Iya, Thanks, ya.. hati-hati di jalan." Marvin melirik Kinan. "Om pulang dulu, ya?" Kinan tersenyum lebar, dengan mata sipit khas bangun tidur. "Dadah, Om!" Setelah itu, mobil Marvin kemudian meluncur dan keluar dari area komplek. Meninggalkan April yang menggendong Kean dan juga Kinan yang keberatan membawa tas sekolah saudara kembarnya itu. "Kean pake acara tidur segala, lagi! Udah tau tas-nya berat gini!" April tetap berjalan, menepuk punggung Kean yang masih berbalut seragam sekolah. "Kean, kan capek abis sekolah. Kamu, kan tadi nggak sekolah?" Kinan mendengus. "Ya tapi, kan.. aku lagi sakit, Ma!" "Masa?" April tersenyum jahil. "Orang kamu tadi bisa lari-lari di taman, masih mau bilang lagi sakit juga?" Kinan berdecak sebal. "Ya udah, terserah Mama!" *** Pintu terbuka. Menampilkan sosok Arion yang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil memperhatikan acara televisi. Sesekali pria itu tertawa, saking fokusnya pada sebuah tayangan variety show. "Assallamuallaikum." Arion menolehkan kepalanya. "Waallaikumsalam. Kamu dari mana?" Kinan melengos. Melemparkan tas Kean ke sofa dan langsung menghempaskan tubuh disana. "Abis jalan-jalan, sama—" "Iya, kita habis jalan-jalan." April melotot ke arah Kinan. Berharap anak itu mengerti kode yang ia berikan agar tak banyak bicara. "Sama?" Arion menaikkan sebelah alisnya. Terlanjur penasaran dengan pernyataan Kinan yang belum selesai. "Ya.. Sama aku, dong. Sama Kean juga.. " April tersenyum lebar. Arion mengerutkan dahinya. Entah kenapa, pernyataan itu sedikit menggelitik telingannya. Ah, nggak. Arion hanya merasa ada sesuatu yang aneh dari kalimat itu. Seperti bukan pernyataan yang sesungguhnya. Kerutan di dahinya memudar. Lalu Arion hanya mengangguk. "Ohh, tumben." Ragu. Karena biasanya April nggak pernah mau jalan-jalan sendiri, apalagi bawa anak dua. Batin Arion. "Aku ke kamar, ya!" Kinan langsung bangkit. Memilih meninggalkan ruang tamu dengan atmosfer yang sangat membuatnya tak nyaman. Untuk pertama kalinya, Kinan melihat; bagaimana cara Mama berbohong. "Kamu udah makan belum?" April mencoba mengalihkan topik. Arion menggeleng. "Belum, sih. Kean sama Kinan udah makan?" "Udah, tadi di jalan kita nyempetin makan di Resto." April mengeratkan gendongannya pada tubuh Kean yang lambat laun mulai merosot. "Tolong bawa Kean ke Kamarnya, dong. Biar aku siapin makan buat kamu." Arion beringsut bangkit dari sofa, mengambil alih Kean dalam gendongan April kemudian membawanya meniti tangga ke lantai dua. "Bikinin telor mata sapi aja, deh. Lagi pengen makan yang biasa-biasa." "Sip." *** Arion mendorong pintu kamar Kean dan membaringkan tubuh anak mungil itu ke ranjang. Perlahan, tangannya melepas sepatu kets yang masih melekat di kaki Kean. Selanjutnya, Arion menggantikan seragam sekolah Kean dengan piyama tidur—pelan-pelan,agar ia tak terjaga dari tidurnya. Setelah selesai, Arion menaruh tas Kean di samping meja belajar. Tangannya tak sengaja menemukan secarik kertas kucel yang terselip diantara resleting tas anaknya. Arion mengerutkan dahi. Sambil mencoba merapihkan secarik kertas tersebut agar bisa di baca. Hasil Test harian. Dan Kean berhasil mendapatkan empat bintang untuk ujian-nya hari ini. Pertanyaannya; kenapa kertas ini harus di remas sedemikian rupa kalau hasilnya memuaskan? Arion tak terlalu mengambil pusing. Pria itu hanya memasukkan secarik kertas tadi ke dalam laci meja belajar Kean dan meninggalkan kamar setelah mematikan lampu. *** Ketika Arion sampai di anak tangga terakhir, kakinya langsung melangkah ke ruang makan. April sudah menunggunya dengan senyum lebar dan dua piring nasi di hadapannya. "Kamu emang belum makan?" April menggeleng lantas tersenyum. "Udah, tapi aku pengen makan lagi bareng kamu." "Ohh," Arion hanya tersenyum tipis. . . . . Ah. Perasaan gue doang. Tapi, April pikir, ada yang berubah dari Arion. Tanpa banyak bicara, Arion menarik kursi dan duduk di hadapan April. Pria itu langsung menyantap makan malam sederhana; satu tangkup nasi, telur mata sapi setengah matang dan segelas air putih. Arion sedang tidak ingin makan yang aneh-aneh sekarang. "Oh, ya. Tadi pagi Marvin kesini, kan?" April menghentikan gerakan sendoknya. Menatap Arion dengan pandangan yang sulit di artikan. "K-Kamu tau?" "Tau, lah. Orang aku ketemu dia duluan di depan." "T-Terus?" "Terus, ya harusnya aku nanya sama kamu. Dia kesini ngapain?" Nada bicaranya datar. Tapi, itu nyaris membuat April mati kutu. "Cuma... ngembaliin jaket doang." April mulai menyembunyikan wajahnya. Sebaliknya, Arion mulai mendongakkan kepala, menatap April intens. "Gitu doang?" "Emang kenapa...?" Arion menaruh sendoknya di piring. Hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. "Menurut kamu wajar nggak? Dia kesini, sedangkan jelas-jelas di rumah ada aku?" "Dia temen—" "Dan aku suami kamu! Harusnya kamu tau. Peraturannya, kamu nggak boleh sembarang masukkin cowok tanpa izin aku. Tadinya, aku kira kamu nggak nyuruh dia masuk, tapi," Arion menarik nafas. Emosinya sudah terlanjur meledak sejak tadi pagi. "Intinya, kamu nggak ngehargain aku." April menghela nafas jengah. Pegangan pada sendok alumuniumnya semakin erat karena saking gugupnya. "Kalau kamu nggak suka, harusnya kamu halangin dia buat nggak masuk ke rumah! Biar dia nggak ganggu aku lagi, Biar dia berhenti hubungin aku lagi, biar dia—" Anjir, gue keceplosan. Deg. . . . . . . . . Arion tersenyum. Senyum yang menyakitkan, hambar dan sarat akan rasa kecewa. Pria itu bangkit, mengabaikan sepiring nasi yang belum habis. "Aku curiga, Marvin itu masa lalu kamu." Marvin itu masa lalu kamu. Marvin itu masa lalu kamu. Marvin itu masa lalu kamu. Marvin itu masa lalu kamu. Marvin itu masa lalu kamu. Berapa kali lagi ia harus menghindari fakta bahwa kenyataannya Marvin adalah masa lalunya. "Arion!" Sayangnya, Pria itu terlanjur menghilang dari ruang makan. Dan April menemukannya kembali di Ruang Keluarga. Arion duduk dengan wajah sangar, menatap layar televisi yang mati. April menggigit bibir bawahnya, bingung. Ia memberanikan diri duduk di samping Arion. "Ar, dengerin aku dulu..." "..." "Aku sama dia..,cuma temen." Arion berdecak. "Berapa kali kamu ketemu sama dia?" Sering. April menjawab dalam hati. Perkataan itu nyatanya hanya berhenti di ujung lidah. "Jawab, Pril.." Arion merubah posisinya, menghadap April. Ini bukan sesi bercanda-nya. Ini serius. "Tuh, kan. Sekarang kamu mulai nggak jujur sama aku!" April membasahi bibirnya, gugup. "Intinya, kita temen, Ar.. kamu nggak percaya sama aku?" "Gimana aku mau percaya? sedangkan sekarang, Kamu nggak mau jujur sama aku. Itu yang nggak aku suka!" Arion menghela nafas, berusaha untuk menstabilkan emosinya. "Kamu bilang; kamu nggak mau dia ngehubungin kamu lagi, nggak gangguin kamu lagi, apa itu artinya selama ini dia sering hubungin kamu?" Hening. April tak menjawab. Bahkan ia terlalu takut untuk mengangkat wajah dan menatap tepat di kedua bola mata Arion. "Ah.. apa jangan-jangan, di belakang aku kamu mulai nggak bener sama dia? Dan apa barusan tadi, kamu pergi sama Marvin?" Deg. . . . . . . . . . "..." April masih tak bersuara juga. Sampai di detik selanjutnya, justru tubuh April yang bergetar, bahunya naik turun, nafasnya mulai tersendat. April menangis. "Maaf," Tatapan Arion mulai melembut,Meskipun Arion sulit untuk menahan diri agar tidak menyentuh April. "Aku nggak butuh maaf dari kamu, aku cuma butuh kejujuran kamu. Selama ini, kamu sering ketemuan sama dia?" April mengangguk samar. "Iya, Iya.. Oke. Aku ngaku.." "Tapi kamu harus percaya, aku sama Marvin nggak ada hubungan apa-apa." "Siapa dia sebenernya?" Lama. April mengambil jeda. Mengusap pipinya yang basah karena air mata. Berusaha menenangkan diri agar bisa melepaskan apa yang selama ini menjadi bebannya. "...Mantan, waktu SMP." Simpel. Singkat. Jelas. Dan bisa membuat hati Arion langsung mencelus. "Mantan?" "T-Tapi, kamu dengerin aku dulu," April menggenggam tangan Arion, meremasnya. "Itu cuma masa lalu, kan? Kita udah nggak ada hubungan lagi." "Kalau kamu nggak ada hubungan, dia nggak bakal sampai ngejar kamu kaya sekarang, Pril! Kamu jujur, deh sama aku! Nggak usah ada yang di tutup-tutupin lagi!" Arion menepis tangan April pelan. Satu hal yang membuatnya kecewa; April mulai nggak jujur. "Iya, Iya! Dia mantan aku! Jauh sebelum kita jadian waktu SMA. Waktu aku mulai jadian sama kamu, kita belum putus. Dan aku kira, Marvin nggak akan balik lagi ke Jakarta, aku pikir dia ngilang dan udah nemu kehidupan baru tapi ternyata enggak, dia masih mikir kalau aku tetep nunggu dia—" "Kamu tau kamu salah sama dia?" April menatap Arion sendu. "Salah... apa?" "Salah kamu itu, karena kamu ngasih harapan sama orang lain. Ngasih harapan sama dia kalau kamu tetep nunggu dia, kamu nggak putusin hubungan sama Marvin dan langsung jadian sama aku. Disitu salah kamu." "Kamu nggak ngerti—" "Sekarang gini aja, deh. Kalian masih saling sayang atau enggak?" Lagi. April diam. Bahkan mungkin bisa terhitung berapa kali April mati kutu setiap Arion melemparinya pertanyaan. Kemudian, April menggeleng. "Dia..yang masih sayang sama aku, maka dari itu aku khawatir kalau—" "Dan kamu," Arion memotong ucapannya lagi. "Kamu masih sayang nggak sama dia?" "...Enggak," Kata April pelan. Nyaris seperti bergumam. —Tau. Iya, aku nggak tau. Aku nggak tau, aku masih sayang dia atau enggak. "Arion! Kamu mau kemana?!" Yang April tahu saat itu, Arion beranjak dari ruang keluarga, mengambil jaket dan kunci mobil. Detik selanjutnya, terdengar debaman pintu yang sangat keras. . . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN