April memeras handuk basah setelah mencelupkannya ke dalam baskom berisi air. Perempuan itu meletakkan handuk basah tadi pada kening Kinan. "Cepet sembuh, ya.."
Ini semua salahnya.
Kalau saja April tak teledor.
Kalau saja April tak terlalu berambisi untuk menyelesaikan masalah dengan masa lalunya.
Kalau saja April tak membuat janji dengan Marvin.
Dan berbagai kalau saja, yang sudah terlanjur terjadi.
April menutup pintu kamar Kinan pelan, agar tak menimbulkan suara. Ia melangkahkan kakinya menuruni tangga yang meliuk ke ruang makan.
Perasaan tadi, gue naruh sesuatu disini..
April menggaruk lehernya bingung. Mencoba mengingat-ingat apa yang ia tinggalkan di kursi makan tadi sore. Tapi, apa ya? Kok lupa, sih..
.
.
.
.
.
"Astagfirullah, jaketnyaa.." April mencak-mencak tak keruan.
Mata dan tangannya sibuk meneliti seluruh sisi ruang makan tempat terakhir dimana ia menyimpan jaket milik Marvin.
April membungkukkan tubuhnya, memeriksa kolong meja makan, menarik setiap kursi dan beringsut untuk mencari di ruang keluarga. Siapa yang tahu? Kalau April bisa saja lupa menyimpannya.
"Kamu nyari apa?"
Suara berat itu membuat April menoleh ke sumber suara. Mendapati Arion dengan setelan piyama biru tua tanpa motif baru saja keluar dari dapur dengan segelas penuh air putih.
"Aku nyari-"
"Aku jemur di halaman belakang." Seolah bisa membaca pikiran April, Arion langsung menyela. Dan sukses membuat April mematung saat itu juga.
Setelah sosok Arion berlalu. April langsung berlari kecil ke halaman belakang, menggeser pintu kaca yang membatasi ruangan utama dengan halaman terbuka.
April menghela nafas. Jaketnya ada disana, digantung dengan sempurna pada kawat jemuran. Satu hal yang membuat April merasa tak enak hati lagi karena; Arion yang melakukannya.
Perempuan itu mendorong pintu kamarnya pelan. Entah sejak kapan, Tapi April merasa atmosfir ruangan ini membuatnya gugup. April langsung membaringkan tubuhnya di kasur, menarik selimut sebatas pinggang dan memiringkan tubuhnya sambil memeluk guling.
Secara tak langsung, posisi ini memunggungi Arion yang sedang sibuk di meja kerjanya dengan mata terpancang pada layar komputer. Pria itu melirik April sekilas. Sebenarnya, Arion juga ingin menghilangkan rasa kesal itu, tapi entah kenapa rasanya begitu sulit.
April memutar tubuhnya, memperhatikan Arion yang tak menatapnya sedikit pun. April bahkan belum menjelaskan alasannya kenapa ia terlambat menjemput Kean dan Kinan.
Atau, Arion bahkan sudah tau?
"Kamu... nggak tidur?"
"..." Tak ada jawaban. Kecuali suara tombol keyboard, menandakan bahwa Arion sedang sibuk.
April mendesah, menurunkan kakinya ke lantai dan bangkit dari ranjang. Ia menghampiri Arion, berdiri di sampingnya. "Kerjaan kamu masih banyak?"
"Iya."
Singkat. Padat. Jelas. Jelas karena kata 'iya' tersebut berarti Arion sedang tak ingin di ganggu.
"Aku ambilin air lagi, ya?" April menggenggam gelas kosong yang ada di meja kerja Arion.
"Nggak usah," Kali ini Arion mulai menatapnya. "Kamu bisa tidur duluan."
Tanpa suara, April mengabaikan perkataan Arion dan melangkahkan kaki keluar kamar dengan gelas kosong di tangannya.
***
Setengah menit kemudian, April kembali. Ia meletakkan gelas yang kini sudah terisi penuh air putih di meja. Membuat Arion menatapnya, dingin.
"Thanks."
April mengangguk. Tapi, ia tak beranjak dari posisinya dan tetap berdiri di samping Arion yang sekarang justru mengabaikannya.
Semenit.
.
.
.
Dua menit.
.
.
.
April masih tetap berdiri disana. Memandangi segelintir dokumen yang sedang Arion kerjakan di layar komputer. Meskipun sadar akan keberadaan April di sampingnya, Arion tak peduli.
"Aku... mau minta maaf," Akhirnya, April bersuara.
"Soal apa?"
"Aku tadi pergi nggak bilang kamu. Aku tau, aku salah."
Arion menghela nafas, menutup halaman dokumen pada layar komputer dan melepas kaca matanya. Pria itu memutar kursi, menghadap April yang kini berdiri di hadapannya. Perlahan, dadanya mulai sedikit lega meskipun masih ada secuil rasa curiga bercampur kesal karena April mulai melakukan hal-hal tanpa sepengetahuannya.
Arion menarik tangan April, meminta perempuan itu agar duduk di pangkuannya. April melingkarkan tangannya pada leher Arion dan Pria itu balas melingkarkan tangan pada pinggang rampingnya.
"Maaf, ya?"
"It's okay." Jawab Arion, pelan. Ia tersenyum lembut dan mengelus pipi April. "Jangan di ulangi lagi."
April mengangguk. Sejurus kemudian, perempuan itu merapatkan jarak yang tersisa dan mulai memiringkan kepalanya.
Ketika bibir mereka bertemu, Arion tak langsung membalas setiap ciuman yang mendarat di bibirnya. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan April menikmati sendiri ciuman itu.
Ragu.
Lebih tepatnya. Arion masih terlalu ragu untuk menaruh kata percaya.
Tapi, ia langsung di pukul mundur ke masa lalu. Mengingat sewaktu SMA, bagaimana April tetap menaruh kata percaya meskipun kenyataan berkata lain.
Perempuan itu masih tetap disampingnya hingga sekarang. Sebejat apapun kelakuannya di masa lalu, April tetap bersamanya.
Lalu, apa salahnya jika Arion balas menaruh kata percaya?
Setidaknya, itu yang terbaik.
Detik selanjutnya, Arion mulai membalas ciuman April. Menekan punggung perempuan itu untuk memperdalam ciumannya.
Baik. Arion percaya, sekarang.
***
Sejak insiden penemuan jaket kulit di ruang makan. Arion tak ingin terlalu membahas lebih lanjut. Arion bahkan tak menanyakan apa yang terjadi kemarin, kemana April pergi atau siapa pemilik jaket itu. Pria itu diam. Mengumpulkan seluruh pertanyaan di dalam otak, tanpa mau mengeluarkannya.
Arion menuruni tangga, sambil memasangkan jam pada pergelangan tangannya. Kean mengekorinya dari belakang tanpa ekspresi. April sudah menunggu di bawah tangga dan mulai memasangkan dasi hitam pada kerah kemeja suaminya. "Hari ini, pulang jam berapa?"
"Kalau nggak ada meeting, pulang jam tujuh malem kaya biasa."
April mengangguk, lalu memberikan ikatan terakhir pada simpul dasi Arion. "Selesai."
Gantian, April melirik Kean yang turun dari tangga dan langsung menarik gelas s**u mendekat. "Kenapa manyun gitu?"
Kean menatap April. Ada gurat kecewa yang tergambar pada wajah mungilnya. "Kinan nggak sekolah, ya?"
April tersenyum jenaka. Lalu memasukan tempat makan dan botol minum ke dalam tas Kean. "Kamu, kan tau.. Kinan lagi demam kemarin, jadi sekarang nggak sekolah."
"Tumben nanyain Kinan?" Arion menarik kursi makan, duduk disana lalu mengambil setangkup roti gandum. "Biasanya kalau lagi sehat, di ajak berantem mulu."
Kean mendengus. "Aku duluan ke mobil ya, Pa!"
"Jangan lupa, ntar bekel nasi-nya di makan, ya!" April berseru.
Setelah memastikan Kean benar-benar masuk ke dalam mobil. April mengambil posisi duduk di depan Arion. Memperhatikan pria itu menyantap menu sarapannya. April mengetukkan jari-jarinya ke permukaan meja, berusaha untuk merangkai kata-kata.
"Soal kemarin..., aku belum jelasin sama kamu, kan?"
Arion mengalihkan perhatiannya. Menatap April sejenak. "Jelasin apa lagi?"
Sungguh, Arion tak ingin tahu.
Karena ia yakin, penjelasannya pasti menyakitkan.
"Kemarin aku pergi buat ketemu..." April masih menahan kata-katanya. Ragu itu muncul ketika April ingin mencoba berterus terang.
"...Marvin."
Pipinya mengembung. Pria itu sibuk mengunyah roti. "Terus?"
Terus? April berdecak. Ia bahkan sudah mempersiapkan mental untuk menerima kemarahan Arion. "Kok kamu nggak marah, sih?!"
Arion mengerutkan dahi. "Kenapa harus marah?"
"Ya... maksudku, tuh.." April menggaruk lehernya bingung. "Kan, kalau kamu khawatir... pasti kamu marah?"
Arion tersenyum. Lalu menggenggam segelas s**u putih dan meminumny dalam beberapa tegukan. "Udah, ya.. aku mau berangkat."
April mengangguk, seraya ikut berdiri untuk membawakan jas hitam milik Arion dan mengantar laki-laki itu ke luar rumah. "Hati-hati,"
"Jaga Kinan, ya?" Arion mengecup pipi April singkat, lalu melambaikan tangannya. "Bye!" Lalu April memutar tubuhnya, kembali masuk ke dalam rumah.
Samar-samar, matanya melihat jaket kulit itu masih tergantung sempurna di kawat jemuran yang ada di halaman belakang. Sejujurnya, Arion ingin tahu kepastian tentang siapa sebenarnya pemilik jaket kulit tersebut.
Ah. Arion masih terlalu ragu untuk bertanya pada April.
Tapi, ia segera mengurungkan niatnya untuk bertanya, karena sekarang ia semakin yakin siapa pemilik jaket kulit itu.
Ketika seorang laki-laki menginjakkan kaki di halaman rumahnya.
Bahkan sebelum Arion memegang pintu mobil.
"Cari siapa?" Tanpa banyak bicara, Arion langsung melemparinya pertanyaan.
Marvin menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum lembut. "April ada?"
Arion diam.
Nggak ada.
...buat lo.
"Di dalem." Tapi, mulutnya mengucapkan kata lain.
Bodoh. Banget.
Arion hanya menatap punggung Marvin nanar. Laki-laki itu mulai mengetuk pintu rumahnya dan Arion hanya diam saja, lebih memilih untuk masuk ke dalam mobil karena ia ingat Kean harus sampai sekolah tepat waktu.
Kedua bola mata bening itu benar-benar melihatnya dengan nyata. Sosok laki-laki yang ia tahu sering mengganggu Mama, kini berani menginjakkan kaki di Istana Kean dan Papa.
Kean dapat melihat perubahan ekspresi Papa ketika masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin. Kean baru mulai membuka suara ketika perlahan mobil yang ia tumpangi berjalan mulus di jalan raya.
"Dad, are you okay?"
Arion mengerjap. Menatap Kean dengan dahi berkerut. "Hh?"
Kean memutar bola mata. "Papa, nggak papa?"
"Bukan, bukan itu maksud Papa.."
"Apaan, sih?"
"Tumben pake bahasa inggris?"
Ya ampun. Salah fokus lagi.
"Emang kenapa?"
Arion berdeham. Menjernihkan suaranya. "Ya.. aneh aja, anak kelas satu SD udah mulai pake bahasa inggris. Keren aja gitu.."
"Ih, Nggak nyambung." Kean mendengus.
"Ciee, jagoan Papa pinter ya.." Dengan satu tangan, Arion mengacak rambut Kean lembut. Sedang tangan yang satunya tetap fokus memegang setir kemudi. "Kalau udah gede, jangan jadi kayak Papa, ya?"
Semoga.
Semoga.
Arion hanya ingin semua anak-anaknya tahu. Kean, Kinan dan... Rega. Untuk tak pernah mengulang kesalahan yang sama.
***
"Pril?"
Yang di panggil langsung mengerjap. Memfokuskan pandangannya pada sosok laki-laki yang sedang duduk di depannya. Tapi April tak menjawab.
Hening.
Atmosfer ruangan ini berubah menjadi kaku. April tak berbicara sepatah kata pun sejak Marvin datang dan duduk di sofa ruang tamu. Tatapannya kosong, wajahnya memucat. Seperti orang yang putus asa.
"Lo nggak papa?"
April menggeleng. "Lo bisa pulang?" Akhirnya, April mengeluarkan suara.
Marvin berdecak. "Please, lah. Lo kasih waktu seenggaknya lima belas menit buat ngobrol sama gue."
"Emang lo siapa gue?"
Deg.
.
.
.
.
.
.
.
"Gue temen lo."
April tersenyum tipis. Lalu menaikkan kedua alisnya. "Temen?"
Marvin mengangkat kedua bahunya. "Yah, seenggaknya, kita masih bisa berteman, kan?"
"Kenapa lo ngomong gini?"
"Nggak papa, gue pikir.. kita harus mulai dari awal. Kita temenan."
"Hmm," April mengangguk. "Ya udah, lo boleh pulang. Jaket lo udah gue kembaliin, kan?"
Marvin tersenyum lebar. "Oke. Thanks, ya!"
"Iya."
Marvin bangkit, menyampirkan jaket kulit berwarna cokelat itu ke pundaknya. "By the way, abis ini lo ada acara nggak?"
April terdiam sejenak. Berpikir. "Nggak ada, sih.. paling jemput Kean doang. Kenapa emang?"
"Eng..., Jalan yuk? Gimana? Kita nggak berdua. Lo... bisa bawa anak-anak, kok."
April berpikir sekali lagi. Berusaha agar tidak mengambil jalan yang salah. "Nggak tau. liat nanti, deh. Kinan belum sehat soalnya."
"Oh, Ya udah. Kalau jadi, gue tunggu di sekolah Kean, ya?"
"Tapi-"
"Gue harap lo bisa. Bye!"
Sayangnya, sebelum April membuat keputusan. Marvin terlalu cepat pergi dari rumahnya.
Dan sepasang mata cokelat milik perempuan kecil yang baru keluar dari kamarnya, menuruni tangga lalu sampai di anak tangga terakhir, ia menyaksikan semuanya.
"Ki-Kinan?"
Kinan melengos. Entah kenapa, rasanya kesal ketika melihat teman Mama yang satu itu. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang makan, mengambil segelas air putih.
"Kamu udah enakkan?" April menempelkan punggung tangannya pada kening Kinan yang agak berkeringat. "Alhamdullilah, Demamnya udah turun."
"Tadi siapa, Ma?"
"Ooh, itu.." April menahan kalimatnya. Dia nggak boleh sembarangan memberi pernyataan pada anak kecil. "Itu.. Om Marvin."
"Temen Mama yang waktu di supermarket itu?"
April mengangguk. "Udah, jangan di bahas lagi. Kamu mau mandi nggak? Pake air anget?"
Kinan mendengus. "Boleh. Badanku udah lengket banget soalnya."
Satu hal, Kinan mudah mengubah suasana hatinya dari pada Kean.
***
Kean menghentikan langkahnya di depan gerbang sekolah ketika melihat Mama keluar dari sebuah mobil lexus hitam. Ia tahu, itu bukan mobil Papa.
Secarik kertas putih yang merupakan lembar soal dengan empat bintang yang di cetak besar-besar langsung Kean remas di belakang tubuhnya, sesaat setelah seorang laki-laki keluar, menyusul Mama.
"Apaan, tuh?" April mengerutkan dahi.
Kean menggeleng. "Bukan apa-apa, Ayo pulang, Ma!"
"Bentar dulu-"
Langkah Kean terhenti. Marvin berjongkok di depannya dengan senyum lebar. Tapi Kean percaya, senyum Papa adalah yang terbaik. "Kita jalan-jalan, yuk! Nanti Om beliin Es Krim Vanilla kesukaan kamu, gimana?"
Kean memutar bola matanya. "Nggak tertarik, tuh." Anak itu menarik ujung baju April. "Ayo, Ma! Pulaaaang!
April tersenyum tipis. "Kita muter-muter sebentar yaa.. Kinan minta jalan-jalan. Kasian juga Om Marvin udah anterin Mama buat ngejemput kamu. Oke?"
Kinan, sialan.
"Ya udah."
***
"Kamu yang minta jalan-jalan sama Mama?" Tanya Kean sambil tangannya membantu mendorong tubuh mungil Kinan agar terayun.
Kinan menggeleng. "Om itu,"
Kean melirik kemana arah pandang Kinan. Laki-laki itu seolah menggantikan posisi Papa yang harusnya duduk di samping Mama. Keduanya kini sedang mengobrol ringan, seolah mengabaikan Kean dan Kinan yang bermain bebas di taman bermain yang ada di pusat kota.
Padahal, Kean dan Kinan tidak benar-benar bebas.
"Om itu kenapa?" Tanya Kean lagi.
"Dia udah ada di depan rumah kita waktu mau jemput kamu."
Kean mendorong tubuh Kinan hingga terayun lebih kuat, lalu melepasnya seolah enggan kembali menemani Kinan main ayunan. "Eh, dorong lagi dong!"
"Males, ah!" Kean beralih. Justru menempati satu ayunan kosong tepat di sebelah Kinan.
"Kamu kenapa, sih? Kayanya nggak suka gitu sama Om Marvin?"
Kean mengangkat bahu. "Emang kamu suka sama Om Marvin?"
Kinan menghela nafas. Lalu kaki mungilnya berusaha untuk mendorong tubuhnya ke belakang agar bisa berayun tanpa bantuan Kean seperti tadi. "Nggak tau, Tapi.. Om Marvin baik."
"Sebaik apapun. Tetep aja, Papa nggak kalah baik."
"Iya, sih.. Tapi, Papa kan sekarang jarang di rumah. Nggak kaya kemarin-kemarin. Sekarang, pulang malem terus.. kita jadi jarang main sama Papa. Padahal-"
"Stop, Ki!" Kean sedikit berteriak. Ia bangkit dari ayunan dan menatap Kinan dengan penuh amarah. "Jangan pernah bandingin Papa sama Om Marvin. Aku nggak suka!"
"Kok kamu marah, sih? Aku, kan cuma-"
"Aku mau pulang." Kean meninggalkan area taman bermain. Berlari kecil ke arah dimana Marvin dan April sedang duduk sambil sesekali tertawa.
Kean nggak suka.
.
.
.
.
(TBC)