08

1976 Kata
"Ini pertemuan kita buat terakhir kalinya." April bangkit dari kursi. Mulai memasukkan ponselnya ke dalam tas dan hendak berkemas untuk meninggalkan Kafe. "Gue harap lo ngerti maksud gue." Marvin menahan tangannya. Lagi. "Gue sayang sama lo—" "LO PUNYA MALU NGGAK, SIH?!" April setengah berteriak. Hampir puluhan pasang mata menjadikannya pusat perhatian. Tapi, peduli setan. Ia sudah lelah sekarang. Marvin bagaikan seseorang yang membuatnya merasa terancam, seolah cowok itu hama atau mungkin terror untuk kehidupannya sekarang. Marvin menghempaskan tangan April. Pelan, tapi itu terasa menyakitkan. "Bahkan gue lupa, gue punya malu atau enggak." April berdecih. "Gue udah nikah, Vin! Gue udah punya Kinan sama Kean. Terus, lo mau apalagi? Semuanya udah terlanjur. Gue tau, gue salah." "Gue nggak peduli. Lo masih pacaran atau udah nikah, semuanya sama aja. Gue bisa sekali-kali bikin lo putus dan bikin lo cerai. Cuma, mungkin dengan status lo yang udah nikah, lo akan ngerasa lebih sakit. Pengorbanan lo bakal lebih besar." April menghela nafas. Ia menjatuhkan bokongnya ke kursi, mengurungkan niat untuk pergi. "Gue salah. Gue minta maaf. Oke?" Marvin tertawa remeh. "Semudah itu lo pindah hati, Pril?" "Marvin.. bukan gi—" "Kenapa lo nggak bisa nunggu gue lebih lama lagi?" "Gue capek! Please." April menyibakkan rambutnya ke belakang. "Mau lo apa, sih?" "Gue cuma mau lo balik." "Kalau itu, gue nggak bisa. Situasinya udah beda." April berdecak. Mulai tak bisa lagi mengendalikan emosinya. "Lagian kenapa, sih? Di luar sana banyak cewek yang lebih baik dari gue—" "Gue bukan lo!" Marvin menaikkan nada bicaranya. "Gue bukan lo, yang segampang itu ngebuka hati buat orang lain. Gue tau, gue emang udah nggak punya malu. Dan asal lo tau, gue juga stress, kenapa setiap hari cuma lo yang ada di pikiran gue! Lo ngerti nggak, sih?!" "Segitu ter-obsesinya lo sama gue?" Marvin tersenyum. Senyum yang memiliki sisi kelam dan sisi jahat di dalamnya. "Entah apapun caranya, gue bakal ngegunain berbagai cara buat bikin lo balik lagi." "Lo bukan Marvin yang gue kenal." "Lo juga bukan April yang gue kenal. Jadi, kita mulai semuanya dari awal. Sebelum kita saling kenal, dan itu artinya, lo nggak berhak ngait-ngaitin keberadaan gue dengan masa lalu. Gue ngejar lo bukan karena sepuluh tahun, tapi karena gue sayang sama lo." "Iblis," April memutar bola matanya. "Gue harus pergi, nggak ada waktu." Marvin hanya mengangkat bahu acuh. Membiarkan April melenggang pergi. Cowok itu menatap punggunh April yang perlahan menghilang di balik pintu Kafe. Hatinya mencelus, tangannya mengepal kuat-kuat. Justru lo yang bikin gue jadi Iblis. *** Sial. April merutuk dalam hati. Menjelang bulan November, akhir-akhir ini Jakarta di selimuti awan mendung. Harusnya, ia tau itu. Dan, benar saja. Begitu langkah pertamanya keluar dari Kafe. April di sambut oleh jatuhnya titik-titik air ke tanah. Suara gemuruh dan kilatan cahaya saling bersahutan di balik awan yang mengabu. April menghela nafas. Lalu memilih untuk menunggu di depan pintu Kafe. Akan sangat memalukan jika ia kembali masuk, dan bertemu dengan cowok Psikopat-nya lagi. Sayangnya, Kafe ini tak memiliki spot luar. Semua kursi berjajar rapi di dalam. Jadi, ia harus repot berdiri sambil mengelus lengan karena hembusan udara dingin. Ting. Pintu terbuka. Menampilkan sosok cowok yang tak asing lagi dengannya. Marvin mengerutkan dahi, kemudian tersenyum. "Lo belum pulang? Katanya tadi mau pu—" "Lo nggak liat? Ini hujan." Marvin mengangguk, berusaha menyembunyikan tawa. Cowok itu ikut berdiri, tapi memberi jarak sekitar satu meter dengan perempuan di sebelahnya. "Nggak bawa mobil?" "Nggak." "Nggak bawa payung?" April berdecak. "Duh, udah, deh! Nggak usah ngomongin sesuatu yang nggak penting." "Oke.." Marvin mengangguk. Entah apa maksudnya, cowok itu mengayunkan kunci mobilnya. Melemparnya ke udara dan menangkapnya lagi. Begitu seterusnya. April memutar bola matanya. Lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Udah jam dua... "Ya ampun!" April berdecak. Lalu menepuk keningnya sendiri. Harusnya gue jemput anak-anak.. Masih dengan perasaan kalang kabut. April mengetukkan telapak kakinya ke lantai. Ia menggigit bibir bawahnya, cemas. Di luar masih hujan deras, dan bodohnya April tak membawa payung atau pun mantel. Nggak ada taksi yang lewat lagi.. Ia melirik Marvin, masih dengan kesibukkan yang sama. Melempar kunci mobil seperti anak kecil. Duh! Jangan mikirin gengsi, mikirin Kean sama Kinan! Perlahan, April menggeser langkahnya. Membuat Marvin mengerutkan dahi, bingung. "Gue... nebeng mobil lo sampe depan boleh? Kean sama Kinan harusnya gue jemput dari dua jam yang lalu." Marvin menaikkan alisnya dua kali. Setuju. "Ya udah." April mengangguk. "Thanks. Gue berhutang sama lo." "Hutang wajib di bayar, itu artinya gue boleh minta bayarannya. Nanti." Katanya, sambil tersenyum. Kalau nggak ikhlas bilang aja, bego. Tanpa April sadari sebuah jaket langsung tersampir di kepalanya, bukan di bahu seperti yang ada pada film-film. Lalu ia merasakan bahunya di pegang dan di bawa lari menuju area parkir Kafe. Ia tau, itu Marvin. Marvin membukakan pintu untuk April, mempersilahkan perempuan itu masuk layaknya tuan puteri. April langsung berkedip, ketika melihat Marvin duduk di balik kemudi dengan keadaan basah. April menyerahkan jaket yang sempat menutupi kepalanya itu pada si pemilik. "Nih," Marvin menggeleng. "Pake. Udah tau musim ujan malah nggak bawa jaket. Kan, bego." April hanya mendengus. Terserah. Sebenarnya, ia juga cukup kedinginan. April datang hanya dengan setelah kemeja berkerah tanpa lengan berwarna putih, celana jeans dan flat shoes. Nggak jarang, banyak orang bilang, April tak seperti seorang Ibu kebanyakan. Ia justru terlihat seperti seumuran dengan mahasiswa karena wajah dan style-nya yang nggak terlalu norak. Padahal umurnya sekarang 24 tahun. Marvin mulai menyalakan mesin. Ia menarik seatbelt, untuknya. Dan lalu, cowok itu mencondongkan tubuhnya ke arah April. Membuat April menahan nafas untuk sesaat, sampai Marvin selesai menarikkan sabuk pengaman untuknya. Menyadari wajah April yang memerah, Marvin hanya tersenyum. "Lo bisa nafas sekarang." April mengerjap, menghembuskan nafas kasar. Baru menyadari selama beberapa detik ia menahan nafasnya. April menatap Marvin sebal. "Lo bahkan masih baper sama gue." "Kata siapa?" "Tadi, buktinya." "Terserah. Nyetir aja buruan." *** Arion menaruh dua mangkuk Mie Instan di atas meja makan. Ia melonggarkan dasinya yang mencekik sejak tadi. Semakin mencekik, karena Arion sekarang tak tau harus marah pada siapa. Arion harus menunda meeting kantor karena mendapat laporan dari pihak sekolah bahwa Kean dan Kinan menunggu di Pos satpam sejak pukul satu siang. Dan yang membuat suasana hatinya semakin buruk karena dua anaknya itu ternyata menunggu April yang tak kunjung datang. Kean dan Kinan saling merapatkan jarak. Keduanya sama-sama menggigil karena hujan. "Dari tadi, Kean sama Kinan nunggu Mamanya jemput. Tadinya mau saya antar sampai rumah kalau sampai jam dua Mamanya nggak datang, tapi mereka nolak." Begitu kata Pak Sapto. Penjaga sekolah, sekaligus Satpam di area tersebut.. Arion melangkahkan kakinya meniti tangga dan mendorong pintu Kamar Kean lembut. "Kalian laper, nggak? Papa udah bikin Mie rebus buat Kean sama Kinan." Kean mengalihkan perhatiannya dari layar Televisi. Anak itu menunjuk Kinan yang sedang bergelung di ranjang miliknya. "Suruh Kinan tidur di kamarnya dong, Pa. Liat, masa dia tidur disini, sih?" Arion tersenyum tipis. "Kamu duluan ke meja makan, gih. Keburu dingin nanti Mie-nya." Ia menghampiri Kinan yang bersembunyi di balik selimut. "Kinan.. kamu nggak makan?" Arion menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mungilnya. Lagi-lagi, ia mengingat figur April kala menatap wajah Kinan. Anak itu hanya menggeleng, lalu mengerjapkan mata dan menggosok hidungnya. "Hidung Kinan mampet sebelah, Pa." Arion menempelkan punggung tangannya pada kening Kinan. dan, hangat. "Kamu demam." "Badannya nggak enak semua. Kinan males makan." "Makan dulu, Nanti kamu sakit." Kinan menggeleng. "Kinan mau nunggu Mama." Arion menghela nafas, menyelipkan beberapa rambut Kinan yang terurai ke belakang telinga. "Mama belum pulang. Mungkin lagi ada urusan penting, tapi Papa janji, Mama pasti pulang." Meski terasa lemas. Kinan tetap berusaha terbangun. Arion tersenyum lembut, lalu menggendong Kinan ke pelukannya. "Duh, Princess-nya Papa makin berat, nih.." Begitu sampai di meja makan, Kean langsung memutar bola matanya. "Lah, Manja banget, sih.." Arion menarik kursi meja makan, menurunkan tubuh Kinan agar duduk disana. "Udah kamu makan aja, Kinan lagi nggak enak badan." Kean hanya mendengus, lalu kembali menggunakan garpu-nya untuk menyantap Mie. Arion mengambil posisi duduk di sebelah Kinan. Lalu menarik mangkuk Mie Instan mendekat. "Mau Papa suapin?" Kinan tak menjawab. Terlalu lemas, bahkan untuk sekedar menganggukkan kepala. Arion tau betul, anak perempuannya ini memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Mudah di serang sakit, dan mudah lelah. Arion memberikan suapan pertama ke mulut Kinan, lalu tersenyum begitu akhirnya Kinan mau mengunyah makanan. "Udah, ah, Pa.." "Eh, baru satu suap, loh! Kamu nggak kasian sama Papa? Udah capek-capek bikinin." Kinan mendesah. Lalu baru mau membuka mulutnya untuk suapan kedua. Arion tersenyum, mengacak rambut Kinan lembut. "Pinter.." Melihat pemandangan menggelikan itu, Kean hanya bisa memutar bola matanya. Lalu, ia melirik Arion yang sejak tadi menampakkan raut muka yang tak biasa. Kean tahu betul. "Pa, nggak ganti baju dulu?" Arion mengerjap. Baru menyadari bahwa sejak menjemput Kean dan Kinan di sekolah, ia sama sekali tak melepas kemeja putih yang masih melekat di tubuhnya. Bahkan dasinya yang melonggar masih melingkar di leher. "Nanti, sekalian mandi." "Pantes.. dari tadi bau ketek." Kean berkomentar. Dan, Arion hanya tersenyum. Tipis. Saat itu Kean tau, ada sesuatu yang tak beres pada Papa. Karena seharusnya, Papa mencubit hidungnya, menggelitik perutnya atau tertawa karena ledekan kecil tadi. "Assallamuallaikum.." Ketiganya langsung mengalihkan perhatian pada sosok perempuan yang baru memasuki ruang makan dengan keadaan basah. April langsung membulatkan matanya melihat Kean dan Kinan sudah berada di meja makan dengan piyama tidurnya. "Ya Ampun, kalian kemana aja, sih! Tadi Mama ke sekolah, kalian udah pulang." "..." Tak ada yang menjawab. Bahkan Arion hanya diam, fokus menyuapi Kinan yang masih enggan untuk makan. April melirik Arion, Pria itu sama sekali tak menatapnya atau justru menghindari tatapannya. "Kamu... yang jemput anak-anak?" Arion menaikkan kedua aslinya dua kali, sebagai jawaban. Lalu mengalihkan pandangannya pada mangkuk kosong di hadapan Kean. "Udah habis? Sini, Papa bawa ke dapur." "Kinan juga udah, ah Pa.." "Ya udah." Arion menghela nafas, menumpuk dua mangkuk menjadi satu dan meninggalkan ruang makan. Dengan April yang masih mematung disana. Kean melirik Mamanya. Jujur, Kean nggak bisa balik memarahi Mama tanpa alasan yang jelas. "Mama... dari tadi kemana aja? Kean sama Kinan nunggu." April menghela nafas lirih. "Maafin, Mama yaa.. Mama telat jemput kalian." Kean mendorong kursi makan ke belakang. Memutarinya untuk menghampiri Kinan yang masih terduduk lemas. "Cepet buruan ke Kamar," "Kinan kenapa?" April menempelkan punggung tangannya ke kening Kinan. "Kinan sakit?" "Kayanya, Flu.." Kata Kean. Lalu menepuk pundak Kinan lembut. "Kamu harus ke kamar, istirahat." Karena bajunya basah, April tak bisa menggendong Kinan ke kamarnya. Ia menatap Kean. "Kean bantu Kinan ke kamarnya, ya? Baju Mama basah semua." Kean mengangguk. Ekor matanya melirik sebuah jaket yang sejak tadi di peluk oleh April. Kean merasa tak mengenali jaket tersebut, itu seperti jaket untuk laki-laki, tapi Kean tak ingat Papa pernah punya jaket seperti itu. "Itu.. punya siapa, Ma?" April mengerjap. Lalu menyembunyikan jaketnya di belakang punggung. "Ah, Ini punya temen Mama." "Jadi, tadi pas pergi ketemuan sama temen Mama?" April menghela nafas. "Udah, kamu bawa Kinan ke kamarnya, gih." Tak ingin membahas lebih lanjut, Kean hanya mengangguk, lalu menuntun Kinan turun dari kursi dan membantunya meniti tangga. Setelah memastikan kedua anaknya naik ke atas lantai dua, April menyampirkan jaket yang terasa lembab itu ke kursi makan. Menyusul Arion yang sejak tadi berkutat di dapur. "Biar sama aku aja, Kamu masih pake seragam kantor, sana ganti baju.." Arion menepis tangan April pelan. Pria itu sibuk membilas mangkuk kotor yang baru saja di pakai. "Nggak usah." "Biar sama aku aja, Ar.." "Nggak usah, tanggung." April berdecak. Perempuan itu bersikeras mengambil alih mangkuk yang masih berbusa. "Aku nggak enak sama kamu, sini biar aku—" Pyar!! "Tuh, kan pecah!" Arion menaikkan nada bicaranya. Lalu menarik nafas, menyadari satu kesalahan bahwa ia baru saja melayangkan satu bentakan. "Minggir, ntar kaki kamu berdarah." Arion berjongkok, memunguti kepingan kaca yang berserakan di lantai dapur. Hampir saja tangannya akan mengumpulkan kepingan kaca itu menjadi satu, tangan lain mengganggunya. "Arion.. biar sama aku aja, Please." "Diem. Ntar tangan kamu berdarah." Arion menahan tangan April, sebelum benar-benar menyentuh kepingan kaca. April menepisnya, cepat-cepat mengumpulkan setiap keping sebelum Arion menghentikannya lagi. "Ah!" Arion berdecak. "Kamu, tuh ngeyel banget, sih jadi cewek! Aku bilang minggir, ya minggir! Kenapa—" "Aku ngerasa bersalah!" Suaranya bergetar. Seperti ada emosi yang tertahan. Merasa bersalah. Itu yang sejak tadi April rasakan. Tatapan tajam dari Arion, Kinan yang demam dan Kean yang menatapnya sendu semakin membuat rasa bersalah itu menghujam satu persatu. "Maaf.." Arion menghela nafas kasar. Menarik tangan April yang berdarah di bagian jari telunjuknya. Tanpa banyak bicara, ia menyalakan keran air di wastafel, membiarkan bercak darah tersebut menghilang di basuh oleh air. "Cepet ambil obat merah sama plaster. Terus ganti baju, aku nggak mau kamu sakit kaya Kinan." "Tapi..." "Udah sana, biar aku yang beresin ini." April mengangguk samar, mau tak mau perempuan itu melangkahkan kakinya ke arah kamar. Sedang Arion hanya menatap punggung April hingga benar-benar menghilang dari pandangannya, lalu kembali berjongkok untuk mengumpulkan kepingan kaca dan membuangnya ke tempat sampah. Arion melangkah ke ruang makan. Duduk di sana sejenak untuk menetralkan emosinya yang belum stabil. Pria itu melepas kemeja putih dan dasi hitam dari tubuhnya. Menyisakan d**a polos yang mulai membentuk. Arion butuh mandi sekarang. Matanya berhenti pada sebuah jaket yang tersampir di salah satu kursi makan. Perasaan, gue nggak punya jaket model begini. Arion menghirup aroma parfum yang menempel pada Jaket kulit berwarna cokelat tanah itu. Aroma woods .. Ini bukan miliknya. Lantas, milik siapa? Dadanya bergemuruh, sama seperti gemuruh petir yang belum juga berhenti di luar sana. . . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN