"Aku sayang kamu."
Sentuhan lembut itu membuat Arion hampir terbangun. Tapi, matanya terlalu berat untuk terbuka. Justru suara derit pintu kamar yang malah memaksanya untuk terjaga.
Ia meraba bantal di sebelahnya. Tak ada siapapun, padahal ia yakin April masih dalam pelukannya.
Apa yang tadi itu, April?
Arion melirik Kean dan Kinan yang masih terlelap. Kakinya menuruni ranjang dan perlahan melangkah, meninggalkan kamar tamu.
Jantungnya sedikit mencelus. Ketika melihat April sedang berbicara dengan seseorang di telefon. Pria itu menggeser pintu kaca yang merupakan satu-satunya akses untuk menuju balkon rumah Mario.
"Marvin!"
.
.
Deg. Saat itu juga ia tau, kalau April masih berhubungan dengan teman lamanya itu. Bahkan hampir larut malam seperti ini.
"Pril?"
Perempuan itu berbalik. Dan langsung menurunkan ponselnya dari telinga ketika mendapati seorang pria dengan piyama tidur berdiri di ambang pintu dengan ekspresi bingung.
"A-Arion?"
***
"Kamu.. pasti mikir yang macem-macem, ya?" April menyandarkan kepalanya pada bahu Arion.
Mereka memilih menduduki dua bangku kosong yang ada di balkon rumah Mario. Sepertinya Balkon ini di desain khusus menjadi tempat istimewa bagi Mario dan Ghita.
Pemandangan lampu-lampu kota yang hampir seperti hamparan bintang di bumi menjadi view yang berkesan bagi siapa pun yang mengunjungi balkon rumah ini.
April menghela nafas. Lalu memainkan sisi gelas yang masih terasa hangat. Jantungnya masih berdegup sampai sekarang, mengingat bagaimana kagetnya ia saat melihat Arion menatapnya dengan ekspresi ambigu. Bingung atau mungkin marah?
Pria itu langsung berbalik. Meninggalkannya sampai mematung untuk beberapa saat. Kemudian kembali dengan segelas air hangat yang April yakini di ambil dari dapur.
Yang paling menbuat April semakin merasa bersalah adalah; karena Arion masih tetap memberikan senyum hangat saat memberikan segelas air hangat tadi. Susah tidur, ya? Minum air anget dulu biar agak baikan. Begitu katanya.
April mendesah. Mengangkat kepalanya dari bahu Arion. Tak ada jawaban dari pria itu, bahkan setelah beberapa detik. Perempuan itu memilih menyandarkan punggungnya ke kursi, mengikuti kemana arah pandangan Arion. Lebih tepatnya ke arah city view yang sedang ia nikmati di malam larut seperti sekarang.
"Kamu berhak marah, kok. Lagian, suami mana yang nggak marah kalau liat istrinya sendiri telfonan tengah malem sama cowok, kan?"
"Pemandangannya bagus, ya? Ntar kalau aku udah dapet uang lebih, aku pengen renovasi rumah kita, biar punya balkon rumah kaya gini." Arion tersenyum tipis. Ia mencoba untuk mengalihkan topik, karena sekarang hati dan pikirannya sedang berperang agar tidak berpikiran negatif soal masalah tadi.
Arion yakin, ini hanya salah paham.
Tapi April semakin mendesaknya. "Kamu marah?"
"..." Arion tak menjawab.
"Arion?"
"..."
"Oke, aku minta—"
"Udahlah, Pril. Nggak usah terlalu ambil pusing," Arion tersenyum tipis mengelus kepala April lembut. "Marvin nggak mungkin telfon kamu tengah malem gini kalau nggak ada yang mau di omongin. Oke?"
"Tapi—"
Arion tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar dan tulus. "Aku nggak marah, kok. Kamu mendingan tidur. Udah malem, nanti masuk angin," Pria itu berdiri, hendak kembali masuk ke dalam rumah. "Kalau ada waktu, kamu boleh temuin Marvin. Selesain urusan kamu."
April mengangguk. Lalu suara pintu kaca yang tertutup menjadi akhir obrolan mereka nalam ini.
Kenapa aku ngerasa, semua omongan kamu itu berarti sebaliknya?
***
Masih di tempat yang sama. Hanya saja dengan orang dan situasi yang berbeda. Udara sejuk masih terasa murni pada pukul enam pagi. Mario dan Arion berdiri di balkon rumah dengan secangkir Kopi di tangan masing-masing.
"Kemarin malem gue kesini." Arion bersuara, sambil sesekali menyesap kopi dengan asap yang mengepul.
"Oh, ya? Ngapain?"
Arion mengangkat bahu. "April nggak bisa tidur. Gue nemuin dia disini. Dan jujur aja, Lo punya bakat buat milih pemandangan balkon yang bikin mata seger."
"Setiap orang selalu bilang rumah gue punya balkon yang istimewa. Menurut lo gimana?"
Arion mengangguk-ngangguk. "I love it!"
"Sok imut lo." Mario mencibir.
Arion hanya tersenyum. Padahal, pikirannya penuh dengan terkaan negatif soal April. Arion hanya takut, perempuan itu mungkin punya hubungan yang lebih intens dengan teman SMP-nya dulu.
"Daniel, apa kabar?" Dari nada bicaranya, Mario terdengar hati-hai sebelum menanyakan pertanyaan yang sedikit sensitif ini.
Arion hampir saja terbatuk kalau ia tak mengatur nafasnya supaya lebih relaks dengan pertanyaan tajam semacam itu. "Hh? Daniel?"
"I-Iya, lo masih suka contact sama dia?"
Arion sendiri bahkan tak tau jawabannya. Ia juga tak berupaya untuk memperbaiki hubungan dengan sahabat masa kecilnya itu. Sekedar Informasi, Arion dan Mario dulu juga tak sedekat sekarang. Tahun terakhir di SMA, mereka berbicara seadanya. Baru setelah acara reuni, Arion dan Mario sepakat untuk kembali menjadi sepasang sahabat.
Ada kalanya, kita nggak boleh terus menerus terjebak di masa lalu.
Arion menggeleng. "Nggak tau."
Mario mengangguk-ngangguk. Pria itu menyesap kopinya. "Lo.. uda pernah liat anaknya Mara?"
Anaknya Mara?
Arion menoleh. "Siapa? Rega?" Mario mengangguk sebagai jawaban. Arion mengangkat bahu. "Belum."
"Belum apa? Nggak ada waktu buat nunda-nunda lagi, Ar. Lo juga bapaknya."
"Belum ada waktu. Lagian gue yakin, Rega baik-baik aja sama Daniel."
"Oke. Kalau itu keputusan lo. Suatu saat nanti, mau gimana pun, Kinan, Kean sama Rega harus tau kenyataannya."
Arion mengangguk lagi. "Lo bener. Dan sekarang, bukan waktunya."
***
Kean hampir sulit mengedipkan matanya begitu masuk ke sebuah ruangan dengan cat ungu muda yang cerah. Ruangan berukuran lima kali lima meter ini merupakan Kamar Fantasi seorang Gio.
Sebuah ranjang mini di dekat terpajang di dekat jendela. Dengan bed cover motif Batman. Hampir semua mainan milik Gio ada di mana-mana. Di rak buku, di atas Lemari, di bawah kolong kasur, di meja belajar dan tempat-tempat tak terjangkau lainnya.
Keren banget. Kean memuji dalam hati.
Yang paling mencolok di ruangan ini adalah beberapa rak-rak tinggi yang berjajar. Dan kalian tau apa? Isinya adalah mainan semua. Kean nggak bisa menghitung berapa jumlah keseluruhan mainan yang dimiliki Gio. Mungkin suatu saat nanti, Gio bisa menjual mainannya atau merubah ruangan ini menjadi sebuah toko.
"Ini punya kamu semua?" Tanya Kean penasaran.
"Iya, Papa sama aku suka koleksi mainan."
Kean mendengus dalam hati. Papaku mana boleh ngoleksi mainan kaya gini?
"Keren." Kean berkomentar. "Tapi, sebenernya biasa aja, sih. Ini bukan berarti punya kamu semua, kan?"
Gio merengut. "Emang punyaku, kok. Papa ngebeliin, dan suruh aku jaga baik-baik."
Kean berdecak. Oh, gitu..
Jujur saja, Kean akui. Ia sedikit takjub melihat semua koleksi Gio. Semua miniatur tokoh animasi yang pernah ia tonton ada disini semua. Miniatur Toy Story, misalnya. Gio memajangnya di rak paling atas. Dua tokoh utama dalam film animasi yang pernah ia tonton itu sangat menarik perhatian.
Sebulan lalu, Kean merengek pada Papa agar di belikan miniatur Woody dan Buzz. Karakter Koboi pemberani dan Robot luar angkasa itu sampai sekarang masih menjadi idolanya.
"Eh, Liat koleksi DVD kamu, dong!" Kinan menarik tangan Gio.
Bocah laki-laki itu mengajak si kembar mendekati sebuah laci di bawah meja TV. Ada beberapa DVD Game, dan yang paling mendominasi adalah DVD Kartun.
Ya ampuun.. Kean berteriak dalam hati. Rasa gengsinya masib terlalu unggul ketimbang rasa takjubnya. Anak itu terlalu malas untuk memuji semua yang Gio miliki terang-terangan.
Semuanya original. Sebagian animasi garapan Disney dan Pixar ada disana. UP, Toy Story 3, Big Hero 6, Inside Out. Beberapa juga ada dari Twentieth Century Fox Animation,Dreamworks Animation, Sony Pictures dan Universal Pictures seperti Ice Age, Legend of OZ, RIO, The House of Magic, Monster House, Garfield, Home dan masih banyak lagi.
"Wihh, kamu punya banyak, ya?" Kinan menggelengkan kepalanya, takjub. Bahkan Gio punya lebih banyak dari koleksinya. "Boleh pinjem, nggak?"
Kean mencubit lengan Kinan pelan. "Ih, apaan, sih pinjem-pinjem. Ini, kan kartun buat anak laki-laki!"
Kinan memukul Kean dengan boneka Barbie yang ia bawa. "Sok tau—"
"Boleh, kok. Ambil aja yang kamu suka. Tapi inget, nanti kalau ketemu di sekolah, balikin, ya!"
"Sip!" Kinan tersenyum lebar.
Sebaliknya, Kean lalu bangkit dari jongkoknya. Menghela nafas kesal dan ingin segera meninggalkan kamar Gio.
"Eh! Kean!" Suara cempreng Gio menghentikan langkahnya.
"Apalagi?" Kean memutar bola matanya.
"Ambilin kursi itu, dong!"
Sial. Kean menggerutu. "Nggak sopan banget, sih! Nyuruh yang lebih tua!"
Kinan berdecak. Lalu menghentikan aktifitasnya memilah DVD koleksi Gio. Sebagai Kakak, ia harus mengalah sejenak. Anak perempuan itu mengambil sebuah kursi kecil di dekat meja belajar lalu mendorongnya ke arah Gio. "Maaf, ya. Kean emang lagi agak sinting."
Gio hanya tersenyum. Lalu menggeser kursi tersebut untuk mendekati rak. Gio langsung memekik, begitu menyadari Kean hendak pergi dari kamarnya. "Eh! Jangan pergi."
"Duh, apalagi, sih!"
"Tungguin, dong." Gio menaiki kursi, tangannya meraba-raba jajaran koleksi mainannya di rak.
Anak itu menuruni kursi sambil membawa robot Buzz Lightyear di tangannya. Kaki mungilnya melangkah mendekati Kean."Nih, dari tadi kamu ngeliatin robot ini, kan?"
"Terus, kenapa?"
"Ini buat kamu. Tapi di jaga, ya?"
Kean berdecak, memutar bola matanya lalu melengos pergi. "Ish!"
Hal itu sungguh membuat Kinan kesal. "Dih. Nggak tau malu banget, sih!"
Gio menatap kepergian Kean bingung. Kinan tak tinggal diam. "Ya udah, ini aku ambil, ya.. Ntar aku kasih ke Kean."
Anak laki-laki itu sekali lagi mengangguk polos. "Di jaga, ya?"
"Pasti," Kinan mengangguk, Sambil tersenyum. Tapi, raut wajahnya berubah meredup. "Tapi, emang nggak akan di marahin Papa atau Mama kamu?"
Gio menggeleng. "Aku masih punya yang baru."
Kinan mengangguk-ngangguk. "Ya udah, sebagai gantinya, kamu simpen Barbie ini buat aku, ya?"
Gio mengerutkan dahi. Kinan langsung memaksanya untuk memegang boneka tersebut. "Udah, terima aja. Jaga baik-baik, ya!"
Senyum manis dari anak perempuan itu menjadi akhir pembicaraan mereka. Kinan keluar dari kamarnya sambil memeluk action figure Buzz Lightyear.
Gio menatap sebuah boneka cantik di tangannya. Tadinya, ia bingung harus melakukan apa pada boneka ini. Tapi sekarang, Gio berjanji, akan meletakkan boneka Barbie milik Kinan di rak yang paling atas.
Karena; Gio suka Kinan.
***
"Ghit, gue mau cerita."
"Cerita aja." Balasnya. Perempuan itu mengiris bawang merah menjadi bagian yang tipis-tipis, lalu memasukkannya ke dalam mangkuk kecil.
"Lo inget.. Marvin?" Tanya April lirih, sesekali matanya melirik ke ruang tamu, takut-takut ada Arion disana.
"Inget, kenapa?"
April menghela nafas, lalu beringsut ke arah meja makan,mengambil gelas kosong dan mengisisnya dengan air putih. "Kalau seandainya dia balik lagi, gimana?"
"Maksud lo, balik lagi gimana? Bukannya, kabar terakhir, dia ngelanjutin sekolah di Beijing, ya?"
April mengangguk samar. "Gue kira juga gitu. Tapi, kenyataannya, dia di Jakarta."
Otomatis, pisau yang sedang Ghita gunakan langsung berhenti bekerja. Perempuan itu menatap April serius. "Masa?"
"Dan fakta yang makin bikin gue kaget karena... ternyata Marvin itu masih sepupu sama Mara."
Ghita menghentikan aktifitasnya. Memilih untuk mencuci tangannya di wastafel dan melangkah ke meja makan menghampiri April. "Kalian, masih ada hubungan?"
April berdecak. Menaruh gelas tersebut penuh penekanan. "Gue nggak tau. Gue nggak ngerti sama diri gue sendiri."
Ghita mengelus lengan April pelan. "Gini, ya. Lo harus inget, Lo udah nikah Pril.. lo udah jadi Istri Arion, udah punya anak juga. Lo nggak perlu terlalu berlarut-larut sama masa lalu lo."
"Gue ngerti, Ghit. Tapi, setiap ngeliat dia.. Rasanya aneh aja. Gue... labil, ya?"
"Labil atau enggak, cuma lo yang tau. Cuma lo yang paham sama diri lo sendiri. Saran gue, lo harus lepasin Marvin, pelan-pelan. Anggap aja semuanya kayak biasa. Seperti Marvin nggak pernah ada." Ghita tersenyum, lembut. "Bukannya dulu lo berhasil ngejalanin hari-hari lo tanpa Marvin, kan? Buktinya, sekarang lo sama Arion, kan?"
April merutuk dalam hati. Iya, sekarang, disaat gue udah sama Arion, Dia balik lagi.
Kali ini, mungkin April harus mempertimbangkan soal pertemuan dengan cowok itu kesekian kalinya. Dan, April janji, ini akan jadi pertemuan terakhirnya dengan Marvin.
.
.
.
(TBC)