Saking tak terasanya waktu. Kalender hari ini ternyata memasuki akhir pekan. Tepatnya hari Sabtu. Sore ini, Arion berencana untuk pulang lebih awal dari jam kantor biasanya. Hampir beberapa kali April memgiriminya pesan singkat agar ia tidak melupakan janjinya pada Kean dan Kinan.
Pria itu menenteng sebuah tas berukuran sedang untuk ia taruh di jok belakang mobil. Rencananya, hari ini mereka akan menginap untuk satu malam.
"Bawa apa aja, tuh?" Arion mengerutkan dahi, ketika melihat seorang anak perempuan kesulitan mengangkat koper mini-nya.
"Baju sama mainan punya Kinan, emang kenapa, Pa?"
Arion tersenyum. Ia membantu Kinan memasukkan koper kecil dengan berwarna biru muda dengan gambar tokoh animasi Frozen-Elsa dan Anna baru-baru ini menjadi idola Kinan setelah Ken dan Barbie.
"Sini Papa bantu," Arion meletakkan koper tersebut di samping tas berukuran sedang yang sudah lebih dulu masuk ke dalam jok belakang mobil. "Lain kali, kalau mau pergi nggak usah bawa mainan, ya? Bawa yang perlu-perlu aja. Oke?"
Kinan mendengus. "Segitu masih mending.. Coba Papa liat Kean, dia bawa apa aja?"
Arion mengerutkan dahi. Melirik ke dalam rumah dan mendapati sosok laki-laki mungil yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan wajah tertekuk. "Kenapa, dia?"
Kinan hanya mengangkat bahu. Lalu memutari mobil untuk naik ke jok penumpang.
"Loh, kok Kean masih disini, sih?" April menghentikan langkahnya. Berjongkok di hadapan Kean yang sedang duduk dengan ekspresi kusut.
"Beneran nginep di rumah Gio?"
"Ya, Iya dong. Kamu nggak mau ikut emangnya?"
Kean mendesah. "Masalahnya, Ma.. Gio itu pasti nge-bully Kean nantinya."
April mengerutkan dahi. "Nge-bully, gimana? Ketularan sinetron sama Kinan, nih kamu.."
"Dia pasti bakal bikin pameran besar-besaran buat koleksi mainan yang dia punya! Itu salah satu cara dia buat nge-bully Kean."
April terkekeh. "Pikiran kamu, tuh yaa.."
"Ya udah, kalau gitu, Kean boleh bawa mainan Kean. Tapi inget, secukupnya ya?"
Singkat kata. Kean langsung meniti anak tangga sambil membawa turun sebuah koper dengan bentuk yang sama seperti milik Kinan. Perbedaannya hanya terletak pada warna Biru tua dan gambar SuperMan yang tercetak jelas di bagian depan Koper.
April tersenyum, lalu menggandeng Kean ke arah pekarangan rumah setelah mengunci pintu untuk sentuhan terakhir.
Kean harus mendengus sekali lagi. Seorang anak perempuan tengil udah duduk di kursi favoritnya-kursi paling depan, di samping Papa. Mengetahui perubahan raut wajah Kean, April mengelus kepala anak itu sebelum membuka pintu mobil belakang. "Kean nggak mau duduk sama Mama?"
"Mau, kok." Kean hanya memelototi Kinan yang justru cuek dan mengabaikan olokan anak lelaki dengan memainkan sebuah iPad.
Satu alasan, kenapa Kean sangat menyukai posisi duduk di paling depan adalah; Kean suka memandangi jalan raya. Mungkin untuk sebagian orang itu tak terdengar menarik, bagi Kean, memandangi setiap bangunan, rumah-rumah atau pohon-pohon di sisi jalan yang bergerak mundur adalah sesuatu yang ajaib.
Dan sekarang dengan nggak tau malunya, Kinan malah duduk di situ. Menurutnya duduk di belakang jutru membuatnya kurang leluasa.
"Ihh, kok Kean boleh bawa mainan yang banyak, sih?!" Kinan langsung sewot begitu mengetahui Kean membawa Koper SuperMan-nya. Yang ia tau, Koper tersebut adalah koleksi seluruh mainannya.
"Biarin!"
"Ih, nggak adil! Masa Mama cuma bolehin bawa dua barbie doang? Sisa kopernya malah penuh sama baju-baju!"
April memutar bola matanya. "Eh, udah, ah. Nggak usah ribut."
Kinan mengerutkan hidungnya. Lalu meledek Kean dengan ekspresi sejelek mungkin. "Huu, dasar bocah! Kemana-mana cuma bawa mainan doang!"
Kean melotot. "Sembarangan! yang duluan lahir, tuh aku!"
"Enak aja! Aku lebih dulu lahir setengah jam sebelum kamu!"
"Nggak! Aku duluan yang lahir!"
"Adekku, Kean.. dengerin yaa.. kamu tuh lahirnya telat, soalnya kepala kamu kegedean, makanya Mama susah buat ngeluarin kamu!"
"Sok tau-" Kean sedikit berdiri, agar anak lelaki itu bisa menjambak rambut Kinan saking kesalnya.
"Eeh, Kean.. nggak boleh main jambak!" April bersuara, menahan anak lelakinya dan memaksanya duduk kembali "Kinan juga! Nggak boleh main ledek-ledekan gitu!"
Arion hanya tersenyum. Memandangi ekspresi April yang sudah berapi-api lewat kaca spion. Jiwa ke-Ibu-an dia mulai kelihatan.
Beberapa detik. Akhirnya antara Kean dan Kinan berhenti beradu mulut. Mengabaikan persoalan siapa yang lahir duluan.
Faktanya, konflik siapa yang lahir duluan itu seringkali diributkan oleh sebagian anak kembar. Menyangkut teori; Kakak yang harus mengalah, dan Adik yang harus terima di suruh-suruh.
Pada kenyataannya. Kinan memang lahir tiga puluh menit lebih dulu sebelum Kean lahir ke dunia.
***
"Yes! Dateng juga akhirnya.." Mario dengan setelan kaus putih dan celana pendek selutut langsung menyambut mobil Lexus yang memasuki pekarangan rumahnya.
Pria itu langsung membantu Arion mengeluarkan barang-barang di jok belakang mobil. Sementara April menggandeng Kean dan Kinan untuk masuk ke dalam rumah minimalis dengan cat putih yang mendominasi.
"YA AMPUN! APRILL!!" Seorang perempuan dengan Dress satin berwarna biru laut langsung keluar dan memeluknya heboh.
April tak kuat menahan tawanya. Pelukan itu masih sehangat saat mereka SMA. Ghita banyak berubah. Perempuan itu kini terlihat lebih dewasa dengan kulit putih langsat dan garis wajah yang lebih tegas.
"Ih, Gilaa yaa. Gue pangling banget! Kaya bukan lo, sumpah." Ghita melepaskan pelukannya. Lalu melirik dua anak kembar yang masih berdiri dengan ekspresi polosnya. "Eh, Ini Kean sama Kinan, ya?"
Kean dan Kinan sama-sama tersenyum. Wajah mereka yang sedikit mirip membuat Ghita tersenyum gemas. "Eh, lo tau? Gue kalau liat Kean kayak Arion waktu masih bocah, masa?" Komentarnya.
"Oh, ya?" April melambaikan tangannya, mengajak Kean dan Kinan duduk di sofa. "Duduk sini, sayang."
"Dia mirip lo tau." Ghita berkomentar lagi. Kembali bangkit untuk melangkah ke dapur. "Mau minum apa?"
"Yang ada aja, deh."
"Siaap!"
Beberapa menit kemudian. Mario dan Arion datang sambil membawa masuk beberapa barang bawaan mereka. Kean langsung menatap Mario lamat-lamat. Dia adalah Ayah Gio, itu yang Kean ingat.
Masih cakepan Papa, ah.
Arion mengambil posisi duduk di samping Kean. Merangkul anak lelakinya erat.
"Gila, ya. Pertama kali loh, kita ngumpul gini." Mario bersuara, sambil memandangi Kinan dan Kean satu persatu. "Masih nggak percaya, lo dapet anak kembar!"
"Iya, dong." Arion tertawa kecil. "Gue sama April masing-masing dapet satu."
Mario tergelak. "Ah, Iya. Gue inget, lo pengen punya anak cowok, ya? April juga pengen cewek. Dan akhirnya Allah berkata lain.. nggak nyangka gue."
Arion mengerutkan dahi. "Nggak nyangka apaan?"
"Ya, gitu. Sekali bikin langsung dapet dua, kan? Gue sama Ghita udah nyoba berkali-kali, tapi cuma hasil satu."
Oke. Kean dan Kinan sama sekali nggak ngerti mereka sedang membicarakan apa.
April tertawa. Saking kerasnya hingga matanya hampir berair. "Ya, Ampun! Lo, tuh nggak berubah, yo! Demi apa?"
Arion hanya mendengus. "Tau, dari SMA ngomonginnya soal selimut mulu."
"By the way, Gio mana? Dari tadi gue belum liat?" Tanya April, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Mario hanya mengangkat bahu. "Nggak tau. mana, ya? Tadi kalau nggak salah ada di kamar mandi, deh?"
Sedetik.
Dua detik.
"Paa! Cebokin!" Sebuah teriakan dengan suara melengking terdengar sampai ke ruang tamu.
Membuat Mario memutar bola matanya. "Tuh, kan?"
"Ayah! Itu bantu cebokin Gio! Aku lagi bikin minuman, nih!" Teriakan kedua berasal dari dapur dan semuanya sudah dapat menebak siapa pemilik suara tersebut.
"Iya, Iya.. Bun." Mario menyahut, baru setelah itu ia bangkit meninggalkan tamunya sejenak. "Tunggu, ya? Cleaning service dulu bentaran."
Arion hanya menepuk pundak Mario gemas. Selera humornya masih nggak berubah kendati sudah menjadi seorang Ayah. Dari apa yang ia dengar, Mario dan Ghita ternyata lebih romantis dari pada apa yang ia bayangkan. Pria itu mencondongkan tubuh ke arah April yang duduk di sebelahnya. Lalu berbisik;
"Mainan-nya Ayah-Bunda, ya? Kalau kita apa?"
April hanya mendengus, sambil tersenyum kecil dan menampar wajah Arion pelan. "Apaan, sih? Nggak usah ngikutin, ah. Geli."
Seperti apa yang sudah Kean prediksi, saat ini juga mood-nya langsung turun drastis. Gio melangkah ke ruang tamu dengan memakai celana dalam berwarna putih saja, diikuti oleh langkah Mario yang mengejar anaknya dengan sebuah celana di tangan. "Gio! Pake celana dulu!!"
"Mirip lo waktu jaman masih pake popok, deh Yo!" Arion berkomentar. "Malah anak lo lebih mending, dari pada lo waktu kecil abis dari kamar mandi suka lupa pake celana."
"Sembarangan lo!" Mario mendengus. Lalu menarik tubuh mungil anaknya agar mendekat. "Sini, eh! Pake celana dulu! Kamu nggak malu ada cewek, tuh!"
Kinan hanya tersenyum. Dari awal anak yang selisih tiga tahun dengannya ini cukup menarik perhatian. Kinan suka anak kecil, tapi itu nggak berlaku untuk Kean.
Kean sendiri nggak habis pikir. Gio masih memegang robot Iron Man yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu itu. Kean juga nggak bisa ngebayangi lagi, apa Gio sampai bawa-bawa mainannya ke Kamar Mandi?
Gio mengambil posisi duduk di sebelah Kinan. Tapi, Kean langsung membulatkan matanya sebelum Gio benar-benar naik ke atas Sofa. "Eh, aku mau duduk situ."
"Tumben kamu mau deket Kinan?" Arion mengerutkan dahi.
Kean hanya nyengir. "Kali-kali, kan ya?"
April tersenyum sambil melambaikan tangannya untuk mengajak Gio mendekat. "Sini, Gio.."
"Lucu banget, sih kamu!" Kinan mencubit pipi Gio. Padahal ia sudah sering melihat Gio di sekolah.
Oke. Fix. Untuk hari ini, Kean harus merasakan; bagaimana rasanya diabaikan.
***
Kamar tamu terletak di lantai dua paling atas. Rumah Mario berangsur sepi, mengingat jam mulai merangkak larut ke pukul sepuluh malam. Ini malam pertama menginap di rumah Mario. Kean dan Kinan sudab terlelap dengan pulasnya di ranjang sebelah.
Kamar tamunya cukup luas. Satu ruangan diisi oleh dua ranjang yang saling bersebelahan. Arion melarikan jari-jarinya, mengelus tiap helai rambut April yang terurai. Perempuan itu menenggelamkan kepalanya di d**a Arion, seperti biasa.
Arion melirik wajah April sekilas. Perempuan itu ternyata masih terjaga. "Belum tidur?"
April mengangkat wajahnya, menatap Arion. "Belum."
"Nggak bisa tidur, ya?"
April hanya mengangguk. "Kayanya aku emang cuma bisa tidur di kamar kita. Hehe."
Arion tertawa kecil. Menarik pinggang April semakin mendekat hingga ia bisa memeluk seluruh tubuh mungil perempuan itu. "Udah malem. Paksain tidur.."
Kini gantian April yang melarikan jari-jarinya, mengelus pipi Arion lembut. "Kamu kalau mau tidur, tidur aja. Aku tungguin."
Jujur saja. Mata Arion sudah mulai terasa berat. Hingga sesekali ia memejamkan matanya dan membukanya lagi. "Bener? Aku udah ngantuk banget."
April mengangguk. Lalu tersenyum. Perempuan itu mengecup bibir Arion singkat. "Tidur duluan aja.."
Secara bertahap. Mata Arion mulai terkatup. Disusul dengan hembusan nafas yang mulai teratur dan kemudian berubah menjadi dengkuran halus. April menatap garis wajah Arion yang kini begitu jelas.
Sekilas, di benaknya terlintas bayang-bayang Marvin yang sekarang kembali hadir. Bagaimana pun juga, April sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia takkan lagi kembali ke masa lalu.
Semuanya sudah cukup. Arion bahkan lebih dari cukup untuk mengisi hari-harinya.
April langsung mengangkat bantalnya ketika getaran ponsel membuatnya sedikit terkejut. Perempuan itu melirik Arion dengan pandangan waspada. Pria itu sudah terlelap.
April langsung meng-unlock screen ponselnya dan mengecek notifikasi yang masuk
Ada satu pesan.
April menghela nafas. Dia lagi.
Marvin : udh tidur?
Awalnya ragu. Tapi, pada akhirnya, jari-jarinya menari di atas keypad. Mengetikkan balasan.
April : lo bisa hapus nomor gue? Gue bener2 nggak mau ini jd berbelit-belit.
Marvin : Oh, belum tidur ya:) lg apa?
April : Pls. Gue bakal ganti nomor kalau sampe besok lo masih hubungin gue.
Marvin : Goodnight:) gw cuma mau bilang itu.
April : Oh.
Setelah itu April menggenggam ponselnya di d**a. Berharap Marvin tak membalas lagi. Sungguh. April hanya butuh hidup tenang sekarang.
Matanya langsung membulat ketika layarnya menyala dengan indikator sebuah panggilan masuk.
Marvin.
Calling...
Jantungnya berdegup. Bingung karena satu sisi, April tak ingin menolak panggilan juga tak ingin membiarkan Marvin terus mengganggunya.
Iya. April akui, ini membingungkan.
Secara hati-hati, April menyigkap selimut yang menutuli tubuhnya agar tidak mengganggu Arion sama sekali. Perempuan itu mengambil beberapa detik untuk mengelus pipi Arion lembut. "Aku sayang kamu."
Sebelum akhirnya, April meninggalkan kamar tamu dan berjalan ke balkon rumah Mario.
"Hallo?"
"...Hai?"
April mendesah. Mengelus lengannya sendiri karena udara dingin berhasil menembus piyama yang ia ia kenakan. "Please, Vin. Lo bisa nggak ganggu gue lagi?"
"Sekalipun lo udah punya masa depan. Masa lalu itu bakal terus ngikutin lo kemana pun lo pergi."
April berdecak. "Sumpah, ya. Lo gini, tuh udah kaya orang yang suka teror gue tau nggak?"
"Gue sayang lo. Dan sampai kapan pun itu nggak bakal pernah berubah."
"Marvin!"
"Pril?" Suara itu membuat April langsung menurunkan ponselnya dari telinga.
.
.
.
(TBC)