Saat Rega membawanya pergi, Arion hanya mengekorinya dari belakang. Keduanya berhenti di sebuah gudang dekat taman belakang sekolah. Entah mengapa, mendadak Arion merasakan nyalinya ciut. Apalagi ini? "Om... ini... Papanya Kean, kan?" Rega tersenyum tipis, sekaligus membuka percakapan. Arion hanya mengangguk, Buku Rapor yang ada di genggaman tangannya hampir saja ia remas saking gugupnya. "I-Iya," "Ah.. ternyata bener," Rega tertawa hambar. "Kamu... Rega, kan?" "Menurut Om?" Arion tersenyum kikuk. "Terakhir, kita ketemu.. sembilan tahun lalu, ya?" Rega mengangguk. "Om masih inget?" "Tentu," Rega menarik nafas panjang, Reganggak boleh roboh sekarang. Karena kalau Rega mundur duluan, semuanya nggak akan selesai. "Ternyata selama ini orang yang aku panggil Om itu Papaku sendiri, ora

