18

1167 Kata
Matanya berbinar-binar begitu pertama kali masuk ke sebuah ruangan berukuran sedang dan khas bau antiseptik. Ruangan khusus untuk pemeriksaan bayi dalam kandungan. Dindingnya bercat kuning gading, sebuah ranjang di posisikan di tengah ruangan dengan sebuah mesin berteknologi dan meja kecil yang mengapitnya. Sebuah layar berukuran kurang lebih 14inch di pasang dengan penyangga yang berdiri di dekat ranjang. Dan satu layar lagi, yang merupakan layar utama khusus Dokter. "Yang relax, ya.." Perempuan dengan kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya itu tersenyum. April tak bisa mengontrol ekspresi wajahnya yang begitu polos sekarang. Jujur, April nggak pernah melakukan pemeriksaan semacam ini. Dan ini adalah kali pertamanya. April merebahkan tubuhnya di ranjang. Entah sudah beberapa kalinya ia menghembuskan nafas agar tubuhnya bisa rileks. Arion tersenyum di sampingnya, sama-sama penasaran bagaimana proses USG sekarang. Dokter Andrea menyelimuti tubuh April sampai perut. Kemudian menyingkap pakaiannya di bawah d**a. April menahan napasnya, ketika ada sensasi dingin begitu Gel di usapkan ke permukaan perutnya yang mulai membesar. Begitu alat USG bergerak-gerak di perutnya, April tertawa kecil. Aneh aja rasanya. "Nah, ini udah mulai keliatan tangan sama kakinya. Matanya juga udah mulai keliatan. Otot-ototnya mulai aktif terus denyut jantungnya mulai kuat." Ujar Dokter Andrea. April tersenyum dan beberapa kali berkedip melihat layar empat di mensi yang ada di dekat ranjang. Arion menyipitkan matanya. "Yang itu.. apa, Dok?" Dokter Andrea terkekeh. "Ah, itu kepalanya. Masih keliatan lebih besar dari pada ukuran tubuhnya." Arion dan April benar-benar takjub untuk kali pertama. Dan, April nggak tahu bagaimana harus mendeskripsikan perasaannya sekarang. "Mau tau jenis kelaminnya nggak?" Tanya Dokter Andrea. April memanyunkan bibirnya. "Mau, sih.. tapi nanti jadi nggak surprise!" "Nggak papa, Dok. Penasaran, deh kayanya." Arion menimpali. Dokter Andrea menggerakkan lagi alat USG di perut April. Hingga berhenti pada satu titik. "Nah, Ini dia. Jenis kelaminnya... laki-laki." Arion menjentikkan jarinya. "Yes!" April membulatkan matanya. "Laki-laki, lagi? Nggak kembar, ya Dok?" Dokter Andrea menggeleng lembut. "Sepertinya enggak. Tapi, saya bisa ambil kesimpulan, kalau bayi-nya sehat." *** Kean menuruni anak tangga satu-persatu. Langkahnya berhenti tepat di depan lemari pendingin dan langsung membuka pintunya. Anak itu penasaran, ada cemilan apa hari ini. Pulang sekolah, Kean dan Kinan memutuskan untuk menonton Film Disney Big Hero 6. Meskipun mereka sudah menontonnya berulang kali. Kangen dikit sama tokoh Baymax, boleh dong? Kean mengambil dua Snack Ubi ukuran Jumbo dan semangkuk es krim Vanilla Blue yang membeku di Freezer. Begitu menutup pintu Kulkas, kedua alisnya bertaut ketika melihat sebuah kertas Foto yang di tempel di Kulkas. "Apa, ini?" Kean menyimpan mangkuk es krim dan Snack yang cukup membuatnya kesulitan itu di atas meja pantry. Kean membiarkan sendok es krim menempel di mulutnya sambil tangannya mengambil foto dengan efek sepia yang di tempel di kulkas. "Ba...by... Boy?" Kean mengeja tulisan tangan yang ada di bawah foto tersebut. "Baby Boy? Maksudnya?" Kean melirik ke atas lantai dua. Memastikan pintu Kamar Kinan tidak tertutup rapat. Baru ia berteriak, "Keeenaaaaaannn! Sini, deh!" Beberapa detik kemudian. Kepala Kinan muncul di anak tangga. "Apa, sih? Teriak-teriak?!" Kean melambaikan tangannya. "Sini, deh. Liat ini apaan?" Kinan mengerutkan dahinya, kemudian berjalan mendekati objek yang sedang Kean amati. "Kayak.. foto.. tapi foto apa, sih?" "Nggak tau, nggak jelas. Ini gambar apaan?" Kean dan Kinan mengerutkan dahinya bersamaan. Saling teliti untuk mengamati dan menemukan jawaban atas kertas foto dengan objek yang aneh itu. "Kita tanya Mama, yuk?" *** "Ini kamu?" "Iya, Gila! Culun banget yaa.." "Ini.. siapa?" Arion mengerutkan dahinya. Memandangi objek foto yang di ambil dengan kamera Polaroid. April tertawa. "Ah, Ini aku.. masa nggak kenal, sih?" "Beda banget, masa?" April merapikan tumpukan kertas foto yang berserakan di atas kasur. Pulang dari Dokter, Arion menemukan April tengah berkutat dengan kotak sepatu tua yang sudah usang. Awalnya perempuan itu sedikit ragu untuk berbagi cerita tentang beberapa barang lama yang ada di Kotak itu. Tapi, Arion tersenyum dan justru tertarik untuk melihat kenangan-kenangan persahabatan mereka. "Kan, itu waktu masih zaman SMP. Muka aku masih imut-imut gimanaa, gituu.." Arion memutar bola matanya. "Lah, sekarang malah sok imut." April memeletkan lidahnya. Lalu menjadikan tumpukan kertas foto itu menjadi satu. Baru April akan mengikatnya dengan karet gelang, Arion menghentikan tangan April. "Eh, tunggu, deh." April mengerutkan dahinya. "Kenapa?" "Yang ini kayaknya mirip.. Kinan?" "Masa, sih?" Arion tertawa. "Iya, Iya. Ini mirip Kinan. Kayanya udah gede nanti dia bakal mirip kamu waktu SMP gini, deh." "Itu foto waktu aku masih suka main ayunan di halaman belakang rumah Papa. Emang mirip, ya?" Arion mengangguk. Objek fotonya adalah seorang gadis kecil yang duduk sendiri sambil bermain ayunan. "Siapa yang fotoin?" April menatap Arion lama. "...Marvin," Arion hanya mengangguk. "Aku simpen, ya?" "Simpen aja." Arion merogoh saku belakang celananya. Laki-laki itu membuka dompet kulit miliknya dan menyelipkan foto itu disana. Pas. "Mamaa?" Keduanya sama-sama menolehkan kepala ke ambang pintu dan mendapati dua anak mungil menerobos ke kamar mereka dan langsung memanjat ke atas kasur. "Ma, Ini foto apaan, sih?" Tanya Kean. April membulatkan matanya. "Loh, Kok di cabut dari kulkas, sih? Padahal udah sengaja Mama tempel disitu." Kean mendengus. "Abisnya kita penasaran, itu foto apaan? Nggak jelas banget." Arion menarik tubuh Kean, memangkunya erat. Laki-laki itu memutari garis wajah yang tercetak di kertas foto. Kinan yang penasaran ikut nimbrung dan mendekati Arion. "Ini itu... foto adek kecil yang ada di perut Mama." Kean dan Kinan langsung menatap Arion penuh arti. "Berarti.. Kinan mau punya adik lagi, dong?!" "Kean juga?!" April tertawa kecil. "Enggak, adek-nya cuma satu." "Jadi siapa yang bakal punya adik?" Tanya Kean. "Ya, kalian berdua, lah." Arion menimpali. "Dedek bayi yang ada di perut Mama itu bakal jadi calon anggota klub baru kita!" "Yeah!" Kean berjingkrak. "Serius, Pa?" Kinan langsung berdecak dan melengos ke pangkuan April begitu tau apa yang sedang mereka bicarakan. "Yah, udah ketebak, deh. Pasti dia laki-laki." Kean tak berhenti tersenyum begitu tau ia akan dapat teman baru. "Jadi klub kita bakal makin seru, ya Pa?!" Kinan cemberut. "Ih, padahal aku pengen punya adek perempuan yang bisa di dandanin gitu, kan lucu, ya? Terus di ajak main barbie bareng.. Eh, taunya.." Arion tersenyum ke arah April. "Sabar, Ki. Mama sama Papa bisa bikin lagi lain waktu." April membulatkan matanya, dan langsung menimpuk Arion dengan bantal. "Jangan dengerin apa-apa dari Papa, ya? Papa kamu itu kebanyakan ngayal." *** Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika Kean menemukan Arion sedang duduk di ruang keluarga sambil memainkan Laptop. Arion menolehkan kepalanya pada sosok anak kecil yang berjalan menghampirinya dan mengambil posisi duduk di sebelah Arion. "Kamu nggak tidur?" "Nggak bisa tidur. Papa kenapa disini?" "Abis Mama kamu aneh-aneh aja. Tumben banget pengen tidur gelap-gelapan. Padahal biasanya kalau gelap nggak bisa tidur." Arion kembali menatap layar laptop yang menyala. Sebelum akhirnya meraih segelas s**u hangat dan memberikannya pada Kean. "Mau s**u?" Kean menggeleng. Arion memang lebih suka s**u Hangat di bandingkan dengan Kopi untuk menemani jam malam-nya. Kean mengerutkan dahi ketika melihat Papa yang sedang berkutat dengan halaman google. "Baby.. names.. and.. Papa lagi nyari apa, sih?" "Nama bayi buat nanti kalau dia lahir. Menurut kamu nama yang bagus apa, ya?" Kean memainkan bibir bawahnya sambil berpikir. "Hmm.. Kevin, Russel, Stuart, Bob atau mungkin.. Woody, Buzz terus bisa juga—" "Please, deh. Papa lagi nyari nama orang. Bukan nyari nama tokoh kartun yang pas." Arion memutar bola matanya. Dan Kean hanya tersenyum garing. "Eh, tapi tunggu, deh. Siapa tadi? Kevin?" "Hmm. Kevin, emang kenapa, Pa?" Arion tersenyum. "Kayaknya bagus aja, gitu.. Kean, Kinan dan.. Kevin. Ih Ya Ampun! Lucu banget." Kean mendengus melihat tingkah Papa yang seperti... Ibu-Ibu girang? "Tapi, Pa.. Kevin itu nama Burung Unta yang ada di Film UP. Ih nggak banget kalau punya adek yang pecicilan dan nggak bisa di atur kaya Kevin itu." Kean membulatkan matanya lagi. "Ah, apalagi Kevin yang ada di film Minions itu malah lebih parah lagi. Dia, kan bloon Pa.." "Iya juga, sih. Ih, amit-amit Ya Allah.." Arion mengusap perutnya sendiri. "Terus nama yang cocok apa, dong?" . . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN