19

1006 Kata
  BAGIAN 19 : MALAIKAT KECIL DIBALIK KACA "Papaa!! Mama berdarah!" Pekikan Kinan lewat telefon itu tak urung langsung membuat Arion menutup Laptopnya tanpa peduli apapun. Pagi tadi, April bilang, Perutnya berkontraksi. Dan sekarang, Arion yakin saat ini April sedang berjuang mati-matian menahan sakit. Nggak. Arion nggak mau hal yang dulu terulang lagi. Dulu mungkin Arion nggak bisa berdiri menemani April saat berusaha melahirkan Kean dan Kinan meskipun lewat operasi. Tapi sekarang, selama Arion bisa. Arion hanya ingin melihat calon anggota klub barunya itu menghirup nafas untuk pertama kalinya. Laki-laki itu melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher dan membuka satu kancing paling atas. Disaat seperti ini, ia harus membagi konsentrasinya. Antara memikirkan keadaan April dan fokus pada mobil yang sedang ia kemudikan. Telfon di saku kemejanya bergetar. Arion memperlambat laju mobilnya untuk menjawab panggilan. "Hallo? Gimana, Yo?" "Woles, Man. April udah masuk ruang persalinan. Sekarang masuk.. pembukaan 7 deh kayanya." "Serius lo?" "Tadi kata dokternya, sih gitu. Lo fokus aja nyetir. Kean sama Kinan aman di sini." "Alhamdullilah kalau gitu, Thanks, ya!" Saat panggilan di tutup, matanya memanas. Arion tak bisa menahan gejolak aneh yang saat ini merasuk ke dirinya. Lo adalah seorang Ayah sekarang. Untuk kedua kalinya. Gue tau, Pril. Lo kuat. *** "Om Mario, Mama nggak apa-apa, kan?" Kean bertanya, sembari tangannya menarik-narik tangan Mario cemas. "Nggak Papa.. Kan, Mama kamu itu wonder woman, inget, kan?" Kean mengangguk. Matanya melirik Kinan yang sejak tadi di rangkul oleh Ghita karena anak itu tak berhenti uring-uringan. "Papa mana, Om?" "Lagi di jalan. Bentar lagi dateng,kok. Kamu tenang, ya?" Kean tak bisa berhenti menggigit bibir bawahnya sampai seorang Wanita berseragam putih keluar dari pintu ruang persalinan. "Suami Pasien, hadir?" Mario dan Ghita saling melempar tatapan. "Eng.., Belum—" "Saya dateng, Dok!" Dokter Andrea—Masih orang yang sama saat menangani kandungan April waktu itu—tersenyum. "Tolong masuk," Arion menghentikan langkahnya. "M-masuk? Ke... dalem?" Mario mendengus mendorong bahu Arion ringan. "Ya, Iyalah. Masuk buruan! Tunggu apa lagi?" "Tapi gue... takut.. darah.." Kean menatap Arion lama. "Papa.. beneran yakin super hero?" Arion mengerjap. Diam. Tak mampu menjawab. Tak mampu mengangguk juga menggeleng. Tangannya mengepal dan laki-laki itu menghela nafas panjang. Arion melirik Kean sejenak. "Saya masuk, Dok." *** Hal yang pertama kali Arion lihat adalah ruangan yang penuh dengan segala peralatan medis. Disana, April sedang berbaring sendirian dengan keringat dingin dan tangan yang mengepal. "Gue disini," Arion berucap. Ia seperti terlempar kembali ke masa SMA. Dimana Arion justru sama sekali tak ikut andil dalam proses persalinannya meskipun lewat operasi. Yang Arion tahu, Kean dan Kinan lahir dalam keadaan prematur. April membuka matanya. Samar-samar melihat siluet Arion yang terkena cahaya lampu ruangan. "Gue.. takut," Arion menggenggam tangannya yang terasa dingin dan basah. April tak berteriak, tak mengeluarkan suara melainkan hanya memejamkan mata menahan sakit. Diam-diam Arion tahu, perempuan itu mengeluarkan air mata. "Jangan nangis," Arion menghapus air matanya. "Gue disini." Arion nggak membayangkan bahwa ia sekarang berdiri sebagai seorang Ayah untuk kedua kalinya. Tapi untuk pertama kalinya, bukan dengan kemeja kerja yang sekarang lusuh penuh keringat. Yang ia rasakan, Arion berdiri dengan seragam putih abu-abunya. Pegangan tangan perempuan itu mengerat. Arion dapat merasakan bagaimanan April meremas tangannya kuat-kuat saking sakitnya. Arion mengusap keringat yang ada di kening April. "Nggak papa, Gue disini," Gue disini. Selalu. Detik menegangkan itu terjadi ketika Dokter Andrea bilang, persalinan akan di mulai. Suara denting antara gunting, pisau, penjepit besi dan alat medis lainnya itu nyaris membuat telinganya ngilu. Arion nggak yakin, apakah lututnya akan terus berdiri kokoh ketika melihat darah dan lendir. Tapi Arion yakin, keberaniannya untuk melihat darah nggak sebanding dengan usaha April mengeluarkan nyawa lain disana. Erangannya semakin kuat, dan otot-ototnya menegang setiap kali berusaha mendorong kepala mungil jagoan kecilnya di bawah sana. Raut wajahnya terlihat lelah karena menahan sakit. Dokter Andrea terus melempar senyum. "Dorong terus... Kamu bisa.. sedikit lagi, kok." Arion hanya bisa mensugesti dalam hati. Lo kuat, Pril. Laki-laki itu tak peduli, seberapa sakit tangannya ketika April meremasnya, seberala kusut pakaiannya ketika April menariknya. Yang Arion tahu, semuanya nggak sebanding. Bagaimana pun juga, ia takkan bisa merasakan bagaimana sakitnya itu. Setelah satu jam berada di ruang persalinan. Tangisan melengking dari mulut jagoan kecilnya itu memenuhi seluruh ruangan. Membuat Arion merinding . Arion nggak tahu, perasaan apa ini. Ia tak sedih. Tidak juga senang. Lebih tepatnya, Arion hanya terharu. April menghela nafas, seluruh tubuhnya terasa lemas tapi pada saat yang bersamaan ia seperti melayang karena lega. Gini, ya? rasanya 'jadi seorang Ibu?' Ibu yang benar-benar seorang 'Ibu' Arion juga tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan April yang masih basah dan berkeringat. Meskipun tangannya bergetar karena ingin menggendong anggota klub-nya itu. Arion bersabar, sampai assisten dokter itu membersihkan lendir dan darah yang tersisa di sekujur tubuh mungilnya. Arion mendekatkan mulutnya ke telinga si jagoan kecil, meskipun amis darah itu menyengat. Arion tak peduli. Ketika Arion mengumandangkan Adzan di telingan kanannya. Pilu itu menyeruak lagi. Menusuk ke hidung hingga nyaris membuat matanya memanas. Nada suaranya terdengar gemetaran tapi April yang sedang memejamkan mata disana dapat merasakan ada perasaan khusus untuk bayi laki-laki yang berhasil keluar dari rahimnya sendiri. "Jangan nangis," Arion mengusap wajah April dengan Ibu jarinya. "Anggota klub kita udah ada disini." Sejak saat itu. Tumbuh penyesalah yang menyeruak ke permukaan. Merasa bersalah karena dulu pernah merusak April, tanpa ia tahu bagaimana sakitnya saat April menanggung semuanya sendirian. Arion juga nggak akan membiarkan Kean, Kinan dan si kecil  ini tumbuh tanpa kasih sayang. Arion nggak akan pernah meninggalkan mereka. Karena dengan begitu, artinya perjuangan April sia-sia. Arion berjanji pada dirinya sendiri. Nggak akan lagi meninggalkan April, menyakitinya apa lagi mengkhianatinya. Nggak lagi, karena sekarang Arion tahu. Bagaimana sakitnya itu. *** "Dia gerak-gerak, Pa!" Kean memekik ketika melihat bayi dengan kulit merah dari balik kaca. "Papa udah siapin nama buat dia?" Tanya Kinan. Dinding kaca itu langsung berembun karena Kinan berbicara terlalu dekat. Kean, Kinan dan Arion tidak bisa melihat bayi kecil itu lebih dekat lagi karena Ruangan itu terlalu steril dan hanya boleh di masuki orang-orang tertentu. Tadi, Opa sempat ke Rumah Sakit sampai setengah jam setelah melihat bagaimana rupa Cucu ketiga-nya dan juga keadaan April yang berangsur-angsur stabil. Sayangnya Pria paruh baya itu tak bisa berlama-lama akibat ada jadwal Kunjungan ke salah satu Kebun Teh di Ciwidey, Jawa Barat. Saat ini Opa-nya Kean dan Kinan memang sedang fokus di bidang pertanian yang sudah lama ia tekuni. "Keenan, Karel... atau Kenneth, ya?" Arion menimbang-nimbang. "Nama Kevin, nggak jadi, Pa?" Tanya Kean. "Nggak, deh kayanya. Udah mainstream soalnya." "Jadi namanya siapa, Pa?" Kinan bertanya lagi, kali ini dengan nada yang tak sabaran. Arion menolehkan kepalanya. "Menurut kalian, Bagusan Keenan, atau Keeneth?" Saat itu juga, Kean yang pertaman kali mengangkat tangannya. "Keenan aja, Pa! Biar kembar kaya nama kita! Mirip-mirip gitu, kan Asik?!" "Iya, Iya! Boleh, Pa!" Kinan unjuk gigi. "Fix, ya? Namanya Keenan..." Saat itu juga mata Kean berbinar-binar. Anak itu dengan polos menempelkan bibirnya ke permukaan dinding kaca hingga berembun. "Selamat datang di klub, Keenan.." *** . . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN