20

1364 Kata
Kean berdiri di samping ranjang mungil yang di tiduri oleh seorang malaikat kecil. Kean berusaha melarikan telunjuknya menyentuh tekstur kulit milik Keenan yang masih kemerahan. Di bawah sana, ruang tamu dan ruang keluarga penuh dengan orang-orang yang berdatangan pada acara syukuran kecil-kecilan yang Papa dan Mama adakan. Acara potong rambut baru saja selesai sekitar setengah jam yang lalu. Bayi mungil itu kini sedang tertidur pulas di ranjang. Tidurnya sama sekali tak terganggu, meskipun pakaian yang Keenan kenakan penuh dengan riasan. Begitu jari telunjuknya menyentuh pipi Keenan, rasanya begitu halus. Bahkan mungkin lebih halus dari kapas. Kean tersenyum, memiringkan kepalanya untuk sekedar mencolek-colek bagian tubuh bayi mungil tersebut. "Pasti, waktu di perut Mama sempit banget, ya? Gelap, kan? Nggak ada mainan, ya?" Kean tak peduli. Keenan akan mendengar dari balik tidurnya atau tidak. Yang pasti Kean tak berhenti mengoceh meskipun ia tahu, Keenan tak akan membalas setiap ocehannya. "Nanti kalau udah besar, kita bikin klub baru. Tapi tanpa Papa, ya? Sebenarnya Kakak juga nggak mau satu klub sama Papa. Papa orangnya suka nggak jelas gitu dan imajinasinya ketinggian.. Kakak jadi takut.." "Oh, ya! Kalau kamu udah bisa jalan, nanti Kakak ajarin gimana trik buat ngalahin Papa waktu main bola. Kakak juga bakal kasih tau kamu rahasia di bawah Bak Mandi yang sekarang masih Kakak rahasiain dari Papa." "Kamu mau tau apa rahasianya?" Kean mengelus kepala Keenan yang di tumbuhi rambut tipis itu lembut. "Makanya cepet gede! Biar kita bisa petualang sama-sama! Oke?" Baru Kean akan memulai ocehannya lagi. Pintu kamar di buka. Menampilkan sosok Pria tinggi dengan Baju Koko berwarna putih memasuki Kamar. "Kean kenapa disini?" Kean cemberut. "Cuma mau main sama Keenan doang. Di bawah masih banyak orang, ya?" Arion duduk di sisi ranjang sambil meluruskan kakinya yang terasa pegal. "Masih beberapa, lagi pada makan-makan sama ngobrol biasa." "Sampe kapan selesainya, Pa?" "Tengah malem, kayanya. Kalau kamu ngantuk, kamu bisa tidur di sini." Kean menggeleng. "Belum ngantuk,  Kinan kemana, Pa?" "Tadi sama Mama, lagi ngobrol sama.. Tante Mara." Kean mengerutkan dahinya. Nama Tante Mara terasa begitu asing di telingannya. "Tante.. Mara?" Arion tertawa getir. "Ah, kamu belum pernah ketemu dia, ya? Mau ketemu nggak?" "Emang harus banget, ya?" "Ya nggak juga, sih. Cuma.. selama ini kamu selalu tau temen-temen Papa sama Mama waktu masih muda, kan? Nah, Tante Mara ini juga temen SMA Papa sama Mama." Mama kedua kamu. Arion menambahkan dalam hati. Kean akhirnya mengangguk. "Ya udah." *** Begitu sampai di halaman belakang, disana tidak terlalu banyak orang. Hanya beberapa orang yang Kean sudah cukup kenali. Dan ada satu perempuan bertubuh ramping yang mengenakan Gamis putih sedang berbincang sedikit dengan April. Entah kenapa, Kean merasa ada sorot tidak nyaman dari cara Mama menatap Tante Mara. Begitu Kean mendekati sosoknya, perasaannya berubah tak enak. Kean nggak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ada satu perasaan tidak suka pada sosok perempuan satu ini, meskipun faktanya Kean sama sekali tak pernah menemuinya. "Ini.. Tante Mara." Arion berucap, dengan intonasi yang pelan. "Hallo, sayang?" Senyumnya lebar. Tapi Kean tidak menyukainya. "Ini anak lo yang satunya? Kembar sama Kinan, ya?" April mengangguk. Mengusap kepala Kean lembut dan memberi gesture pada anak itu agar bersikap baik pada Tamara. "Salam dulu, dong sama Tante.." "Haii," Tamara tersenyum lebar. Menyapa Kean seramah mungkin meskipun ia sendiri sudah merasa Kean tidak menyukai keberadaannya. "Kean, kan?" "Iya." Kean mengangguk. "Nah, ini mirip Arion, deh." Tamara berkomentar. Dan April hanya tersenyum kecil. Arion menarik tangan Kean. Membawanya menjauh dari April dan Tamara. "Kita kenalan sama Rega, yuk?" Deg. . . . Rega? Siapa lagi? *** Kinan yang sedang duduk dengan seorang anak laki-laki dengan kemeja putih dan celana hitam itu langsung terlonjak ketika menyadari kehadiran Kean dan Papa disini. Kinan mendengus, ia sudah menebak apa yang akan terjadi setelah Kean berada disini. Saudaranya itu terlalu possesive dengan semua teman laki-laki yang Kinan ajak bermain. Egois. Kinan sudah mengenal sifat Kean yang satu itu sejak kecil. Dengan dengusan kecil, Kinan melirik Kean sinis. "Aku ke kamar, ya? Mau main sama Keenan." Kean hanya mengeryitkan alisnya. Arion mengambil posisi duduk di tengah antara Kean dan Rega. Dari apa yang Kean lihat, Rega adalah tipe anak yang hampir sebelas  dua belas dengan Gio. Cuek dan sok. Ah, kenapa, sih? "Kean.. ini Rega, anaknya Tante Mara." Ujar Arion. Ia berusahan mentralkan sikapnya agar tidak terlalu kentara kalau ia sedang gugup sekarang. Oh, ini anaknya? Kean membatin. Arion merangkul Rega. "Rega, ini anak Om, namanya Kean." Dan yang paling menyebalkan, anak itu baru menyadari keberadaan Arion dan Kean karena terlalu fokus pada game di PSP.  Kean memutar bola matanya. "Lagi main apaan, sih? Sok sibuk banget." Rega mengerutkan dahinya. "Super Mario? Emang kenapa?" "Lah, mainan anak TK. Cetek banget itu. Aku aja sampai di Final udah dari kapan.." Kean mencibir. Rega berdecak remeh. Pertama kali menemukan anak sebayanya yang sangat, sangat belagu. "Oh, ya?" Arion tertawa. Sebagai sikap netralnya, ia mengelus kepala dua anak laki-laki di sampingnya itu lembut. "Kean ini jago banget main game. Om aja sampe kalah dan nggak tamat-tamat main game Mario. Kita satu nasib, ya?" Rega tersenyum. Ralat: untuk pertama kalinya anak itu tersenyum pada Arion. "Serius?" Arion mengangguk. Lalu merangkul mereka berdua dengan erat. "Iya. Ntar kapan-kapan Om mau cari tau, Kean pake santet apaan buat ngalahin hard level di Super Mario." Kean tertawa sinis. "Bakat alami dari lahir." Pandangan matanya tertuju pada pergelangan tangan Rega. Sebuah gelang hasil kepangan tangan melingkar di sana. Ia memandangi pergelangan tangannya sendiri. Gelangnya sama. Lalu, matanya beralih pada pergelangan tangan Papa. Dan hatinya mencelus, ketika gelang itu tak lagi melingkar disana. "Pa?" "Kenapa?" "Gelang anggota club kita mana?" Arion tersentak. Beberapa detik laki-laki itu sempat diam dan melirik Rega yang masih tak mengerti apa-apa. "Oh, itu.. Papa kasihin ke Rega." "Kok, Rega?" Merasa terpanggil, Rega mendongakkan kepalanya menatap Kean penuh tanya. "Emang kenapa?" "Sejak kapan kamu dapet Gelang itu dari Papaku?" "Udah lama. Aku nggak ingat." Arion menghela nafas. "Nggak, tunggu dulu. Papa emang sengaja kasihin gelang itu ke Rega. Papa ngajak dia buat masuk klub kita. Kan kamu bilang biar klub kita makin seru?" Kean menghela nafas. Mengangkat wajahnya untuk menatap Arion lama. Sebelum akhirnya anak itu bangkit dari duduknya dan melengos pergi. "Aku mau ke atas." Arion menatap tubuh mungil Kean yang perlahan menjauh. "Kean!" *** Hembusan angin malam membelai pipi Kean lembut. Anak itu berdiri di atas kursi dengan tangan bertopang pada pagar balkon(?). Karena tinggi tubuhnya yang minim, anak itu tak bisa melihat pemandangan dari balkon rumah sehingga harus menggunakan kursi. Arion menemukan Kean disana. Dengan tatapan lurus ke arah lampu-lampu rumah yang ada di sekitar komplek. Mungkin nggak seindah balkon rumah milik Om Mario, yang menyuguhkan lampu-lampu kota saat malam hari. Setidaknya, Kean sedikit menyukai lampu-lampu kecil dari rumah-rumah tetangganya yang masih menyala. "Kean... marah, ya?" Arion berdiri di sebelahnya. Tak menyentuh Kean, juga tak berani menatap Kean langsung. Kali ini, Arion mengambil posisi bukan sebagai Ayah-nya. Tapi sebagai teman sepermainannya. "Nggak," "Terus kenapa cemberut waktu tau Rega punya gelang Papa?" Kean menghela nafas kasar, menolehkan kepalanya ke arah Arion dan menatap Papa-nya itu dengan pandangan yang sulit di artikan. "Aku kira, Dunia yang kita bikin itu cuma punya Aku sama Papa." "Iya, Papa—" "Tapi, ternyata.. Ada orang lain, ya?" Kali ini Arion diam. Kalimat sebelumnya sudah di potong oleh Kean. Dan Arion yakin, Kean memiliki banyak sesuatu untuk di sampaikan. "Kean nggak butuh banyak anggota buat klub kita. Papa inget? Ini bukan klub biasa. Ini klub khusus Dunia bawah laut yang selalu Papa bilang, kan? Katanya, ini cuma rahasia kita berdua. Dan aku... cuma nggak suka, kalau orang lain ikutan. Itu juga berarti, Papa ngelanggar janji prajurit bawah laut, kan?" Arion mengangguk pelan. Lalu sorot matanya meredup. Ia bingung. Sebenarnya Arion hanya ingin memberi tahu Kean sesuatu yang selama ini menganggunya. Tapi, secara bertahap. Dan ternyata gagal. Kenyatannya, Dimensi Arion dan Dimensi Kean berbeda. Arion mungkin bisa saja masuk ke Dunia milik Kean. Tapi nggak untuk Kean, anak itu tak bisa dengan mudah masuk ke Dunia Arion. Dunia yang penuh dengan kenyataan pahit yang sulit dimengerti. Mungkin ini belum waktunya. "Papa minta maaf, ya?" Pria itu merangkul pundak mungil Kean. "..." Kean diam. Lalu kemudian menggeleng. "Nggak perlu minta maaf, karena mungkin suatu saat nanti... Gelang ini bisa bikin aku sama Rega jadi teman." Nggak sekedar teman, kalian memang saudara. "Pasti," Arion mengeratkan pelukannya. Bukan. Bukan pelukan seorang Ayah kepada jagoan kecilnya. Tapi hanya berupa pelukan hangat seorang sahabat. Entah mengapa, Kean merasa, Papa telah berbagi dunia dengan orang lain. Kean hanya takut, ia akan kehilangan sosok yang bisa menjadi seorang pahlawan juga seorang teman untuknya. Kean juga takut, kalau Papa berbagi dunia dengan orang lain, Negeri Dasar laut yang ada di bawah bak mandi akan hancur. Imajinasi-Imajinasi itu tak lagi bisa berkembang dan pada akhirnya hanya menjadi sebuah memori masa kecil jika suatu saat nanti Kean sudah besar. "Kean sayang Papa," Arion mengangguk, mengelus punggung Kean dan menepuknya sekali. "Papa juga sayang Kean." Setelah ini, Arion nggak yakin akan mengungkapkan semuanya. Sekarang Arion justru takut, tiga buah belati menusuknya secara bersamaan. Kean, Rega dan Keenan... . . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN