Luka

1007 Kata
Keesokan harinya Arin bangun terlambat karena semalam menangis tiada henti, ia segera beranjak dari kasurnya untuk mandi dan bersiap siap pergi sekolah. Arin tak ingin bolos hanya karena tubuhnya penuh memar ini juga pertama kalinya ia seperti ini. Arin yang sudah selesai mandi kini sedang sibuk menutupi bekas memar semalam dengan foundation yang ia beli bukan untuk merias wajahnya tetapi menutupi memar bekas pukulan papanya, setelah semua luka itu tertutupi dengan sempurna Arin menggendong tas ranselnya lalu keluar dari kamarnya dengan wajah ceri seperti biasa. Ia menuruni anak tangga perlahan di ruang makan sudah ada bunda papa dan juga kakaknya yang sedang asik makan dan bercengkrama bersama namun saat Arin datang semuanya diam "Eh anak malam lo makan disana aja! gue malas makan semeja dengan lo" perintah Ghea, Arin lantas menatap papa dan juga bundanya mereka sama sekali tidak memarahi Ghea. "Apa yang lo lihat! cepat pergi sana!" usir Ghea lagi. Arin berjalan keluar rumah, rasa laparnya tiba tiba hilang begitu saja. "Neng Arin" sapa pak Hendro sopir dirumah Arin. "Pagi pak" jawab Arin yang lain dari topik "Pagi neng, mau bapak antar" tawar pak Hendro ramah, Arin kembali menatap rumahnya lalu berucap "Nggak pak, bapak antar kak Ghea aja" "Loh nggak serempak aja neng?" "Nggak pak, Arin duluan ya pak" ucap Arin lalu berjalan meninggalkan perkarangan rumahnya. Keberuntungan sedang memihak padanya Arin yang baru sampai dihalte tiba tiba bus yang ia tunggu sudah berjalan ke arahnya, tanpa menunggu lama ia segera beranjak dari duduknya dan berjalan masuk kedalam bus tersebut setelah bus itu berhenti. Didalam bus masih sedikit penumpang karena hari masih terbilang pagi. Tak lama bus tersebut berhenti di halte tak jauh dari sekolah Arin, sebelu turun ia memberi bayaran dulu pada pak sopir setelah itu turun, ia pun berjalan santai masuk ke gedung sekolahnya baru saja kakinya menapak di di koridor sekolah suara cempreng Tina sudah memekakkan telinga memanggil namanya. "ARIN.. ARIN SAYANG TUNGGU DONG" teriaknya, Arin lantas menghentikkan langkahnya menunggu Tina. "Tumben datang pagi buk Arin" godanya sembari menepuk punggung Arin yang masih sakit akibat semalam. "Aww" rintih Arin pelan Tina yang terkejut dengan reaksi temannya lantas merubah raut wajahnya menjadi khawatir, "Sakit ya Rin? maaf" ucapnya penuh penyesalan "Nggak kok nggak papa Tin" "Padahal aku mukulnya pelan loh, kok reaksi lo sampai sesakit itu" "Siapa bilang pelan Tina" ucap Arin tak ingin teman satu satunya itu khawatir "Maaf ya Rin" "Iya santai aja kali" "Yaudah ayuk masuk kelas" ujar Tina lalu merangkul tangan Arin. Berteman dengan Tina adalah suatu anugrah bagi Arin, gadis itu punya sifat yang ceria yang membuat hari Arin yang sering suram akan berubah terang hanya dengan candaannya. Arin tak ingin membebani Tina dengan bercerita tentang masalahnya ke Tina. ** "Lo nggak olahraga Rin?" Tanya Tina yang sedang mengganti bajunya dekat Arin, Arin yang ditanya begitu lantas menggeleg pelan. "Nggak Tin, aku lupa bawa baju" kilahnya berbohong, tubunya masih sakit akibat kejadian semalam, dan berolahraga hari ini hanya akan memnambah sakitnya lagian a juga tak ingin luka yang tak ia tutupi dibalik bajunya ini ketahuan oleh orang lain, ARin hanya menutupi luka di lengan dan kakinya untuk bagian dalam tidak karena tidak nampak juga. "Jadinya lo sendiri dong, nggak papa?" "Aku nanti tunggu di tangga dekat lapangan aja Tin" ucap Arin yang tak ingin Tina khawatir padanya "Apa aku nggak usah olahraga aja ya biar nemani lo disini" "Ehh nggak usah kamu lupa kalau mau masuk univ terbaik, nanti nilai kamu turun karena nggak ikut olahraga" "Emang Iya ?" Tanya gadis itu polos dan langsung dibalas anggukan oleh Arin. "Iya Tina, makanya ikut olahraga ya" "Okedeh, lo di tangga ya" "Iya Tin" Dua sejoli itupun lantas berjalan kearah lapangan sama seperti yang dikatakan Arin tadi, ia akan menunggu di lapangan setelah memberitahu bapak olahraga tentu saja alasannya sakit tak mungkin ia bilang tak bawa baju bisa saja dia kena omel pak Bagus. Siswa kelas Arin dibagi di dua lapangan satu lapangan khusus pria dan satunya lagi khusus wanita, dilapangan khusus pria disana ada Galih pria itu sedang bermain basket dari penglihatan Arin ia yakin jika calon tunangannya itu jago soal olahraga yang berasal dari negeri paman sam itu. Pria berpakaian baju olahraga dengan dibalut jaket itu sibuk mendribel bolanya bahkan sudah beberapa kali ia mencetak angka yang membuat gadis gadis disekitar Arin bertepuk gembira setiap Galih mencetak angka. Awan gelap menghampiri sekolah tempat Arin, perlahan rintik hujan mulai membasahi dan dalam seperkian detik menjadi hujan yang lebat, Arin yang jauh dari tempat berteduh lantas berlari ke gedung sekolah, baru saja ia sampai ditempat berteduh, orang orang menatapnya dengan tatapan aneh. Arin yang ditatap begitu lantas mengikuti arah tatapan teman temannya dan ia baru tersadar dengan apa yang ditatap temannya. Arin mencoba menutupi tubuhnya namun gagal karena tangannya tak sampai. Galih yang ada jauh darinya pun ikut menatapnya sama dengan yang orang lain perlihatkan, Arin malu ia ingin berlari lagi namun tubuhnya sudah tak kuat. temannya Tina tak ada disana. Dengan perlahan ia mundur barusaja ia mengambil ancang ancang untuk berlari tangan kekar sudah mencekalnya siapa lagi kalau bukan Galih, pria itu menatapnya dingin. Arin menatap balik Galih, "Tolong aku" cicit Arin pelan, Galih yang tau maksud gadis itu lantas membuka jaket yang ia pasang lalu segera memakaikannya di tubuh basah Arin. Setelah itu menarik gadis itu ke parkiran sekolah, dan memaksa masuk Arin ke dalam mobil yang ia bawa. Dalam keadaan sunyi pria bernama Galih memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, pria itu membawa Arin ketempatnya saat sudah sampai di parkiran Galih menarik tangan Arin masuk kedalam gedung apartemen nya, disini arin tak memberontak ia mengikuti mau pria itu saat sudah sampai didalam apartemen milik Galih, Arin dipaksa duduk di sofa panjang yang terltak ditengah tengah ruangan dengan posisi pria itu di depannya. "Habis berantem sama siapa lo?!" tanya Galih dengan ekspresi dinginnya. "Ak- aku ha- habis ja jat jatuh" ucap Arin terbata bata Galih berdecak kesal "Ck.. Jangan bohong di depan orang yang sering bohong" ucap pria itu. "Semalam lo pulang di gangguin orang?" sambungnya lagi Arin menggeleng "Terus luka lo itu karena apa!" bentaknya *** To Be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN