Bertemu pria dingin lainnya

1024 Kata
"Ngapain lo malam malam keluar rumah ha!" sentak pria itu seperti biasanya. "Hm.. aku mau beli ini" alibi Arin sembari memperlihatkan bungkus jelinya kedepan Galih. "Ck, cuma gara ginian lo keluar malam?" "I-iya" jawab Arin terbata bata setelahnya Galih pergi dari hadapannya, sumpah berada disekitar pria itu bisa membuat kerja jantungnya tidak normal Arin memunguti barang barang belanjaan nya yang terjatuh tadi setelahnya ia bawa ke kasir untuk dibayar, walau malam namun supermarket tempat Arin datangi ini begitu ramai pengunjung sampai sampai ia harus mengantri terlebih dahulu, dan saat tiba dirinya Arin segera membayar uang yang harus ia keluarkan atas barang barang yang ia beli. "Lima puluh dua ribu mba" ucap kasir tersebut, Arin merogoh uang disakunya lalu memberikan ke pada mba kasir, setelahnya ia bawa satu kresek besar isi banyak jelinya itu keluar supermarket. Suasana malam hari sangat sepi apalagi malam ini malam selasa yang mana besok orang bekerja jadi banyak orang yang sudah istirahat bukan, Arin mempercepat langkah kakinya tapi tiba tiba terdengar suara orang yang sedang berkelahi Arin pun mendekat dan mengintip di balik pohon, benar saja tak jauh dari tempat Arin sedang ada orang yang berkelahi tiga orang pria dan satu pria yang habis dikeroyok karena Arin tak tega ia pun ngendap ngendap berjalan kesana sembari membawa balok kayu untuk pertahanannya. perlahan tapi pasti. "Hiat...." teriak Arin lalu Bugh .. Bugh .. Bugh.. Tiga orang pria itu habis dipukul oleh Arin dengan balok kayu yang ia bawa. "Kabur!!" teriak salah satu dari tiga preman itu lalu Arin menghampiri pria yang penuh luka itu. "Kamu nggak papa?" tanya Arin lalu ia menepuk jidatnya karena bodoh mempertanyakan hal yang sudah pasti tau jawabanya hanya dengan melihat kondisi pria itu yang babak belur. "Eh maaf bukan gitu maksud aku, gini .. hm... "Aku nggak papa" pungkas pria itu dingin lalu perlahan berdiri karena masih banyak luka ditubuhnya membuat pria itu linglung dan hampir terjatuh lagi untung saja Arin cepat menangkapnya. "Biar aku bantu, kamu nggak akan bisa sendiri" Prit itu menghempas tangan Arin, "Gue nggak butuh bantuan lo" setelahnya ia berjalan duluan. " Satu.. dua ... ti-- ehh Belum sampai dihitungan ketiga pria itu jatuh lagi dan kini lebih parah karena ia pingsan, "Eh bangun dong kok pingsan aku nggak tau dimana tempat tinggal kamu" ucap Arin kesal dan tak lama ponsel pria itu berdering tanpa butuh waktu Arin segera mengambil ponsel pria itu yang ada di saku celananya. "Hal-- "Eh siapa lo!! abang gue mana!!" belum sempa Arin menyelesaikan ucapannya nada cempreng dari seberang sudah mengkagetkannya. "Maaf abang kamu ini ada tapi dia nggak bisa angkat" ucap Arin lembut "Nggak bisa angkat! eh lo p*****r!! jangan sok kecentilan ya mana abang gue!!" teriak wanita yang Arin rasa umurnya masih muda seperti dirinya namun ucapannya benar benar membuatnya mengelus d**a. "Aku bukan p*****r, abang kamu sedang pingsan tadi aku lihat dia habis berantem kamu datang saja ke Jalan kimaja tepatnya di dekat gubuk kecil lusuh di kiri jalan" ucap Arin setelah itu ia menutup panggilannya, hatinya sudah terlampau sakit mendengar ucapan gadis tadi yang menuduh dirinya p*****r. Tak lama mobil bermerk Pa**** hitam terparkir di seberang jalan seteahnya keluarlah satu orang gadis dan dua pria bertubuh besar berpakaian serba hitam mendekat ke tempat Arin yang sedang memangku pria yang sedari tadi tak sadarkan diri itu. "Abang gue kenapa?" Tanya gadis muda nan dingin itu pada Arin, "Aku nggak tau aku baru aja pulang dari supermarket, dan ngelihat abang kamu sedang berantem dengan tiga orang besar aku nggak tega bantu dia dong, ehh dia malah pingsan saat mau pergi" jelas Arin panjang lebar yang hanya mendapat reaksi Oh dari gadis muda di depannya. Dua orang pria bertubuh besar yang dibawa gadis itu lantas menggendong tubuh pria yang ada di pangkuannya lalu membawanya ke mobil mereka, diikuti oleh gadis muda itu. Mereka pergi tanpa berucap terimakasih sedikit pun pada Arin itu yang membuatnya kesal. "Eh.." teriak Arin, Reva lantas berbalik Arah menatap Arin "Ada apa?" "Kamu nggak pernah diajarkan untuk berucap terimakasih ya?" ujar Arin Gadis beranama Reva itu tak terima ia berjalan kedepan Arin mengikis jarak diantara mereka yang tadi lebar kini semakin dekat, setelah sampai di depan wajah Arin ia mengeluarkan 10 lembar uang seratus ribu lalu melempar tepat di depan wajah Arin "Itu kan yang lo mau" ucap Reva sinis lalu berjalan meninggalkan Arin, Arin tak terima di pungutnya uang itu setelahnya ia berlari mengejar Reva yang hampir masuk kedalam mobilnya untung berhasil diceggat oleh Arin. "Saya nggak butuh uang kamu" Arin memberinya uang itu ke tangan Reva lalu ia pergi berlaria menjauh dari mobil yang ditumpangi Reva kakak dan dua ajudannya. "Ck, sok jual mahal bilang aja lo mau" desis Reva lalu ia masuk kedalam mobil. ** Arin masuk kedalam rumahnya mengendap endap ia lupa untuk jalan lewat gerbang belakag. "Karena dua orang gila itu aku jadi gini" ucapnya dalam hati Baru saja kakinya melangkah ke anak tangga tiba-tiba lampu ruang tamu yang tadinya dimatikan kini menyala seluruhnya, Arn yang terkejut lantas membalikkan tubuhnya dan yang membuatnya takut pun terjadi papa dan bundanya kini sedang duduk di sofa menatapnya sinis. "Darimana kamu?" ucap Papa Arin dingin menatap anak bungsunya yang sedang mematung dianak tangga. "S-supermarket pa" "Mana belanjaan kamu!" Arin menatap kedua tangannya kosong, ia lupa mengambil jajanannya karena kesal melihat wanita tadi. "K ketinggalan pa" "Kamu bohong kan!!" bentak Bobby papa Arin. "Nggak pa Arin nggak bohong" jawab Arin cepat ia takut sungguh takut dengan apa yang terjadi nantinya setelah ini. "MASUK KAMAR !!" sentak pria itu lagi dengan dua bola mata merah menatap marah anak bungsunya, Arin yang diperintah segera masuk kedalam kamarnya dengan air mata yang tak berhenti menetes. Setiba dikamar kejadian itu kembali terulang, Arin ditampar dipukul bahkan tubuhnya yang sudah kurus pun habis di tendang oleh manusia yang ia panggil Papa. Arin ingin mengucap ampun namun percuma karena laki-laki itu tak akan mengampuninya sampai ia puas. Setelah membuat anak bungsunya babak belur Booby keluar dari kamar Arin tak ada sedikitpun wajah penyesalan di wajahnya. Arin menduduk kan dirinya kedekat ranjang, tubuhnya sakit begitu pula hatinya orang tuanya tak pernah bersikap adil padanya dan tak pernah berada disisinya. "Tuhan, aku capek" ucap Arin ** To be continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN