Beda kasih

1083 Kata
"Eh Gal, tadi siang gue lihat lo pulang sama cewek, pacar lo ya?" Tanya Rino si anak kepoan, anggota geng lainnya pun ikut menatap ke arah mereka. Galih sipredikat cowok dingin bisa dekat sama cewek itu adalah suatu kemajuan. Sebab ada desas desus yang tersebar kalau Galih seorang Gay karena tidak pernah ada yang tau siapa pacar atau wanita yang dekat dengannya. "Calon tunangan gue" ucapnya enteng seolah tak ada beban, sedangkan yang lainnya malah ternganga menatap nya tak percaya. "Serius lo?!" Teriak mereka serempak, Chiko yang tak banyak omong pun ikut nimbrung mendengar jawaban dari anggota barunya itu. "Serius lah, emang nampak diwajah gue kalau gue bohong" jawabnya ketus "WHAT!! Galih yang dibilang GAY ternyata sudah punya calon tunangan" Pekik Rino "Kalah lo anak bucin" tambahnya sembari menatap Dama, Dama yang merasa tersindir melempar bantal yang ada dimejanya tepat kewajah Rino. "Diam lo setan!" "EH setan pekik setan kan lucu" Jawab Rino "Ih si anjing!" "Dama bisa nggak si lo tu konsisten tadi katanya setan kenapa sekarang jadi anjing , jangan jangan cinta lo sama doi jug-- "LO!!" Dama yang tersulut emosi hampir saja menendang wajah Rino namun untung si Rino duduk sebelahan dengan Chiko jadi nyawanya masih ada yang jaga. "Bisa diam nggak si dua anak anjing" Satria yang sedang main Game sejanak berhenti menatap dua orang yang ada di depannya. "DIAM LO!" jawab Rino dan Dama serempak, setelahnya mereka kembali duduk ke kursi masing masing. "Kalian dijodohkan?" Tanya Kenzi sembari menatap Galih. Galih mengangguk kecil pertanda Iya, "Jangan sebar berita gue ini" ucapnya dingin lalu kembali main HPnya. Anggota lainnya pun serempak mengangguk walau tipis tipis, Galih percaya anggota Blizz tak akan memberitahu orang lain karena itu ia berani jawab jujur. ** "Mama !! mama!" teriak Ghea sembari berlari dari anak tangga menuju dapur dimana mama dan papanya sedang asik ngobrol dan makan. Nur yang sedang sibuk mengambilkan makanan untuk suaminya terhenti kala teriakan dari anak sulungnya itu. "Jangan lari-lari Ge, nanti kamu jatuh" ucap Nur perhatian setelahnya ia memberikan nasi berisi nasi dan juga beberapa lauk ke depan suaminya. Ghea menatap ke ssamping ibunya disana ada papanya, ia pun dengan semangat berlari ke arah papanya lalu memeluknya erat "Eh papa Ghea sudah pulang" racaunya manja, Arin yang baru datang ke dapur hanya geleng geleng melihat kelakuan kakak sulungnya itu, seharusnya dia yang bersikap begtu namun ini malah Gea yang kelewat manja. "Kok pulang nggak bilang bilang sih pa" ucapnya sembari mengambil tempat duduk disamping papanya, lalu duduk disana. Bobby mengelus pelan surai hitam anak sulung kesayangannya itu dengan lembut, "Maaf ya papa lupa soalnya kerjaan papa di kalimantan banyak banget Ge" ungkapnya sembari tersenyum hangat. "Papa kebiasaan" ucap Ghea merajuk "Eh jangan merajuk dong princess papa, oh iya papa ada bawa oleh oleh lo untuk kamu" Ghea yang tadi wajahnya ditekuk kini berubah berbinar, "Serius pa? dimana?" "Di dalam mobil, ambil sana" tunjuk Bobby lewat dagunya mengarah ke garasi "Oke siap bos" ucap Ghea semangat lalu ia berlari ke arah bagasi, tak lama ia kembali membawa dua paper bag dengan logo G, yang menandakan bahwa barang itu punya harganya tak murah. Arin yang tadi sedang menatap kulkas kini ikut nimbrung karena penasaran dengan yang dibawa Ghea. "Untuk Arin yang itu ya pa?" Tanya Arin menunjuk ke arah paper bag satunya lgi yang berlogo F yang sama sama merk barang mahal. Ghea yang tak suka dengan ucapan adiknya segera menyela, "Jangan mimpi deh lo! ini buat gue sama bunda nggak lihat tu isinya!" ucap Ghea sembari menunjuk kearah paper bag yang diucapkan Arin tadi, Arin yang merasa tak percaya segera mengambil paper bag tersebut dan benar saja isinya adalah tas mewah yang tipenya tidak cocok dengan usianya. "Jadi untuk Arin nggak ada?" ucapnya pelan, air mata yang ada dipelupuk matanya seolah menjerit ingin luruh namun sebisa mungkin ia tahan, Nur yang ada didekatnya pun segera memeluk anak bungsunya namun terlambat karena Arin sudah memilih untuk pergi. "PAPA!" geram Nur, bunda Arin dan Ghea pada sang suami. "Papa lupa" jawabnya asal, lalu menatap Ghea yang sibuk mencoba tas yang di belikannya. Nur merasa sakit hati dan juga sedih. Sudah ratusan kali ia peringatkan pada sang suami untuk memberi kasih sayang yang sama untuk Arin dan juga Ghea namun suaminya malah terus mengulang dengan kesalahan yang sama. tak ingin Arin kenapa kenapa ia segera berlari menuju kamar anak bungsunya saat ia hendak masuk tiba tiba kamarnya terkunci. Nur mengetuk pelan, "Arin... boleh bunda masuk?" ucapnya lembut namun tak kunjung ada jawaban dari sang anak membuat Nur menjadi ketakutan takut Arin kenapa kenapa, ia pun segera mengambil kunci cadangan yang ada di lantai bawah lalu kembali ke depan pintu Arin saat ia akan masuk tiba-tiba suara serak dari anak bungsunya membuatnya diam.. "Bun Arin ngantuk, jangan ganggu Arin dulu ya" ucap Arin dengan suara serak khas orang menangis, Nur tak ingin menjadi orang tua yang keras kepala ia pun mengikuti mau anaknya lalu kembali menutup pintu Arin tak lupa dikunci, setelahnya ia kembali menuju lantai bawah kamarnya. Arin tau ini bukan pertama kali papanya bersikap tak adil padanya namun tetap saja sakit mau bagaimanapun ia berusaha untuk baik baik saja, cobaan yang ia dapat benar benar terlalu banyak tidak sesuai dengan tubuhnya yang mungil tapi ini adalah pilihan tuhan mungkin tuhan lebih tau siapa yang kuat menjalani ini. Pukul 11.09 malam Arin masih belum bisa tidur hatinya masih sakit, ia pun memilih untuk beranjak dari kasurnya lalu beranjak ke lemari dan mengambil asal hoodie miliknya setelah itu membuka jendela kamarnya pelan pelan, dengan gerakan pasti ia turun dari lanta dua kamarnya ke lantai bawah lewat jendela, dengan latihan rutin tiap tahunnya memuat Arin menjadi lebih jago hari demi hari. Setelah sampai di bawah Arin berjalan mengedap endap keluar lewat pintu belakang, ya pintu belakang sangat jarang dikunco kalaupun dikunci Arin punya cadangannya, ia pun sudah berhasil berada diluar pagar rumahnya. Hatinya begitu lega ntah kenapa angin malam diluar benar benar membuat moodnya sedikit membaik. Arin bukan tipe penakut dengan hantu, ia dengan santainya berjalan di trotoar tujuannya adalah supermarket terdekat untuk membeli permen jeli si pengembali moodnya yang hilang. Tak butuh waktu lama Arin sudah sampai di dalam supermarket ia yang sudah tau dimana letak permen jelinya, ia pun segera berjalan kesana setelah dapat ia menuju kasir untuk membayar dan saat ia berjalan kearah kasir tiba tiba tubuhnya tertabrak benda empuk yang berwujud manusia, saat ia mendongak menatap tubuh jakun itumatanya terbelalak sempurna menatap wujud misterius itu. "Ngapain lo malam malam keluar rumah ha!" sentak pria itu seperti biasanya. ** To Be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN