Pulang bareng

1043 Kata
Bel pulang sekolah sudah berdering sebanyak dua kali, para siswa dan siswi berbondong bondong keluar dari kelasnya masing masing tak kecuali para guru. Arin yang sedang membereskan bukunya sejenak berhenti karena ponselnya berdering. Saat ia membuka layar ponselnya sontak saja mimik wajah Arin berubah gugup kala membaca nama yang tertaut diponselnya. Lama ia biarkan ponselnya berdering sampai di dering terakhir baru ia angkat, baru saja ponsel itu ia arahkan ketelinganya dan dengan cepat ia jauhkan kembali karena suara teriakan dari Galih yang sungguh sungguh memekakkan telinga. "TELINGA LO TULI HA! KALAU ORANG TELPON TU DIANGKAT BUKAN DIBIARIN BODOH!!" Murka Galih, Arin mengurut dadanya pelan, cobaan seakaan tak pernah berhenti mendatanginya. "Ada apa kamu nelpon aku?" tanyanya mengalihkan topik "Bawain tas gue!" "Tas kamu?" "IYA!" "Hm" "HM? kalau ngomong yang jelas gue nggak ngerti!" "Iya iya" ucap Arin berulang kali sungguh ia juga bisa marah. "Gue tunggu diparkiran lima menit awas kalau lo telat" ancam pria itu sebelum mematikan panggilan. Tina yang berdiri tak jauh dari Arin pun kini berjalan mendekatinya kala melihat ekspresi kawannya yang sedang tak wajar, "Siapa nelpon Rin? kok wajah lo kek terkejut gitu" "Oh, itu hm itu mama aku Tin , minta aku pulang cepat, yaudah ya aku duluan" ungkap Arin buru buru sembari ia mengambil Tas Galih yang masih tergeletak diatas meja pria itu, Tina yang melihatnya hanya geleng geleng kepala. "Ada masalah apa sih lo sama dia Rin" monolog Tina selepas temannya pergi. Arin berlari kencang dari kelasnya menuju parkiran dan benar saja saat ia sampai di sana sudah ada Galih yang sedang menunggunya diatas motor dengan wajah gugup ia mendekat pada pria itu. "Belum lima menit kan?" ungkap Arin ngos ngosan karena habis berlari. Galih berdecak "Ck.. Buruan naik!!" perintah galih sembari memberi Arin helm. "Hm, iya" Arin menerima helm itu lalu perlahan naik keatas motor Galih. Setelah Arin sudah duduk dengan benar Galih langsung memacu kuda besi miliknya dengan kecepatan penuh, Arin yang tak siap dibelakang lantas memeluk pinggang pria itu dengan erat bahkan sangat erat. "Galih pelan pelan" pekik Arin dari belakang, namun tak digubris pria itu. Karena Galih memacu dengan kecepatan penuh membuat perjalanan mereka menjadi lebih singkat yang tadinya memakan waktu lima belas menit kini hanya butuh lima menit untuk sampai. Cepat tapi resiko untuk ketemu dengan tuhan pun lebih cepat pula. "Cepat turun!" sergah pria sembilan belas tahun itu, Arin tak dengar itu degup jantungnya masih belum sepenuhnya normal sungguh ia pikir ia sudah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa, namun teriakan pria itu sukses membangunkannya dari khayalan gilanya. "WOI!!" pekik Galih lagi "Eh, iya ya.." Arin lantas cepat cepat turun dari motor Galih, karena dia masih belum sepenuhnya sadar membuat Arin menjadi oleng dan untung saja Galih cepat menangkapnya jika tidak mungkin ia sudah mencium aspal dengan wajah cantiknya. "Mata tu dipake! ceroboh banget!" bentak Galih lalu melepaskan tangannya yang berpegang pada pinggang Arin. "Maaf... makasih ya Gal" ujar Arin sungguh sungguh. "Gue pulang! awas lo buat masalah lagi!" ancam pria itu sebelum sepenuhnya pergi dari halaman rumah Arin. Setelah kepergian Galih, Arin masuk ke dalam rumahnya. Rumah Arin tidak terlalu besar namun memiliki satpam dan juga pembantu. Papa Arin adalah tipe orang yang sayang anak dan istri dia tak ingin ketika ia sedang keluar kota anak dan istrinya terluka karena jauh dari jangkauannya sebab itu ia memperkerjakan satpam dirumah, dan soal pembantu papa Arin pernah bilang ia menikahi bunda Arin bukan untuk dijadikannya pembantu dirumah melainkan ingin menjadikannya ratu di rumah tangganya, ia tak ingin bunda Arin capek mengurus rumah. Tapi kenapa ia tak tau cara bagaimana menyayangi Arin anak bungsunya, itu sadalah alah satu kekurangan dari papa Arin. Papanya mungkin akan lebih sayang dengannya jika Arin laki-laki, iya dulu Papa Arin sangat ingin punya anak laki-laki namun yang keluar malah Arin, awalnya ia tak kecewa namun setelah kelahiran Arin ternyata bunda Arin tak bisa lagi mengandung karena penyakit kista yang ia alami sudah sangat parah dan harus dilakukannya pengangkatan rahim. Menjadi anak tak diingkan benar benar sakit. "Selamat siang nona Arin" Sapa pak Margi dari tempat penjagaannya. "Selamat siang juga pak Margi" sahut Arin ceria, gadis itu melangkah menuju tempat pak Margi. "Bapak sudah makan siang?" Tanya Arin lagi "Sudah dong non" "Syukur deh, kalau belum biar Arin ambilkan" "Nggak sudah tadi non diantar bude" "Oh okedeh, Arin masuk ya pak.. semangat jaga pak" Ujar Arin sambil melambaikan tangannya ke arah pak Margi "Terimakasih nona Arin" Balas Pak margi pula melambaikan tangannya. Arin masuk kedalam rumah dengan ceria ntah kenapa moodnya kali ini benar benar bagus. Semoga nggak ada yang merusaknya. ** "Eh Gal" Sapa Rino saat Galih baru saja menginjakkan kaki ke cafe tempat biasa geng Blizz nongkrong, anggota lain dari geng Blizz pun ikut menatap kearahnya. Galih tak peduli ia memilih duduk disamping Chiko tempat tertentram dari yang lain ya bisa di bilang nggak ada yang berani berisik di samping pria campuran belanda jawa itu. "Sudah lo pikir tawaran gue marin?" Tanya Chiko saat Galih barusaja ingin ngeluarin HPnya. Galih melirik chiko dengan ujung matanya seraya mengangguk pelan, "Iya gue terima" "Oh oke" pungkas Chiko ketua geng Blizz, setelahnya ia pun berdiri di tengah tengah sembari menepuk tangan agar seluruh perhatian menuju padanya. "Dengar! Kita kedatangan member baru di Blizz dan kalian pasti sudah kenal dia siapa kan, Iya dia galih , dan hari ini dia resmi menjadi anggota inti dari Blizz jika ada yang nggak setuju boleh keluarkan pendapat kalian sekarang jangan pas sudah bubar baru bisik bisik tetangga! seperti perempuan!" GeramChiko, para anggota Blizz yang lain pun langsung menatap ke arah Galih, sedangkan pria itu sedang fokus dengan gamenya seolah ia tak peduli dengan ucapan dari Chiko soalnya. "Ada yang keberatan?" Tanya Chiko sekali lagi, namun nggak ada yang bersuara dan akhirnya ketua geng itu memutuskan untuk menerima Galih, "Oke karena nggak ada yang protes jadinya Galih sudah resmi jadi anggota kita" ungkap Chiko lalu di beri tepukan tangan oleh anggota yang lain kecuali Galih. Chiko kembali duduk ketempatnya dan suasana cafe kembali seperti semula, cafe tempat mereka sering nongkrong adalah milik ayahnya Rino jadi karena itu mereka sering ngumpul disana sekalian ngeramein juga kan. Walau cafe ini milik orang tua Rino namun mereka tetap sadar diri untuk bayar apa yang mereka pesan, walaupun pap Rino pernah bilang untuk mereka gratis. *** To Be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN