"Ya terus lo mau apa? Mau marah? Mau mukul gue?" tanya Maya sewot. "Salah lo bohong sama gue," dengus Clarisa seraya menyenderkan kepalanya ke bantalan kursi mobil miliknya. Kedua tangannya terlipat di depan d**a, sesekali dia memejamkan kedua matanya. "Salah gue? Lo pikir deh, Ris. Gue gini juga buat lo, b**o! Gak mungkin juga gua bohongin lo kalau gak terpaksa! Lagian seharusnya lo bersyukur artinya gue peduli sama perasaaan lo, gue sayang sama lo. Gue udah anggep lo kek saudara sedarah sendiri, Ris." Maya memukul setir mobil saking kesalnya. Clarisa membuka kedua matanya lalu melirik Maya yang terlihat seperti gorila frustasi. "Kenapa lo jadi marah sama gue sih?" "Ya terus gue harus ketawa sambil marah-marah gitu?" tanyanya yang sudah kelewat kesal. Clarisa diam saja membiarka

