Lunch?

1048 Kata
"Gak becus banget lo jadi kakak!" hardik Clarisa. Leo yang berada di depannya diam saja, menatap datar cewek di depannya yang dari tadi sibuk menghina dan menyalahkan dirinya habis-habisan. Mau mengelak, faktanya Leo memang lalai menjaga Nisa. Dia serba salah di sini. Mau membanting Clarisa tapi ia urungkan. Mereka sekarang masih berada di rumah sakit, Clarisa sendiri masih enggan untuk pulang ke rumah. Sekarang niatnya bukan untuk menjaga Nisa lagi melainkan menghujat Leo sampai cowok itu depresi sekalian. Entah kenapa melihat wajah Leo yang tertekan membuat Clarisa senang. "Mending mati sih saran gue, hidup lo gak guna." "Sialan lo," desis Leo. Cowok itu memilih memakan makanannya dan kembali mengabaikan bacotan perempuan gila di depannya. Sebenarnya mereka berdua sekarang sedang berada di rumah makan yang berada tak jauh dari rumah sakit, karena sama-sama lapar jadi mereka terpaksa pergi berdua. Nisa sendiri ditinggal di kamarnya, cewek itu sedang tidur. "Kenapa? Gak terima? Gue ngomong fakta ya," ujar gadis itu lengkap dengan seringainya. "Bisa diam gak sih lo! Makan aja sana!" "Gak bisa diem, gue masih sakit hati!" "Lah kenapa?" "Lo mesen makanan sembarang pesen aja. Gue gak bisa makan yang beginian," keluh gadis itu dengan tatapan ingin membunuh. "Belagu lo! Dipesenin sate bukannya bersyukur, malah ngebacot. Sate di sini mahal asal lo tau!" Clarisa menghela napas panjang, di tatapnya tajam cowok gila di depannya. "Gue gak bisa makan kacang!" dengusnya sebal. Leo menjatuhkan tusuk sate di tangannya ke piring. "Gak nyangka gue cewek kek lo punya kelemahan juga." "Bacot lo!" "Gak sadar diri Mbaknya?" "Gue kebiri juga lo akhirnya." "Tidur bareng gue dulu sini, kita buka-bukaan di kamar hotel. Gue yakin pas lihat peliharaan gue, lo gak tega buat musnahinnya," ujar Leo langsung dapat siraman es kelapa saat itu juga tepat di wajah putihnya. "Malah lo rawat dan lo besarin seperti anak sendiri," lanjut cowok itu sebelum bogeman mentah melayang tepat di rahangnya. *** Clarisa pulang ke rumahnya dengan perasaan dongkol, cewek itu baru sampai pukul tiga sore. Sebelum ke rumah dia menyempatkan diri dulu untuk membeli es cendol di depan komplek. Kalau orang lagi marah itu bawaannya mau minum yang segar-segar, makanya Clarisa beli. Cewek itu gak berangkat latihan hari ini, dia capek, mau istirahat dulu. Lagian ia sudah ijin juga sama pamannya. Setelah membuka pintu rumah, sepi yang ia dapati. Kemana manusia di rumah? Mungkin saking capeknya dia gak mau memikirkan hal itu lagi, lagipula gak mungkin 'kan bundanya sama Syela kabur dari rumah? Jadi dia bodoamat, Clarisa pengen cepat rebahan di kasur empuknya. Clarisa merebahkan tubuhnya, memejamkan matanya perlahan. Baru saja mau mimpiin Langit suara ponselnya berdering. Cewek itu berdecak kesal, meski begitu dia juga mengangkat teleponnya. "MAKSUD LO BOLOS GAK NGAJAK GUE APAAN?!" Bule itu menjauhkan ponselnya dari teling, lalu mengusap daun telinganya. Sumpah si Maya kalau dekat udah Clarisa gundul kepalanya. Cewek itu kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. "Santai aja woy!" "Mana bisa gue santai! Lo utang cerita sama gue!" "Nanti aja ya ceritanya, May," pintanya melas. "Gak bisa! Sekarang!" "Gue capek astaga!" "Alasan lo, dasar cabe!" "Ngatain gue lo, Sat? Untung lagi gak mood nih gue." "Gue ke rumah lo ya?" "No! Gue mau istirahat dulu. Ada lo hidup gue gak tenang." "Jujur lo menyakitkan btw, sakit hati dedek." "Sejak kapan sih lo punya hati?" "Sialan ya anda. Btw lo sekolah besok?" "Yaiyalah. Gue rindu Langit tau." Hening. "Woy, masih hidup gak lo?" Tut! Telepon dimatikan Maya sepihak. Saraf tuh bocah, pikir Clarisa. Tapi ia tak ambil pusing, mungkin Maya mendadak ada urusan penting. Remaja itu kembali memejamkan matanya, kali ini ia benar-benar butuh istirahat. Tak membutuhkan waktu lama Clarisa sudah terlelap. Berbanding terbalik dengan yang Maya lakukan di kamarnya saat ini. Gadis itu mondar-mandi gak jelas mengelilingi kasurnya sendiri sambil menggigiti jarinya. Kepala Maya terasa cenat-cenut, dia takut Clarisa tau apa yang telah terjadi tadi siang di sekolahan. Dia gak tega lihat wajah murung gadis itu seperti yang terjadi di rooftof tempo hari. Maya sibuk berpikir, apa yang harus ia lakukan besok. Hingga tak lama satu ide muncul di otak sempitnya. Kalau memang dia gak bisa menghentikan Clarisa untuk tau kenyataannya, tapi dia masih bisa mencegahnya untuk sekedar mengulur waktu, 'kan? Gadis itu menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur, membuka aplikasi pesan. Lalu menekan roomchat grup kelasnya. XII BAHASA I/KUMPULAN CALON PENGHUNI SURGA [Halo? Ada manusia?] ANDRE : [Ada nih, tapi gue lagi boker. Desahannya gak kedengar, 'kan?] ANDARA : [Sialan anda] VITA : [Ada may kunaon] MERRY : [Pak ketu otaknya geser ke lambung] ANDRE : [Baunya kecium gak?] MALIH : [Bgst lo gue lgi makan (emoji jari tengah lima biji)] SARAH : [Kenapa may? Malah hilang nih manusia satu] [Yg on sgini doang?] MERRY : [Iya keknya, lgi pada ngebo mungkin.] Anda mengeluarkan bule jamu dari grup VITA : [Lah ngapa si risa di kick?] ANDRE : [Lah ngapa si risa di kick? (2)] MERRY : [Lah ngapa si risa di kick? (3)] SARAH : [Lah ngapa si risa di kick? (4)] VITA : [Pada malas ngetik lo pda!] [Bsk gue mnta kalian sampein ke yg lain, jgn ada yg bahas soal di kantin tdi siang di hdapn clarisa. Yg ngomong ke dia siap-siap aja gue bakar di lpgan skolah] ANDRE : [Ancman lo gk bisa diedit?] VITA : [Tenang aja may, beres kalau itu mah.] [Bgus. (emoji jempol delapan biji)] Sekarang Maya baru bisa merasakan sedikit tenang. Cewek itu merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah menurunkan suhu AC. Semoga saja teman sekelasnya pada gak bocor, meski masih ada sedikit kekhawatiran. Teman sekelasnya pasti amanah, tapi, satu yang bikin Maya gak tenang. Ucit! Lambe turah satu itu harus disingkirkan terlebih dahulu. Mulut Ucit udah kek petasan, gak bisa dikontrol. Mana dia anggota jurnalistik lagi, setiap masalah teman di kelasnya gak bisa lama bertahan. Kalau dia tau langsung nyebar ke semua jurusan, mulutnya kelewat lemes. Berita apa aja dia bikin laporan, terus besoknya berita tersebut sudah tertempel menjadi selebaran di dalam mading. Jenis begini enaknya di lempar ke sungai sss siapa tau diadopsi sama duyung yang lagi ngejablay. Maya terlelap akibat terlalu memaksakan otak sempitnya untuk berpikir. Cewek itu sepertinya sudah memiliki rencana untuk menutup mulut Ucit meski dia tahu hanya bertahan beberapa jam saja. Gak masalah yang penting sudah berusaha, tapi, kalau Ucit gak bisa diajak kerja sama. Tunggu saja berita si anggota jurnalistik itu sedang mewawancarai angkasawan di pluto.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN