Aneh! Iya, aneh. Dari awal dia turun dari mobil udah dilihatin gak jelas. Clarisa sadar diri kalau dia cantik, tapi, gak usah gitu juga dong natapnya. Risih jadinya. Gak di lapangan doang, sampe di koridor pun Clarisa sempat melirik sekilas beberapa orang yang berbisik-bisik sambil menatapnya.
Jengah, iya, dia mulai jengah.
“Kenapa lo lihatin gue begitu? Mau ngajak perang?”
“Enggak, enggak. Sorry!”
“Gajelas!” dengus Clarisa.
Setelah sampai di kelas tanpa aba-aba Clarisa langsung melempar tasnya ke atas meja dan duduk di kursi. Kedua matanya kembali menyorot tajam isi ruangan, tanpa terkecuali. Kembali tatapan aneh itu yang ia dapatkan.
“Manusia hari ini pada aneh banget, gila!” gumam gadis itu seraya menumpu kepalanya dengan tangan di atas meja. Jujur, Clarisa masih mengantuk.
Dari arah pintu terlihart Ucit yang berlari dengan napas tersendat-sendat ke arah Clarisa. Gadis kuncir kuda itu memukul meja pelan seraya menghirup udara dengan rakus. Berbanding erbalik dengan si eumpunya meja, menatap sangar si pelaku.
“Ya Allah, Ris. Akhirnya lo masuk sekolah juga.
Clarisa diam.
“Lo udah tau tentang Langit belum? Mau gue wawancarain gak?”
Kalau topik pembicaraannya mengenai Langit, Clarisa masih bisa mentolerir.
“Langit kenapa?” tanya cewek itu. Ucit tersenyum puas.
“Kemaren siang pas di kantin Langitnya beran—”
Plak!
“EANJIR! MAKSUD LO APAAN? NGAJAK RIBUT?” pekik Ucit saat pantatnya di geplak sama Merry.
“Mulut lo kek kaleng rombeng. Sana deh lo pergi! Lo lupa sama apa yang gue bilang kemaren? Mau dibakar hidup-hidup lo sama Maya?” bisik gadis itu tepat di telinga Ucit, takutnya sih Clarisa dengar. Kalau iya, jadi panjang urusannya.
Ucit menghentakkan kakinya kesal, lalu pergi begitu saja dengan wajah bete.
“Lo mau kemana?” cegah Clarisa, Ucit berbalik. Sepertinya masih ada harapan, pikir Ucit.
Baru mau ngomong tapi udah disambar duluan sama Merry. “Ucit kebelet boker, Ris. Udah lo tidur aja dulu,” panik Merry. Clarisa mengerutkan keningnya, lalu mendesis. Ucit pun sudah berlalu pergi ke luar kelas.
“Gak jelas lo!”
Clarisa kembali merebahkan kepalanya di atas meja, Merry spontan mengelus d**a. Kedua matanya menyorot tajam pada beberapa temannya yang sudah hadir di kelas, mereka semua geleng-geleng kepala tanda tidak berani berurusan sama Clarisa. Pagi ini untung Merry tepat waktu menghentikan mulut ember Ucit, kalau gak bisa berabe.
Sebenarnya Merry juga gak mau ikut campur, tapi, dia juga gak tega kalau sosok Clarisa yang sering terlihat sinis itu harus sedih karena patah hati. Merry begitu juga ada alasannya. Memang banyak yang menilai Clarisa itu cewek kejam diantara cewek kejam yang lain, tapi, bagi Merry, Clarisa itu penolong di kehidupannya.
Dulu, waktu kelas sebelas. Ibu Merry sakit parah dan harus berobat ke rumah sakit, tapi karena keadaan ekonomi keluarganya yang sedang buruk ayahnya gak punya uang buat ngantar ibunya ke rumah sakit buat berobat.
Di saat-saat seperti itu Merry merasa frustasi, di sisi lain ibunya sakit dan butuh banyak biaya. Dan di sisi lain biaya sekolah Merry menumpuk karena SPP-nya tiga bulan tak terbayar. Ayolah, SMA Kencana itu bukan sekolah biasa. Biaya satu bulannya saja sudah mencapai belasan juta. Saat itu Merry benar-benar buta arah.
Merry yang tengah frustasi saat itu tak sengaja bertemu Clarisa di dekat paman penjual nasi goreng di pinggir jalan. Cewek itu sedang mengantri nasi goreng di sana, Clarisa juga melihat Merry ternyata.
Entah kenapa melihat wajah murung Merry membuat Clarisa sedikit menggeser egonya untuk tidak berbicara pada teman sekelasnya. Gadis itu memanggil Merry untuk ikut bergabung bersamanya dan untungnya Merry tak menolak.
“Lo kenapa?” tanya Clarisa sedikit ragu.
“Gak ada apa-apa.”
“Muka lo gak ngeyakinin.”
Merry menghela napas pasrah lalu air matanya menetes begitu saja. Clarisa dibuat panik setengah mati. Dia cuman bertanya, kenapa Merry menangis? Apa pertanyaannya ada yang salah.
Clarisa membayar makanannya lalu menyeret Merry paksa masuk ke dalam mobilnya, lagi, gadis itu hanya menurut.
“Lo kenapa sih? Mau mati jangan sekarang. Sayang, masih muda,” ujar Clarisa asal. Memang seperti ini tabiat si bule itu, kalau panik asal omong aja.
“Gue gak tau lagi harus ngapain, Ris. Gue bingung. Mau cari kerja part time gak bakalan sempat, bentar lagi ujian. Tapi, kalau gue gak kerja, gue butuh duit.” Tangis gadis itu pecah.
Clarisa jadi serba salah di sini, gadis itu hanya bisa menepuk-nepuk pundak Merry berusaha menenangkan. Jujur, Clarisa ini bukan tipe cewek yang pintar memberi saran, dia gak tau cara menengkan sedikit orang yang lagi tertekan.
“Gue bisa bantu apa?” tanyanya membuat Merry mendongak. Gadis itu tersenyum
“Gak perlu, Ris. Lo dengerin keluh kesah gue aja, gue udah terimakasih banget.”
“Ya gak gitu juga kali. Coba bilang, gue bisa bantu apa?”
“Nyokap gue lagi sakit parah, SPP gue macet di tiga bulan terakhir. Usaha bokap gue lagi turun, kami gak punya biaya buat bayar bayar SPP atau pun pengobatan nyokap gue. Gue bingung, Ris, harus ngapain lagi. Di rumah gue berasa jadi beban buat orangtua sendiri karena gak bisa buat apa-apa,” jelas Merry.
“Bukan salah lo kalik. Btw, lo butuh berapa banyak memangnya?”
“Sekitar empat puluh lima jutaan.”
Rahang Clarisa jatuh seketika, buru-buru dia menutup mulutnya kembali. Kedua matanya melebar, duit segitu darimana dia mencarinya?
Berbeda dengan otaknya yang bingung mau mencari duit kemana, Clarisa malah berkata demikian. “Gue bantu.”
“Gak usah, Ris. Makasih, banget. Tapi gue gak bisa nerima bantuan lo. Gue gak enak,” tolak Merry.
“Gak usah banyak bacot lo. Kirim aja no rekeningnya, nanti kalau duitnya ada langsung gue transfer.”
“Ris ...,” ujarnya menggantung.
“Tapi gue bingung mau gantinya kapan.”
“Ya kapan-kapan aja. Atau gosah diganti juga gak papa. Gue emang niat nolong.”
Beberapa hari dari waktu itu, Clarisa benar-benar mentransfer uang senilai yang Merry sebutkan. Demi apa pun Merry benar-benar tak menyangka. Clarisa yang dikenal kejam itu, ternyata punya sisi baik yang luar biasa.
Merry benar-benar berterimakasih.
Mau tau Clarisa dapat duitnya dari mana?
Dia jual kalung hadiah dari kakeknya. Padahal itu satu-satunya kenangan yang dia punya dari kakek, tapi, demi membantu orang lain ya gak masalah. Meski udah jual kalung, ternyata uangnya belum cukup. Masih kurang belasan juta lagi.
Clarisa nyewain mobilnya ternyata sampai Nathan sempat marah-marah. Tapi tak lama setelah si sulung menjelaskan alasannya apa melakukan hal itu. Setelah tau, ayahnya itu malah membantu dirinya untuk menutupi kekurangannya.
Merry bersyukur, usaha ayahnya kembali normal saat kelas sebelas semester dua. Gadis itu berniat mengganti uang yang ia pinjam pada Clarisa bahkan dia mengajak orangtuanya sekalian untuk berterimakasih. Tapi, setelah sampai ke rumah Clarisa. Nathan malah menolak uang yang mereka kembalikan.
Susah payah agar Nathan mau menerima uangnya, tapi tetap saja ditolak mentah-mentah. Clarisa pun juga enggan untuk menerima. Mereka bilang mereka ikhlas membantu. Kalau mau Merry sekeluarga sedekahkan saja uang tersebut pada yang lebih membutuhkan, jadi, mau tak mau mereka melakukan apa yang disarankan oleh Nathan.
Merry sekeluarga menyerahkan sebagian uang tersebut ke panti asuhan yang ada di ibu kota. Dan sisanya mereka berikan pada fakir miskin yang tak sengaja ditemui di jalan. Dan benar, setelah berbagi hati pun merasa jauh lebih tenang. Melihat orang-orang yang tersenyum bahagia saat diberi bantuan yang tak seberapa membuat hidup menjadi tentram.
Faktanya kebahagiaan itu memang mudah dicari. Tinggal cara kita sendiri saja bagaimana harus menyikapinya. Bersyukur dan terus bersyukur.