Leo membantu Clarisa duduk di kursi penumpang lalu ia beralih duduk di kursi kemudi. Mobil masih belum dinyalakan, tak ada pergerakan lagi dari Leo untuk menjalankan mobilnya—mobil Clarisa maksudnya. Cowok itu menghadap kiri lebih tepatnya ke arah Clarisa yang sekarang sedang memegang erat tali seatbelt. Ada gurat kecewa yang terlihat jelas dari kedua matanya. Leo menghela napas panjang, diperhatikannya setiap inci wajah Clarisa. Meski hanya terlihat setengah, pahatan itu begitu sempurna. Warna kulit yang putih s**u, hidung mancung, bibir merah muda—meski sekarang malah terlihat pucat, pipi tirus, mata tajam seperti elang dan tentu saja cantik. Meski Leo sering mengatakan betapa jeleknya rupa Clarisa pada gadis tetap saja ia tak bisa menyangkal kalau ciptaaan Tuhan yang satu ini memang

