Luna sudah ditangani Dokter, Clarisa sekarang bisa bernapas lega. Cewek itu memperhatikan wajah damai bundanya yang tertidur di atas brankar dengan nanar, setelahnya ia memutuskan untuk ke luar dan duduk di kursi tunggu setelah menutup pintu. Kedua tangannya mencengkram kursi, ia menunduk dalam hanya untuk sekedar menikmati rasa sakit di d**a. Ia tau ini tak seberapa sakitnya dibanding penderitaan yang dialami Luna, tapi jika dibiarkan rasa sesak itu perlahan semakin menyakitkan saja. Clarisa mendongak, menutup sejenak kedua matanya lalu kembali membuka dan menatap udara di depannya dengan tajam. Gadis itu berusaha mengendalikan emosi di dalam jiwanya, di saat seperti ini ia malah tak tau harus melakukan apa. Salahkan dirinya yang terlahir dengan otak pas-pasan. "Eh lo," panggil Leo

