"Lo gak papa, 'kan?" tanya Leo khawatir. Cowok itu berdiri sembari menatap Clarisa yang duduk di kursi tunggu yang saat ini sedang menutup wajahnya sendiri. Setelah mendengar kalimat Dokter lima belas menit lalu, Clarisa langsung mendadak menjadi pendiam. Tak lama gadis itu mendongak, “Gua harus apa?” Wajahnya kentara sekali sedang frustasi, bahkan ia juga terlihat pucat. Matanya memerah, meski lagi-lagi tak ada air mata setetes pun yang bisa ia keluarkan. “Gua harus apa, Leo?” ulangnya lagi dengan suara parau. Keadaan Luna semakin memburuk makanya Clarisa menjadi sangat kacau, tadi saja beliau mengamuk dan memukul beberapa perawat hingga kesadarannya hilang karena pengaruh obat bius. Dokter bilang, satu-satunya cara adalah membawa Luna ke rumah sakit jiwa. Clarisa tak bisa berpiki

