Leo membaringkan tubuhnya yang terasa nyilu di ranjang rumah sakit, netranya menyorot dalam tembok putih tak berdosa di depan. Banyak thought berlalu lalang di otaknya, membuat ia merasa sedikit setres. Clarisa pulang saat Leo pergi, gadis itu pasti sangat marah padanya. Leo tau dia salah dan itu yang membuatnya frustasi, ingin mendatangi tapi ia paham betul bagaimana pola pikir Clarisa. Gadis itu pasti butuh waktu untuk sendiri, namun jika tak dihampiri segera Leo begitu khawatir dengan dirinya. Benar kata mama dulu, life is hard. Perhatian Leo teralihkan saat suara pintu dibuka. Omnya di sana, remaja itu mendengus. Orangtua itu kalau mengomel bisa saja langsung membuat pasiennya mati di tempat dalam hitungan detik, dia tak pernah sadar berapa jumlah kalimat yang dia ucapkan dalam sa

