"Mau ke mana?" Clarisa termenung. Dia tak tau mau ke mana, pulang ke rumah? Rasanya malas. Ke rumah sakit? Bisa-bisa dia dimarahi Luna habis-habisan karena pulang sebelum waktunya. Saat ini mereka berdua sudah duduk di kursi mobil, mobil Clarisa tepatnya. Kemal duduk di kursi kemudi. Entah kenapa Clarisa malah memanggil cowok itu tadi, padahal sedari dulu ia seakan buta tuli dengan kehadiran Kemal. Dulu, bagi Clarisa hanya ada Langit. Kehadiran Kemal hanya sampingan. Malang sekali. Padahal yang jelas-jelas menyukai Clarisa itu adalah dirinya. Tapi malah ia yang tak dianggap. Tapi tak masalah, semuanya sudah terjadi. "Risa ...," panggil Kemal pelan. Suaranya lembut bagai sutra, ada sorot kekhawatiran di sana. "Bawa gue kemana aja," jawab gadis itu. Menoleh sejenak, memberikan seuta

