“Akhir-akhir ini gue sering lihat lo jalan sama Langit.”
Suasana saat ini terlihat sedikit tidak bersahabat. Cuaca yang terang seakan gelap karena diselimuti berbagai macam jenis amarah, kecewa atau luka.
Jum'at pagi, keadaan kelas masih sepi. Hanya diisi oleh kehadiran dua siswi yang entah sedang kerasukan setan apa untuk memutuskan datang sekolah pagi sekali. Masih pukul lima lewat tiga puluh, masih ada banyak waktu untuk bersantai di rumah padahal.
Maya yang saat ini tengah berdiri dihadapan si murid baru, Selfira Kanya menghela napas kasar. Raut wajahnya datar, tak berusaha mengekspresikan apa saja yang ia rasa di dalam hati. Sedangkan kedua tangannya tergenggam erat.
Fira? Dia diam tak berkutik. Mau membantah percuma. Yang dikatakan Maya benar, akhir-akhir ini dia memang sering jalan dengan Langit.
“Lo suka sama dia?” tanya Maya.
Fira menggeleng. Dia memang tak suka pada Langit. Mereka jalan berdua pun ada alasannya. Langit sering meminta bantuan padanya untuk menemaninya mencari buku-buku pelajaran. Langit bilang, dia gak begitu pandai mencari buku untuk bahan bacaan.
Dan Fira menerima ajakan Langit dengan senang hati. Toh, membantu orang lain juga gak masalah. Yang ada dia malah mendapatkan pahala. Lagipula dia tak punya alasan untuk menolak ajakan Langit.
“Gue egois just info. Clarisa udah gue anggap kek saudara sendiri. Kalau dia sakit hati ya otomatis gue juga bakalan sakit. And you know what will make him hurt later?” Maya menatap lamat gadis seumuran dengannya itu sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Lihat Langit jalan berduaan sama cewek lain, itu jawabannya.” Maya melipat kedua tangannya di depan d**a. “Gue gak butuh penjelasan, mau lo ada urusan atau apa kek sama Langit. Tetap aja lo yang gue salahin.”
Lama-lama Fira gedek sendiri karena ulah Maya. Malam-malam nelpon menyuruh dirinya agar datang pagi ke sekolah, kirain apa ternyata cuman buat diomelin gak jelas. Ayolah, Fira gak ada hubungan apa-apa sama Langit. Mereka berdua cuman sebatas teman sama seperti Clarisa, Langit dan Clarisa hanya teman, 'kan?
“Kamu tenang aja, May. Aku gak bakalan suka sama Langit. We're just friends, nothing more,” ucap Fira berusaha tenang agar wajah kesalnya tak tertangkap oleh mata Maya Charlotte.
“Gue bisa aja percaya sama lo. Tapi, lo bisa gak pegang sendiri ucapan lo barusan?” sinis Maya. Kalau bukan karena dia ogah melihat wajah melas Clarisa, mana mungkin Maya si pemalas bangun cepat rela bangun pagi-pagi buat ngasih siraman rohani pada Fira.
“Iya, aku janji.”
“I don't need an appointment.”
“Terus kamu mau apa?”
“Proof.”
“Hah?”
“Gue getok juga pala lo! Diajak serius susah amat, lemot banget otak lo ya!” hardik Maya. Fira menggaruk pipinya yang tak gatal, dia bingung. Sementara Maya kembali merubah ekspresi wajahnya menjadi datar seperti sebelumnya.
“Kalau lo suka sama Langit, bilang sekarang. Jangan nunggu nanti. Makin lama lo biarin perasaan lo yang gak guna itu makin bikin si bucinnya Langit tersiksa.”
“Gue tau, Langit suka sama lo. Kalau kalian suka sama suka ya jadian aja. Gue mau Langit sendiri yang nyuruh Clarisa menjauh dari kalian. Karena cuman Langit yang bisa bikin Clarisa berhenti berjuang.”
“Clarisa suka banget ya sama Langit?” tanya Fira tak menyangka.
“Bukan suka lagi, tapi cinta sehidup semati. b**o tuh cewek udah overdosis. Gak tau lagi gue gimana caranya ngobatin tuh penyakit,” jawab Maya terdengar pasrah.
Fira menggelengkan kepalanya tak percaya. Clarisa benar-benar sesuatu.
“Udah ah, capek gue ngomong serius,” keluh Maya dan dengan santainya ia melempar tas miliknya begitu saja ke atas meja. Gadis itu berbalik kembali menghadap Fira.
“Inget, Fi. Gue gak becanda soal tadi. If you break your promise, get ready to perish.” Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan si kalem Fira termenung di tempat dengan bermacam-macam pikiran yang spontan melintas di urat-urat kepalanya.
***
“Demi apasi Langit ganteng banget,” puji Clarisa dengan kedua mata fokus pada sosok pria yang tengah sibuk mendribble bola basket.
Gadis itu menyedot yogurtnya dengan nikmat sambil memperhatikan salah satu ciptaan Tuhan di depannya. Keringat di tubuh Langit membuat cowok itu terlihat semakin tampan dan mempesona. Meski dari jarak pandang jauh tetap saja tak ada yang bisa menghalangi kedua mata Clarisa untuk terus menatap wajah sang idola.
Iya, Clarisa menggambarkan Langit seperti idolanya. Sedangkan dirinya adalah seorang penggemar. Meski sedikit kemungkinan untuk sang idola dan penggemar sepertinya bisa bersatu, Clarisa masih percaya kalau akan tetap ada setitik harapan untuk dirinya agar bisa selalu bersama Langit.
Remaja bule itu tengah duduk di samping lapangan tepatnya di bawah pohon yang tak terlalu lebat yang sengaja ditanami oleh pihak sekolahan. Ia rela panas-panas asalkan ada Langit di depan mata. Tangan kanannya memegang kotak yogurt sedangkan tangan kirinya berisi botol minum yang Langit titipkan.
Entah kenapa beberapa hari ini Langit selalu berada di samping Clarisa, seperti saat mereka SMP dulu. Dimana ada Clarisa di situ pasti ada Langit. Mereka berdua sudah seperti saudara kembar tak identik.
Gadis itu menarik sedotan yang ada di mulutnya saat menangkap Langit yang tengah berlari ke arahnya. Saat Langit sampai, cowok itu langsung merebut botol minum di tangan kiri Clarisa dan langsung meneguknya begitu saja hingga tersisa setengah.
Clarisa menjerit dalam hati saat Langit menyiram belakang kepala beserta lehernya sendiri dengan sisa air minum tepat di depannya. Demi apapun Langit sangat seksi saat itu. Clarisa mau pingsan saja rasanya.
Langit duduk di samping Clarisa, mencomot satu bungkusan Chiki yang berada di dalam kantung jaket Clarisa. Gadis itu sekarang sedang mengenakan baju olahraga dan dia sengaja mengenakan jaket dari rumah biar matching katanya. Padahal cuman buat nutupin punggung, takut transparan. Olehnya Clarisa tadi berkeringat, jadi, sebagai antisipasi ya dia tutupi saja lebih dulu. Bukan Clarisa banget ya kalau hobi mengobral badan sendiri.
“Heran gue, suka banget lo malingin jajan gue,” dengus Clarisa. Padahal dalam hati rasanya sudah mau meledak-ledak saking gak tahannya duduk di samping sang pujaan.
“Itung-itung makan jajan gratis,” sahut Langit. Cowok itu membuka bungkusan Chiki lalu menumpahkan beberapa isinya dan langsung melahapnya begitu saja.
“Al, lanjut lagi gak nih?” teriak Gion dari arah lapangan.
“Lanjutlah!” balas Langit juga berteriak dengan mulut penuh makanan. Cowok itu berdiri. “Gue lanjut ke lapangan lagi ya.”
Clarisa tersenyum, Langit juga ikut tersenyum. Cowok itu mengusak rambut Clarisa gemas sebelum lari ke tengah lapangan. Clarisa?
Pucat pasi!
Hanya dengan perlakuan kecil dari Langit membuat Clarisa mati kutu. Dia rindu, rindu sekali pada masa putih biru. Asal kalian tahu saja, kegiatan kecil itu sering Langit lakukan pada Clarisa. Mengusak rambutnya hingga berantakan yang dilakukan Langit adalah hal yang paling disukainya.
Itu dulu.
Dan sekarang terjadi lagi.
Clarisa rasanya mau gantung diri.
Please save him now
***
Di jam terakhir mereka mempelajari pelajaran Antropologi dengan Bu Meta sebagai pemberi materi, guru maksudnya. Sama saja padahal, tapi bisa beda kalau lain otak yang mencerna. Makin gak nyambung, oke abaikan.
Secara garis besar Antropologi itu suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia beserta kebudayaannya. Di kelas sedari tadi bu Meta terus berkoar-koar menjelaskan berbagai materi secara jelas pada anak muridnya.
Seperti biasa, tak semua siswa yang menyimak. Diantara mereka ada yang berusaha menahan kantuk, padahal bentar lagi pulang. Ada yang diam saja melamun, ada yang mendengarkan dan ada juga yang sibuk sama urusan masing-masing.
Bu Meta itu masuk dijajaran guru terkalem yang pernah ada. Beliau gak pernah marah sama anak muridnya, jika ada siswa yang salah paling dia cuman memberi hukuman seadanya. Bagi beliau pelajar gak selalu harus dipaksa untuk mendengarkan. Kalau mereka mau belajar ya mereka pasti akan mendengarkan apa saja kata gurunya.
Lagipula selama ia mengajar di SMA Kencana dia gak pernah dapat keluhan sama sekali dari anak muridnya. Kalau ada siswa yang bertanya ya dijawab. Kalau ada yang kurang paham sama materi yang dia berikan ya bakalan dijelaskan ulang. Begitu sih pemikiran bu Meta. Jadi tak ayal guru perempuan itu selalu mendapatkan penghargaan 'Best teacher' pilihan para siswa-siswi tiap tahunnya.
Baik buruknya opini bu Meta tergantung sama orang yang berpendapat. Bagaimanapun bu Meta juga seorang manusia, mau setinggi apapun derajatnya tetap saja dia manusia biasa yang punya kemampuan terbatas. Jadi dia tak peduli meski cara mengajarnya dianggap kurang bagus oleh orang lain ya dia tetap akan melanjutkannya. Selagi sah-sah saja, mengapa tidak?
“Ibu, tolong usir Maya dari kelas,” pinta Clarisa tiba-tiba. Suara gadis itu mengalihkan seluruh atensi kepadanya. Termasuk bu Meta yang tengah menggaris papan tulis berniat untuk menggambar sesuatu batal karena ulah Clarisa.
“Apaan sih lo, Ris,” bisik Maya sebal.
“Memangnya ada masalah apa, Clarisa?” tanya guru perempuan berkacamata bulat itu.
“Ini manusia ganggu saya terus, Bu. Kuku saya dicutting masa sama dia.”
“Maya, benar?”
“Ngadi-ngadi emang si Risa, Bu. Gak ada, dia fitnah doang,” bela Maya.
“Gue bakar juga rumah lo, May!”
“Bakar sana! Gue bisa beli baru!”
“Kalau susah jangan sok-sokan, May. Malu dikit.”
“Bokap gue banyak duit. Bangun rumah segede istana presiden aja mampu.”
“Cih, belagu. Tampang lo tampang orang susah. Mana pantas ngomong begitu.”
“Si bule jamu ngajak tubir nih ceritanya.” Maya menggelung lengan seragamnya, berdiri dari tempat duduk lalu menatap Clarisa sangar. Sedangkan yang ditatap acuh.
“Mau patah bagaian mana nih?” tanya Clarisa tersenyum mengejek. Maya semakin dibuat meradang karena ditantang secara terang-terangan oleh manusia sejenis Clarisa. Padahal niat hati dia dulu yang ingin mengucapkan kalimat yang diucapkan Clarisa tadi.
“Lo kira gue takut sa—”
“Astaga, demi mobil gue yang belum lunas nih cewek dua harus segera dipisah. Takut hancur ini kelas.” Andre—ketua kelas, menggelengkan kepalanya. Teman-teman yang lain malah terkikik sambil menikmati film yang diperankan oleh Clarisa dan Maya.
Bu Meta duduk di kursi guru ikut menikmati tontonan. Sudah biasa dia mah sama adegan begini. Meski Maya dan Clarisa bersahabat tetap saja mereka sering cekcok entah meributkan masalah apa. Mereka berdua selalu bisa membangkitkan suasana baru meski dengan cara sereceh itu.
“Biarin aja Pak Ketu, lagi seru nih!” seru Thalia.
“Bisa-bisanya, hahaha!”
“Emang perkara awalnya gimana sih?” tanya Bu Meta serius.
“Saya cuman mau bersihin t*i di kuku Clarisa doang, Bu. Tapi dia malah ngamuk.” Maya yang menjelaskan dengan tampang serius.
Tawa mendominasi di kelas XII Bahasa Satu. Clarisa menatap nyalang Maya.
“Kuku gue bersih dunia akhirat,” kata Clarisa. “Lo bikin sempol kuku gue, gimana gue gak marah coba!”
“Alah ngeles aja lo!”
“Sini lo, May, gue lempar dolar mulut lo!”
“Kalah bacot nih ceritanya. Ya maklum sih, gue 'kan mantan anggota debat. Makanya susah dikalahin,” ucap Maya jumawa.
“Mantan anggota debat? Yang baru masuk langsung didepak itu? Haha, makanya, May, kalau mau ikut kegiatan yang setara sama kemampuan otak. Ini otak yang udah kepotong ujungnya aja sok-sokan masuk debate class. Gak cocok sama gak pantas.”
Maya menggertakkan giginya. Adu bacot sama Clarisa mental harap digedein. Kalau gak sanggup makan hati mending pikir lima kali kalau mau bacotan with Clarisa.
“Oke saya nyerah. Saya akhiri, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Maya tiba-tiba duduk di kursinya, samping Clarisa. Dia duduk rapi membiarkan tawa dari teman-teman sekelas mengarah pada dirinya. Mereka semua mentertawakan kekalahan Maya. Bu Meta sendiri juga sudah tak mampu menahan tawanya.
“Ada-ada aja kalian,” ujar guru itu.
“Clarisa skornya diatas rata-rata ye, 'kan?” Andara berucap lengkap dengan tawanya.
“Join jadi anggota debat gih, Ris. Bakat lo jangan dipendem gitu aja,” saran Iqbal.
“Gimana sama hati, May?” tanya Andre.
“Alhamdulillah, aman,” jawab gadis itu.
Clarisa yang berada di sampingnya tak kuasa menahan tawa meski keluarnya bukan tawa melainkan hanya sebatas kekehan sarkas yang ia tujukan pada Maya.
“Muka lo, May, pengen gue siram oli sumpah,” ujar Clarisa.
“Jangan mulai lagi lo, Njing. Gue udah ngalah nih.” Sewot Maya tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.