Puisi Membosankan

2453 Kata
"b*****t lo!" Leo mencengkram kuat leher Clarisa, gadis di depannya sungguh membuatnya marah. Tanpa Leo sadari Clarisa memasukkan kaki kanannya di tengah-tengah kedua kaki Leo lalu menghantam peliharaan cowok itu menggunakan lututnya. Gadis itu tertawa melihat Leo terduduk ke aspal seraya memegang bagian intimnya sendiri. Cowok itu meraung-raung seperti orang yang tak kebagian otak. Mau sekuat apa pun sosok pria dia pasti tetap punya kelemahan. Sejauh ini kelemahan cowok yang sudah Clarisa tangani sama-sama di bagian sensitifnya dan Clarisa tak akan membiarkan hal itu terlewat untuk Leo rasakan kali ini. Tak sampai di situ Clarisa kembali memberikan tiga kali tamparan tepat di wajah cowok di depannya lalu kembali menendang bahunya dan setengah dari terakhir menonjok wajahnya lalu ditutup dengan menjambak rambutnya. "Gue ingat betul apa yang lo lakuin sama gue tempo hari dan sekarang balasannya sama apa yang gue rasa. Enjoy the wound and remember, jangan sekali-kali lo tampakin muka busuk lo di depan gue sama Langit," ujar Clarisa dingin. Gadis itu menghela napas pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. "Asal lo tau, gue gak pernah main-main sama apa yang gue bilang barusan." Clarisa melangkah pergi setelah menyepak kaki Leo membuat cowok itu kembali meringis kesakitan. Baru satu meter berjalan Clarisa berbalik menatap Leo dengan senyum yang terkesan angkuh. "Anggap tendangan maut gue bonus." Setelahnya Clarisa benar-benar pergi meninggalkan Leo dengan sejuta luka. Lagian siapa suruh ganggu banteng betina sejenis Clarisa, sudah sakit hati tambah sakit badan lagi. Clarisa itu definisi perempuan bar-bar yang tak kenal ampun. Dia terlalu pintar bicara untuk menjatuhkan mental seseorang dan dia juga kuat dalam mematahkan tulang rusuk orang yang sudah berani mengganggunya termasuk Leo. Ayah pernah bilang, lemah itu bukan untuk ditunjukkan dan kuat juga bukan untuk dipamerkan. Hidup itu normal aja, jangan berlebihan. Mengingat kalimat ayah membuat Clarisa jadi ingat awal-awal dia bisa berteman dengan Maya yang mana awal pertemuan mereka bisa dikatakan aneh. "Cewek kek lo mati aja mending, jangan bikin polusi. Hidup lo udah kek t*i ayam yang bau dan menjijikan." Maya yang saat itu sedang bertengkar dengan kakak kelas di kantin menarik perhatian karena kalimat yang diucapkannya terdengar sangat tidak sopan untuk ukuran adik kelas. Maya sih acuh saja saat dipandang rendah oleh penghuni di kantin. "Ingat batasan lo, May! Gue di sini masih kakak kelas yang wajib lo hormatin!" teriak Sandra-kakak kelas. "Kalau lo mau dihormatin ya hormatin dulu orang sekitar yang ada! Jangan mentang lo kakak kelas bisa seenaknya sama adek kelas kek gue. Maaf aja ya, gue beda sama betina yang sering lo kerecokin di sini!" Maya tak kalah berteriak. "Gue gak bakalan ganggu lo kalau lo sendiri gak mulai duluan!" "Katarak nih keknya telinga gue! Maksud lo ngelabrak gue di kafe kemaren apa, hah? Sok-sokan ngaku cowoknya direbut padahal emang Kemal cowok gue." "Emang benar, lo itu PHO!" "Sadar diri anjing! Jadi cewek jangan terlalu di diskon beli satu gratis lima. Kemal milih gue karena kita berdua itu beda level. Lo di got gue di langit, beda jauh!" "b*****t lo ya! Jangan sem-" "Adu mulut jangan di kantin, it's embarrassing. To be cool in the field there, sekalian baku hantam." Sosok perempuan yang tengah menunjuk dua perempuan yang sedang cekcok tak jauh dari depannya menggunakan garpu itu membuat seluruh atensi mengarah padanya. Siapa sih yang gak kenal sama Clarisa, cewek famous yang udah menggemparkan SMA Kencana di bulan ketujuh ia sekolah. Cewek yang dengan berani melempar kakak kelasnya dengan bola basket sampai masuk rumah sakit entah karena masalah apa hingga membuatnya di skors selama seminggu. Clarisa mengarahkan garpunya ke luar kantin, menyuruh dua manusia itu cepat pergi. "Suara lo berdua ganggu. No one will leave here, gue yang bakalan nyeret kalian langsung." Sandra meneguk salivanya susah payah sedangkan Maya tak henti-hentinya menatap penuh arti sosok Clarisa. Maya pikir dia tertarik berteman dengan Clarisa, lumayan karena cewek itu terlihat sangat berpengaruh. Terbukti sekarang, hanya beberapa kalimat yang terkesan dingin membuat kakak kelas gatal di sampingnya lari entah karena takut atau nahan cepirit. Sepotong ingatan yang kembali menyerang otaknya membuat Clarisa merinding. Bisa-bisanya dia berteman dengan Maya hanya karena dia berani mengusir Sandra yang sekarang sudah lulus sekolah dua tahun yang lalu karena memang saat peristiwa itu terjadi Clarisa masih kelas satu semester dua. *** Maya [Kebaikan adalah harta langka dalam sejarah dan orang baik adalah agung] Hampir saja Clarisa membanting ponselnya saat sebuah pesan masuk tiba-tiba dari nomor Maya. Satu yang ada dipikiran Clarisa saat ini. Victor Hugo mampir ke rumah Maya? Otak Maya itu cuman se per empat, tentu saja Clarisa kaget saat Maya tiba-tiba mengiriminya sebuah kalimat yang selalu dikenang oleh ahli bahasa, Victor Hugo. Biasanya mah boro-boro, isi pesan Maya itu cuman bacotan doang gak ada topik lain selain itu. [Kesambet apaan lo?] [Lo ingat tugas dri pak dodi gk yg kita disuruh bikin puisi?] [ngatlah, otk gue msih fungsi] [Yee belagu] [Apaan] [Gue nyolong satu karya Victor hugo ketauan gk nanti ya] [Gk ketauan lagi] [Terus?] [Langsung dilempar lo sma pak dodi dri lantai 3] [Sialan] [b**o sih b**o may, jan dilihatin jga] [Sejak kpn sih gue pinter bikin puisi] (emoji nangis tiga biji) [Ya bljrlah, kpn bisa nya sih lo] [Emg lo bisa?] [g] [Mati aja ris, mati sana. Tenang nanti gw nyumbang soto] Clarisa tak membalas lagi pesan dari Maya, dia mengabaikannya. Gadis itu langsung menghambur buku-bukunya, sebenarnya dia lupa sama tugas puisi itu. Setelah ingat ternyata deadline besok. Rasanya Clarisa mau mengabsen nama binatang saja. Jam masih menunjukkan pukul tujuh malam, sudah pasti Clarisa akan lembur malam ini. Padahal tugasnya hanya satu, membuat puisi. Ayolah, membuat puisi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, penulis harus bisa menemukan diksi yang tepat, rima yang senada agar bisa menguras emosi pendengar. Gadis berambut hitam legam itu mulai sibuk dengan otaknya sendiri dengan jari sibuk memainkan bolpoin. Clarisa sebenarnya paling sulit disuruh berpikir, tapi kali ini ia akan berusaha. Hitung-hitung benerin nilai. Satu jam terlewatkan, di depannya hanya ada kertas-kertas yang diremuk. Sampai sekarang Clarisa belum mendapatkan ilham sama sekali padahal dia sudah mencari referensi dari berbagai situs. Tapi tetap saja, ia tak menemukan kalimat apa pun yang pas menurutnya. Padahal kalimat yang bisa dirangkai itu banyak, tapi kenapa otak Clarisa tak bisa menyerapnya? Dia mau menyerah tapi cepat-cepat ia urungkan. Kalau dia gak ngumpul besok bisa-bisa dapat siraman rohani lagi seperti bulan kemaren dari pak Dodi. Sekarang sudah jam dua belas malam, otaknya masih tersendat. Gadis itu sudah menguap berapa kali, kedua matanya selalu melirik kasur di belakang. Otaknya bukan berisi kalimat puitis melainkan, tahan, tahan, bentar lagi pasti rebahan. Sudah pukul satu pagi dini hari, otak Clarisa mulai bekerja. Dia sempat kaget kenapa otaknya tiba-tiba diserang sama ribuan kalimat. Sungguh tak menyangka, ternyata otaknya lancar di jam segini. Remaja itu menulis kalimat per kalimat di bukunya dengan lancar, seolah darah di kepalanya mengalir begitu saja. Sekitar setengah jam-an dia menutup kembali bukunya dan tanpa membuang waktu Clarisa langsung meloncat ke kasurnya. Dia lelah dan mengantuk, semoga besok adalah hari baiknya. Lancarkan semuanya. Mungkin karena efek kelelahan gadis itu langsung tidur begitu saja setelah bertemu dengan bantal guling. Malam ini ditutup dengan lelah, tapi tak apa, yang penting dia sudah bekerja keras untuk menyelasikan tugasnya. Karena biasanya Clarisa ogah-ogahan mengerjakan pekerjaan rumah, dia selalu bersama Maya entah dengan cara menyontek dari internet atau berpikir sendiri yang penting tugasnya selesai saat itu juga. Bagi Clarisa, di rumah waktunya dia istirahat. Belajar selama delapan jam sehari di sekolah menurutnya sudah cukup, jadi dia terlalu malas kalau disuruh mengulang pelajaran lagi di rumah. Inilah sebabnya otak Clarisa sulit untuk pintar-pintar, karena dia sendiri yang menyebabkannya. Meski dia masih punya keinginan sekali pun untuk belajar lagi di rumah tetap saja otaknya menolak. Manusia sesantai Clarisa belajarnya pas h-1 ujian saja. Itupun jika dia mau, kalau gak, ya dia tetap bertingkah santai sesantai-santainya. Lagipula orangtuanya tak mengekang dirinya untuk belajar, karena semuanya terserah Clarisa. Tapi satu yang Nathan ingatkan pada Clarisa. "Malas belajar itu hal lumrah buat anak sekolah. Tapi ingat malas juga ada batasnya. Ayah gak mengekang waktu belajarmu asalkan kamu bisa bertanggung jawab dengan hasilnya nanti. Ingat, Kak, hidup gak cuman otot yang digunain, otak juga gak kalah penting." *** “Teruntukmu DD dari penggemar rahasia.” Maya menarik napas panjang lalu menghelanya pelan. Ditatapnya teman-teman yang ada di depannya sendu, seolah memberitahu kalau dia tengah bersedih. Gadis itu kembali membuka lembaran kertas panjang yang berada di tangannya perlahan. “Kepala botak penuh misteri.” Semua manusia di depannya spontan menutup mulut untuk menahan tawa. “Melihatnya membuat hati nyeri.” Kembali dia menarik napas pendek. “Setengah kepalanya yang petak seakan memberi isyarat.” Tangan kirinya bermain-main di udara seolah gadis itu tengah mendalami puisi yang sedang dia baca. Tak tau saja Maya kalau semua wajah temannya sudah memerah menahan tawa. “Kalau nyawamu sudah di ujung hayat.” Beberapa dari siswa tak sanggup menahan tawa, mereka tertawa sampai terbatuk-batuk. Pak Dodi memasang wajah masam, biasanya dia bakalan ngamuk kalau ada siswa yang ribut di kelasnya. “Oh DD, tolong beri aku sedikit kemudahan untuk semuanya.” “Hatiku terlalu rapuh untuk menghapal semua materi yang kau beri tanpa ada kata habisnya.” “Andai kau tahu, otakku sudah terbagi menjadi empat bagian.” “Dan semuanya hilang tanpa ada landasan.” Gadis itu menutup lembaran kertasnya, lalu membungkuk tanda puisi yang dia baca telah selesai. Maya menoleh pada pak Dodi, “Boleh saya duduk, Pak?” Guru killer itu mengangguk sekali. Maya tersenyum penuh arti sebelum duduk di bangkunya. “Teruntukmu DD, semoga cepat sadar.” Maya terkekeh seraya duduk di samping Clarisa. “Gila, jago banget gue bikin puisi.” “Kamu ada-ada aja, May.” Suara Fira terdengar pelan dari belakang. Maya menoleh, lalu memukul dadanya dengan bangga. Clarisa yang berada di sampingnya geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya dia punya teman saraf seperti Maya. Entah apa yang dipikirkan Maya saat membuat puisi berupa sindiran itu. Benar dugaan Clarisa kalau kepala Maya sempat terbentur sama bianglala. “Clarisa, kamu maju,” titah pak Dodi. Tanpa membantah Clarisa langsung maju begitu saja dengan tangan kanan membawa buku berisikan puisi yang telah ia tulis semalaman. Remaja itu membungkuk sedetik pada guru di sampingnya sebelum membaca hasil karyanya di depan teman sekelas. Pertama dia menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Membuka buku lalu mulai membacakan isinya. “En—” “Posisi dirinya yang benar toh, Ris. Kamu mau baca puisi apa mau ngantri cilok?” tanya pak Dodi memotong kalimat Clarisa. Gadis itu mendengus. “Ya 'kan namanya lagi mendalami. Saya mau baca puisi romance loh, Pak, bukan baca pidato di istana kepresidenan,” jawab gadis itu malas. “Kalau guru ngasih tau itu didengar. Jangan nyaut aja terus kamu ya. Mau saya hapus namamu dari daftar siswa, hah?” tanya pak Dodi sewot. Clarisa menghela napas pasrah. “Maaf, Pak.” “Yasudah, lanjutkan,” titah guru berambut petak itu lengkap dengan sorot mata tajamnya. Clarisa mengalah, karena dia tau pak Dodi sakit hati sama puisi Maya. Cuman dia gak bisa marah karena anak murid laknat satu itu gak menyebutkan namanya langsung. Sebagai pelampiasan, malah Clarisa yang kena amuk sekarang. Dan ini semua karena Maya! Tak ingin ambil pusing gadis itu segera membenarkan posisi berdirinya, takut kena omel lagi. Kembali dia menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. “Entah kenapa hidupku terkesan monoton.” “Seakan semua orang menjadi pemeran sedangkan diriku hanya penonton.” Semuanya terdiam begitu pula pak Dodi yang sibuk mencatat nilai muridnya di buku panjang berwarna biru miliknya. “Hidup seperti ini apa hanya aku seorang yang menjalani?” “Atau memang aku sendiri yang memiliki takdir seperti ini?” “Hidup lo tragis banget, Ris,” celetuk Maya. “Diam lo pig!” “Jaga ya ucapanmu,” peringat pak Dodi seraya menatap tajam. “Usir dulu Maya dari kelas, Pak,” pinta Clarisa. Maya spontan melotot di tempat duduknya. “Anying sialan ya Anda,” ujar cewek itu. “Makanya diam.” “Gue cu—” “Udah diam! Kalian berdua kenapa sih? Mau perang? Nanti setelah kelas saya selesai!” kesal Pak Dodi. “Kamu Clarisa, seharunya fokus sama tugasmu. Dan kamu Maya, jangan ganggu temanmu kalau lagi bertugas,” lanjut guru itu berceramah meski tak didengarkan kedua manusia laknat satu spesies itu. Mereka berdua sibuk perang batin, mengolok satu sama lain. Teman-teman yang berada di kelas cuman mampu terkikik. Mereka pikir mood dua perempuan bar-bar hari ini sedang baik makanya masih bisa diajak bercanda ya meski harus dimulai dengan debat terlebih dahulu. Tapi tak apa, meski begitu melihat interaksi lucu antara si cuek dan kang bacot seperti ini lumayan menghangatkan suasana. Andai Clarisa dan Maya setiap hari bertingkah seperti ini, pasti kelas tak akan sepi-sepi banget. Clarisa mendelik ke arah Maya sebelum melanjutkan kalimat yang telah ia rangkai sedemikian rupa semalaman yang sempat terhenti. “Hari-hari penuh dengan kekhawatiran. Aku hanya mampu memohon. Agar Tuhan rubah sedikit garis hidupku. Supaya langkahku bisa semakin maju.” “Semua aksara yang tercipta. Kugoreskan semuanya melalui pena. Berisi tentang hati yang selalu mengharapkan kehadirannya. Semoga, semoga saja dia menerimanya.” Clarisa kembali menarik napasnya dalam, dia berusaha menarik perhatian pendengar meski usahanya terkesan percuma. Ya percuma, saat vokal berusaha untuk mendalami tapi mimik wajah tak ikut serta untuk melakoni suatu peran semua usaha akan sia-sia. Ekspresi wajah Clarisa tetap datar, bikin orang bete aja dengar puisi yang dia baca. Lagian sejak kapan sih Clarisa pintar bacot di depan papan tulis? Cewek yang tak suka dapat perhatian seperti dia merasa risih saat maju ke depan yang otomatis semua mata akan memandangnya dengan berbagai macam tatapan. Clarisa bukan gadis gila popularitas ya, dia gak terlalu suka keramaian. Dan yang paling penting dia paling gak suka dapat terlalu banyak perhatian meski dia sendiri yang tanpa sengaja melakukan suatu hal yang malah membuat dirinya sendiri mendapatkan banyak perhatian dari orang lain. Satu yang mencerminkan yang mulia Clarisa, ceroboh. Tapi entahlah lagi. Yang Clarisa mau dia cuman ingin hari ini berlangsung secara cepat tanpa hambatan. Dia ingin pulang lalu rebahan di atas kasur. Gak peduli nilainya mau dapat berapa, yang penting dia mengerjakan tugasnya dengan baik. “Langit Bagaskara namanya. Pemuda dengan sejuta pesona. Membuatku jatuh di tangannya. Tanpa dia tahu kalau aku menyukainya.” Terdengar siulan dari beberapa siswa. Clarisa yang frontal sejak dulu sudah tak mengejutkan orang lain. Terlebih saat teman-temannya mendengar bait terakhir yang dibacakan Clarisa, mereka tampak biasa meski ada beberapa yang masih sibuk mengejeknya bucin. “Boleh saya duduk, Pak?” tanya Clarisa. Guru petak itu mengerjapkan kedua matanya lalu mengangguk kaku. Dia tak menyangka tugas puisi yang dia buat untuk anak muridnya malah dijadikan ajang curhat. Tapi tak masalah, kali ini pak Dodi berusaha memaklumi. Karena kebanyakan anak remaja sekarang 'kan memang sudah banyak yang mengenal cinta. Jadi ia tak ingin ambil pusing selagi anak didiknya mengerjakan apa yang ia suruh. Dia terima saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN