Annoying

2223 Kata
Clarisa menaiki mobilnya lalu menghela napas panjang sebelum menjalankan mobilnya menuju alfamart terdekat. Adu bacot sama Maya butuh tenaga biar menang dan Clarisa mau borong yogurt sekarang. Setelah sampai gadis itu melangkah terburu memasuki alfamart dan langsung memasukkan minuman kotak itu ke dalam troli beserta makanan ringan yang lain. Mungkin karena sedang tak fokus tanpa sengaja dia menabrak seseorang hingga troli mereka berdua saling bertabrakan. Clarisa menghadap pada sosok di depannya. “Sorry.” Cowok itu tiba-tiba membungkuk sekali, “Maaf Kak Clarisa saya yang salah karena gak hati-hati.” Eh. Kening Clarisa bertautan, menatap penuh tanya cowok berkulit putih di depannya. Dia siapa? Tau dari mana namanya? “Lo kenal gue?” tanya Clarisa bingung. Cowok yang tingginya kurang dari leher Clarisa itu melepas tudung hoodie miliknya, menampakkan jelas wajah yang membuat Clarisa meneguk salivanya susah payah. Lucu banget mukanya woy! Merah-merah gimana gitu, kek anak babi baru lahir. “Di sekolah gak ada yang gak tau sama Kak Risa, termasuk saya. Eh, ngomong-ngomong sekali lagi saya minta maaf ya, Kak,” ujar cowok itu sopan. “Di sekolah? Lo anak Kencana?” tanya Clarisa. Cowok di depannya mengangguk. Baru mau bertanya lagi tapi ia urungkan karena diusir sama pelanggan lain yang sedang memilih kacang tepat di sampingnya berdiri. Mereka berdua memutuskan untuk membayar belanjaan terlebih dahulu lalu mengobrol di parkiran. Mungkin karena Clarisa lagi gak mau pulang cepat buat menghadapi ceramah dadakan Maya lagi jadi dia setuju saja diajak yang katanya adik kelasnya di SMA Kencana. “Ternyata benar dugaan saya kalau kak Risa itu sebenarnya gak judes.” Cowok itu terlebih dahulu membuka suara. Clarisa sendir sibuk menyedot yogurtnya. Clarisa berdehem, “Gak juga. Bisa aja dugaan lo salah.” “Maaf, Kak, saya boleh tanya lagi?” Clarisa mengangguk. “Kakak ansos?” “Kata siapa?” “Saya jarang lihat Kakak ngomong sama teman-teman yang lain pas ketemu di kantin,” jelas cowok itu. Clarisa belum tau namanya. “Anak Bahasa baperan, kalau sakit hati sama gue nyindirnya main sastra. Otak gue gak nyampe,” jawab Clarisa. Cowok itu tertawa, mungkin karena Clarisa suka melihat senyum milik pemuda di sampingnya dia jadi ikutan tersenyum tanpa sadar. Manis sekali, rasanya mau Clarisa ceburkan ke dalam got lalu kembali mencekik lehernya hingga tewas. “Eh nama lo siapa?” “Azio Ramadhan, Kak. Pasti Kakak gak pernah lihat Saya, hehe.” “Iya. Jurusan apa lo memangnya?” “Sepuluh IPA satu, Kak. Gedung kita jauh, makanya Kakak gak pernah lihat saya. Saya pun sering lihat Kakak pas waktu makan di kantin aja.” Clarisa menganggukkan kepalanya paham. Gadis itu memang jarang ke luar kelas selain pergi ke kantin. Makanya saat dia menjadi kakak kelas sekarang gak banyak lagi yang terlalu kenal sama Clarisa, maybe. Karena Clarisa dulu terkenal di kalangan kakak kelas sebab dia 'kan cari masalah waktu pas masih kesal sepuluh. “Maaf saya ijin pulang dulu ya, Kak, udah di telepon bunda.” Zio nyengir. Clarisa menatap pemuda itu skeptis, bisa-bisanya dia ijin buat pergi. Memangnya Clarisa ibunya apa? Sungguh tak disangka, ternyata masih ada cowok sesopan Zio di era 21-an. “Iya boleh. Tapi Zio, gue boleh minta nomor lo gak?” tanya Clarisa tanpa sadar. Aneh tapi nyata, bisa-bisanya Clarisa meminta nomor cowok duluan. “Boleh.” Clarisa menggeledah ponsel di dalam tas kecilnya tapi tak ditemukan. “Kenapa, Kak?” tanya Zio penasaran. “Ehm, anu, hape gue ketinggalan,” jawab Clarisa sedikit kaku. “Kalau gitu ketik nomornya di hape saya aja, Kak. Nanti saya telepon.” Clarisa melakukan apa yang disarankan Zio, setelah selesai pemuda itu buru-buru pergi setelah mengucapkan salam. “Terlalu so fun untuk dekat sama gue,” gumam Clarisa sambil menatap punggung Zio yang perlahan menghilang di telan jalan. Pemuda itu naik motor dengan kepala tertutup oleh tudung hoodie. Menggemaskan. Cewek itu menggelengkan kepalanya pelan lalu masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya dengan kecepatan normal menuju rumah. Masih tak menyangka sebenarnya, bisa-bisanya dia punya adek kelas seimut Zio. Parahnya dia gak sadar. Zio itu menggemaskan, Clarisa yang kaku saja sampai suka melihatnya. Clarisa rasa Zio cocok dengan adiknya Syela, membayangkan adiknya menikah dengan Zio membuat Clarisa tertawa kencang di dalam mobil. Memang sudah gila rupanya seorang Clarisa Prisila ini. Tak lama dia sampai, gadis itu meminum yogurt botol kedua sambil menaiki anak tangga. Sebelum masuk kamarnya dia mampir dulu ke kamar adiknya yang beserbangan dengan kamarnya. Clarisa tak mengetuk melainkan menendang membuat si empunya kamar terperanjat kaget. Dari yang santai berbaring sambil memainkan ponsel sekarang malah tiba-tiba berdiri dengan jantung yang seakan mau lepas dari tempatnya. Clarisa melempar dua macam snack ke kasur Syela dan langsung pergi begitu saja. Cewek itu terkekeh setelahnya. Lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri dan langsung mendapati sosok manusia yang sedang leha-leha di kasur dengan wajah tertutupi masker putih dan tentunya milik Clarisa. Cewek itu mendengus setelah pintu kamar tertutup. Menghampiri Maya sembari menyalakan lampu, tadinya ruangan agak sedikit gelap. “Udah makan lo?” tanya Clarisa cuek. Gadis itu membuka ciki lalu memakannya. “Udah sama bunda. Katanya kalau lo mau makan, tinggal panasin aja,” jawab Maya. “Enak ya lo, berasa rumah sendiri.” Maya terkekeh menanggapi. Hening sesaat sebelum Maya membuka suara. “Nyokap gue malam ini pulang.” “Ya terus?” “Rasanya gue yang nggak mau pulang.” “Why?” “Bila nginap lagi soalnya ortu dia ke kampung jenguk nenek yang lagi sakit, di rumah dia sendirian dan mama nawarin buat nginap di rumah aja. Kali ini bukan karena Bila gue gak mau pulang, tapi, karena mama yang terlalu perhatian sama anak orang,” jelas Maya seraya menarik napas dalam. “Gue ditinggal di rumah sendirian gak ada yang peduli. Pas Bila yang ditinggal? Nyokap langsung balik dari luar kota, Ris—“ Kembali menarik napas dalam, berusaha menahan tangis agar tak membasahi masker di wajahnya. “Di sini,” tunjuk gadis itu tepat di samping d**a. “Di sini, Ris, hati gue sakit.” Dan air mata itu tumpah juga membasahi masker wajahnya setelah Clarisa menarik tubuhnya ke pelukan, berusaha memberi ketenangan. Jujur, Clarisa sendiri tak tau mau melakukan apa untuk membantu Maya, dia terlalu bingung. Satu yang Claris sadari, Maya sedang tak baik-baik saja hari ini. Gadis itu melepas pelukan lalu menangkup wajah Maya setelah masker wajahnya di lepas oleh si pemilik. “Gak usah cengeng, gue ada di sini nemenin lo.” Clarisa menjauhkan tangannya dari wajah Maya, tersenyum hangat. “Lo bebas mau nginap sampai kapan pun di rumah gue.” Maya menggeleng seraya tersenyum. “Gue balik hari ini, Ris. Mau gue siksa si Bila.” “Fighting!” Keduanya tertawa. *** Pukul sembilan malam Clarisa baru selesai makan dan sekarang tengah terbaring seperti orang sakit di atas kasur karena kekenyangan. Maya pulang ke rumahnya dari satu jam yang lalu, Clarisa berharap semoga tak terjadi apa-apa pada gadis itu. Ponselnya berdering dengan malas cewek itu mengangkatnya. “Halo? Siapa? Ganggu gue, mati lo!” Mungkin karena sedang dalam keadaan kenyang dan sedikit kesulitan bernapas membuat mulut Clarisa los tanpa beban. “Hehe, maaf ganggu. Ini Zio, Kak, mau ngetes nomor.” Spontan Clarisa langsung terduduk, “Oh lo, gue kira lupa buat telpon.” “Gak lupa kok, Kak. Cuman baru ada waktu sekarang saja, soalnya tadi saya sedikit sibuk.” “Ouh, oke. Lo sekarang lagi ngapain?” “Rebahan aja, Kak. Habis baca buku tadi.” “Ouh, gue ganggu jam belajar Lo nih jadinya,” ucap Clarisa. “Saya baca komik kok, Kak.” “Ck! Gue kira belajar.” “Otak saya gak melulu harus diisi sama pelajaran. Sekali-sekali juga butuh hiburan.” Terdengar suara kekehan pelan dari Zio, membuat Clarisa spontan juga ikutan terkekeh. “Tapi ya benar sih, kebanyakan belajar juga gak baik haha. Kasihan sama otak, kalau dia mampu nyerap sih gak papa. Beda lagi ceritanya kalau orang yang punya kapasitas otak yang gak seberapa. Dipaksa belajar terus-terusan ujungnya bisa mampus.” Ini sejak kapan sih Clarisa bisa ngomong sepanjang ini sama orang yang baru dia kenal pula? Aneh tapi nyata. “Kakak gak mau tidur?” “Lo udah mau tidur ya?” “Enggak sih, saya cuman tanya. Takutnya ganggu tidur kakak.” “Kok lo bisa sesopan ini sih sama gue, padahal baru kenal.” “Kata bunda, saya harus mengormati perempuan sebagaiman saya menghormati beliau. Kalau saya kasar sama perempuan itu artinya secara gak langsung saya juga kasar sama bunda.” Clarisa meneguk air liurnya. “Ouh, begitu. Ngomong-ngomong lo punya pacar?” Astaga Clarisa, pertanyaan macam apa ini. Ingat, Zio anak orang bukan anak kamu atau anak Luna. Tolong, jaga batasan. “Pacar itu gimana sih, Kak?” Tuh, 'kan. Zio itu polos seperti plastik transparan. Rasanya mau Clarisa rendam plastik bening itu ke dalam tinta pulpen sekarang. “Hubungan antara cewek dan cowok gitu, berpasangan intinya lah,” jelas Clarisa kaku. “Ouh gitu, saya baru tau. Hehe.” “Udah, lo belajar aja dulu. Jangan mikirin pacaran, masih balita soalnya.” “Umur saya sudah enam belas tahun kok, Kak. Balita kan umurnya lima tahunan, hehe.” Clarisa menggigit gulingnya sendiri gemas. Rasanya mau Clarisa bakar hidup-hidup si Zio. *** Langkah kakinya bergerak dengan santai menyusuri jalan, sorot mata tajam seperti biasa. Wajah tanpa ekspresi berbeda dengan apa yang dirasakan dalam hati. Sesekali gadis itu menendang kerikil yang tak sengaja ditemuinya di aspal. Hari ini benar-benar sepi meski sedikit menyenangkan. Clarisa pulang sekolah dengan berjalan kaki dan ini kali pertamanya ia melakukan hal itu. Mobilnya sedang dipinjam bunda untuk pergi ke arisan sedangkan Maya hari ini cuti sekolah. Sahabatnya itu ijin karena harus pergi ke kampung untuk menjenguk nenek sebab penyakitnya tambah parah. Sebenarnya banyak yang menawari Clarisa tumpangan saat di halte, dari yang menggunakan motor sampai mobil. Termasuk Fira, gadis itu susah payah menawari tumpangan untuk Clarisa tapi ditolak mentah-mentah. Clarisa pikir sesekali berjalan kaki gak masalah. Dia cuman mau mencoba kakinya sampai mana dia bertahan berjalan kaki panas-panasan hari ini. Jujur, Clarisa paling malas jalan kaki, dia selalu mengeluh lelah. Olahraganya hanya pada saat dia latihan karate saja selebihnya tak ada lagi. Dan sekarang kaki Clarisa sudah terasa kram. Ayolah, jarak dari sekolah ke rumahnya memang tidak terlalu jauh jika berkendara, tapi, beda cerita kalau jalan kaki. Peluh membasahi kening dan lehernya. Kalau begini Clarisa lebih baik nebeng saja, terserah sama siapa aja asalkan jangan sama Fira. Clarisa masih merasa canggung sama Fira kalau harus berdua tanpa kehadiran Maya, rasanya aneh saja karena Clarisa belum terbiasa. Gadis berambut lebih dari sebahu itu menghela napas lelah sambil menunggu kendaraan yang berlalu lalang mulai sepi, setelah sepi dia pun menyeberang perlahan. Tepat di depannya gang menuju rumahnya sudah lumayan dekat, maksudnya dari tempat dia berdiri ke gang kecil di perempatan yang sudah lumayan dekat kalau tempat di mana letak rumahnya ya masih lumayan jauh. Masuk di gang yang lumayan sepi membuat Clarisa sedikit nyaman karena suhu panas terasa berkurang sebab terhalang oleh atap-atap rumah penduduk yang sedikit menutupi langit. Gadis itu fokus ke depan sembari menikmati udara di siang hari yang sekarang sedikit menyejukkan setelah menyuntuh tubuhnya. "Anak siap lo, berani cegat gue?!" Clarisa menghempaskan tangannya saat tiba-tiba ada yang menariknya hingga mundur ke belakang beberapa langkah. Leo. Cowok itu tengah tersenyum miring memandang Clarisa dari atas hingga bawah. Senyum meremehkan dari bibir pemuda itu membuat tangan cewek di depannya gatal ingin menonjok. "Masih ingat gue gak?" tanya Leo saat menyadari raut bingung yang kontras dari wajah putih Clarisa. Gadis itu mengernyit, dia sedikit ingat meski banyak lupanya. Dia berusaha mengingat, tapi tetap saja dia tak ingat. Otak Clarisa isinya kebanyakan micin jadi susah mau mengingat. "Gue yang waktu itu di gedung sama Langit." Clarisa langsung ingat kalau nama Langit dibawa-bawa, gadis itu langsung melipat kedua tanganya di depan d**a dengan tampang angkuh. "Oh lo yang mukulin gue waktu itu?" sinis Clarisa menatap cowok di depannya dalam. Aura yang keluar dari kedua manusia itu sama-sama meremehkan satu sama lain. "Karena jalang kek lo gak pantes buat dilembutin," jawab Leo dengan santai. Clarisa menggigit pipi bagian dalamnya berusaha menahan sabar, kalimat yang diucapkan Leo barusan sudah menjatuhkan haga dirinya meski begitu dia gak mau main kasar terlebih dahulu. "Then?" "Daripada bareng Langit mending lo tidur sama gue, puas banget pastinya. Karena gue bakalan bayar sesuai apa yang lo pinta," ucap Leo. Clarisa mendecih sarkas, bisa-bisanya manusia di depannya lebih belagu daripada dirinya di sini? "Masih jadi beban aja bangga lo ya," kekeh gadis itu dengan tampang sinis. "Jadi brondong ibu-ibu sosialita sana, lumayan dapat duit buat ngisi ATM biar gak kosong-kosong amat," lanjutnya seraya melemparkan senyum miring. "Sialan!" "Harga diri lo gak guna menurut gue. Cowok yang suka main tangan sama cewek kek lo gak pantas ngehina orang lain because you are much more despicable. Lo itu sam-pah mas-ya-ra-kat just so you know." Rahang Leo mengeras, cowok itu mengangkat tangan kanannya mau menampar wajah perempuan di depannya tapi gagal karena respon Clarisa lebih cepat. Gadis itu memberikan senyum sarkastik sebelum menghempaskan tangan kekar milik Leo. "Hati hello kitty, ngehina orang bisa pas dihina balik ngamuk. Malu-maluin sumpah." Gadis itu memang suka mengeluarkan kalimat-kalimat pedas dari mulutnya untuk menjatuhkan mental lawan. "Lo sering ngelacur dimana sih? Kelihatannya pro banget," ujar Leo berusaha balik menjatuhkan harga diri Clarisa. "Ternyata lo lebih menyedihkan dari apa yang gue kira, lo cowok kesekian yang punya jiwa murahan dari lahir." "b*****t lo!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN