Ketiga remaja itu tak langsung bermain, mereka memilih untuk membeli makanan untuk sekadar mengganjal perut dahulu. Kan gak bagus kalau tiba-tiba mereka kelaparan saat sedang menaiki salah satu wahana, bahaya tau.
Ketiganya makan ice cream sambil duduk-dudukan di kursi kayu panjang warna biru sambil melihat-lihat pengunjung yang semakin ramai berkunjung. Setelah habis mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk bermain.
Satu tempat yang paling pertama mereka tuju, rumah hantu.
Tidak ada yang menampilkan ekspresi takut karena masing-masing sudah berpikir kalau hantu yang ada di dalam cuman KW atau palsu, yang intinya diperankan oleh manusia sendiri macam mereka. Jadi, apa yang perlu ditakuti?
Saat masuk ke dalam satu yang mereka tangkap, gelap.
“Udah gak usah ta—SETAN b*****t!” teriak Maya saat tiba-tiba ada hantu di samping kirinya yang ke luar dari jendela. Posisinya sekarang, Maya sebelah kiri, di tengah Fira dan di sampingnya lagi Clarisa.
“AAAA!” teriak Fira saat ada rambut yang jatuh dari atas tepat mengenai kepalanya. Clarisa dengan polosnya menarik rambut itu, yang jatuh cuman wig dan dia tertawa setelahnya.
“Sok-sokan ngajak ke sini, nyali tempe. Malu-maluin gue aj—k*****t LO MAU MATI, HAH?!”
Maya dan Fira mau tertawa tapi tak mereka lakukan karena sedang takut, jadi mereka diam saja sambil memperhatikan Clarisa yang tengah terkejut karena ada perempuan yang tiba-tiba muncul langsung menarik rambutnya dari samping. Tentu saja Clarisa kesal.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, Maya tak henti-hentinya menggerutu karena tak kunjung menemukan pintu ke luar. Clarisa pusing, kedua gadis di depannya sibuk merengek mau pulang. Lagian tadi yang ngajak masuk siapa dan yang maksa mau keluar cepat juga siapa, t***l memang.
“Gak ada gitu setan yang cakepan dikit, ini cem t*i semua mukanya,” hardik Maya, tangannya berpegang erat pada Fira.
“Kalau ganteng aku juga mau.” Fira menjawab.
“Banyak bacot lo berdua!” dengus Clarisa. Kedua matanya langsung terfokus ke arah depan, “ANJIR POCI!”
Teriakan Clarisa mampu membuat Maya dan Fira juga ikutan berteriak histeris, seketika Clarisa menyesali mulutnya yang sudah berteriak seperti tadi.
“Gak bakalan ngejar dia mah, orang jalannya loncat kok.”
Memang ya ucapan itu terkadang memang tak pernah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tadinya Maya dan Fira mengangguk untuk menuruti Clarisa agar tak berlari, nyatanya ketiga remaja itu sekarang tengah berlari terbirit-b***t karena dikejar oleh pocong.
“Dammit! Baru tau gue pocong lari, biasanya ngesot,” gerutu Clarisa, jantungnya berdebar karena terkejut.
“Lo sih sok tau. Dah tau setan di indo aneh-aneh!”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, dan tak lama mereka berhasil ke luar dari rumah j*****m itu. Peluh membasahi mereka bertiga, padahal masih pagi kenapa hantu masih muncul juga di dalam rumah tadi.
Ah, mereka melupakan kalau itu hantu bohongan, tapi tetap saja mainnya sama jantung. Mau bohongan atau sungguhan, rasa takut tadi tetap saja datang secara tiba-tiba.
“Wah gila sih, gak mau lagi gue dateng ke tempat macam ini,” keluh Maya sambil membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada kedua lutut.
Fira melakukan hal yang sama. Clarisa sih sibuk menarik napasnya, pocong tadi yang menguras tenaganya. Make up mereka sempurna membuat jiwa berani Clarisa sedikit goyah, ditambah lagi ruangan cukup gelap.
“Mau lanjut apalagi nih?” tanya Fira seraya membenarkan posisi berdirinya. Maya mengikuti seraya berpikir.
“Main yang di bawah aja dulu, naik wahana pas energi kekumpul lagi,” saran Maya dan langsung diangguki kedua gadis di depannya. Udah kek pergi ke pasar malam aja mereka bertiga.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, kembali makan jajanan tentunya. Lalu bermain capitan, Fira mendapatkan satu boneka BABI karena usahanya. Maya dan Clarisa tak berbakat sama sekali dalam hal itu. Jadi mereka tak mendapatkan apa-apa.
Clarisa memutuskan ikut memanah, dia diberi tiga anak panah otomatis kesempatannya hanya tiga kali. Dalam satu kali percobaan gagal tapi tak untuk percobaan kedua dan ketiga, dia berhasil.
Clarisa disuruh memilih mau hadiah apa, Fira dan Maya menyarankan untuk mengambil boneka tedy besar berwarna cokelat. Clarisa tersenyum lalu mengambil satu paket jajanan yang isinya tak seberapa. Kedua temannya menatap gadis itu datar, seolah tak terima dengan apa yang Clarisa pilih.
“Kenapa gak ambil boneka tadi sih, padahal harganya bisa nyempe seratus ribuan,” kesal Maya.
“Iya, Ris. Tapi kenapa kamu milih jajanan yang cuman ada empat biji itu?” tanya Fira.
“Gue gak suka boneka tapi gue suka ini.” Clarisa mengangkat kotak jajanan itu sampai depan d**a, lalu terkekeh. “I like it.”
“Otak anak TK biasa, Fi. Pikirannya makanan mulu.”
“Serah gue.”
Meski sedikit cekcok mereka bertiga tetap melanjutkan perjalanan. Maya berhenti untuk bermain permainan yang sudah menarik perhatiannya, pancing-pancingan. Lawannya rata-rata bocah SD, gadis itu tersenyum tapi tidak dengan Clarisa dan Fira. Mereka sama-sama memasang wajah tanpa ekspresi.
Maya selesai dengan kegiatannya lalu mereka melanjutkan kembali perjalanan. Sebelum menaiki wahana yang lumayan dapat menguras tenaga, maya mengusulkan agar mereka foto-foto dulu untuk kenang-kenangan, kedua temannya mengangguk saja menurut.
Selesai berfoto saatnya menguji argenalin. Pertama, mereka akan naik bianglala. Ekspresi mereka bertiga biasa saja, tersenyum malahan seolah naik wahana itu menyenangkan.
Selesai, mereka kembali naik wahana kedua, ontang anting. Di sana mereka bertiga berteriak sepuasnya, takut, seru atau pun bahagia bercampur aduk menjadi satu. Beda dengan Clarisa yang tampak biasa saja meski jantungnya bekerja lebih cepat tidak seperti biasanya. Ketiga remaja itu sangat menikmati hari ini.
Setelah selesai mereka turun, Maya menyarankan ingin naik wahana lagi. Fira terlebih dahulu menggelengkan kepala, berusaha menolak. Maya berusaha membujuk dan mau tak mau Fira terpaksa mengangguk.
Wahana Niagara yang saat ini mereka tuju. Niagara adalah wahana yang paling ekstrim dengan perahu luncur yang meluncur dari ketinggian dengan mengikuti arus air. Rasakan k*****s meluncur dari ketinggian 20 meter, Fira sudah membayangkan ngerinya.
Sampai di tempat tujuan, mereka bertiga berbalik lagi. Tidak jadi.
“Sialan,” dengus Clarisa. “Nyali cetek tapi belagu.” Gadis itu kembali menghina mulut Maya yang sok-sokan. Tampang sok berani, nyatanya? Hello kitty.
Gagal naik Niagara, mereka memutuskan kembali menaiki wahana tornado. Awalnya semangat pas selesai wajah pucat. Maya sampai muntah, Fira sudah menghabiskan dua botol aqua tanggung. Clarisa? Dia sudah tepar, duduk di tanah tanpa beralas apa-apa.
“Fi, bagi minum,” pinta Clarisa.
“Ini.” Fira menyerahkan botol aqua tanggung yang belum dibuka. Sebelum menaiki wahana mereka sudah menyiapkan beberapa botol air minum untuk jaga-jaga.
“Gak lagi gue naik yang begituan,” keluh Maya, gadis itu yang terlihat paling parah diantara kedua temannya. Sudut matanya berair, bibirnya pucat dan keringat membasahi kening dan lehernya.
“Cabut yuk, makan, laper gue,” usul Clarisa dan diangguki semangat oleh kedua temannya.
***
Ketiga remaja tanggung itu sekarang sudah berada di McD terdekat. Clarisa si doyan makan yang menyarankan untuk makan di sana, sisanya tinggal angguk-anggukin kepala saja.
Maya yang tengah menyedot fruit tea blackcurrant dengan mata fokus di layar ponsel, melihat foto-foto yang sempat mereka ambil menggunakan ponselnya sambil sesekali terkekeh. Fira mendekat ingin ikut melihat juga.
“Ihhhh, gemes banget. Kirim ke aku dong,” pinta Fira dan Maya mengangguk, Clarisa yang berada di depan bodo amat, dia fokus sama makanan yang sedang dia makan.
“Yang ini mau gue posting,” ujar Maya.
“Aku posting yang ini deh.” Fira juga ikut-ikutan.
“Lo mau posting juga gak, Ris? Biar gue kirimin,” tawar Maya. Clarisa menjawab dengan gelengan lalu kembali fokus dengan paha ayam yang ada di tangannya.
Mereka bertiga fokus dengan kegiatan masing-masing sampai tak menyadari ada sosok lain menghampiri meja. Suara telunjuk yang diketukan ke meja membuat seluruh atensi mengarah pada pelaku dan detik itu juga raut wajah ketiga perempuan itu sama-sama terlihat nampak terkejut, terutama Clarisa.
Langit, beserta cengirannya.
“Hay,” sapa cowok itu. Clarisa menjatuhkan tulang ayam di tangannya lalu membalas sapaan Langit dengan senyuman canggung lalu disusul Maya dan Fira.
“Oh, lo ngapain di sini?” tanya Maya.
“Makanlah,” balas Langit. Netra cowok itu mengarah pada Clarisa yang berada di samping kirinya, lalu tersenyum. Sedangkan korban senyum itu sudah susah payah meneguk ludah sendiri.
Satu yang membuat Clarisa penasaran, meski senyum Langit candu baginya tetap saja dia merasa janggal dengan senyum itu. Seolah terpaksa? Ah, entahlah.
Langit menatap Fira, “Temenin gue beli buku yok.”
Ucapan Langit yang sudah jelas tertuju pada Fira membuat Clarisa sedikit syok. Raut wajahnya berubah masam, nafsu makannya hilang ditelan perasaan. Fira? Gadis itu sibuk meremas bajunya sendiri karena tak enak pada Clarisa, apalagi saat tak sengaja netranya menangkap raut datar Clarisa sekilas.
Tapi, mau menolak ajakan Langit dia juga tak enak hati soalnya dia sudah berjanji saat cowok itu memberitahukan ruangan kepala sekolah tempo hari. Cowok ini benar-benar!
“Ehm, ma-maaf, a-aku ga—“
“Just go. Maya and I can order a taxi.” Suara Clarisa yang terkesan dingin itu membuat Fira jadi gelagapan, apa ini?!
Dasar Langit! Apa dia buta? Gak lihat apa kalau aku lagi ngumpul bareng teman? Egois banget inimah jatuhnya!
“Iya, Fi. Lo pergi aja bareng Langit, kasihan cowok lo nanti kelamaan nunggu.” Maya ikut bersuara membuat Fira semakin tak enak hati. Apalagi suara Maya jauh terdengar lebih dingin sekarang.
Fira mengusap leher belakangnya, merasa bersalah. “Maaf ya, May, Risa. Aku keburu janji pas Langit ngantar aku ke ruang guru tempo hari,” jelas gadis itu.
“Bukan salah lo kok, dasar cowoknya aja yang gak tau waktu,” sindir Maya pedas. Langit menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
“Maksud lo?” tanya cowok itu.
“Iniloh, ada cowok yang mau nagih janji tapi gak kenal waktu. Yakin gue matanya gak fungsi dengan baik.”
“Maksud lo gue?” tanya cowok itu sekali lagi.
Maya mengedikkan bahunya, “Lo ngerasa gak?”
“Stop saying that,” sahut Clarisa.
Langit yang masih berdiri jadi bingung sendiri, ini kenapa sih sama tiga cewek di depannya? Kenapa jadi aneh begini, padahal dia cuman ngajak Fira buat ke toko buku tapi respon yang dia dapat malah menyudutkan dirinya terlebih Maya, gadis itu terlihat sangat tidak suka sekali dengannya.
“Lo pada pernah dengar gak? Kalau pertemanan perempuan itu kebanyakan hancur cuman karena satu cowok? So, gue gak mau ini terjadi sama kita bertiga,” ujar Maya seraya menghela napas panjang.
“Dan lo, Fi. Baru kenal sehari kita udah hange out, berarti gue sama Clarisa percaya kalau lo cewek yang bisa nepatin janji,” lanjut gadis itu.
Suasana jadi tambah canggung.
***
Maya pulang ke rumah Clarisa setelah singgah dulu ke rumahnya untuk mengambil seragam sekolah. Gadis itu kembali menginap karena orangtuanya belum pulang. Clarisa sih oke aja, gak masalah bagi dirinya untuk menampung satu beban di kamarnya nanti.
Saat ini mereka sudah berada di kamar Clarisa, jam pun sudah menunjukkan angka empat sore. Kegiatan kedua perempuan itu sama, sama-sama tepar di atas kasur. Melelahkan juga berjalan-jalan. Setelah sampai ke rumah mereka berdua langsung tidur dan baru sekarang bangun.
“Ris,” panggil Maya. Clarisa berdehem sebagai jawaban.
“Cowok banyak, bukan cuman Langit. Gue gak suka lihat komuk lo yang kek orang habis kena palak tadi. Ingat, Ris, jangan cuman karena cowok gak jelas kek Langit lo biarin perasaan lo gak karuan. Ya unless you have no heart, it doesn't matter. "
“Why are you talking about him anyway? Change topic, I don't like it!”
Maya tau, kalau bahasa Inggris Clarisa kumat itu artinya Clarisa tidak suka. Tapi, bukan Maya kalau gak bikin Clarisa marah. Satu tujuan Maya, menyadarkan Clarisa. Perempuan itu gak suka lihat Clarisa murung, kek gimana gitu lihatnya. Gak tega sih sepertinya.
“Lo seharusnya sadar, kalau hidup gak bakalan terus sejalan sama apa yang kita mau. Karena hidup itu tujuan, Tuhan yang atur. Dan rasa suka lo sama Langit biarpun itu udah dari lama it will not take effect if fate says otherwise. Intinya sih your struggle will not necessarily be rewarded,” lanjut Maya panjang lebar.
Clarisa mendengus sebal, ini kenapa Maya jadi bijak begini sih? Gak pantas tau. Curiga Clarisa kalau kepala Maya sempat kebentur sama bianglala.
Perempuan bule itu beranjak ke meja rias lalu mencepol rambutnya asal, Maya masih memperhatikan. Gadis itu sudah sibuk mengumpat dari dalam hati karena diabaikan Clarisa padahal jarang-jarang loh dia bisa serius begini.
“Lo seharusnya juga sadar,” ujar Clarisa sambil merapikan anak rambutnya. “If the heart can't be forced to give to anyone,” lanjut Clarisa lalu pergi begitu saja.
“Mau ke mana lo?!”
“Indomaret, beli yogurt.”
“t*i emang, gue ditinggalin!”
"Bomat!" teriak Clarisa sebagai jawaban sebelum ia benar-benar jauh dari sekitar kamarnya. Membuat Maya kesal lebih menyenangkan daripada menjawab pertanyaan menyebalkan darinya barusan.