Dibegal?

2004 Kata
Terhitung hampir dua jam-an tiga remaja itu menghabiskan waktu di kafe mandala. Sekarang sudah pukul sembilan malam dan mereka memutuskan ngaret di mall, biasa gadis. Dari store satu ke store lain ketiganya tak lelah berkeliling hingga jam kembali menunjukkan pukul sepuluh malam. Ternyata tak sampai di situ, mereka kembali menghabiskan waktu makan-makanan ringan yang dijual di pinggir jalan sampai jam menunjukkan tepat pukul dua belas malam. "Capek gue sumpah!" keluh Maya sambil mendudukkan pantatnya di trotoar jalan, sampingnya ada Fira yang juga melakukan hal yang sama. Clarisa? Dia sudah tepar duluan di aspal, cewek itu duduk seperti orang yang sudah mau mati dan Maya paham akan hal itu. Clarisa itu manusia paling malas gerak dan yang paling malas olahraga, dia selalu mengeluh lelah kalau Maya ajak jogging. Padahal latihan karatenya juga cukup melelahkan tapi kenapa Clarisa biasa saja? Aneh. Mereka bertiga pergi menggunakan mobil Fira karena dia yang menjemput. Seniat itu memang si Fira untuk mengajak dua cewek ganas itu berteman. "Udah tengah malam gini lo gak dimarahin nyokap?" tanya Clarisa pada Maya, gadis itu menggeleng. "Mama ikut papa ke luar kota, habis maghrib tadi mereka berangkat. Gue udah ijin bakalan nginap tempat lo." Maya menjelaskan sembari berkedip mata, Clarisa mendengus. "Seenaknya ya lo numpang di rumah gue, malu sedikit napa sih?" "Gue nginap di rumah bunda ya bukan rumah lo," cebik Maya. "Bunda 'kan nyokap gue." Clarisa masih tak mau mengalah. "Halah lo-" "Kalau gitu kalian nginap di rumah aku aja. Biar kita bisa semakin akrab." Suara Fira menginterupsi, kedua gadis di samping dan depannya mengerjapkan mata polos membuat Fira gemas. "Sekali-kali, lagian di rumah aku sepi. Gak ada orang, orangtuaku sibuk kerja." "Ya oke. Clarisa juga ikut gak mau tau!" seru Maya. "Eh apa-apaan lo! Gue gak mau, lagian gue juga belum ijin sama bonyok." "Gue yang ijinin." Maya langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, menelepon seseorang. Bunda Luna, yakali dia nelpon Nathan belum apa-apa nanti nomornya udah di blok duluan. "Eh, iya, May, ada apa apa?" Suara Luna mengisi keheningan di antara ketiga remaja itu. "Bunda, Maya mau minta ijinin Clarisa buat nginap di rumah temen. Numpung besok Minggu, gak papakan, Bun?" "Ehm, berarti kalian gak pulang?" "Kan mau nginep, bun." "Clarisanya mana, Nak?" "Ini di samping. Woy ogeb nih Bunda mau ngomong." "Berasa nyokap sendiri lo ya," cibir Clarisa sebelum merampas benda pipih itu dari tangan Maya. "Kalau bunda nggak ngijinin gak papa, kakak pu-" "Ya gak papa, bunda sama Syela mau lanjut nonton drakor dulu. See you, Sayang, Hati-hati ya." Telepon dimatikan Luna dan suasana hening tadi seketika terisi oleh tawa menggelegar dari Fira dan Maya, suara kodok di bawah got aja kalah nyaring. Clarisa yang risih sekarang malah juga ikutan terkekeh. "Parah emak gue." Clarisa itu mukanya doang yang buleable tapi sikapnya indonesia banget, bahasanya juga khas jakarta pinggiran. Dulu doang bahasa Clarisa sering nyampur, sekarang mah udah kental banget indonya. Tanpa basa-basi lagi mereka pergi meninggalkan jalanan yang ternyata sudah sepi dari tadi, mobil Fira diparkirkan di pinggir jalan tak jauh dari mereka berdiri jadi tak membutuhkan waktu lama untuk melangkah ketiga remaja itu sudah berada di dalam mobil dengan Fira yang menyopir, Clarisa duduk di sebelahnya. Sedangkan Maya selonjoran di kursi belakang, enak banget tuh beban. Mungkin karena jalanan sudah sepi kendaraan yang berlalu lalang bisa dihitung dengan jari. Tapi yang ini berbeda, ada sekitar tiga pengendara motor dengan berisikan masing-masing dua orang berusaha menghentikan laju mobil Fira dengan cara menendang-nendang body mobil dengan kaki dan otomatis Fira yang merasa panik mengendurkan injakan gasnya. Mobil berhenti dan pengendara motor itu langsung turun dari kendaraannya dan menggedor-gedor pintu mobil dengan kuat. Wajah Fira pucat, dia takut terjadi apa-apa pada mereka. "Gimana dong, aku takut. Mana mereka bawa senjata lagi!" panik Fira, bibir gadis itu sudah pucat pasi. Maya yang berada di belakang berusaha menenangkan, sebenarnya dia juga takut tapi berusaha menampilkan ekspresi biasa saja agar Fira tidak terlalu cemas. "Keluar! Buka pintunya atau kami pecahin kaca mobilnya!" Terdengar suara ancaman dari salah satu preman yang berada di luar membuat gadis-gadis itu semakin takut saja. "Gak usah takut, Fi. Ada Clarisa," ujar Maya. "Kamu gimana sih, May. Masa Clarisa sih yang disuruh ngusir pas dia kenapa-kenapa gimana, jangan ngaco deh!" gerutu Fira. "Emang si Maya kebiasaan, kalau ada apa-apa gue terus yang ditumbalin." Maya nyengir. "Woy b*****t, keluar gak!" Clarisa mau membuka pintu mobil tapi pergelangan tangannya yang lain ditahan oleh Fira. "Kamu jangan macem-macem deh, Ris. Bahaya tau, mending kita telepon polisi aja." "Bakal lama datengnya, keburu kita dibacok duluan," jawab Clarisa santai lalu membuka pintu dan mentupnya kembali rapat-rapat setelah berpesan untuk kembali menguncinya. "Santai, Fi." Di luar Clarisa mengangkat kedua tangannya dengan berjalan pelan. "Kemana teman-teman lo? Buruan suruh ke luar!" "Ada di dalem," sahut gadis itu santai sembari menurunkan tangannya. Enam pria yang rata-rata memiliki perut buncit itu menatap remeh remaja tanggung di depannya. "Geulis pisan euy, gue yakin yang di dalam gak kalah bening." "Seksi amat, Neng." "Kulitnya bening bat dah kek p****t bayi!" Plak! Satu tamparan Clarisa berikan pada sosok pria yang berusaha menyentuh dirinya. Cukup kalimat melecehkan itu yang harus ia terima malam ini tidak untuk perbuatan yang lain. "Kasar amat!" Si tua bangka berniat menangkat tangannya tapi Clarisa lebih dulu memberikan bogem mentah tepat di rahangnya membuat pria itu mundur dari posisinya berdiri beberapa langkah. Harga diri itu yang paling penting, perbuatan atau pun kalimat yang merusak harga diri anak turunan Rahardja harus habis detik itu juga, begitu pesan kakek sebelum memejamkan mata selamanya. Dan kalimat sejenis itu juga yang seringkali papanya ucapkan, sampai membuat Clarisa bosan mendengarnya. Clarisa memukul lawannya menggunakan siku lalu menghantam kembali rahang pria di depannya dalam satu bogeman sebelum pria itu benar-benar jatuh ke atas aspal. Pria di depannya ingin memukul menggunakan rantai dan mengenai pergelangan tangan Clarisa membuat cewek itu semakin brutal karena rasa sakit di tangannya. Melawan enam para pendosa di hadapanya bukan hal sulit bagi Clarisa, tapi untuk saat ini dia sedikit kesulitan karena tangannya sedang terkilir akibat rantai tadi. Tapi karena Clarisa sudah terlanjur marah rasa sakit pun ia abaikan. Pria berkumis tebal itu baru saja terkena tendangan tepat di area intimnya membuat yang lain ikut meringis melihatnya sambil memegang milik sendiri. Clarisa tersenyum remeh sebelum memberikan lagi tendangan tepat di depan wajah pria itu. Berganti lawan lagi dan Clarisa langsung melilitkan tangan tepat di leher lawan lalu memutarnya hingga terdengar suara retakan, tak sampai di situ dia kembali menonjok wajah pria itu sebanyak tiga kali sebelum akhirnya jatuh tergeletak di atas aspal. Mungkin kali ini kesialan Clarisa karena tak menyadari salah satu lawan yang berada tepat di belakangnya lalu memukul bahu gadis itu keras dengan balok kayu. Pria itu mau memberikan pukulan untuk kedua kalinya setelah Clarisa jatuh terduduk tapi tak sempat saat satu tendangan mendarat tepat di belakang pinggangnya dan dia pun terjatuh. Clarisa di bantu berdiri. "Lo gak papa? Eh, lo, Clarisa bukan sih?" Cowok di depannya nampak bingung tapi Clarisa mengabaikan seraya berkata, "banyak bacot lo!" Cowok itu membiarkan Clarisa melakukan sesukanya, pertama dia melihat dengan saksama saat Clarisa memberi pelajaran beberapa preman di depannya dengan bringas. Tak lama cowok itu kembali tersadar lalu mulai membantu lagi. "Apa-apaan sih!" teriak Clarisa kesal saat cowok itu menahan tubuhnya agar tak kembali melanjutkan aksi brutalnya dengan membiarkan preman itu lari terbirit-b***t menuju motor masing-masing dan pergi begitu saja. Maya dan Fira ke luar dari dalam mobil, Fira menatap Clarisa tak percaya. Pantas saja banyak yang tak berani dengan gadis itu, ternyata ini alasannya. Clarisa mengerikan kalau sedang marah, kebrutalan gadis itu tadi tidak mencerminkan seorang perempuan sama sekali. Tatapan Maya tertoleh pada sosok yang berada di samping Clarisa. "Lo Putra? Ngapain di sini?" "Kaget gue lihat nih cewek." Putra menunjuk Clarisa dengan dagunya. "Lo bilang sama Langit gue berantem, habis lo!" ancam Clarisa lalu pergi begitu saja menuju mobil, teman-temannya mengikuti. Putra mendengus. "Eh, May. Kemal rindu tuh sama lo," ujar Putra tiba-tiba membuat gadis berambut sebahu itu menoleh seketika. Ada semburat merah yang tiba-tiba menjalar di telinganya, meski begitu ia berusaha menahan ekspresinya agar tetap terkesan biasa saja. "Gue nggak tuh," katanya lalu pergi mengikuti kedua temannya yang sekarang sudah masuk ke dalam mobil. *** Pagi Minggu ditutup dengan rasa kantuk. Ketiga remaja perempuan itu tak tidur semalaman, mereka lebih memilih bermain. Dari yang maskrean, drakoran, sampai makan camilan tak ada niat untuk berhenti sama sekali. Untuk bagian makan tentu saja Clarisa, drakoran diisi oleh Maya karena Clarisa sudah bosan katanya kalau nonton terus sedangkan maskeran diisi oleh yang punya rumah, Fira. Saat ini mereka masih tepar di atas kasur queen size milik Fira, ternyata rumah Fira lumayan besar juga padahal mereka baru pindah. “Ris, tangan kamu udah baik-baik aja, 'kan?” tanya Fira masih dengan posisi memeluk guling. “Lumayan,” jawab Clarisa seadanya, dalam posisi terlentang dia masih sibuk makan chiki. “Heran gue sama lo, Ris. Dari malem sampe pagi mulut lo ngunyah mulu, gak capek apa?” dengus Maya. Bukan apa-apa ya, dia cuman capek lihat orang yang terus mengunyah makanan. Anehnya rasa capeknya itu lari ke dirinya, mulutnya terasa betu. “Mau gue kumpulin di tenggorokan buat cadangan,” jawab gadis itu asal dan langsung dihadiahi lemparan bantal oleh Maya, Fira tertawa melihatnya. “Eum, numpung masih Minggu. Gada niatan lain gitu mau jalan? Aku masih kurang hapal wilayah sini, siapa tau kalian mau ajak jalan-jalan,” ucap Fira membuat fokus dua manusia di dekatnya teralih. “Boleh-boleh, tapi, kira-kira di mana ya?” Maya berusaha berpikir, Clarisa sih cuek aja karena mau menolak pun percuma sebab Maya pasti tetap akan menyeretnya untuk ikut pergi. “Taman bermain aja!” seru Maya tiba-tiba. Lama-lama jatohnya udah kek bocah ini tiga manusia. “Santai aja kalik!” dengus Clarisa. “Setuju aja aku sih, kalau kamu, Ris?” “Iyain.” Ketiga remaja itu bersiap-siap, untungnya Maya dan Clarisa punya baju ganti. Mereka sempat membeli beberapa pakaian saat ke mall malam tadi jadi tak usah khawatir sama masalah baju. Sekitar setengah jam-an mereka bertiga baru selesai berpakaian sedangkan setengah jamnya mereka pakai untuk dandan. Berbeda dengan Clarisa, dia sudah santai duduk selonjoran di sofa kamar Fira. Perempuan itu tak bisa dandan, cukup menggunakan pupur dan lipbalm saja sudah cukup. Yang paling rese itu Maya, gadis itu selesai mandi terlebih dahulu tapi paling lelet saat bagian merias wajah. Fira saja sekarang sudah selesai sedangkan Maya masih sibuk dengan eyeliner di tangannya. “Lo mau main apa kondangan sih, May?” tanya Clarisa gemas sendiri. “Gak papa, Ris, masih ada lima belas menitan. Kita jalan pasin satu jam aja,” sahut Fira setelah mengecek arloji di tangannya. “Nah telinga lo masih fungsi gak, Ris? Masih sempet tau!” cebik Maya sedikit kesal dari tadi dia dandan diganggu mulu sama bacotan Clarisa. “Iyain.” Clarisa mencomot kacang garuda di dalam lemari kecil di kamar Fira yang spesial di isi sama berbagai macam makanan ringan. Fira loh ya yang nyuruh! Tak lama Maya selesai dan mereka langsung cabut begitu saja, mari bersenang-senang. Maya teriak heboh saat mereka sudah berada di dalam mobil. Fira tak henti-hentinya tersenyum, bahagia banget dia punya temen seasik mereka berdua. Clarisa sudah mulai bisa menerima kehadiran Fira dan gadis itu tambah senang. Mobil dipacu Fira dengan kecepatan normal, “Breakfast?” “Ogah ah, agak siangan aja. Lagipula Clarisa juga gak bakalan makan, dia susah disuruh makan pagi,” jelas Maya. “Gue lagi yang lo tumbalin, May?” sinis Clarisa. Maya terkekeh di jok belakang, “Ya 'kan emang fakta. Waktu gue sarapan di rumah lo aja lo cuman minum susu.” “Iyain. Lo kalau mau sarapan gak papa, biar kita tunggu,” kata Clarisa mengarah pada Fira yang tengah sibuk menyupir di sampingnya. “Nggak ah, aku ngikut kalian aja,” jawab Fira. Maya dan Clarisa mengangguk saja. Tak lama mereka telah sampai ke tempat tujuan, mobil diparkirkan di tempat yang sudah disediakan. Lalu membeli tiket masuk ke dalam. Saat masuk mereka mulai mendiskusikan sesuatu, entah ingin mulai dari mana dan berakhir dimana. Semuanya harus diputuskan secara adil seadil-adilnya agar tak terjadi kendala di ujung acara, hahaha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN