Ajakan pertemanan

1384 Kata
Rooftof sekolah, gadis itu duduk terdiam dengan memeluk kedua kakinya sendiri di sana. Jam sekolah sudah berakhir dari setengah jam yang lalu, meski begitu tak ada reaksi sama sekali yang menunjukkan bahwa cewek itu berniat untuk pulang ke rumah. Dia merasa sedikit tenang berada di sini. Gadis tersebut menenggelamkam kepalanya di lipatan kakinya, membiarkan berbagai perasaan aneh bergejolak di dalam dadanya. Sekali lagi ia tak bisa mendeskripsikan apa yang ia rasa, meski nalurinya berkata kalau dia sedang tak baik-baik saja. Clarisa menyukai Langit, mungkin rasa cemburu yang sedang menyerang jiwanya saat ini. Tapi, menurutnya rasa ini lebih dari sekedar cemburu. Dadanya benar-benar merasakan sakit, perih, bahkan napasnya pun sempat tercekat jika ia tak cepat menghirup oksigen dengan cepat. Terlalu rendah jika ia harus menangis untuk masalah sepele ini, Clarisa tak menangis meski kedua matanya sudah memanas, perih dan sedikit memburam. Tangannya terkepal kuat dan tanpa sadar membenturkannya tepat di tembok samping kanannya. Kali ini sakitnya berdarah, tepat di tangannya yang sedang tergenggam erat. Meski begitu Clarisa tak bereaksi apa-apa saat tangannya mengucurkan darah segar. Dia masih menampilkan ekspresi datar sedatar-datarnya karena gadis itu memang aneh, ia tak bisa mengekspresikan keadaannya makanya ekspresinya terkadang tak sesuai dengan isi hatinya sendiri. Satu yang memperlihatkan sisi Clarisa yang tak banyak diketahui oleh orang lain termasuk Maya, polos. Gadis tersebut terlalu polos jika mengatasnamakan cinta, dia terlalu awam untuk urusan itu. Meski begitu, siapa sangka si polos ini sudah mempunyai rasa cinta pada sosok seorang Langit Bagaskara sejak Masa Orientasi Siswa di bangku SMP. Clarisa yang tengah berdiri menunggu antrian tukang cilok di luar gerbang sekolah dengan menggunakan seragam batik putih itu terlihat sedang jenuh. Dia paling tidak suka yang namanya menunggu, tapi, apa boleh buat? Perutnya sakit karena lapar. Sedangkan dia sedang tak mau makan makanan yang lain selain cilok. Byur! Gadis itu menggenggam tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih lantas berbalik. Kedua matanya menatap tajam sang pelaku penyiraman air seember pada dirinya, cowok di depannya memasang tampang tak bersalah seolah yang dia lakukan adalah benar. Clarisa menghampirinya lalu menarik kerah seragam cowok itu kasar, "Maksud lo apaan nyiram gue gak jelas? tired of living?!" "Lo tembus," balasnya polos. Clarisa langsung melonggarkan cengkramannya, wajahnya memerah. Diliriknya sekeliling, orang-orang tengah menatapnya aneh. "Bawa gue pergi dari sini, please." Cowok itu menarik Clarisa menjauh sambil setengah tergelak. "Haid pertama ya?" tanya cowok itu, Clarisa mengangguk tak yakin. Langkah mereka terhenti, pemuda itu melepas jaketnya lalu melilitkannya ke pinggang Clarisa seraya berkata, "Pasti lo pikir rasa sakitnya itu lapar?" tebaknya dan dengan polosnya Clarisa mengangguk membuat cowok itu semakin tergelak. "Kenalin, gue Langit Bagaskara." Sejak saat itu cinta monyet Claris tumbuh semakin besar menjadi cinta kera. "CLARISA!" Teriakan itu membuyarkan lamunan Clarisa, didapatnya Maya yang sedang berdiri dengan posisi kaki melebar dan kedua tangan mengacak pinggang. Gadis itu menghampiri Clarisa dengan langkah lebar, Clarisa yakin Maya dari tadi mencarinya sampai berkeliling sekolah terbukti dengan keringat dan kerah seragamnya yang basah. Clarisa yakin Maya akan memberikan siraman rohani dadakan pada dirinya. Tapi tidak, yang ia dapatkan malah pelukan yang terkesan kasar diberikan Maya pada dirinya. Maya melepaskan pelukan seraya berkata, "Gue tau lo gak bisa nangis, biar gue yang gantiin." Kening Clarisa berkerut, ditatapnya Maya yang sekarang tengah menangis sesenggukan. Tak lama gadis itu tersenyum seraya terkekeh, mengelap air mata Maya dengan kedua tangan putih pucatnya. "Lebay lo, babi!" "Tangan lo kenapa lagi ini, astaga." "Kena giling," jawabnya asal. Maya menarik napas sebelum melancarkan aksi marahnya. "Lo kenapa begini sih, Ris! Gue dari tadi nyariin lo tapi gak ketemu-ketemu! b*****t emang lo ya!" maki Maya sambil mengelap wajahnya sendiri frustasi. "Gue kira lo diculik om-om," lanjutnya dan kali ini bercanda. "May, gue lebay banget ya hari ini?" tanya Clarisa, Maya menggeleng. Gadis itu bisa menangkap ke mana arah pembicaraan Clarisa, apalagi kalau bukan tentang Langit. Maya mengetahui masalah ini karena diberitahu Laras sedetail-detailnya dan membuat gadis itu meradang. Tanpa menilai siapa yang salah dan yang benar, Maya tiba-tiba mengamuk begitu saja di depan meja Fira yang untungnya hanya tinggal mereka berdua saja di kelas. Ya, meskipun dia tahu kalau Fira nggak salah sama sekali di sini. Tetap saja cewek baru itu harus diberi sedikit peringatan. "Clarisa suka sama Langit," ujarnya dingin. "Dari SMP." Jeda beberapa detik. "Gue gak ngelarang lo dekat sama siapapun termasuk Langit. Tapi gue peringatin, jangan di depan Clarisa." Fira terdiam. "Gue harap lo bisa diajak kerjasama. Kalau lo ngeyel, gue kasih tau aja kalau gue orangnya suka main kasar." "Aku gak bakalan macam-macam asalkan kalian mau ajak aku temenan." Kini Fira memberanikan diri untuk membuka suara, gadis itu tersenyum hangat sebelum melanjutkan kalimatnya lagi. "Aku suka sama sifat kalian, keliatan lucu banget." "Maksud lo apa?" "Orang-orang seperti kalian itu jarang banget bisa ditemuin. Dari pertama lihat kalian berdua aja aku udah suka lihatnya. Tipe-tipe sahabat yang bakalan berlangsung lama ya seperti kalian." Fira tersenyum manis. "Gimana?" "Gimana?" "Gila lo ya! Sama lo aja gue butuh setaun buat mikir, sekarang sama tuh cewek? Tiba-tiba gini? Setres lo!" Semprot Clarisa kesal. Maya sudah menceritakan semuanya. "Nambah temen baru gak masalah kali, Ris. Lagipula dia kelihatan anak baik-baik," ujar Maya. "Justru dia anak baik-baik gak bakalan etis kalau temenan sama kita yang jahat." "Nyadar diri juga lo akhirnya!" "t*i!" *** Kafe Mandala, pukul tujuh lewat tiga puluh. Di meja bundar berisikan tiga orang gadis dengan ekspresi wajah masing-masing. Diantaranya lengkap dengan senyum manis, tanpa ekspresi dan muka-muka tanpa dosa plus dengan cengiran khasnya. "Hai, Clarisa, Maya. Hehe, dimakan makanannya, aku yang traktir." Fira berucap Maya yang berseru senang. Jiwa melarat Maya meronta-ronta melihat yang gratisan, kata Maya mah yang begini langsung sikat aja. Clarisa berdecak. "Ini yang kata lo pertemuan penting? Buang-buang waktu!" Gadis itu melemparkan tatapan tidak suka pada Maya dan Fira, kedua gadis itu menelan ludah. Fira dengan kecanggungannya sedangkan Maya dengan napsu makannya yang sedang memperhatikan waitress meletakkan pizza pesanannya di meja. "Ehm, Ris. Kamu mau pesan apa?" tanya Fira hati-hati. "Serah." Maya berhenti menyuap, "Kalau makan malam Clarisa biasanya cuman makan dissert. Eh gak juga sih, dia makan apa aja yang penting manis," jelas Maya dan Fira mengangguk paham. "Kebetulan di sini menu dissert-nya rekomended banget, mau aku pilihin?" Maya yang mengangguk sedangkan orang yang ditawarin sibuk sama ponselnya sendiri. Fira memesankan makanan untuk Clarisa, sembari menunggu dia menatap kedua perempuan yang duduk bersebrangan dengannya. Gadis itu tersenyum, gak papa kalau Clarisa masih cuek dengannya karena Fira yakin mereka bisa dekat nanti. Jujur saja, di sekolahan dulu si cantik Fira tak mempunyai teman karena orang yang sering datang ke tempatnya hanya disaat mereka butuh bantuan dirinya saja. Dan keberadaan Clarisa dan Maya yang terlihat sangat mencolok di kelas membuat Fira tertarik. Terlebih saat tatapan Fira dan Clarisa sempat bertemu bertepatan dia menginjakkan kaki pertama kali di lantai kelas dua belas Bahasa Satu. Tatapan matanya tajam, bola matanya yang berwarna kecoklatan itulah yang membuat lawan tatap terasa terintimidasi. Fira sendiri sudah merasakannya. Tapi ada yang aneh, setiap Clarisa berbicara dengan Maya sorot matanya berubah menjadi sedikit bersahabat. Ah, Fira melupakan kalau Clarisa dan Maya memang sudah dekat sedari dulu. Laras yang menceritakan. "May lo jangan kek gembel deh, malu-maluin gue!" dengus Clarisa. "Sesekali melarat gak masalah." "Besok gue bayarin deh belanjaan lo. Komuk lo najis banget dilihatnya," hardik Clarisa. "Gue gak butuh duit lo, soalnya hasil ngepet. Dan tentunya gue gak sudi makan duit haram." "Yang nyuruh lo makan duitnya siapa? Sinting nih cewek!" "Ris biarin gue makan tenang napa sih!" Maya gemas sendiri setelah meladeni bacotan Clarisa. "Gue jijik lihatnya." Clarisa mendengus geli lalu memberikan ekspresi seolah Maya memang menjijikan di matanya. "t*i lo, Ris!" Setelahnya kedua perempuan itu tertawa. Dan ini yang Laras katakan penting. Katanya, lelucon mereka berdua itu saling menjatuhkan satu sama lain. Teman sekelas kalau mau ikut bercanda ujung-ujungnya makan hati doang makanya mereka berdua itu jarang bertegur sapa sama yang lain. Bukan dikucilkan hanya saja mereka mengaku nyalinya tak sebesar itu untuk menerima semua kalimat kasar yang diberikan dua manusia seperti Clarisa dan Maya. "Mau pizza, Fi?" tanya Maya, Fira mengangguk kalem dan Maya langsung meletakkan sepotong pizza ke piring gadis itu. "Makasih." Maya balas tersenyum. Pesanan Clarisa sampai dan gadis itu langsung mengambil mangkuk kecil berisikan puding dengan bertoping strobery yang sudah dipotong kecil-kecil di atasnya. "Sok gak mau lo," sindir Maya memasang senyum meremehkan. "Sesekali melarat gak masalah." Clarisa membalikkan kalimat Maya tadi hingga membuat Fira dan Maya tergelak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN