New Student

1995 Kata
Pukul sepuluh malam Maya sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Perempuan itu lalu masuk ke dalam, meletakkan sepatunya di dalam rak belakang pintu. Gadis itu berjalan pelan menuju kamarnya. Kamar Maya terletak di lantai dua, di bawahnya langsung terhubung dengan ruang tamu, otomatis suara tawa yang sempat mengusik dirinya terdengar begitu jelas di telinga. Perempuan itu mendapati orangtuanya sedang bercanda dengan ... Bila. Sempat heran, papa selalu sibuk saat Maya ingin quality time bersama orangtuanya. Tapi, saat ada Bila kenapa pria paruh baya itu selalu sempat. Apa Maya dan Bila sempat tertukar di rumah sakit? Maya menghampiri mereka dengan langkah lempeng, masih berdiri tepat di samping sofa single yang sedang diduduki papanya. Mama menyadari begitu pula Bila. "Baru pulang kamu, May? Lupa sama rumah kamu?" tanya mama dengan nada sinis, papa spontan menoleh. "Kamu itu perempuan seharusnya lebih ingat sama waktu. Ingat batasan, anak gadis gak baik pulang terlalu larut." Papa juga ikut menceramahi. Maya masih tak bisa berkutik, jujur, dia mau berada di posisi Bila yang sekarang. Di suapi mamanya kentang goreng. "Habis dari mana kamu?" lanjut papa bertanya. "Dari rumah Clarisa," jawab Maya seadanya. Kedua matanya fokus melihat mama yang sekarang sedang memainkan rambut Bila yang berada di pangkuannya. Deris-papa Maya, menyadari sorot tajam putri tunggalnya. Ada sedikit rasa sakit di dadanya saat menyadari tatapan penuh harap yang kentara sekali dari kedua netra Maya. Pria itu berdehem membuat konsen Maya terbuyar. "Kamu jual jam tangan kamu, May?" tanya Deris, Maya mengangguk. "Nanti Papa ganti sama yang baru." Maya tersenyum, lalu menggeleng pelan. Ditatapnya mata sang ayah, "Gak perlu. Maya masih bisa beli sendiri." Nada bicara Maya itu sama seperti Diana-mamanya, pedas dan sarkas. Mereka berdua itu meski memiliki kepribadian yang sama tapi seolah sulit untuk bersatu karena ulah sekat pemisah yang berada di tengah-tengah. Kedua wanita Deris itu sama-sama keras kepala dan tak terbantahkan. Deris sendiri sampai pusing memikirkannya. "Kenapa? Udah merasa kaya kamu?" Diana berkata sinis, sedangkan Bila sudah duduk sendiri sambil memakan kentang gorengnya. Maya mendesis pelan. Gadis itu memang tidak punya malu, bukannya tadi siang Maya sudah terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadirannya. Mnyebalkan memang. Maya mengabaikan, matanya menangkap sesuatu yang melingkar di pergelangan kiri Bila dan gadis itu langsung menyadarinya. "Aaaa, sweet banget. Pantes kalian mau ganti jam tangan aku, pasti lagi banyak duit 'kan? Sampe anak orang aja kecipratan." Setelah itu Maya pergi dengan ekspresi datarnya. Diana melirik Bila yang terlihat tak enak hati, wanita itu menyusul langkah putri tunggalnya yang sudah sampai di depan pintu kamar. Sedangkan Deris tak berkutik sama sekali. "Jangan kurangajar kamu, May! Kamu gak pernah nunjukin sopan santunmu sama sekali sama orangtua. Mau jadi apa kamu, hah?" Diana menghentikan langkah anaknya yang ingin masuk kamar dengan satu tarikan di rambut membuat Maya spontan menjerit kesakitan. Maya berusaha melepaskan cengkraman Diana di rambutnya dan terlepas, gadis itu menatap mamanya berusaha menahan tangis. "Giliran kepala anak orang dielus-elus, pas keanak sendiri dijambak. Mama pernah ngerti gak perasaan aku gimana?" Bila datang menghampiri, memang cari mati tuh betina. "Lo!" tunjuk Maya pada Bila. "Lo punya malu gak sih? Tadi siang gue kan udah bilang, langsung pergi dari rumah gue. Sadar diri kenapa sih? Dasar benalu!" Plak! Oke, ini sakit. Maya sudah terbiasa, jadi dia hanya tertawa. Ini namanya penyiksaan bukan didikan, jadi jangan salahkan Maya yang akan melampiasakan semua kemarahannya pada orang lain nantinya. Karena Maya bukan tipikal cewek yang akan melukai dirinya sendiri, dia terlalu sayang dengan dirinya sendiri. "Tampar lagi, Ma. Tampar terus sampe Mama puas," lirih gadis itu. Deris menghampiri dengan langkah terburu karena ruang tamu dan kamar putrinya berjarak lumayan. "Mama mau aku pintar, 'kan? Maaf gak bisa, karena aku gak bakalan sepintar Bila. Aku memang bodoh, Ma. Tapi masih punya hati, dengan Mama yang selalu banding-bandingin aku sama orang lain bikin aku drop. Sampe rasanya pengen mati aja biar cepat kelar ini hidup," ucap Maya panjang. "Kamu ngomong apaan sih, May. Udah sana tidur, jangan macam-macam!" gertak Deris. Maya mengabaikan, gadis itu masih menatap kedua mata mamanya yang enggan membalas tatapannya. "Kalau begitu seharusnya kamu sadar, May. Mama gak bakalan begini kalau kamu gak bandel kalau dibilangin. Coba kamu contoh Bila, dia rajin, baik dan tentunya pintar. Gimana Mama gak suka coba sama Bila." Diana kembali berucap lalu membalas tatapan putrinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Gimana, Bil, perasaan lo? Seneng gak dibelain sama ATM berjalan?" "Maya!" Emosi Diana yang mulai stabil kembali naik ke permukaan. Deris menatap putrinya seolah menyuruhnya berhenti dan mengalah saja pada sang ibu, tapi dia diabaikan. "Lo mau tidur di sini, 'kan, Bil? Mau make kamar gue gak? Nih gue kasih, gak papa gue tidur di kamar pembantu aja." "May ...." Tangis Bila pecah detik itu juga, sungguh, ia merasa harga dirinya selalu diinjak-injak oleh Maya. Diana langsung memeluk Bila dari samping dan membiarkan iris tajam itu menyorot pada putrinya. Maya terkekeh. "Diginiin aja nangis, coba lo ngerasa jadi gue, Bil. Di tampar, dimaki tiap hari auto gantung diri lo pasti." Deris meradang, tapi belum sempat melakukan apa pun karena Maya langsung masuk kamarnya begitu saja dan tentunya langsung dikunci oleh gadis itu. "Keterlaluan emang anak kamu itu, Pa. Kelakuannya makin hari makin menjadi, Mama udah gak tahan lihatnya," adu Diana. "Anak durhaka!" "Kalau gak tahan nanti malam pas aku tidur langsung ditusuk piso aja, pintu gak Maya kunci kok!" teriak Maya dari dalam kamar. Maya yang berada di dalam kamar langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja ke atas kasur, menangis dalam diam sampai ia kesulitan bernapas karena hidungnya tiba-tiba tak berfungsi untuk meraup oksigen lagi. Sekarang dia bahkan bernapas melalui mulutnya. Satu bahasa legen yang sering diucapkan Diana kalau batas kesabarannya sudah berada diujung tanduk. Bangsat! Dan Maya mengucapkannya sekarang dalam sekali teriakan. *** SMA Kencana pagi-pagi sudah seperti orang yang mau tawuran antar profinsi bahkan ributnya mengalahkan penumpang kapal dengan bayaran tiket standar. Ramai dan menyesakkan. Dan sekarang pukul delapan pagi suasananya kembali kondusif meski tak berlaku di kelas dua belas jurusan Bahasa satu. Kembali tenang saat yang ditunggu-tunggu datang dengan langkah gemulai tepat di samping pria paruh baya berambut setengah dengan tampang sangar. Sungguh tidak elegan sekali, yang satunya bening yang satunya kering dan keriput. Suatu kombinasi yang menyeramkan. Pak Dodi lebih tepatnya wali kelas anak Bahasa Satu duduk di kursi guru seperti biasa, di sampingnya ada seorang perempuan berwajah kalem sedang berdiri dengan posisi yang terlihat sangat lucu. Tinggi yang tak seberapa, kulit putih bersih, tatanan rambut terlihat sangat rapi dan hazelnya yang sangat cantik. Wajah perempuan itu berbentuk oval membuatnya semakin lucu. Sudah seperti berasa melihat barbie hidup. "Selamat pagi semuanya," sapa pak Dodi setelahnya berdehem. "Jadi kita kedatangan murid baru, dia pindahan karena ikut orangtua kerja. Bapak harap kalian bisa membuatnya nyaman di sini. Nak, kamu bisa memperkenalkan diri." Perempuan itu mengangguk canggung, "Perkenalkan aku Selfira Kanya, kalian bisa panggil Fira. Salam kenal dan semoga kita semua bisa berteman." Para cowok langsung ribut meski tak berlangsung lama karena dipelototin sama pak Dodi. Tapi suara bisik-bisik tetangga yang diciptakan anak-anak masih bisa terdengar jelas di pendengaran meski dengan suara kecil sekali pun. Di antara mereka ada yang mau minta nomor, nanya punya pacar apa belum, seleranya seperti apa, pindahan dari mana, mau nikah mudah gak. Dan banyak lagi kalimat receh yang diucapkan para cowok di kelas. Beda lagi kalau yang cewek ngomong. "Cantik sih, tapi menor." "Mukanya mirip sama pemain bokep Jepang sumpah!" "Skincarenya jenis apa ya?" "Matanya rasa-rasa pengen gue colok!" "Lubang hidungnya besar banget kek terowongan." "Ada korengnya gak ya tuh cewek?" "Mukanya caper banget asli!" Dan masih banyak lagi. "Silahkan duduk di samping Laras, Nak. Dan yang namanya Laras tolong angkat tangan." Fira mengangguk lalu menuju kursinya setelah Laras mengangkat tangannya dengan senyuman. Ketahuilah posisi mereka saat ini berada tepat di belakang dua gadis remaja yang lumayan berbahaya, Clarisa dan Maya. Kedua perempuan itu tampak acuh dengan kehadiran si murid baru, terlebih Clarisa. Padahal semenjak kehadiran Fira namanya selalu disebut-sebut, yang bilang saingan Clarisa akhirnya ada lah, yang bilang lebih cantikan si Firalah daripada dirinya dan yang lebih parah ada yang bilang begini pada Clarisa saat gadis itu selesai dari toilet. "Gak takut kesaing lo, Ris, sama anak baru? Kalau niat nyingkirin, panggil gue aja. Anita anak IPA 2." Gila memang! Mereka pikir Clarisa peduli apa? Enggak! Buang waktu! "Hay salam kenal ya." Fira berusaha menyapa kedua perempuan di depannya yang sedari tadi diam. Maya menoleh dengan ekspresi datar, membuat Fira merasa canggung oleh tatapannya. "Gue Maya, yang paling cantik di sini," ujarnya lalu terkekeh. "Salam kenal kembali." Gadis itu tersenyum membuat Fira juga ikutan tersenyum. Kata Laras barusan dua gadis di depannya sedikit kasar tapi setelah ia lihat secara langsung tidak sesuai yang dikatakan Laras tadi. Padahal Maya cuman jaga image sama murid baru! Fira kembali tersenyum canggung, kedua matanya melirik cewek satunya lagi. Maya peka makanya dia langsung menyenggol tangan Clarisa membuat empunya juga ikutan menoleh. Sorot mata tajam yang Clarisa tunjukkan membuat Fira sedikit sulit menelan ludahnya sendiri. Tatapannya begitu dalam dan mengintimidasi, meski begitu Fira berusaha untuk menahan senyumnya agar tak terlepas dari bibirnya. "Nama kamu siapa?" tanyanya. "Clarisa." Maya yang menjawab. "Dia bisu," sambungnya membuat Laras tergelak, tak lama setelah mendapati mata Clarisa yang meliriknya tajam. Fira sendiri terkejut, dia masih belum paham. Dengan inisiatif Laras berusaha menjelaskan. "Dia Clarisa tapi gak bisu kok, cuman jarang ngomong aja," jelas gadis itu. Setelahnya Clarisa kembali berbalik ke posisi semula membuat Fira membatalkan niatnya yang ingin bertanya lagi. Maya juga berbalik karena mendengar instruksi dari pak Dodi yang menyuruh anak muridnya membuka buku pelajaran. "Laras, Clarisa cantik banget ya," bisik Fira. Laras mengangguk, "Tapi galak. Lo jangan berani cari masalah sama dia." Setelahnya Laras memberi peringatan membuat Fira langsung sadar kalau Clarisa itu sesuatu yang membuatnya ingin berteman dengan Clarisa dan membuang rasa takutnya jauh-jauh. Karena Fira ingin mempunya sahabat berwatak seperti Clarisa, menurutnya itu seru. *** Bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu tapi keadaan kelas gak sepi-sepi banget. Ada yang fokus mencatat materi di papan tulis, ada yang sibuk mengobrol, tidur, bahkan push rank di pojok kelas sambil tiduran dengan beralaskan sarung, entah siapa yang membawanya. Sedangkan topik pembicaraan tentang murid baru sudah hilang, mungkin mereka bosan sendiri. Clarisa tidur dengan melipatkan kedua tangannya sebagai tumpuan di atas meja, dia sedang badmood hari ini. Clarisa memang tipe cewek moodyan dengan kadar terparah yang pernah ada, biasanya kalau sudah seperti ini dia mau menonjok orang. Karena sedang di lingkungan sekolah ia masih bisa menahan tangannya. Maya sendiri sedang antri di kantin, beli jajan. Dia hapal betul kalau penyakit pemalas Clarisa kambuh cewek itu akan diam di kursinya berjam-jam. Daripada mengikuti Clarisa dan berakhir tragis karena kelaparan lebih baik dia makan di kantin. Nanti pas balik Maya pasti beli yogurt, setidaknya hanya minuman itu yang bisa sedikit mengembalikan mood Clarisa. Clarisa diam, dia berusaha untuk tidur tapi sulit karena manusia di belakang ribut banget. Cewek itu membalikkan tubuhnya, "Suaranya pelan dikit bisa?" Yang tadinya rame sekarang jadi sepi karena gak mau cari masalah sama Clarisa, Fira yang berada di bangku nomor dua pojok kiri karena sedang berbincang-bincang dengan temannya mengamati sosok Clarisa dari sana. Clarisa sosok perempuan yang sangat berpengaruh sejauh ini yang Fira lihat secara langsung. Gadis itu tersenyum lalu melanjutkan perbincangannya kembali yang sempat terhenti. Ramai, sepi, dan kembali ramai membuat Clarisa mendecak kesal. Gadis itu mengangkat kepalanya kasar, mau marah tapi ia urungkan saat kedua matanya menangkap jelas sosok Langit yang tiba-tiba datang ke kelasnya. Jantung gadis itu berdegup kencang, darahnya berdesir seperti aliran got yang tertimpa air hujan, cukup deras membuatnya mati rasa. Moodnya langsung bagus setelah melihat Langit. Ck! Bucin. Jantung Clarisa berirama dengan cepat setelah Langit berjalan tepat ke arahnya, bukan pede tapi Clarisa rasa Langit memang mau mendatanginya. Meski terkejut karena kehadiran Langit di kelasnya terkesan mendadak, karena memang Langit tak pernah masuk kelas anak jurusan lain tak membuat gadis itu berhenti menatap cowok itu. Sudut bibirnya tertarik membentuk kurva kecil. Tak lama. Hanya sebentar senyum itu terpatri di bibir ranumnya saat Langit melewatinya begitu saja. Iya, melewatinya begitu saja seolah keberadaan Clarisa tak tampak di depan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN