TEENAGERS

2225 Kata
Maya melangkah malas menaiki anak tangga di rumahnya, tas sekolah bahkan ia seret seperti membawa koper. Jaket yang Clarisa beri tak melekat di badannya lagi melainkan melilit di pinggangnya. Baru sampai anak tangga ke lima langkahnya malah terhenti saat sebuah suara menginterupsi di bawah. Gadis itu berbalik lalu menoleh malas, Mama. “Masih ingat rumah juga kamu, May? Mama kira kamu punya cukup malu buat gak kembali lagi ke rumah.” Kalimat itu sempat membuat darah Maya mengalir lebih cepat, tapi dia pintar menyembunyikan ekspresinya. “Nanti, tunggu aku punya banyak duit. Gak usah ditunggu bakalan kabur sendiri,” balas Maya dengan tampang datar. “Kenapa gak sekarang sih?” Mama itu keras kepala, biar dia salah tetap saja nggak mau mengaku. Egonya terlalu tinggi di depan anak. Padahal Maya cuman pengen diperhatiin, gak lebih. Maya cuman Mamanya sadar kalau anaknya sering tertekan saat dibanding-bandingkan dengan Bila atau saat mendengarkan kalimat sarkas yang keluar begitu saja dari mulut sang mama. Jujur, Maya sakit hati. “Aku capek, mau istirahat.” Maya berbalik lalu melangkahkan kakinya kembali menuju kamar. “Bila aja belajar gak pernah tuh bilang capek. Kamu yang kerjaannya keluyuran doang capek.” Mama sedikit berteriak biar anaknya dengar, padahal Maya masih bisa mendengar jelas meski suaranya pelan. Untuk sekarang dia bodo amat. Gak peduli, mau tidur pokoknya! “It's up to what mama says.” Jika ditelaah niat mama sebenanya baik buat Maya, dia mau anaknya itu belajar biar gak bodoh-bodoh banget. Tapi caranya salah bagi Maya, tiap hari topik yang dibicarakan selalu saja membahas nilai Bila yang memuaskan. Sesekali kek tanya kegiatan Maya apa aja di sekolah, ini boro-boro ditanyain, yang ada cuman dihina. Makanya dari dulu sampai sekarang Maya gak pernah ada niatan cerita apa pun masalahnya pada orangtua, kecuali membahas tentang duit. Dulu sih Maya pernah cerita tentang sekolahnya pas dia jadi salah satu petugas upacara yang berakhir tragis karena pingsan. Mau tau apa jawaban orangtuanya? “Kamu, May, May. Baru segitu aja udah nyerah, kalau gak niat sekolah bilang. Biar berenti sekalian. Orangtua nyari duit gak gampang asal kamu tau.” Padahal Maya berharap orangtuanya bakalan lebih peduli, eh taunya malah bikin tambah sakit hati. Sejak saat itu Maya trauma buat cerita sama keluarga sendiri. Dia lebih baik memendam semuanya kalau udah gak sanggup paling cerita sama Clarisa. Maya membaringkan badannya di kasur setelah mengganti pakaiannya. Ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk, gadis itu tengkurap untuk mengecek ponselnya. Dancok! [Assalammuallaikum ya ahli kubur.] [Sialan] [Salam gue dijawab dong ay] Maya menjawab salam dari pengirim pesan dari dalam hati, gak dosa kan kalau gak diketik? [Jjk bgst] [Kalem dong sensi amat lo sama gue.] [Srh gw] [Eh may ... gue mau ngetik panjang nih. Jangan lo blok dulu yee.] [Y] Maya menunggu kali ini biasanya mah ogah. Soalnya si pengirim pesan typingnya aja ganteng, bikin dia dag dig dug. Lama menunggu tapi tak ada suara notif masuk sama sakali, setelah dicek, ‘kan dancok! Aktif lima belas menit yang lalu, sialan. Mood Maya tambah buruk sekarang. Perempuan itu memilih menelepon Clarisa. Tiga panggilan tak terjawab hingga panggilan keempat baru diangkat. “Lama amat lo ngangkatnya!” kesal Maya. “Gue lagi berak.” “Biasanya bawa hape juga!” “Biar konsen.” “t*i lo!” “Ini lagi dikeluarin.” Maya berteriak kesal sedangkan Clarisa tertawa di seberang telepon sana. Maya marah karena dia tau kalau Clarisa tidak sedang bab, dan benar Clarisa tidak melakukannya. Cewek bule itu sedang menonton drakor, alasannya tidak mengangkat telepon Maya dengan cepat ya dia sengaja saja. Lagipula Maya sudah mengganggu waktu santainya. “Lo tau gak?” “Gak.” “Makanya dengar dulu anjing!” “Selo kali babi!” “Kemal ngechat gue lagi.” Gadis itu menghela napas, lelah. “Ya terus?” tanya Clarisa santai. “Gue mau move’on jadi susah,” rengek Maya. “Alay lo kambing! Tinggal blok aja nomornya napa sih? Heran gue, punya otak tuh dipake bukan buat dipajang doang.” “Bukan ini yang mau gue denger, lo mau bikin gue tambah depresi hah?!” balas Maya sewot. “Lo berdua gengsinya ketinggian. Kalau gak ada yang ngalah percuma, gini-gini aja hidup lo.” “Tap—“ “Gue gak konsen mau nonton. Kalau mau lanjut ke rumah aja.” “Syalan!” Meski begitu Maya tersenyum setelah telepon dimatikan Clarisa sepihak. Clarisa itu sesuatu, dia selalu ada saat Maya butuh. Dan dia selalu bantu Maya semampunya, gak pernah tuh Clarisa bilang enggak kalau Maya lagi butuh bantuan. Clarisa selalu bilang, “Ya bakalan gue usahain.” Makanya Maya awet temenan sama Clarisa begitu pula sebaliknya. Mereka berdua itu saling membutuhkan, jadi sepadan. “May buruan turun, kita makan. Ada Bila nih nungguin, katanya mau belajar bareng!” teriak mama dari lantai bawah. Jika begini Maya mau pergi ke rumah Clarisa saja, perempuan itu bersiap-siap. Setelah selesai ia turun ke lantai bawah dengan tergesa-gesa, menghampiri mamanya dan Bila. “Aku mau ke rumah Clarisa, Ma. Malam keknya pulang,” ujar Maya meminta ijin. “Kamu gimana sih, di rumah udah ada Bila masih aja ke tempat orang,” omel mama. Maya nampak acuh. “Clarisa bukan orang, Ma.” “Tapi setan,” lanjut gadis itu dalam hati. “Yaudah nanti aja bisa, ‘kan? Mama mau kamu sama Bila belajar bareng di rumah. Lagian seharusnya kamu bersyukur ada yang mau ngajarin, ingat, May, gak lama lagi kamu ujian. Gak takut kamu gak naik, hah?” “Mana bisa aku konsen kalau belajarnya sama tuh orang.” Maya menunjuk keberadaan Bila menggunakan dagunya, Bila terlihat sedikit tersinggung. “Aku sakit hati lo, May,” ujar gadis itu berniat bercanda. “Sejak kapan lo punya hati? Miris gue lihatnya.” “Niat aku baik loh, May, mau ngajarin kamu biar kita bisa lulus bareng-bareng.” “Nggak usah keseringan cari muka depan orangtua gue. Kalau mau minta bayarin duit sekolah minta sama orangtua lo sendiri kalau gak kerja sana. Dan asal lo tau, gue bisa lulus tanpa bantuan lo!” sarkas Maya. “Bila gak pernah minta ya, Mama sama papa yang niat bantuin.” Seperti biasa Mama selalu membela anak orang. “Nolong sih nolong, Ma. Tapi biasain tolong anak sendiri dulu. Jangan demi bayar uang praktek anak orang, Mama sama Papa ngorbanin duit SPP Maya. Di sini anak kalian siapa sih?” “Maya! Kamu jangan kurangajar ya ngomong begitu.” “Faktanya loh, Ma. Dan asal Mama tau Maya sampe jual jam tangan buat bayar SPP bulan kemarin.” Kedua mata Maya beralih menatap remeh Bila. “Bil, gue yang anak mereka aja usaha buat bayar sekolah padahal punya orangtua yang mampu. Lo gimana kabarnya? Yang gue heranin tanggung jawab orangtua lo ke mana sih hilangnya?” lanjutnya seraya tersenyum sinis. “Maya aku mohon, udah, maafin aku kalau udah bikin kamu repot.” Bila memasang tampang ingin menangis, mama jadi panik sendiri. “Masalah SPP kamu Mama lupa. Tapi kalau kamu mau ingatin gak gini juga caranya, kasihan Bilanya, May. Orangtuanya lagi kesusahan masalah ekonomi, seharusnya kamu paham itu.” Bukan ini jawaban yang Maya inginkan, sekarang mama bikin Maya tambah kecewa. “Ck! Begitu berpengaruhnya lo di rumah gue, Bil. Gue harap pas pulang nanti malam gue gak lihat muka lo di sini, pulang ke habitat sana. Dengan lo terus-terusan di sini jangan salahin gue nanti malah nganggap lo benalu.” “Maya! Jaga ya ucapan kamu. Masalah jam tangan nanti Mama ganti. Omongan kamu itu menjatuhkan orang lain. Jangan bikin Bila tertekan di sini!” teriak mama murka. “Tapi Mama gak pernah ngertiin posisi aku di sini!” Andai Maya bisa berkata seperti itu, andai. Tapi dia tak cukup punya keberanian hingga kalimat itu hanya bisa ia ucapkan dalam hati. “Udah, Ma. Bye!” Maya setengah berlari ke luar dari rumah membiarkan mamanya mengumpati dirinya dengan bahasa kasar, sudah biasa. *** Sebelum ke rumah Clarisa, Maya mampir dulu ke indomaret terdekat buat beli makanan ringan yakali beli batako sama semen. Perempuan itu lagi berbaik hati untuk menjajani si bule Clarisa, entah dapat hidayah darimana dia. Sedang sibuk memilih makanan di rak-rak yang sudah tersusun rapi di depannya, tiba-tiba kedua matanya malah menoleh sekilas ke samping kanan. Maya menyadari sesuatu, siluet yang sempat tertangkap oleh netranya seperti familiar. Buru-buru cewek itu kembali menoleh, dan benar dugaannya kalau dia mengenali sosok tersebut. Kemal Dirgantara, lelaki yang sudah menghabiskan banyak waktu bersamanya. Lelaki yang sering mengisi hari-harinya dengan senyuman dan lelaki itu juga yang merebut paksa senyuman tersebut. Dia, pemuda b******k yang sudah memporak-porandakan hatinya. Dia, pemuda yang berusaha Maya benci meski tak bisa. Dan dia juga pemuda yang membuat Maya masih jomblo sampai sekarang. Dan sekarang keberadaan cowok itu kembali membuat hati Maya tiba-tiba terasa sakit. Ini yang katanya mau mengetik kalimat panjang? Ditunggu-tunggu tak ada balasan, eh taunya malah dua-duaan. Kemal berdiri sambil mendorong troli sedangkan di depannya ada perempuan cantik yang sedang memilih-milih belanjaan. Mereka berdua terlihat serasi, Maya tak bisa memungkiri. Dua manusia good looking sedang berjalan bersama, siapa sih yang gak iri? Tak mau ambil pusing gadis itu segera mengakhiri kegiatannya, buru-buru dia membayar semua belanjaannya di kasir. Kalau terus-terusan di tatap bisa sakit mata dia dan Maya tidak ingin itu terjadi. Maaf saja ya, dia gak level kalau iri masalah begituan. Cowok di luaran sana banyak. Tapi cuman Kemal yang beda. Oh s**t! Maya memacu mobilnya dengan kecepatan normal meski ia sudah tak sabar ingin berbaring di kasur Clarisa secepatnya gadis itu masih memikirkan keselamatannya sendiri. Niatnya mau mengistirahatkan otaknya sejenak, dirinya butuh ketenangan dan di rumah Clarisa ia mendapatkan itu semua. Jujur saja, meski Clarisa itu b**o dia adalah teman yang baik. Selalu mengerti dirinya dan meskipun Clarisa itu juga bodoh sama sepertinya, mereka berdua akan selalu tetap kompak. Otak mereka encer kalau masing-masing punya keinginan untuk belajar, beda lagi kalau salah satunya udah malas pasti satunya juga ikutan malas. Satu yang Maya ketahui tentang Clarisa, meski di depan orang lain perempuan itu selalu bersikap angkuh, sombong, atau pun belagu, faktanya Clarisa itu adalah gadis yang manis dan baik hati. Wajah tanpa ekspresinya memang sudah melekat di wajahnya secara permanen, sulit untuk di rubah di tambah lagi Clarisa itu jarang senyum jadi bukan salah orang lain kalau mereka menilai Clarisa gadis yang cuek. Setelah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi di kediaman yang mulia Clarisa, Maya langsung masuk begitu saja ke rumah. Dia sudah terbiasa lagipula mama Clarisa biasa saja, malah dia yang menyuruh agar Maya tak sungkan. “Bun, Clarisanya ada, 'kan?” tanya Maya pada Luna saat tak sengaja berpapasan. “It's in the room, Dear. Samperin aja.” Maya mengangguk lalu pergi menyusul Clarisa setelah meminta ijin. Maya gak munafik, Clarisa benar-benar cantik sama seperti ibunya. Luna yang berasal dari Kanada membuat Clarisa dan Syela terlahir dengan wajah buleable sama seperti ibunya. Dua kakak beradik itu benar-benar sangat mirip dengan ibunya, yang sedikit berbeda hanya Clarisa. Luna dan Syela sama-sama mempunyai jiwa hangat, siapa yang berada di dekat mereka pastinya akan merasa nyaman. Berbeda dengan Clarisa yang tak memiliki aura yang ramah sama sekali, kalau ada orang yang berada di dekatnya mana bisa merasa tenang melainkan merasa terintimidasi. Sorot mata Clarisa tajam sama seperti ayahnya—Nathan. Sifat mereka berdua pun sama, sama-sama kasar dan tak berperasaan pada orang yang sudah berani mengusik kehidupannya. Clarisa yang berada di dalam kamar terlonjak kaget saat Maya menggodor pintu kamarnya seperti orang penagih hutang. Cewek itu mengelus dadanya lalu menarik handle pintu kasar untuk mempersilahkan mutan di depannya masuk. “Bertamu tempat orang sopan dikit wahai manusia. Remember to die if you can.” Bahasa Inggris Clarisa kumat berarti dia sedang kesal atau pun marah. Dan Maya tau betul itu. Tapi Maya mengabaikan omelan Clarisa, cewek itu membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan kedua tangan ia jadikan bantal. “Warna cat kamar lo bikin bosen, daur ulang sana! Eh gue lupa, gada duitnya pasti,” kritik Maya pedas tanpa menoleh pada si empunya kamar yang sekarang sudah duduk di meja belajarnya untuk melanjutkan drakor yang sedang ia tonton. “Netizen kek lo seharusnya dibom pake nuklir sekalian biar mampus!” balas Clarisa tak kalah pedas. “Kamar lo juga sempitan, dibesarin kenapa? Butuh duit berapa sih? Sini gue bantu bayarin.” “Duit gue banyak, saking banyaknya sampe gue bakar gara-gara bingung cara ngabisinnya gimana.” Bukan Clarisa namanya kalau gak sok-sokan. “Ini juga, lemari udah reyot gini gak ada niatan ganti gitu? Jangan kek orang susahlah, Ris. Kalau butuh bantuan ngomong.” “Gue udah pesen lemari lapis emas seratus karat, paling gak besok nyampe.” “Anjirlah.” Maya tertawa begitu pula Clarisa. Sialnya memang beginilah cara mereka bercanda, saling menjatuhkan. Makanya teman-teman di kelas jarang mau ikut nimbrung karena biasanya dua remaja itu selalu melontarkan lelucon yang bisa bikin mental down. Daripada makan hati lebih baik menghindar terlebih dahulu. “Wah banyak nih makanan, sabi lah bagi,” ujar Clarisa setelah menyadari satu kantong kresek berukuran sedang berisikan makanan di samping Maya. Bau-bau gratis sih ini namanya. “Sampah masyarakat,” balas Maya pedas menyindir Clarisa saat perempuan itu beringsut mendekatinya. Bukannya marah Clarisa malah mengedipkan matanya membuat Maya mendengus geli. “Gelay!” “Pergi lo dari rumah gue!” usir Clarisa dengan tampang serius aslinya mah bercanda. Maya terkekeh. “Kasih Syela sana,” suruh Maya. “Nanti aja, gampang.” “Serah lu, Udin!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN