Bertemu Pria Masalalu
“Nona Leona ya?”
Deg! Suara itu? Leona langsung mendongakkan kepalanya dan matanya membulat sempurna setelah melihat melihat Alex Rayden duduk di bangku itu. “A––Alex?” batin Leona.
Bagaimana bisa seorang mantan kekasihnya yang pernah menyakitinya dulu bisa duduk di jabatan ini?
Apa pria itu Alex?
Beberapa pertanyaan muncul di dalam benaknya. Dia melihat tanda tahilalat kecil yang berada di kanan keningnya.
Leona sempat terdiam, ternyata benar pria itu Alex. Tapi, kenapa dia tidak mengingatnya? Apa ada masalah dengan pria tersebut?
“Silakan duduk,” suruh Alex sopan.
Leona menuruti ucapan pria itu barusan dan duduk di hadapan pria itu. Matanya terus menatap lekat Alex. “Apa dia benar-benar tidak ingat aku?” batinnya heran.
“Nona Leona? Apa kamu baik-baik saja?”
Leona menyadarkan lamunan dan mengangguk pelan. “I–iya, Mr.”
“CV kamu sangatlah sangat cantik,” kata Alex sembari melihat berkas yang sudah berada di meja kerjanya. “Dari siapa kamu tau kalau perusahaan saya mencari karyawan? Apa kamu tidak minat dengan pekerjaan lainnya atau di perusahaan lain?” tanya Alex layaknya bos di sana.
“Astaga, kenapa Alex begitu keren saat menjadi bos seperti ini?” batin Leona masih belum fokus.
“Nona Leona?”
Leona menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan lamunannya kembali. Astaga, seharusnya dia sadar kalau dia di sini hanya melamar pekerjaan saja.
“Terimakasih Mr sebelumnya. Jadi ... tentang informasi tentang perusahaan Mr butuh seorang karyawan saya tahu dari sosial media. Jadi saya langsung mencari informasi tentang perusahan Mr dan juga mencoba untuk mengirim CV dan mencoba bekerja ke perusahaan ini Mr.”
Alex hanya mengangguk kecil. “Buat apa kamu kerja di sini? Kamu bisa apa saja?”
Pertanyaan itu membuat Leona terdiam mematung sejenak.
“Terimakasih sebelumnya Mr. Saya di sini untuk mencari pengalaman kerja, dan sepertinya perusahan Mr bisa menerima saya di sini. Untuk pengalaman saya bisa sudah mengikuti beberapa seminar di kampus dan juga di luar untuk mengasah kemampuan saya di bidang desain. Bukan hanya itu saja, saya juga pernah magang di salah satu gedung dan praktek untuk membuat desain grafis di sana.”
Alex sepertinya sudah mengerti saat melihat CV-nya itu. “Apa kamu benar-benar ingin kerja di sini?”
Leona mengangguk cepat. “Sangat, karena saya membutuhkan uang untuk kebutuhan saya dan juga perusahaan Mr butuh karyawan. Jadi, saya harap saya bisa masuk ke perusahaan Mr.”
“Kalau boleh tahu, kamu ingin gaji berapa kalau di terima di perusahaan ini?”
“Kalau bisa banyak sih,” batin Leona. Dia kemudian menjawab. “Untuk itu saya sudah membaca beberapa artikel yang berada di internet. Kalau di sini akan dibayar sepuluh juta per-bulan? Dan semoga saja pihak perusahaan akan membayar apa yang ada di ketentuannya Mr," jelas Leona dengan santai.
Alex hanya menghembuskan napasnya pelan. “Baiklah, saya akan menyeleksi siapa yang akan masuk ke dalam perusahaan saya. Dan saya berterimakasih sudah ikut serta dalam interview di perusahaan saya. Nanti saya akan memberitahu di email yang sudah kamu masukkan di berkas kamu dan semoga kamu adalah salah satu orang yang beruntung,” ucap Alex.
Leona menyunggingkan senyumannya di sana, meskipun jantungnya terus berdetak tanpa jeda.
“Kalau begitu kamu bisa keluar,” ucap Alex, kemudian beranjak dari tempat itu.
“Akhirnya, bisa keluar juga dari ruangan Alex,” batin Leona.
Wanita itu menghembuskan napas lega, dia beranjak dari tempat duduknya itu. Rasanya kaki yang berada di lantai sangat susah untuk melangkahkan keluar. “Astaga, kenapa susah sekali untuk keluar sih?” batinnya.
“Kenapa masih di sana?”
Leona menoleh dan menggaruk tengkuknya kikuk. “Engh– anu–– itu Mr.”
Alex menautkan alisnya. “Kenapa?”
“Apa Mr tidak kenal saya?” tanya Leona spontan sembari menunjuk ke dirinya sendiri.
Alex terdiam, seakan tidak tahu apa-apa di sana. Leona ikut terdiam, apa dirinya salah bertanya? Astaga, seharusnya dia tidak bertanya seperti itu!
“Kenal? Kamu? Apa kamu tidak bercanda?” kata Alex sembari menyunggingkan senyuman miris di bibirnya.
“Sialan! Maksudnya apa dia menyunggingkan senyuman seperti itu?! Awas saja kamu Alex! Habis ya nanti?!” batin Leona sangat kesal. Dia terus memainkan jari-jarinya di bawah sana, pipinya memerah. “Apa yang harus aku katakan! Astaga! Wajahku mau di taruh di mana!?” gumam Leona dalam hati.
Leona menggelengkan kepalanya cepat, dia meringis kecil. “M--maaf Mr, sepertinya saya salah orang," alibinya.
Alex mengangguk paham. “Oh ya? Kamu bisa mulai bekerja mulai besok dan menjadi leader di grup. Saya harap kamu tidak menyia-nyiakan waktu ini.”
Leona menerjapkan matanya kikuk. “Besok? Apa itu tidak terlalu cepat? Kata Mr tadi––”
“Ini kesempatan bagus untukmu Nona. Saya percaya padamu.” Alex menyunggingkan senyuman di sana.
Leona menghembuskan napasnya pelan dan mengangguk kembali. “Baik Mr, saya akan memakai waktunya dengan baik, Mr. Terimakasih sudah menerima saya,” kata Leona sembari menundukkan sopan dan tersenyum ramah di hadapan Alex.
Alex hanya tersenyum simpul pada wanita itu. Pria itu terlihat melihat jam tangan. “Saya harus bekerja, kalau kamu mau melihat-lihat kantor. Kamu bisa meminta tolong sama sekretarisku. Nanti saya bilang sama dia buat temani kamu,” kata pria itu sopan.
Ah, yang benar saja. Sepertinya pria itu benar-benar ingin mengambil untung darinya dan berpura-pura melupakan dia. Tapi, ya sudahlah. Lagipula kalau di tolak sayang sekali bukan?
“Baik, Mr. Sekali lagi terima kasih,” ucap Leona sekali lagi.
“Saya duluan,” kata pria itu sebelum meninggalkannya di sana.
Leona sempat tercengang melihat pria itu tersenyum padanya. Dia memegang dadanya, jantungnya kini berdebar kembali.
“Astaga, kenapa jantungku berdebar saat lihat dia tersenyum seperti itu padaku?” gumamnya. Dia menggelengkan kepalanya untuk menepis apa yang dilihat barusan.
“Tidak ... Aku tidak boleh suka sama pria jahat seperti dia. Tidak untuk kedua kalinya. Dia pasti berpura-pura tidak ingat sama aku,” desisnya, kemudian dia melangkahkan kakinya di sekitar koridor kantor tersebut.
“Nona Leona?”
Leona menghentikan langkahnya saat ada yang memanggilnya dan menoleh ke sumber suara tersebut. Ternyata wanita yang berada di ruangan Alex tadi, dia melihat ke belakang wanita tersebut. Tidak ada keberadaan Alex di sana. Pasti pria itu menyuruh sekretaris ini untuknya.
“Ah iya, perkenalkan. Nama saya Agnes, sekretaris Mr. Alex Radyen. Salam kenal,” kata Agnes sembari membungkukkan kepalanya sopan.
Leona tersenyum simpul.
“Mari ikut saya.” Agnes berjalan terlebih dahulu dan dia pun mengikutinya dari belakang wanita itu.
Wanita itu melihat sekitar kantornya dan berakhir di salah satu ruangan yang berisi beberapa manusia di sana. Ternyata ada beberapa yang melihat ke arahnya heran. Namun, Leona hanya tersenyum simpul kepada mereka.
“Ini ruangan kamu nanti. Kamu akan bisa ganti jabatan setelah hasil kerjamu bagus. Dan seperti yang dibilang Mr. Alex. Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini dan tetap menjaga attitude Nona. Oh ya, guys! Ada teman baru buat kalian. Dan besok dia akan bekerja sama dengan grup kalian.”
Mereka memandangnya terus. Sehingga membuat nyali dia menciut. Leona tersenyum kecil, sebelum berbicara. “H–hai,” sapa Leona sembari tersenyum kecil.
Leona melambaikan tangannya. “Saya Leona, semoga kalian bisa bekerja sama dengan saya, ya. Salam kenal semua.” Wanita itu membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat agar terkesan sopan dan tersenyum simpul pada mereka.
Mereka hanya mengangguk kecil. “Baik, Bu,” ucap mereka serempak.
“Oh iya, Nona Leona. Nanti bangku kosong itu adalah tempat kerja kamu.” Agnes menunjuk bangku kosong yang di sebelah wanita yang sedang memainkan ponselnya.
Leona melihat apa yang ditunjuk oleh Agnes. Lalu mengangguk kecil.
“Semoga kalian bisa bekerja sama dengan Leona. Saya tidak ingin kalian ada cekcok diantara kalian,” jelas Agnes.
Leona tersenyum lebar. Sepertinya semuanya welcome akan kedatangannya. Namun, dia terfokuskan dengan wanita yang berada di sampingnya itu. Nampak cuek, sepertinya dia nanti tidak akan bisa berteman baik dengan dia.
“Kalau begitu, kami pergi dulu. Lanjutkan pekerjaan kalian,” kata Agnes.
Agnes mengkode Leona untuk melanjutkan berjalan melihat sekitar kantor.
Setelah lama dia menjelajah kantor ini, akhirnya dia memutuskan untuk duduk dan membuat coffe di dapur. Bukan dia berani untuk membuat secangkir minuman di sana. Memang sebelum Agnes pergi, dia menyuruhnya untuk beristirahat sejenak di sana dan akhirnya dia membuat minuman untuk dirinya sendiri.
Namun, saat wanita itu mau melangkah ke kursi. Tiba-tiba saja ada yang menabraknya sehingga membuat dia shock. Sebuah pakaian orang tersebut terkena coffenya.
“Astaga, m–maaf,” ucap Leona buru-buru meletakkan coffenya itu dan mengambil sapu tangan di tas selempangnya untuk membersihkan pakaian wanita tersebut.
Namun wanita itu menepis tangannya dengan kasar.
“Kau punya mata tidak sih!” bentak wanita itu dengan nada keras.
Leona mengerjapkan matanya melihat wanita cuek itu. Padahal baru saja dia disini sudah mendapatkan teguran dari wanita cuek ini.
“S––saya tidak sengaja, saya minta maaf,” kata Leona merasa bersalah.
“Apa dengan cara minta maaf kau bisa mengganti pakaian mahalku ini hah!” bentak wanita itu lagi.
“Ada apa ini? Crystal?” tanya seorang pria yang baru saja turun.