Pelangi 2

2002 Kata
Seseorang laki-laki berjalan cepat, sambil sesekali menengok ke kiri dan ke kanan, memastikan dirinya aman dari pantauan orang lain. Dia mendekat ke sebuah rumah yang berdiri terpisah jauh dari pemukiman warga. Rumah itu terlihat kusam dengan cat berwarna abu-abu suram. Hanya ada satu tanaman mangga yang menaungi, terlihat sekilas bangunan itu bagai rumah tua tak berpenghuni. Tok tok tok Pintu diketuk. Tak berapa lama menunggu, laki-laki muda berperawakan kurus membukakan pintu untuknya. Sesaat setelah itu, dia pun menghilang dari balik pintu. Terdengar percakapan di dalam rumah tua. "Bagaimana Hadi, kapan kamu putuskan untuk melakukannya?" tanya laki-laki tua yang duduk di lantai beralaskan karpet. Ruangan itu hanya dilengkapi perabotan sederhana dan usang, di samping laki-laki tua, ada anak muda yang tadi membukakan pintu untuknya. "Beri aku waktu, Imam," ucap Hadi lirih. "Dari awal aku tidak suka kamu menikah dengan orang yang tidak satu golongan dengan kita, dia hanya akan menghalangi perjuanganmu," kata laki-laki tua, sambil mengusap jenggot yang mulai memutih. "Maaf Imam, aku akan berusaha mengajaknya untuk ikut bergabung dengan jama'ah kita." "Kalau kamu menikah dengan perempuan yang berbeda dengan kita, aku tidak yakin dia akan menurut dan patuh padamu, pasti suatu saat dia akan menentangnya," sergah laki-laki yang dipanggil Imam, matanya menatap tajam ke arah Hadi yang tertunduk. "Aku berjanji akan segera membawanya ke sini, membai'at pada Imam. Tapi mohon beri aku waktu beberapa bulan lagi "Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi, kuberi kamu waktu satu bulan. Bila tidak ada perkembangan, kamu ceraikan istrimu dan menikahlah dengan perempuan yang mendukung pergerakan kita." "Maaf Imam, a-aku tidak bisa menceraikannya, a-aku mencintainya." "Kalau kamu tidak menceraikannya, aku khawatir dia akan menjadi batu sandungan bagi jama'ah kita," ucap laki-laki tua itu lagi. "Aku jamin hal itu tidak akan terjadi." "Tapi kamu tetap harus menikahi wanita dari jama'ah sendiri karena kamu adalah kaderku, usiakupun sudah lanjut. Kamu yang kuharapkan untuk melanjutkan perjuangan jama'ah kita setelah aku tiada." Hadi hanya diam menanggapi. Selama ini dia sudah berusaha dengan segala upaya membujuk rayu istrinya agar masuk dan mendukung pemahamannya, namun wanita itu selalu menolak hingga adu argumentasi yang selalu mewarnai pernikahannya. "Bila dalam waktu yang ditentukan tidak ada perubahan, kamu akan kujodohkan dengan anakku. Kalau kamu tak mau, akan kupilihkan wanita yang ada di dalam jama'ah kita," ucap laki-laki itu memecah kesunyian. "Ta-tapi Imam," ujar Hadi merasa keberatan. "Sudahlah, aku tak ingin mendengar alasanmu! kamu kerjakan apa yang sudah menjadi keputusanku!" "Iya Imam, kalau begitu aku mohon pamit." Dengan berat hati dia menyetujui kesepakatan itu dan segera melangkah keluar, sambil clingak clinguk membaca situasi sekelilingnya. Setelah dirasa keadaan aman, laki-laki berwajah tirus melangkah dengan tergesa-gesa, meninggalkan rumah yang terletak jauh dari rumah penduduk setempat. *** "Aku beri kamu seminggu lagi, untuk mempertimbangkannya." ucap Hadi lirih memandang Nia yang menunduk sedih. Waktu yang diberikan padanya telah lewat, namun istrinya tak kunjung menunjukkan tanda-tanda mendukung pemahamannya. Kesepakatanpun telah dibuat. Atas pertimbangan Imam dia harus menikahi wanita yang dipilihkan untuknya. Apalagi Hadi adalah kader yang dipersiapkan untuk memimpin jama'ah. Sangat konyol bila memiliki pendamping yang menolak dan menentang perjuangan jama’ah "Mas, atas dasar apa kamu ingin menikah lagi?" "Aku ingin mencari wanita yang mendukung perjuanganku, bukan seperti kamu!" "Sadarlah Mas, semua yang kamu anggap kebenaran hakiki nyatanya itu hanya pemikiran yang salah!" "Kamu mulai lagi berdebat denganku, aku sudah capek berhadapan denganmu!" "Mas, jihad itu luas, tidak hanya sebatas mengorbankan diri di medan perang, laki-laki yang mencari nafkah, perempuan yang melahirkan dan mendidik anak-anaknya, seseorang yang melawan hawa nafsunya agar tetap istiqomah itu juga bagian dari jihad, Mas." "Sudahlah susah bicara denganmu, itulah kenapa aku ingin menikah lagi. Aku ingin mencari yang sependapat denganku dan selalu mendukungku!" "Mas, aku bukan anti poligami. Poligami adalah salah satu sunnah Nabi di antara sekian banyak sunnah Beliau yang lainnya. Tapi bila alasanmu ingin menikah lagi karena ingin mencari yang sama, sebenarnya pemahamanmu seperti apa? bukankah kita memiliki Al-Qur'an yang sama, Tuhan yang sama. Kenapa karena perbedaan dalam mengartikan jihad, membuatku sangat bersalah di depanmu? jihad yang bagaimanakah yang kamu maksudkan?" cecar Nia. Matanya mulai berkaca-kaca, Hadi gelagapan menjawabnya. "Jihad seperti yang Al-Qur'an turunkan," jawab Hadi gugup, dia mulai khawatir Nia mencurigainya. "Kalau seperti yang ada di dalam kitab kita, kenapa masalah ini membuatmu ingin menikah lagi? Kamu selalu berkata Perjuangan, Perjuangan apa yang kamu maksudkan?" Hadi makin terpojok oleh pertanyaan Nia, dalam pikiran yang kalut dia pun berucap. "Aku ingin mencari yang lebih bisa melayaniku dengan baik. Tidak hanya masalah di dapur saja, tapi juga di kasur." Mendengar ucapan Hadi membuat Nia terperangah dengan cepat dia mengusap air mata yang jatuh. "Jangan kamu mengatasnamakan sunnah Nabi bila hanya untuk kepuasan nafsumu semata. Berapa banyak laki-laki atas dasar nafsu terjerumus pada tindakan mendzalimi istri-istri mereka. Membawa slogan poligami, tapi nyatanya mereka jauh dari tuntutan poligami yang dicontohkan. Mereka bahkan tidak berlaku adil dengan para istri-istri mereka dan hanya membuat citra buruk poligami yang sejatinya mulia," ujar Nia, hatinya makin meradang. Selama ini dia selalu bertahan pada perbedaan yang ada, walau sering berakhir dengan kekecewaan yang teramat menyakitkan. Namun harapannya agar suatu saat Hadi berubah, membuatnya bertahan. “Kamu ingin mengajariku tentang poligami? Sedangkan kamu sendiri menolaknya?” laki-laki berkacamata itu tersenyum sinis, perdebatan mulai meruncing di kamar mereka. "Aku menentang oknum yang melakukan poligami atas dasar nafsu, yang buta akan tuntunan dalam berlaku adil, mendzalimi salah satu pihak, hanya itu saja! Aku tidak menentang sunnahnya. Pahamilah apa yang aku katakan,” terang Nia di antara isaknya yang mulai mereda. Ruangan sepi sesaat. Hadi bergeming di pinggir ranjang menatap jauh ke luar jendela, membelakangi Nia yang duduk di kursi dengan tangan yang di atas meja. Nia sedang membutuhkan sandaran walau sekedar tangan yang bertumpu. Rasa di hati terlalu rumit untuk dia uraikan, membawanya selalu meratapi keputusan orang tua yang menikahkan dengan Hadi. *** "Mas, kita mau ke mana?" tanya Nia untuk kesekian kalinya, namun laki-laki itu tak menjawab. Tatapannya tajam mengawasi jalan yang penuh semak belukar. Nia berusaha mengikuti langkahnya yang memburu, berbagai pertanyaan berkelebat di otak dan sangat mengusik hati. Rasa cemas makin menghantui, terselip penyesalan menyetujui ajakan Hadi. Jalan yang mereka lalui sangat terjal dan berliku dengan semak tinggi yang berada di sekeliling, Hadi menyingkirkan semak-semak yang menghalangi jalan mereka menggunakan sabit. Setelah melipir hektaran sawah dan menyeberangi sungai yang berarus deras, mereka akhirnya sampai pada sebuah tempat pemukiman terpencil di antara gunung. Hati Nia bergidik ngeri, pemukiman yang terisolir itu sangat sepi dan mencekam. Tidak terlihat seorangpun yang melintas atau melakukan aktivitas. "Mas ini tempat apa?" tanya Nia memberanikan diri, lagi-lagi Hadi hanya diam. Sambil menatap sekilas ke arah Nia, dia menghela Nafas panjang. Perempuan itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di depannya, agak jauh dari tempat mereka berdiri, terdapat sebuah lapangan untuk latihan militer, seperti latihan memanah dan latihan menembak. Ada pula beberapa kuda yang diikat di pohon sekitarnya. "Mas, ayo kita pulang saja, tempatnya menakutkan," pinta Nia tercekat, hatinya mulai dilanda kekhawatiran yang besar. Hadi tak merespon, dia berjalan pelan menuju gubuk kecil berdinding kayu. Dengan ragu, Nia mengekor mengikuti. Sesaat setelah sampai di depan pintu, dia mengetuk. "Assalamualaikum" "Wa'alaikumsalam, masuk." Terdengar suara berat dari dalam. Hadi membuka pintu perlahan. Di dalam telah menunggu empat orang laki-laki, seorang laki-laki tua berumur 60 tahun yang diapit oleh salah satu laki-lakinya muda di sisi kirinya, laki-laki itu berumur sekitar 19 tahun. Sebelah kanan laki-laki tua, duduk dua orang laki-laki berusia hampir sama dengan Hadi, sekitar 30 tahun. Mereka memandang tajam ke arah Hadi dan Nia. Hadi membuka sepatu sedangkan Nia masih membeku di tempatnya dengan segala rasa yang berkecamuk. Nia memberanikan diri melihat ke dalam, 4 orang laki-laki ternyata sedang menatap tajam ke arahnya. Salah satu dari mereka menyeringai membuat hatinya bergidik. Badannya mulai menggigil ketakutan. Ketika Hadi hendak melangkah masuk. dia segera menarik kuat tangan suaminya. "Mas, aku takut, siapa mereka?" tanya Nia dengan wajah pucat,sambil mengajaknya menjauh dari tempat yang menakutkan. dengan kesal laki-laki itu menoleh ke arahnya. "Mereka teman!" Nia makin mencengkeram kuat tangan suaminya, saat seorang laki-laki berperawakan tinggi putih yang duduk dekat laki-laki yang menyeringai ke arahnya, mendekat. Menatap dingin ke arah mereka berdua, Nia makin menunduk dalam. Hatinya didera ketakutan yang luar biasa. "Oh, ini istrimu." ucapnya singkat. "Aku datang menepati janjiku," ucap Hadi datar. "Suruh dia masuk, Angga!" perintah laki-laki tua itu "Masuklah," ucap laki-laki yang dipanggil Angga. "Terimakasih," ucap Hadi, ketika hendak masuk lagi-lagi Nia menarik tangan Hadi. "Aku takut, aku mau pulang!" ucapnya bergetar, badannya menggigil ketakutan. "Ayo, kamu harus masuk! Kamu harus di bai’at di hadapan Imam Benua." Hadi balas menarik tangan Nia agar bersedia ikut bersamanya, sontak Nia terkejut sambil menatap tajam ke arah Hadi. "Apa? Bai’at? Bai’at apa maksudmu?" tanya Nia mencari jawaban sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Hadi. Hatinya kalut, tegang dan panik, dadanya turun naik menahan tangis. Kecurigaannya makin kuat, Hadi mengikuti sebuah jaringan terorganisir. "Ayo masuklah, untuk kali ini saja kamu harus menurut padaku!" bentak Hadi setengah berbisik, matanya menatap tajam ke arah Nia yang mulai ingin menangis. "Ayo masuk Hadi, kita tidak punya banyak waktu!" seru Imam Benua dari dalam. "Ayo, kamu harus masuk!" Bentaknya setengah memaksa, dia menarik keras tangan istrinya yang mulai meronta. "Tidak! Aku mau pulang!" teriak Nia tertahan sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Hadi. "Nia! Ingat aku masih suamimu!" "Tidak! Tidak! Aku tidak mau! Jangan paksa aku!" teriaknya keras sambil terisak, membuat semua yang ada di dalam terkejut dan segera keluar. Pimpinan kelompok yang biasa dipanggil Imam Benua mendekati mereka berdua, tatapannya tajam menghujam jantung, membuat Hadi gelagapan. Dengan bahasa isyarat Imam Benua memberi perintah untuk menangkap Nia, segera dua laki-laki itu, mencengkeram tangan Nia dan menariknya menuju sebuah rumah yang agak jauh dari tempatnya berada. "Kalian mau apa, lepaskan! Hadi, tolong aku, Hadi!" teriak Nia berusaha melepaskan diri dari dua orang yang memegang tangannya, tangisnya pecah sambil terus meneriaki nama Hadi. "Ya Allah tolonglah hamba-Mu, Hadi mereka ingin membawaku kemana! Hadi tolong!" Tangisnya membahana di alam sambil memohon pertolongan, namun laki-laki itu bergeming di tempatnya, menatap nanar sang istri yang dibawa paksa oleh dua temannya, Angga dan Toni. Selama menuju tempat penyekapan, Nia berusaha melakukan perlawanan, menendang dan meronta-ronta. Namun, dengan sigap mereka menghindar. Nia berusaha menggigit tangan salah seorang dari mereka tapi gagal, kekuatannya sebagai perempuan tak mampu menandingi tenaga dua laki-laki itu. Mereka menyeret Nia menuju sebuah rumah kecil dan mendorong kasar tubuhnya, hingga terjerembab di atas lantai tanah. Nia berusaha berlari menuju pintu sebelum pintu itu dikunci, namun lagi-lagi badannya harus merasakan tanah yang dia injak, karena dorongan kuat dari seorang di antaranya. Nia menangis hingga senggugukan sambil memukul pintu rumah dengan keras, tenaganya mulai terkuras. Dia terduduk lemas bersandar di daun pintu, air matanya terus mengalir, bayangan ibu, ayah dan Nining bergantian memenuhi benaknya. "Apakah ini akhir dari hidupku?" keluhnya getir, di antara isak pilu. Imam Benua melangkah perlahan mendekati Hadi, setengah berbisik dia berkata. "Hadi! Kamu tahu konsekuensi yang akan dihadapi bila sedikit saja kamu berbuat ceroboh?” Hadi masih diam, kepalanya tertunduk tak berani menatap, kesalahan yang dia lakukan telah berakibat fatal bagi istrinya. "Kamu tahu apa akibatnya, hah!" bentak Imam Benua lagi. "Ma-maaf imam, a-aku …!" "Dari awal aku sudah mengingatkan kamu, agar tidak mencari perempuan di luar jaringan kita, tapi kamu melanggarnya dan kini kamu bawa perempuan yang menolak membai’at pada kelompok kita!" ucap Imam Benua penuh amarah, matanya makin melotot seakan ingin menerkam Hadi. Imam Benua meringis kesakitan sambil memegang jantungnya. "Putra!" Sambil melambaikan tangan ke samping mencari pegangan. "Iya Imam." Segera Putra menghampiri Imam Benua dan memapah laki-laki itu masuk ke rumahnya, Imam Samudra memberi isyarat agar Hadi ikut, dengan segera Hadi menyusulnya. "Ini obatnya, Imam." ucap Putra memberikan obat minum penghilang nyeri yang biasa ia minum. "Iya terimakasih." Setelah beberapa saat rasa nyeri di dadanya berangsur hilang, hening beberapa lama ruangan itu. "Untuk menghilangkan jejak, kita terpaksa harus melakukannya," ucapnya membuat Hadi terlonjak kaget dengan mata memerah menatap Imam Benua. "Imam, aku mohon pertimbangkan lagi keputusan Imam." "Keputusanku telah dibuat, sebelum mentari terbit di ufuk Timur perempuan itu harus sudah disingkirkan!" "Ta-tapi Imam," ucap Hadi terbata-bata, netranya mulai menggenang, rasa bersalah makin memenuhi rongga hati. "Kamu harus mampu melakukan, bila kamu tak sanggup biarlah kedua anak buahku yang akan melakukannya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN