Keesokan harinya, sesuai dengan janjinya kepada Zara kemarin, sekarang Tanisha tengah duduk di halaman belakang tempat Favoritnya dikala sedang sendiri. Tengah menunggu kedatangan Andra untuk berbicara dengannya. Tentu saja Andra merasa bingung, apa yang akan Mamanya bicarakan itu, tidak biasanya ?, pikir Andra.
"Ada apa, Ma ??" tanya Andra langsung setelah duduk di samping Tanisha, memasukan kedua tangannya pada saku celananya.
"Zara mau kerja," ucap Tanisha langsung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, karena tahu watak sang anak yang tidak ingin terlalu bertele-tele.
"Kerja ?!" tanya Andra kaget, Tanisha mengangguk membenarkan, "Kerja apa, Ma ??" tanya Andra penasaran.
"Katanya mau kerja di Cafe."
"Apa !!? Kerja di Cafe !?" Andra langsung terduduk tegak karena kaget, "Yang benar aja, Ma? Masa' mau kerja di Cafe ?" tanya Andra tidak percaya. "Kerja di Cafe itu capek, Ma, berat. Pasti banyak tekanan nantinya." Andra mencoba untuk menahan emosinya agar tidak meledak di hadapan Mamanya.
Tanisha menghela nafas lelah, mencoba bersabar menghadapai anaknya yang satu ini, yang keras kepala, "Iya, Mama tahu. Tapi Mama nggak bisa nolak keinginannya Zara, Andra." Tanisha mencoba menjelaskan dengan lembut, karena kalau urusan tentang Zara maka emosi Andra akan meledak. Entah karena apa yang membuatnya sangat posesif terhadap Zara.
"Tapi, Ma, Andra nggak mau kejadian itu terulang lagi! Cukup sekali aja kejadian itu terjadi. Andra nggak mau lagi, Ma," ujarnya lirih. Andra terlihat sangat khawatir mendengar kabar bahwa Zara akan bekerja. Tanisha pun sama halnya dengan Andra. Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak boleh egois melarang keinginan Zara.
"Mama juga nggak mau kejadian itu terulang lagi. Mama cuma mau minta satu hal dari kamu."
Andra mengerutkan alisnya bingung, "Satu hal apa, Ma ?" tanyanya.
"Mama minta kamu jangan ikut campur soal pekerjaannya Zara. Biarin Zara lakuin apa keinginannya, selama itu hal yang positif," ujar Tanisha serius. Tanisha tahu kalau Andra selalu saja ikut campur tangan dengan semua kegiatannya Zara kalau menurutnya itu kurang baik. Tetapi kali ini Tanisha melarangnya, karena kalau tidak Zara pasti akan merasa kalau dirinya tidak berguna dan tidak bisa apa-apa, karena selalu ada campur tangan dari keluarganya.
"Mama tahu Andra," ujarnya, ketika Andra hendak menyangkal ucapannya dan Andra langsung tidak bisa berkata-kata, karena yang di katakan Mamanya memang benar seperti itu.
"Mama tahu kamu sayang sama Zara. Tapi bukan dengan cara seperti itu." Tanisha mengusap punggung Andra yang menunduk mengakui kalau yang dilakukannya memanglah tidak benar. Andra hanya tidak mau terjadi apa-apa terhadap Zara, makannya dia melakukan segala cara untuk melindunginya, meskipun menurutnya itu memang hal yang tidak baik. Andra tidak peduli itu, yang di pikirannya hanyalah keamanan terhadap Zara. Dan dengan berat hati Andra mendengarkan Mamanya, membiarkan Zara bekerja karena akan ada Vanya yang menemaninya dan tidak akan ikut campur lagi.
Sebelum itu Tanisha menyuruh Zara untuk mengajak Vanya menginap di rumahnya malam ini dan Zara sangat antusias mendengarnya. Langsung saja Zara menghubungi Vanya dan bertanya, apakah Vanya mau menginap di rumahnya malam ini ? Dan meminta izin terlebih dahulu pada Ibunya Vanya.
Zara mengatakan, kalau Mamanya yang mengundang Vanya untuk menginap di rumahnya malam ini pada Ibunya Vanya.
Widia pun mengizinkan, jika Vanya mau menginap di sana. Jelas saja Vanya tidak menolak keinginannya Zara. Karena apa?, setelah Widia memberikan izin, Zara berkata pada Vanya kalau dia tidak mau menginap maka Zara akan ngambek padanya. Padahal dalam hatinya Zara tidak akan seperti itu, itu hanya ancaman saja agar Vanya mau menginap malam ini. Dan ini undangan spesial dari Tanisha untuk Vanya.
Akhirnya Vanya menerima undangan itu, karena tidak mau sahabat rasa keluarganya (Zara) itu ngambek padanya.
"Mau aku jemput nggak ?" tanya Zara.
"Gak usah.. gojek juga banyak kali. Kalau nggak nanti minta di anter sama Vani ajah." Ucap Vanya di seberang sana.
"Jangan dong.., kasian tahu Vani. Mending aku jemput, yah..?"
"Nggak usah, ikhh.. Iya iya, nanti aku minta di anter sama Ayah ajah, Ayah juga udah pulang kok."
Karena kalau Zara yang menjemputnya, itu pasti akan bersama dengan Andra, Vanya tidak mau itu terjadi. Meskipun Vanya sering menginap di rumah keluarga Praditya, dirinya merasa tidak enak pada Andra dan merasa takut juga bila bertemu dengannya. Lantaran Andra yang selalu menampakkan wajah dinginnya kepada orang lain, berbanding terbalik bila terhadap Zara. Meski sekarang sudah tidak terlalu dingin seperti dulu lagi. Tetapi Vanya masih merasa tidak enak. Serasa dirinya mempunyai kesalahan terhadap Andra, pikirnya.
"Yaudah kalo nggak mau."
"Kalo gitu aku mau siap-siap dulu yah."
Zara mengangguk, meskipun itu tidak terlihat oleh Vanya dan bergumam, "Mmmhh."
"Yaudah, aku tutup dulu yah, telfonnya. Assalamu'alaikum."
"Iyaa. Wa'alaikumsalam."
Panggilan pun berakhir, Zara segera keluar dari kamarnya menuju dapur menemui sang Mama yang tengah bersiap-siap memasak untuk makan siang. Karena matahari sudah semakin meninggi berada di atas. Zara juga tidak lupa membawa serta handphone nyaa, siapa tahu nanti Vanya menelpon nyaa. Karena biasanya juga seperti itu. Bila Vanya sudah berada di depan rumahnya maka Vanya akan menelponnya, katanya sih malu kalau dia yang masuk sendiri, itulah alasannya Vanya. Padahal Vanya sudah sering kesana dan para Art pun sudah mengenalinya, pikir Zara.
"Udah telfon Vanya ?" tanya Tanisha ketika Zara sudah berada di dapur dan hendak membantunya memasak.
"Udah," jawab Zara sambil tersenyum.
"Mau ?" tanya Tanisha lagi.
"Mau dong!," kata Zara sambil tersenyum lebar.
"Seneng banget sih, anaknya Mama." Tanisha menggoda Zara dengan mencolek dagunya sambil tersenyum.
"Iya dong!, kan ini undangan Spesial, Khusus dari Mama," ucap Zara sambil menekankan kata spesial dan khusus, karena merasa sangat senang. Tanisha tertawa kecil mendengarnya. Merekapun melanjutkan acara memasaknya setelah obrolan mereka tadi hingga selesai, dan langsung menyajikan masakannya pada meja makan di bantu oleh Art lainnya juga. Zara mencuci tangan terlebih dahulu sebelum duduk di meja makan, karena Papa dan Kakaknya sudah bersiap untuk makan. Setelah mencuci tangannya, ketika hendak melangkah, dering ponselnya terdengar. Zara mengecek ponselnya dan tersenyum setelah melihat kontak siapa yang menelponnya.
"Ma, aku ke depan dulu yah. Soalnya Vanya telfon, kayaknya udah ada di depan deh." Ucap Zara pada Tanisha yang sudah duduk di meja makan beserta Papa dan Kakaknya.
"Yaudah cepet ajak masuk. Kita makan bareng," kata Tanisha sambil tersenyum.
"Oke, Ma!," Zara langsung saja berlari ke teras sambil tersenyum menyambut kedatangan Vanya.
"Lama nunggu yah ?, Maaf yah, agak sedikit lambat..hehhee..," kata Zara, sedikit tidak enak hati.
"Nggak lama kok, santai..," jawab Vanya sambil tersenyum.
" Yaudah ayo masuk," ajak Zara. Vanya pun mengangguk dan mengikuti Zara yang berjalan masuk kedalam.
Sesampainya di dalam, Tanisha langsung mengajak Vanya untuk makan bersama. Setelah selesai makan Vanya ikut membantu membereskan meja makan.
Karena hari masih terang, Zara dan Vanya memutuskan untuk membantu Tanisha yang sedang merawat tanaman-tanaman nya di halaman belakang.
"Bunga nya cantik-cantik banget, Tan?" ujar Vanya kagum. Bunga yang di tanam oleh Tanisha memang cantik dan sangat terawat, di jaga dengan baik. Tanisha tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh Vanya.
"Iya dong! Siapa dulu yang tanam bunganya? Iya nggak, Ma." Kata Zara sambil tertawa kecil. Tanisha dan Vanya pun ikut tertawa.
"Tanaman itu, kalau kita merawatnya dengan sepenuh hati dan menjaganya seperti layaknya makhluk hidup, pasti akan tumbuh dengan sangat indah. Karena tumbuhan pun merasakan kasih sayang kita," jelas Tanisha sambil memotong daun-daun yang menggangu pemandangan karena sudah layu dan kering. Setelah selesai Tanisha beranjak untuk menanam bibit bunga-bunga yang baru, karena seminggu terakhir dirinya belum sempat untuk menanam bunga. Zara dan Vanya ikut membantu Tanisha bertanam dan Tanisha pun menjelaskan cara bagaimana merawat tanaman agar tumbuh subur dan indah. Mereka bertiga pun sibuk menanam bibit bunga sambil bercengkrama dan tertawa bersama. Hingga mereka tidak sadar dengan waktu karena keasyikan bercanda dan matahari pun mulai menghilang dari penglihatan karena akan munculnya bulan.
Mereka langsung bergegas membersihkan diri bersiap-siap hendak melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Sehabis sholat maghrib mereka lanjutkan dengan membaca Al-qur'an bersama-sama sampai waktu sholat Isya, setelah selesai sholat Isya maka mereka akan masuk ke kamarnya masing-masing.
"Vanya, aku tinggal dulu yah. Aku mau ke kamar kak Andra dulu," kata Zara pada Vanya, mereka tengah berada di kamarnya Zara setelah sholat Isya.
Vanya mengangguk dan berkata, "Semangat yah, semoga bisa." katanya sambil sedikit mengulas senyum. Jujur saja Vanya merasa gugup, padahal yang akan bertemu dengan kak Andra ialah Zara bukan dirinya. Pasalnya, yang memberitahukan tentang pekerjaan itu adalah dirinya.
Kegugupan Vanya itu tak luput dari penglihatan Zara, Zara tertawa kecil melihatnya. Vanya mengerutkan keningnya bingung, melihat Zara yang malah tertawa di saat-saat seperti ini.
"Kok malah ketawa sih ?" tanya Vanya aneh.
Zara malah tertawa lagi, "Ya-abisnya kamu keliatan banget gugup nyaa, biasa aja kali. Kan yang mau ngomong sama kak Andra aku, bukan kamu."
"Ya tetep aja tau, kan kamu kerjanya bareng aku. Pasti nanti aku di interogasi sama kak Andra." Vanya malah bertambah takut, bila mengingat Andra. Vanya memegang tangan Zara, gugup bercampur takut.
"Akh.. Zara gimana dong? aku takut nih.."
Zara menepuk tangan Vanya pelan, "Udah tenang aja, kak Andra gak bakalan marah kok. Kata Mama tadi juga gitu kan?" Vanya mengangguk pelan.
Tanisha memberi tahu pada Zara setelah berada di kamarnya, bahwa harus Zara sendiri yang bilang pada Andra kalau dirinya akan bekerja. Zara pun mengangguk mengerti dan sekarang dirinya akan menemui Andra di kamarnya.