Alex selesai dengan ucapannya. Dia menatap Annabelle yang masih terdiam syok dengan tatapan seriusnya.
Annabelle menelan ludah susah payah. Dia menatap Alex. "Alex, kumohon menikahlah denganku."
Alex melotot, bukan karena menolak namun lebih pada tidak percaya dengan apa yang didengarnya setelah penjelasannya barusan. "Anna... Kau akan mempertahankan bayi ini?" tanya Alex dijawab anggukan Annabelle. "Setelah apa yang kujelaskan tadi?"
Annabelle tersenyum kecil. "Kau bilang ada 2 nyawa di sini."
"Itu belum pasti. Hanya perkiraanku saja. Janinmu belum terlihat."
"Tetap saja aku akan mempertahankan nyawa baru ini."
Alex menatap Annabelle lekat. "Anna..."
"Kumohon, hanya sampai anak ini lahir, Lex," kata Annabelle sambil tersenyum lirih dengan air mata yang tak hentinya turun. "Kumohon... Ini terakhir kalinya aku meminta bantuanmu, Alex-ku, sahabat terbaikku."
"Itu karena kau tidak punya teman lain." Gerutu Alex.
Annabelle tertawa. "Kau benar. Maka dari itu, bantulah aku lagi. Sebagai satu-satunya sahabat yang kupunya di sini."
Alex menghela napas panjang dan menganggukan kepalanya dengan senyum sedih. "Baiklah, calon istriku."
Annabelle segera memeluk Alex dengan erat. Matanya terpejam rapat dan air mata tak henti mengalir di matanya yang terpejam.
***
Berita Annabelle dan Alex yang akan menikah menyebar ke seluruh penjuru rumah sakit. Ada beberapa orang yang senang dengan hal tersebut namun lebih banyak didominasi oleh ketidaksenangan dari warga wanita kebanyakan. Sedangkan para wanita yang sudah berumur mendukung Annabelle dan Alex. Mereka bahkan mengatakan jika Annabelle sangat cocok bersanding dengan Alex dan mereka sudah memperdiksi jika Annabelle akan menikah dengan Alex.
"Hari ini, kita akan fitting pakaian." Kata Alex sambil mengeluarkan majalah dari tas dan menyimpannya di atas permukaan meja tepat di hadapan Annabelle yang sedang menyedot air mineralnya. Saat ini, mereka sedang berada di kantin rumah sakit.
Annabelle menganggukkan kepalanya dengan patuh. Dia membuka lembar demi lembar majalah di hadapannya. "Cepat sekali. Memangnya, kapan kita akan menikah?"
"Kau tidak perlu tahu. Ikuti saja perintahku. Lebih cepat lebih baik agar aku bisa mengawasimu lebih ketat." Jawab Alex yang membuat Annabelle cemberut maksimal.
"Aku bukan anak kecil yang harus selalu diawasi."
"Ya. Katakan itu pada wanita yang menangis hanya karena Spongebob yang dikerjai oleh Mr. Krab."
Annabelle makin cemberut mendengarnya. "Tapi aku menuruti perintahmu yang menyuruhku jangan makan ini, makan itu, minum ini, minum itu, jangan begini, jangan begitu, harus ini, harus itu dan bla bla bla."
Alex terkekeh pelan dan meminum air di gelas yang sama dengan Annabelle. "Kau menggemaskan saat menurut."
"Aku selalu menggemaskan, Alex-ku." Kata Annabelle sambil mengibaskan rambutnya.
"Kau ada operasi hari ini?"
"Ada sebentar lagi."
"Baiklah kalau begitu, aku duluan. Aku ada janji sebentar lagi. Pulang ini kita ke tempat fitting pakaian pernikahan, oke?"
"Baik baik."
"Oh ya, aku lupa," kata Alex sambil mengeluarkan sebuah sandal capit di dalam tasnya. "Ini namanya sandal capit. Edisi spesial hanya ada di negara Indonesia. Mama bilang kau harus menggunakannya ke mana pun. Jangan pakai high heels."
Annabelle tertawa dan mengamati sandal yang sangat ia kenali itu. "Mama sangat perhatian padaku." Haru Annabelle.
Memang, Alex jujur pada kedua orangtuanya tentang kenapa ia menikahi Annabelle. Dan Annabelle mendapat pelukan erat yang sarat akan keprihatinan dari Ibu mertuanya. Sedangkan orangtua Annabelle sendiri tidak Annabelle beritahu apapun. Hanya mengatakan jika Annabelle akan dinikahi Alex dan kedua orangtuanya langsung setuju tanpa menaruh curiga.
Usapan di puncak kepala Annabelle membuat Annabelle kembali pada dunia nyata. Annabelle menatap Alex yang kini mengecup keningnya dengan lembut. Annabelle menutup matanya, meresapi kelembutan Alex dalam diam. Alex membungkukan badannya dan memeluk Annabelle yang masih duduk sedangkan Alex sendiri berdiri di samping Annabelle.
"Kau kuat. Semuanya akan baik-baik saja, Anna." Bisik Alex lembut.
Annabelle hanya mengangguk sambil menghela napas panjang.
***
"Darren!! Heii, apa kabar sayang?"
Pertanyaan itu datang dari seorang wanita paruh baya yang menyambut Darren penuh semangat dengan sebuah pelukan. Darren menyunggingkan senyum yang sangat tipis dan menepuk pelan punggung Darren.
"Baik, tante Meera." Jawab Darren sambil melepas pelukan. "Mama menyuruhku membawa pesanannya."
Meera terkekeh pelan dan menepuk bahu Darren dengan kuat hingga darren bahkan meringis karenanya. "Kau tidak berubah! Selalu saja langsung pada intinya. Tidak bisakah kah erbasa-basi dulu?? Menanyakan keadaanku balik, misalnya."
"Bagaimana kabar tante?"
"Apa aku harus menyindirmu dulu baru kau menanyakannya???"
Darren mendengus geli. "Aku hanya menuruti tante."
Meera mencebikan bibirnya. "Masuklah. Tunggu di ruangan sebelah kiri. Kalau kau keberatan menunggu di sana karena ada orang lain, kau bisa pindah ke ruanganku."
Darren menggelenhkan kepalanya. "Aku hanya sebentar."
"Baiklah! Aku mengerti kau sibuk," kata Meera sambil mendelik kesal. "Tunggulah! Aku takkan lama."
Darren mengangguk dan Meera segera pergi meninggallan Darren. Sedangkan Darren sendiri pergi ke arah ruang tunggu, ruangan yang mana ditunjukan oleh sahabat ibundanya itu. Saat ini, Darren sedang berada di salah satu butik yang berada di Los Angeles. Dekat dengan kantornya. Supir yang biasanya membawakan barang yang selalu dipesan Ibunda Darren kini sedang cuti sehari karena aakit. Darren terpaksa harus turun tangan aeperti kebiasaannya dulu saat masih duduk di bangku SHS.
Ruangan itu saat ini sepi. Dan Darren menyibukan dirinya dengan melihat-lihat sekelilingnya. Suara gorden yang dibuka di belakangnya membuat Darren berbalik dengan gerakan sedikit cepat.
"Alex, bagaimana penampilanku?" pertanyaan itu datang dari seseorang yang tengah menundukkan kepalanya sambil sedikit meminkan gaun bagian bawahnya.
Darren sendiri hanya teriam. Terpaku menatap bagaimana gaun itu membalut tubuh wanitayang sangat dikenalinya. Gaun yang anggun namun seksi dengan belahan d**a yang terlihat dan tanpa lengan. Terlihat elegan apalagi dengan rambut panjangnya yang rapi yang melewati bahu wanita itu. Terlihat seperti ratu. Lebih dari ratu, wanita di hadapannya lebih terlihat seperti malaikat di mana Darren.
"Lex, kenapa tidak menja..." Annabelle tidak melanjutkan ucapannya saat mengetahui jika orang di hadapannya kini bukan Alex melainkan Darren. "Kau? Kenapa kau ada di sini?"
Reaksi normal yang ditunjukkan Annabelle adalah ketakutan dan jantung yang bertalu hebat. Sungguh, sebulan inj Darren tidak pernah menampakkan wajahnya di hadapan Annabelle. Walaupun beberapa kali Annabelle melihat wajahnya, tetap saja ini pertama kalinya setelah kejadian hari itu, mereka bertatap muka.
"Bukannya aku yang seharusnya bertanya?" tanya Darren dengan suara khasnya yang bass.
Annabelle menelan ludah susah payah ketika malah merasakan kedutan di kewanitaannya. Dia berdeham. "Kau bisa melihatnya sendiri, bukan?"
"Kau akan menikah? Dengan siapa?"
Annabelle menundukkan kepalanya.
"Apa Alex? Lelaki yang kau panggil namanya tadi?" tanya Darren dengan raut wajah mengeras. Darren menatap Annabelle tajam ketika melihat Annabelle yang tak kunjung menjawab. Seketika, rasa marah menguasai Darren. "Kenapa kau harus menikahinya???" bentaknya.
Untuk pertama kalinya, Darren membentak seseorang tanpa alasan yang jelas.
Annabelle menundukkan kepalanya dan meremas gaun yang digunakannya dengan erat. Ruangan itu kini mencekam. Hening dengan hanya napas memburu Darren yang terdengar.
"Anna, apa kau sudah selesai?" Alex datang, dan lengkaplah keheningan itu kala mata Alex menemukan sosok Darren yang terlihat marah.
BRUGH!!
BRAKK!!
Kejadian itu begitu cepat ketika Alex tiba-tiba menyerang Darren hingga menubruk bangku yang terjajar di sana. Darren yang tidak ingin kalah dan juga diselimuti emosi ikut memukuli Alex dengan brutal.
"ALEX!! DARREN!!" Annabelle bingung sendiri. Seram juga melihat orang yang bertengkar. Apalagi dia sedang memakai gaun yang panjang yang sangat menganggu pergerakannya. Annabelle malah panik sendiri. "Aduh bagaimana ini??? Hey kalian, sudahlah! Kenapa malah bertengkar???"
Annabelle merutuki dirinya sendiri. Tentu saja 2 orang itu tidak akan berhenti mendengar ucapan Annabelle yang kelewat panik itu. Darren kali ini berada di atas Alex. Tidak tanggung-tanggung, Darren mencekik leher Alex seolah bernafsu membunuhnya.
Annabelle kali ini tidak bisa hanya diam. Dia segera mencoba mendorong tubuh Darren dari atas tubuh Alex. "Darren!!! Berhenti!! Apa maumu??? Kenapa kau memukuli Alex???"
Alex terlihat kehabisan napas dan wajahnya sudah memerah total. Annabelle sungguh bingung harus bagaimana lagi menyadarkan Darren. Annabelle segera menangkup wajah Darren yang terasa panas itu dan menghadapkan wajah Darren padanya.
"Darren denhar, lepaskan cekikanmu!!!" seru Annabelle panik sambil menatap Alex sekilas. "Aku tahu Alex yang memulai, tapi tolong, kau bisa membunuhnya!! Kauu bisa membunuhnya, Darren!!" serunya lagi dan tanpa terasa air matanya turun dengan deras. Dia panik dan ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan hebat. Dan telapak tangannya terasa basah dan dingin.
Darren melonggarkan cekikannya, dan Alex segera mendorong tubuh Darren ke samping dan mengatur napasnya dengan cepat. Annabelle berlutut di samping Alex sambil memukul d**a calon suaminya itu dengan kuat. "Apa yang kau lakukan?? Kenapa memukul orang sembarangan?? Untung saja tadi kau tidak mati! Ish!!"
Alex mendongak menatap wajah Annabelle dengan geram. "Menurutmu dengan menyembunyikan identitas ayah dari anakmu itu aku takkan pernah tahu? Kau salah. Aku mencaritahunya, Anna. Aku tahu si berengsek itu yang menghamilimu."
Annabelle menatap marah pada Alex. "Siapapun itu, kau tidak berhak memukulnya, Alex!!"
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Darren cepat dan segera mencengkram pakaian yang digunakan Alex. "Ayah? Anak? Apa maksudmu, hah??"
Annabelle menepuk keningnya dan menghela napas panjang. Mengutuk mulut Alex yang tidak ada remnya.
"Ya. Anna hamil. Dan itu adalah anakmu, berengsek!!"
"Alex, itu hanya kecelakaan."
"DAN KAU AKAN MENIKAHI ANNA BAHKAN SETELAH TAHU ITU ANAKKU???" teriak Darren kuat, membuat Alex maupun Annabelle terlonjak kaget.
"Darren, aku tahu itu sebuah kecelakaan. Aku takkan meminta tanggung jawabmu," kata Annabelle dan mendapatkan tatapan marah dari Darren. Merasa merinding ketakutan, Annabelle mengalihkan pandanhannya pandangannya pada Alex. "Dan Alex, ini bisa saja bukan anak Darren. Aku—"
"Kau tidak semurahan itu, Anna. Aku mencaritahunya. Kau hanya pernah tidur dengan 1 pria dan itu Darren." Potong Alex.
"Kalah begitu, seharubya kau mengerti jika aku ingin merahasiakan kehamilan ini darinya!!!" teriak Annabelle kesal.
"Kau pikir bisa membawa keturunan Reinhard seenaknya?" tanya Darren dingin. Dia mencengkram kuat tangan Annabelle dan menariknya hingga mereka berdua berdiri. "Ikut aku!"
"Tidak! Ke mana kau akan membawa Annabelle???" tanya Alex sambil mencengkram satu tangan Annabelle yang lain.
Darren menyorot dingin wajah Alex yang penuh lebam. "Lepas atau aku akan mencekikmu lagi hingga kau tidak bernapas."
"Tapi—"
"Alex, sudahlah," sela Annabelle lelah. "Cepat atau lambat, aku memang harus memberitahu Darren tentang ini."
Alex menggelengkan kepalanya cepat. "Aku ikut."
"Apa aku boleh mengatakan jika ini adalah sebuah privasi?"
Alex menatap Annabelle tidak percaya. Dan segera, Darren menarik tangan Annabelle sehingga menjauh dari pria yang selama ini membantu Annabelle bahkan rela memberikan masa depannya bagi Annabelle itu, sendirian.
Annabelle mengehela napas melihat raut wajah kecewa Alex. Dia menatap Darren denan gugup. "Darren, apa tidak sebaiknya aku melepaskan gaun ini dulu?"
Darren tidak pernah menjawab Annabelle bahkan setelah mereka pergi meninggalkan butik itu dengan mobil Darren.