"Wow. Pesta yang mewah sekali. Seperti gaun dan high heels mahal nan mewah yang kugunakan ini."
Ucapan kekanakan dari Annabelle yang tertuju pada Darren membuat Alex memalingkan wajah dengan malu sambil menutup wajahnya dengan tangan dan berdeham canggung. Darren sendiri hanya mendengus sinis mendengarnya.
"Udik." Ejek Darren.
Annabelle melotot. "Apa maksudmu??"
"Udik," ulang Darren. Annabelle menggeram kesal. Darren terlihat puas. "Coba lihat sekitarmu, Anna. Kau terlihat kampungan di sini. Gaun yang terlalu berlebihan. Gaya rambut yang kuno. Dan make up mu terlihat terlalu tebal."
Wajah Annabelle terlihat memerah menahan marah. "Kau terlalu banyak berkomentar disaat orang lain terpana melihatku."
"Aku hidup dalam binar keterpanaan manusia. Sudah biasa dengan itu. Dan tidak pernah pamer. Wajar saja memang jika kau pamer. Orang udik pasti pamer saat baru merasakan."
Tangan Annabelle mengepal kuat. Jika saja raut wajah Darren berubah terlihat marah ataupun yang serupa dengan itu, Annabelle bisa mengejek Darren jika Darren hanya iri. Namun, saat melihat tatapan datar Darren, Annabelle merasa direndahkan. "Aku tidak pamer. Memang di sini akulah bintangnya. Menggeserkan bintang lama yang sudah layu bersinar karena terkalahkan sinarku. Kau hanya iri, bukan?"
Senyum Darren terbit. Senyum merendahkan. "Buka matamu, Anna. Kau udik. Lihat sekitarmu. Bukankah kau terlihat tidak bisa membaur dalam pesta? Bahkan, wine mahal ini, aku yakin kau tidak bisa menyecapnya." Katanya sambil mengangkat gelas berisi wine yang terdapat di atas meja panjang di sana.
Annabelle mengerutkan alisnya dengan sedikit bingung. Memangnya, apa hubungan dari ejekan Darren dengan wine?
"Orang udik mana bisa." Kata Darren, membuat kemarahan Annabelle naik ke ubun-ubun.
"Aku bisa!" seru Annabelle sambil merebut gelas milik Darren dan meminumnya dalam sekali tegukan. Mata Annabelle berkaca-kaca ketika merasakan rasa manis, pahit dan menyengat saat menelan cairan anggur merah itu.
"Anna," panggil Alex khawatir melihat Annabelle menghabiskan wine yang memenuhi setengah gelas yang dipegang Annabelle. Alex sangat tahu jika sahabatnya ini orang alim yang mana menyentuh bir murahan saja seolah menyentuh kotoran kuda. Dan yang paling penting, Alex tidak tahu wine itu memiliki berapa banyak kandungan alkohol.
Annabelle menghabiskan winenya dan mengembalikan gelas yang sudah kosong itu kepada Darren yang hanya diam dengan wajah tenang. Annabelle menatap Darren tanpa mempedulikan matanya yang masih berkaca-kaca dan hidungnya yang terasa perih. "Kau puas sekarang??? Sudah kubilang aku bukan orang udik!! Kau mengejekku hanya karena iri, bukan??"
Darren tersenyum miring. Dia menatap Annabelle dengan sudut matanya. "Terserah. Nikmati saja pestanya jika kau bisa berbaur." Katanya dan pergi meninggalkan Annabelle dan Alex.
"Anna, kau tidak apa?" tanya Alex.
Annabelle melepaskan gandengan tangannya dari Alex. Kedua tangan Annabelle menutup mulut. Air matanya turun akibat rasa aneh dari wine yang sedari tadi ditahannya.
"Aku ingin muntah. Huek!" Katanya seolah pamit pada Alex dan berlari dari Alex sambil masih menutup mulutnya dan memegangi perut. Annabelle tidak mempedulikan teriakan Alex dan juga tatapan tamu-tamu yang hadir yang terlihat penasaran dengannya.
Annabelle sampai di halaman hotel. Entah taman atau apalah Annabelle tidak tahu. Yang pasti ia mendekati tong sampah dan mengeluarkan isi perutnya di sana. Kepala Annabelle sangat pening dan melayang. Dan yang paling penting, rasa pahitnya bukannya berkurang tapi malah menjadi. "Huek!!!"
Itu adalah muntahan terakhirnya. Annabelle bertopang pada pegangan kursi panjang yang berada dekat tong sampah itu. Dia menghela napas panjang dan mengusap mulutnya dengan punggung tangan.
"Anna? Kau tak apa?"
Annabelle menoleh saat ada suara pria menyapanya. Annabelle melihat pria berjas itu dengan mata yang terfokus pada botol minum di tangan pria itu. Annabelle menatap wajah pria asing itu kemudian. "Tak apa. Aku baik. Sangat baik. Kau mengenalku?" jawabnya.
Pria asing itu tertawa. "Siapa yang tidak mengenalmu di rumah sakit, Anna?"
"Benarkah? Oh, kita rekan ya?"
Pria itu mengangguk sambil mengulas senyum.
"Oke. Boleh aku minta air minummu?" tanya Annabelle kemudian dan dibalas kernyitan lelaki itu. "Ayolah, perutku sungguh terasa tidak nyaman. Aku haus."
Dengan sunggingan lebar, pria itu mengulurkan botol minum tersebut pada Annabelle. "Ambilah sebanyak yang kau mau."
Tanpa mengatakan apapun, Annabelle menyambar botol tersebut dan meminum hingga habis setengah. Annabelle mengulurkan botol tersebut pada pemiliknya. "Terimakas—"
"Habis mengeluarkan isi perutmu, Annabela?"
Suara dan panggilan yang sangat familier itu membuat Annabelle berbalik dan menemukan Darren yang berjalan menghampirinya. Annabelle menggeram kesal melihat Darren. "Kenapa kau ada di mana-mana??? Sungguh, Darren, aku tidak mengharapkan disapa olehmu." Katanya.
Baru saja Annabelle akan kembali mengembalikan botol minum itu pada pria asing tadi, pria asing itu sudah tidak ada di tempatnya. Annabelle hanya dapat melihat punggung tegap pria itu yang perlahan menjauh. "Hei, kau!"
Darren berjalan menghampiri Annabelle dan mengambil botol tersebut, membuka tutupnya dan menyecap sedikit airnya. "Bau muntahan."
Annabelle mengernyit jijik. "Kau tahu itu bekas mulutku yang baru saja mengeluarkan muntahan, tapi kau malah mencicipi airnya?? Darren, kau CEO yang menjijikan. Luar biasa jorok."
"Ini lebih baik daripada aku memeriksa tong sampah yang terpenuhi oleh muntahanmu," kata Darren sambil membuang botol minuman itu ke tong sampah. "Sudah kubilang kau udik. Kenapa harus memaksakan diri?" katanya dan pergi melewati Annabelle.
"Aku tidak udik!! Aku sudah meminum semuanya, bukan??" Annabelle yang tidak terima langsung mengikuti Darren dari belakang.
"Udik akan selalu udik. Kampungan."
"Darren!!" badan Annabelle terasa panas. Namun anehnya dia malah menggigil seolah kedinginan. "Jika kau terus-terusan membuliku di mana pun, bisa-bisa aku keluar dari rumah sakitmu!! Dan kau akan kehilangan dokter bedah terbaikmu!!"
Darren terdengar mendengus. "Aku hanya mengatakan fakta. Kau saja yang kekanakan dalam menanggapiku."
"Tapi sikapmu seolah sengaja ingin membuatku kesal!!!" tubuh Annabelle bergetar. Napasnya terasa memberat. Dadanya naik turun dan sesuatu di bawah sana terasa berdenyut. Ada yang aneh dengan tubuhnya.
"Aku tidak."
"Kau iya!!"
"Kau saja yang terlalu sensitif."
"Aku tidak sensitif!! Kau yang memancing kemarahanku!! Jika saja kau tidak berceloteh tentang kekuranganku, aku takkan merasa tersinggung karenamu!!"
Darren menghentikan langkahnya, membuat Annabelle sukses menabrak punggung Darren yang sama-sama terlihat bergetar. Darren membalikkan badannya. "Dengar ya—"
Brugh!
Annabelle tiba-tiba memeluk Darren dan menggeliatkan badannya di tubuh bagian depan Darren.
"Darren, ini sangat panas. Tolong aku." Kata Annabelle memelas. Wajah Annabelle terlihat pucat. Matanya menggelap karena b*******h. Mulutnya juga terbuka mengeluarkan lenguhan.
Darren mengepalkan tangannya. Dia sekarang tahu kenapa tubuhnya pun ikut panas. Ternyata, minuman yang mereka minum mengandung obat perangsang.
"Darren—hmph!!" lenguh Annabelle saat tiba-tiba Darren memeluknya dan mencium bibirnya dengan rakus, melumatnya seolah ingin mengunyah bibir Annabelle. Merasa sama bernafsunya, Annabelle membalas ciuman Darren tak kalah bersemangat. Dia mengalungkan tangannya di tengkuk Darren dan menariknya untuk mencium lebih dalam. Mulut Annabelle terbuka saat lidah Darren memaksa masuk. Annabelle meremas rambut Darren saat benda kenyal dan basah itu bersatu dengan miliknya. Annabelle kewalahan namun ia tetap mengikuti permainan lidah Darren yang membuat gerakan memutar. Darren menghisap lidah Annabelle dalam dan menelan saliva keduanya dengan rakus.
Napas keduanya terengah. Darren menurunkan ciumannya ke leher Annabelle. "Ahh..." Desah Annabelle.
Mereka berdua seolah sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar. Lagipula, seperti kebanyakan hotel, koridor kamar hotel selalu sepi saat malam hari. Apalagi dengan diadakannya pesta pasti membuat para penghuni kamar malu keluar kamar.
Annabelle yang merasa kepanasan mencoba mencari keintiman lebih dengan makin menempelkan tubuh bagian bawahnya. Napas keduanya terengah akibat gairah yang tak dapat tertahankan.
"Kita harus mencari kamar." Ucap Darren yang sudah memulai aksinya di d**a Annabelle.
Annabelle tidak menjawab. Dia hanya sibuk terengah dan pasrah saat Darren menggendongnya dari depan.
Darren menggeram dan mempercepat langkah. Mereka mencari kamar yang lampunya masih mati. Mereka masuk menggunakan kartu milik Darren yang bisa membuka akses semua kamar hotel ini.
Saat masuk ke dalam kamar, Annabelle dan Darren tidak membuang waktu. Mereka menutup pintu dengan rapat dan menyalakan lampu kamar dengan kartu akses Darren. Punggung Annabelle membentur tembok dengan kuat. Darren yang menggendongnya seolah tidak mau melepaskan bibir yang sedang dilahapnya. Bergulat dengan nafsu seolah hanya bibir itu yang dapat meredakan dahaganya.
Annabelle tidak dapat berpikir jernih. Tidak dapat berpikir kembali jika yang sedang mencumbunya adalah musuh bebuyutannya sendiri sedari kecil.
Erangan serak terdengar dari Darren.
Darren kembali mencium bibir Annabelle, memeluk punggung mungil wanita itu kuat-kuat dan berjalan ke arah ranjang dengan mulut yang masih mencium ganas wanitanya. Annabelle terlempar ke atas kasur. Darren segera menindihnya dan kembali mencium Annabelle dengan kasar.
Minuman sialan. Kenapa Annabelle bisa terjebak dengan minuman yang sudah dicampur perangsang itu??
Darren menjauhkan wajahnya. Menatap Annabelle dengan napasnya yang berembus dari mulutnya tepat di depan mulut Annabelle. "Kau yakin dengan ini?" tanya Darren serak.
Annabelle tahu jika seharusnya dia mendorong Darren dan pergi dari hadapan pria itu. Namun rasa panas di sekujur tubuhnya membuat Annabelle tidak henti menggeliat dan tidak dapat berpikir jernih.
Dengan wajah memerah dan mata berkaca, Annabelle menjilat cuping telinga Darren dan berbisik serak di sana. "Buka semuanya dan berhati-hatilah. Aku masih perawan."
Kata yang seolah mantra itu membuat Darren bersemangat. Dia membuang tux miliknya dan merobek kemejanya sendiri. Darren kembali mencumbu Annabelle dengan kuat dan dalam satu kali sentakan, gaun Annabelle robek di tangan Darren.
Annabelle melepaskan ciumannya. Terengah panik, marah, dan masih b*******h. "Hey! Gaun mahal itu kubeli seharga tas channel!!"
"Aku kuganti."
"Ahh..." Desah Annabelle sambil mencengkram rambut milik Darren.
Annabelle bahkan tidak dapat membayangkan posisinya saat ini. Gaun robek yang menyisakan celana dalam karena branya sudah lepas entah ke mana, kaki yang mengangkang lebar di antara pinggang Darren dan rambutnya yang acak-acakan.
"Hah... Darren..."
Darren kembali mencium bibir Annabelle dengan ganas dan menggigit bibir bawah Annabelle singkat. "Bagus. Panggil namaku, jangan pria lain." Desahnya serak.
"Ah!! Ahhh Darren!"
Tubuh Annabelle makin panas. Dia mengingnkan lebih.
"Darren!!!"
Darren mengabaikan teriakan Annabelle.
"Ahh... Darren!"
Kepala Darren mendongak di antara paha Annabelle. "Aku tidak bisa menahannya lagi." Serak Darren, lalu membuka celananya dengan cepat.
Darren kembali mencium Annabelle dengan ganas dan melepaskannya. Mata Darren beradu dengan milik Annabelle. "Dengar, ini akan sakit saat kali pertama. Namun aku menjamin bahwa kau akan merasakan kenikmatan setelahnya."
Annabelle menganggukkan kepalanya dengan lemas.
Darren balas mengangguk dan kembali mencium bibir Annabelle.
Darren membungkam teriakan Annabelle dengan menciumnya dalam dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Annabelle. Tanpa mempedulikan Annabelle yang menggeliat kesakitan dan tangannya yang mencakar punggung tegap Darren.
Darren baru melepaskan ciumannya saat Annabelle terdengar terisak karenanya. Darren dapat melihat air mata Annabelle turun menuruni pipinya. "Maaf..." Serak Darren.
"Ini sakit sekali." Kata Annabelle dengan mata yang tertutup.
Darren menjilat air mata Annabelle dan mengecup dalam kelopak mata Annabelle. Dia lalu mengecup Annabelle dan kening Annabelle dan beralih mengulum cuping telinga Annabelle. "Izinkan aku bergerak. Aku janji akan menghilangkan rasa sakitnya." Katanya berbisik serak.
Annabelle gemetar karena gairahnya yang kembali. Ia mengangguk dan membuat Darren tersenyum miring.
"Ah!!!" teriak keduanya ketika sama-sama mencapai puncak.
Mereka melakukannya berkali-kali hingga efek obat perangsangnya menghilang.