Sepertinya percuma saja Angger berniat lari dari kejaran orang tuanya karena terbukti saat ini ia sudah tertangkap. Wanita itu duduk di atas ranjang rumah sakit dengan wajah cemberutnya, merasa kesal karena ia tidak bisa kabur lagi. Ia benar-benar tidak mau dijodohkan, tidak bisakah kedua orang tuanya itu paham kalau ada seseorang yang sedang ia kagumi saat ini? Kalau bisa dijodohkan dengan orang yang ia inginkan sih ia tidak masalah dan bahkan akan merasa sangat senang, tetapi jika dengan orang baru? Demi apapun ia akan langsung menolak apapun caranya. Kalau perlu ia akan pergi ke luar negeri tanpa kabar saja, memang senekat itu dirinya.
Angger tidak akan melakukan hal yang tidak ia inginkan, ia akan nekat kabur jika memang sesuatu yang tengah direncanakan oleh kedua orang tuanya itu tak ia sukai. Senekat itu dirinya, sama seperti kenekatannya saat mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi saat patah hati. Orang seperti Angger ini memang harus ada yang mengawasinya karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat Angger dibiarkan sendiri. Maka dari itu orang tua Angger begitu keukeh menjodohkan Angger dengan seorang pria, agar nantinya ada yang menjaga Angger saat mereka berdua sedang perjalanan bisnis. Melihat Angger yang terluka dan harus dijahit membuat Papa Anton dan Mama Lili merasa risau saat itu juga.
"Papa dan Mama sudah berunding, kami memutuskan untuk menjodohkan kamu. Kamu harus memilih di antara pria yang nantinya akan Papa kenalkan pada kamu," ucap Papa Anton.
"Aku nggak mau, Pa, berapa kali lagi aku harus ngomong? Aku mau cari sendiri!" balas Angger kembali menolak mentah-mentah keputusan final yang papanya buat.
"Kamu pernah memilih sendiri, tapi ujungnya apa? Kamu hampir celaka gara-gara dia. Papa dan Mama tidak mau kejadian itu terulang kembali." Angger merasa kesal sekali mendengar perkataan papanya.
"Terserah, aku sudah memutuskan juga kalau aku akan tetap memilih. Aku sudah menyukai seseorang, Papa tidak berhak terus memaksaku!"
"Gesti, kamu itu sudah dewasa. Tidak bisa apa kamu menurut saja dengan perkataan papamu? Ini semua demi kebaikan kamu," ucap Mama Lili.
"Nggak, Ma, aku nggak akan pernah mau. Sekeras apapun kalian berusaha memaksaku, aku akan terus menolak," jawab Angger.
"Terserah kamu saja! Dasar anak keras kepala!" Papa Anton yang kesal dengan kekeraskepalaan Angger pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruangan Angger.
"Pa, tunggu dulu!" teriak Mama Lili.
"Len, kamu jagain Gesti dulu ya. Tante mau susulin Om kamu," ucap Mama Lili pada Lenya.
"Iya, Tante." Akhirnya Mama Lili pun ikut pergi keluar untuk menyusul suaminya.
"Gesti ... Gesti ... apa susahnya sih lo buat nerima perjodohan yang dirancang sama orang tua lo?" tanya Lenya sambil menggelengkan kepalanya.
"Lo pikir mudah jadi gue? Emangnya lo mau nikah sama orang yang nggak lo cinta?" tanya balik Angger.
"Buat apa lo nanya gitu ke gue? Lo nggak bisa ngasih perumpamaan itu ke gue karena gue udah nikah," ujar Lenya merasa puas sekali saat melihat wajah sinis Angger.
"Síalan lo!"
"Eits, lagi sakit nggak boleh kebanyakan ngumpat." Puas sekali Lenya mengejek Angger.
"Mitos tuh mitos!"
"Coba beri alasan ke gue kenapa lo nolak? Barangkali pas ketemu salah satu di antara mereka lo naksir 'kan? Nggak ada salahnya mencoba, dengan mencoba nggak akan buat lo sakit hati, Gesti," ucap Lenya.
"Udah ada seseorang yang bikin gue jatuh cinta saat pandangan pertama." Angger mengatakan itu sambil terus tersenyum, saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Ardhito. Ardhito selain orang pertama yang menyelamatkannya dari kecelakaan, pria itu juga sudah ia nobatkan menjadi cintanya. Ia yakin sekali kalau Ardhito adalah pria yang baik dan Angger menginginkan pria itu untuk menjadi miliknya.
"Hah!? Serius lo!? Siapa orangnya? Bukannya lo baru aja patah hati, kok bisa lo jatuh cinta secepat itu?" tanya Lenya beruntun. Terkejut mendengar penuturan Angger, secepat itukah seorang Angger jatuh cinta? Setelah disakiti, bisa-bisanya ia langsung jatuh cinta lagi pada orang lain.
"Adalah dia, lo nggak perlu tahu." Angger tersenyum sok misterius membuat Lenya yang kesal refleks memukul lengan Angger yang terluka.
"Njir! Sakit!" teriak Angger.
"Sorry ... habisnya lo nyebelin sih. Tinggal jawab aja apa susahnya?" Angger hanya mendelik kesal.
"Permisi ...." Tiba-tiba seorang suster yang Angger ketahui bernama Wulan datang membuat Angger dan Lenya yang saling bertengkar akhirnya diam.
"Dokter Ardhito mana, Sus?" tanya Angger celingukan mencari-cari Ardhito.
"Dokter Ardhito sedang memeriksa pasien lain," jawab Suster Wulan.
Suster Wulan tersenyum ramah saat menghampiri Angger, wanita itu datang dengan membawa makanan dan juga obat untuk Angger.
"Sus, bisa tolong panggilkan Dokter Ardhito? Lengan saya sepertinya agak sakit. Perlu diperiksa," ucap Angger.
"Apa ada yang sakit? Mau saya periksakan saja? Dokter Ardhito saat ini sedang sibuk," balas Suster Wulan.
"Sepertinya ada sesuatu di sini, Sus, saya perlu Dokter Ardhito yang memeriksanya. Memangnya Suster mau tanggung jawab kalau terjadi sesuatu dengan saya?" tanya Angger. Suster Wulan sontak menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, saya akan panggilkan Dokter Ardhito dulu." Angger tersenyum senang saat Suster Wulan akhirnya keluar dari ruangannya untuk memanggil Dokter Ardhito.
"Lo kenapa deh? Kayaknya sengebet itu pengen ketemu tuh Dokter?" tanya Lenya saat melihat senyum Angger. Ia yakin sekali kalau Angger tadi pasti hanya pura-pura saja, makanya tadi ia tidak panik saat Angger terlihat kesakitan.
"Nggak usah kepo!"
"Pasti tuh Dokter ya yang lagi lo taksir?" tebak Lenya tepat sasaran.
"Ssst, diem!" Angger meminta agar Lenya diam.
"Ciee, ternyata lo suka sama dokter sendiri. Ciee, Gesti, ciee ...." Lenya malah semakin menjadi.
"Tadi kata Suster Wulan, tangan kamu sakit?" tanya Dokter Ardhito yang baru saja masuk ruangan Angger.
"Iya, Dok di sini sakit sekali," jawab Angger.
"Sebenarnya bukan lengannya aja yang sakit, Dok, tapi juga hatinya. Butuh diobati tuh sama cintanya Dokter," timpal Lenya sambil tersenyum jahil.
"Len, lo apa-apaan sih!" tegur Angger dengan wajahnya yang memerah.
"Nggak usah malu-malu lo, tadi bilangnya naksir sama dokter tampan ini. Ya bilang langsung dong sama orangnya, jangan kerjanya caper aja," ujar Lenya yang malah semakin menjadi.
"Hehehe." Angger hanya menyengir saat Dokter Ardhito menatapnya dan Lenya bergantian.
"Dokter, masih single apa udah nikah?" tanya Lenya.
"Lenya!" teriak Angger kesal.
"Ya biarin aja sih gue nanya, lo juga pasti kepo."
"Masih single," jawab Dokter Ardhito.
"Nah 'kan masih single, udahlah, Ges, gass aja langsung deh selagi belum jadi milik orang lain." Angger mendelik saat kata-kata Lenya semakin menjadi, wanita itu sepertinya sengaja mempermalukannya.