4. Semakin Jatuh Cinta

1038 Kata
Sore harinya, keluarga Angger datang dari luar kota. Mereka begitu khawatir saat mendengar kabar kalau putri semata wayang mereka dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan, papa Angger bahkan langsung menghentikan meeting di luar kota saat mendengar kabar itu. Mereka sekeluarga langsung kembali pulang dan kini berada di rumah sakit untuk menemui Angger. Saat sampai di rumah sakit, mereka merasa lega karena kondisi Angger ternyata sudah lebih baik dan bahkan sudah dijahit lukanya. Mereka jelas tahu betul kalau dari dulu Angger sangat membenci jarum suntik, mereka panik karena mereka tahu Angger tidak suka disuntik. Namun, ketakutan itu seakan menghilang saat melihat kondisi Angger yang kini sudah baik-baik saja. Tinggal memulihkan keadaan saja dengan dirawat beberapa hari. "Kamu ini bikin Mama sama Papa panik aja, Gesti," ucap Bu Lili—ibu Angger. "Tau tuh, Tante, nyebelin banget emang si Angger ini. Bisa-bisanya di mau mati karena diputusin sama pacarnya itu," timpal Lenya membuat Angger mendelik. Bisa-bisanya Lenya membuka kartunya dengan berbicara jujur seperti itu. "Benar apa yang dikatakan Lenya, Gesti?" tanya Bu Lili sambil menatap putrinya yang menyengir. "Bener dong, Tan, dia sendiri yang tadi bilang sama aku. Sekarang kalau Tante nanya begitu, dia mana mau jujur." Lenya kembali bersuara, seakan mewakili Angger yang tidak dapat berkata apa-apa lagi. "Kamu ini benar-benar, untuk apa melakukan hal gíla seperti ini hanya karena seorang pria? Masih banyak pria yang mau dengan kamu. Dari dulu Mama memang tidak pernah setuju kamu dengan dia, terbukti 'kan sekarang kelakuannya seperti apa? Untung kamu baik-baik saja, kalau sampai kamu kenapa-kenapa Mama nggak akan tinggal diam. Mama akan kasih perhitungan ke dia," ucap Bu Lili. "Jangan, Ma." Angger langsung menahan niat mamanya itu. "Bahkan, di saat seperti ini kamu masih membelanya? Mama benar-benar nggak habis pikir, Gesti." Angger hanya menunduk. "Kamu kalau mau cepat-cepat menikah, nanti Papa akan carikan pria untuk kamu. Kebetulan banyak kenalan Papa yang selalu menanyakan kamu, mungkin kamu cocok dengan salah satu di antara kolega-kolega Papa itu," ucap Papa Anton—papanya Angger yang sedari tadi hanya diam saja. "Nggak mau, Pa! Aku nggak mau dijodohkan sama aki-aki tua bangka!" Angger langsung menolak. "Aku nggak sepatah hati itu sampai-sampai Papa dengan teganya jodohin aku sama pria seumuran Papa," sambung Angger merasa kesal dan tak terima dengan ide papanya. "Yakin nggak sepatah hati itu? Lebih patah hati ya iya, tuh buktinya lengan lo sampai harus dijahit," sindir Lenya membuat Angger melirik ke luka di lengannya. "Ish, diam lo bumil!" tukas Angger menatap Lenya sinis. "Benar itu apa yang Lenya katakan, Papa jadi khawatir kalau kamu nantinya akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Jadi, ada baiknya kalau kamu Papa jodohkan saja dengan salah satu di antara mereka," ucap Papa Anton. "Aku nggak mau, Pa! Aku nggak mau dijodohkan sama aki-aki! Papa masa tega sama aku? Masa anaknya dijodohin sama orang tua yang udah punya anak gede? Nggak mau!" Angger langsung menolaknya mentah-mentah. "Yang bilang kalau dia sudah tua siapa? Papa nggak bilang usianya 'kan? Lagian, masa kamu mengira Papa akan setega itu pada anak sendiri? Mereka itu kisaran seusia kamu atau ada yang lebih tua dari kamu beberapa tahun. Yang jelas Papa tahu kalau mereka semua masih single, kamu tinggal pilih saja nanti,," ucap Papa Anton. "Nggak mau! Aku nggak mau punya suami yang kerjanya jadi pengusaha kayak Papa." Angger menggelengkan kepalanya, ia masih trauma dengan seorang pria yang berprofesi sebagai pengusaha karena mantan pacarnya itu juga seorang pengusaha. "Oh jadi kamu tidak mau ya, tunggu sebentar. Papa sepertinya punya teman yang anaknya nggak mau jadi pengusaha, dia itu seorang dokter kalau nggak salah." Angger menggelengkan kepalanya. "Aku juga nggak mau, lagian aku masih muda, Pa. Aku bisa cari jodoh sendiri, aku nggak mau dijodohkan." Ada alasan lain yang membuat Angger menolak tawaran papanya itu yaitu karena dirinya sudah jatuh cinta pada seorang dokter yang telah mengobatinya, ia hanya menginginkan dokter bernama Ardhito bukan dokter-dokter lainnya. "Terakhir kali kamu cari pasangan sendiri, malah berakhir jadi seperti ini 'kan? Papa nggak akan percaya lagi pada kamu, Papa akan tetap cari pasangan buat kamu," ucap Papa Anton. "Ya, Mama setuju sama Papa kamu." Mama Lili mengangguk, ikut setuju dengan usul suaminya. "Lenya juga setuju, Om, Tante. Ini anak emang harus dicariin jodoh, kalau nggak bisa-bisa dia gila karena mikirin mantannya itu," ucap Lenya. "Gue nggak gitu ya!" tukas Angger. "Yakin nggak gitu?" tanya Lenya mengejek. Angger menggeram kesal, wanita itu hendak turun dari atas ranjang tempatnya berbaring. "Hei, mau apa kamu?" tanya Mama Lili saat melihat Angger turun. "Pokoknya kalau Mama dan Papa terus maksain buat jodohin aku, lebih baik aku kabur. Mati lagi aja sekalian!" Dengan langkah cepat sebelum kedua orang tuanya bersuara, Angger yang memang kakinya hanya lecet saja langsung berlari keluar dari ruang inapnya masih dengan memakai baju rumah sakit. "Gesti! Astaga anak itu!" ucap Mama Lili tidak habis pikir dengan kelakuan putrinya. "Lenya, kamu di sini saja. Kamu sedang hamil, biar Om dan Tante yang kejar Angger." Belum sempat Lenya menjawab, kedua orang paruh baya itu langsung keluar untuk menyusul Angger. "Mending kabur daripada beneran dijodohin, nggak mau sama orang lain. Maunya sama Dokter Ardhito!" ucap Angger dengan suara yang kencang. Tanpa sadar kalau kini ia jadi pusat perhatian saat orang-orang itu mendengar teriakan Angger. "Hehehe, maaf." Angger menunduk malu, wanita itu langsung berlari secepat kilat menghilang dari kerumunan, tanpa sadar kalau di depan sana ada seseorang yang tengah berdiri sambil memegang telepon. "Awas!" teriak Angger pada seseorang yang tengah memunggunginya itu. BRUKKK "A-aduh." Angger meringis sakit saat pantatnya beradu dengan kerasnya lantai keramik rumah sakit. "Kamu?" tanya pria yang tak lain adalah Dokter Ardhito. "Dokter!" teriak Angger terkejut saat ternyata pria yang ia tabrak adalah Ardhito. "Ayo bangun." Ardhito berdiri terlebih dulu, pria itu mengulurkan tangannya pada Angger yang langsung diterima oleh wanita itu. "Maafin saya, Dok, tadi saya nggak sengaja nabrak Dokter. Dokter nggak apa-apa 'k? Apa ada yang sakit?" tanya Angger yang malah terlalu perhatian hingga membuat Ardhito tertawa. "Saya tidak apa-apa, seharusnya saya bertanya pada kamu. Kamu baru saja dijahit, kenapa malah berlarian di koridor rumah sakit?" tanya Dokter Ardhito. "Saya—" "Gesti!" Angger menoleh ke belakang, ternyata di sana ada mama serta papanya. "Dok, saya pergi dulu ya! Makasih udah nolong saya!" ujar Angger langsung berlari meninggalkan Ardhito. "Dasar perempuan aneh," gumam Ardhito sambil menggelengkan kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN