Bab 1. Hari Sial
Entah bagaimana Haifa bisa berakhir di rumah sakit sore itu. Beberapa puluh menit sebelumnya, ia masih berada di balik kemudi mobilnya, membayangkan betapa menyenangkannya pulang lebih awal setelah seharian berkutat dengan tugas kuliah. Ia bahkan sudah merencanakan untuk langsung mandi, makan sesuatu yang enak, lalu menghabiskan sisa sore dengan berbaring di kamar tanpa memikirkan satu pun tugas atau dosen.
Sayangnya, rencana sederhana itu ternyata terlalu muluk untuk hari ini.
Sebuah mobil yang melaju dari belakang tiba-tiba menghantam kendaraannya dengan cukup keras. Benturan tersebut membuat tubuh Haifa terdorong ke depan hingga kepalanya sempat membentur setir. Suara benturan yang memekakkan telinga masih terngiang di kepalanya, sementara bagian belakang mobilnya nyaris tidak lagi bisa disebut dalam kondisi baik.
Kalau melihat kerusakannya, Haifa sudah bisa memastikan satu hal. Besok ia tidak akan membawa mobil itu ke kampus. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin bukan hanya besok. Bisa jadi sampai beberapa hari ke depan.
“Dasar manusia tidak punya rem.” Haifa menggerutu pelan sambil berbaring di atas brankar ruang IGD. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengabaikan rasa berdenyut yang terus muncul dari dahi sebelah kirinya. Tidak ada luka terbuka ataupun darah, tetapi benjolan yang muncul cukup besar dan warnanya mulai memerah.
Seorang perawat baru saja selesai memeriksa kondisinya. Setelah memastikan tidak ada tanda-tanda cedera serius, perawat itu meninggalkan Haifa untuk mengambil beberapa perlengkapan yang dibutuhkan.
Haifa mengembuskan napas panjang. Hari sial memang tidak pernah muncul di kalender. Kalau ada, mungkin ia sudah mencoret tanggal hari ini sejak bangun pagi. Ia kembali memejamkan mata. Setidaknya masih ada satu hal yang patut disyukuri. Kecelakaan tadi tidak membuatnya mengalami cedera serius. Hanya kepalanya yang terbentur, mobilnya yang menjadi korban, dan suasana hatinya yang hancur total.
Seharusnya setelah kecelakaan seperti itu ia merasa sedikit takut. Namun, yang paling memenuhi pikirannya justru mobilnya. Mobil yang baru saja dibawanya ke bengkel beberapa minggu lalu.
“Bagus sekali.” Haifa mendecakkan lidah pelan. “Baru juga selesai diperbaiki.” Ia hampir saja kembali tertidur ketika suara hak sepatu terdengar dari lorong IGD.
Langkah itu semakin dekat hingga akhirnya berhenti tepat di samping brankar.
Haifa yang semula berniat memejamkan mata sampai benar-benar tertidur akhirnya membuka sebelah matanya.
Seorang perempuan berdiri di sana. Rambut hitam lurusnya jatuh hampir mencapai pinggang. Wajahnya cantik dengan mata cokelat jernih dan bulu mata lentik yang membuat tatapannya tampak semakin menawan. Jas dokter yang dikenakannya tampak rapi, dipadukan dengan pakaian kerja sederhana yang tidak mengurangi sedikit pun kesan elegan pada dirinya. Namun, kecantikan itu seketika kalah oleh ekspresi khawatir yang tampak jelas di wajahnya.
Perempuan itu menatap Haifa beberapa detik. Matanya bergerak dari wajah adiknya ke benjolan di dahi sebelah kiri. Kekhawatiran itu bertahan tepat beberapa detik.
Setelahnya, ekspresinya berubah. “Astaga.” Ia mendekat sedikit dan memiringkan kepala, seolah sedang menilai sesuatu yang sangat serius. “Lihat wajah kamu. Sudah jelek, tambah jelek.”
Mata Haifa yang semula hanya terbuka sebelah langsung terbuka sempurna. Tatapannya datar. “Kak.”
“Hm?”
“Kalau Cuma datang buat menghina aku, mending kakak enyah.”
Alih-alih tersinggung, perempuan itu justru terkekeh. Vonna memang selalu begitu. Sebagai kakak, seharusnya ia menunjukkan kekhawatiran dengan cara yang lebih normal. Menanyakan keadaan adiknya dengan lembut, memastikan apakah ada bagian tubuh yang sakit, atau setidaknya mengatakan bahwa ia beruntung tidak mengalami cedera parah. Namun, Vonna sepertinya tidak pernah memahami konsep tersebut.
Perempuan itu justru lebih senang menggoda Haifa sampai adiknya ingin melempar bantal ke wajahnya.
Vonna kemudian menarik kursi di samping brankar dan duduk dengan santai. “Bisa-bisanya kamu nabrak.”
Haifa mengembuskan napas pendek. “Aku yang ditabrak, bukan aku yang nabrak.”
“Ya, sama saja. Kamu tetap masuk rumah sakit.”
Haifa memutar bola matanya. Ia terlalu lelah untuk berdebat dengan kakaknya sendiri.
Beberapa detik kemudian, Vonna bertanya, “Papa sama Mama sudah tahu?” Pertanyaan itu membuat Haifa kembali memejamkan mata.
“Nggak usah dikasih tahu.”
Vonna mengangkat sebelah alis. “Kenapa?”
“Nanti mereka langsung pulang kemari Cuma karena aku benjol sedikit.”
Kedua orang tua mereka memang sedang berada di luar negeri. Ada urusan pekerjaan yang membuat keduanya harus pergi selama beberapa waktu. Untuk sementara, rumah hanya ditempati Haifa dan Vonna. Seharusnya keadaan itu membuat Haifa merasa lebih bebas.
Sayangnya, ia lupa satu hal. Vonna masih ada di rumah. Dan kakaknya itu justru memiliki bakat luar biasa untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.
“Kalau Papa dan Mama tahu—“
“Kak, please.” Haifa membuka mata dan menatap Vonna dengan wajah memohon. “Aku benar-benar nggak apa-apa. Cuma benjol sedikit. Tidak perlu bikin mereka panik.”
Vonna masih menatapnya dengan ekspresi tidak yakin. “Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Enggak pusing?”
“Sedikit.”
“Mual?”
“Enggak.”
“Penglihatan terganggu?”
“Enggak.”
“Pengen muntah?”
“Enggak.”
Vonna mengangguk-angguk seolah sedang mengingat kembali daftar pemeriksaan yang harus ia lakukan. “Kalau begitu—“
“Kak.” Haifa memotong perkataannya dengan suara lelah. “Ini pemeriksaan dokter atau interogasi?”
Vonna langsung tertawa kecil. “Kamu juga pasien sekarang.”
“Makanya, mending kakak balik sana urus pasien.”
“Dasar.”
Haifa kembali memejamkan mata. Percakapan itu benar-benar menghabiskan sisa energinya. Vonna masih tersenyum sambil memperhatikan adiknya. Bagaimanapun juga, meskipun mulutnya tidak pernah berhenti menggoda, ia tetap merasa lega karena Haifa tidak mengalami cedera serius. Setidaknya gadis itu masih bisa mengomel seperti biasanya.
Belum sempat Vonna mengatakan sesuatu lagi, suara langkah kaki kembali terdengar dari arah lorong.
Kali ini berbeda. Langkah tersebut tidak tergesa-gesa seperti langkah perawat ataupun dokter yang sedang berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Bunyi hak sepatu terdengar teratur, tenang, dan mantap, seolah pemiliknya sama sekali tidak memiliki alasan untuk terburu-buru.
Vonna yang sedang memeriksa ponselnya menjadi orang pertama yang menyadarinya. Ia mengangkat wajah. Senyumnya langsung muncul. “Siang, Dok.”
Haifa tidak terlalu memperhatikan. Matanya masih terpejam dan kepalanya terasa terlalu berat untuk sekadar mencari tahu siapa yang datang. Namun, suara laki-laki yang terdengar sesaat kemudian membuat matanya terbuka seketika.
“Tampaknya besok kamu tidak bisa masuk mata kuliah saya.”
Haifa langsung menatap ke arah suara tersebut. Untuk beberapa detik, ia hanya mampu menatap pria yang berdiri di samping brankarnya tanpa berkedip. Ekspresinya berubah menjadi horor.
Dari sekian banyak orang yang mungkin melihatnya dalam kondisi seperti ini, kenapa harus dia?
Pria itu berdiri dengan postur tegap. Jas dokternya dikenakan dengan rapi, tanpa satu pun bagian yang terlihat berantakan. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, sementara sorot matanya tajam tetapi tidak berlebihan. Tidak ada tanda-tanda terkejut ataupun khawatir di wajahnya. Seolah-olah menemukan seorang mahasiswanya terbaring di ruang IGD adalah hal yang biasa.
Haifa menelan ludah. “D-Dokter?” Ia tahu betul siapa pria di hadapannya.
Dr. Althaf dengan segala jabatan di belakang namanya. Dokter spesialis bedah jantung yang namanya hampir selalu terdengar di rumah sakit ini. Selain dikenal sebagai salah satu dokter yang disegani, Althaf juga merupakan dosen di fakultas kedokteran tempat Haifa menempuh pendidikan. Dan selama beberapa bulan terakhir, pria itu telah menjadi salah satu dosen yang paling ditakuti oleh para mahasiswa.
Bukan karena ia suka membentak. Justru sebaliknya. Althaf hampir tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya perlu menatap seseorang dengan wajah datarnya, dan mahasiswa yang bersangkutan biasanya sudah tahu bahwa jawaban mereka tidak memuaskan.
Namun, bagi Haifa, pria itu bukan sekadar dokter dan bukan sekadar dosen. Ada hubungan lain yang selama ini hanya mereka berdua ketahui. Dan justru karena Vonna berada di sana, Haifa harus menyembunyikan reaksi yang sebenarnya.
Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Tetapi cukup untuk membuat Haifa sadar bahwa Althaf memperhatikannya lebih lama daripada yang seharusnya dilakukan seorang dosen kepada mahasiswanya. Althaf mengalihkan pandangan ke benjolan di dahi Haifa. Tatapannya hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali kepada gadis itu.
“Saya mendengar suara ribut saat sedang memeriksa pasien di ruang sebelah.” Ia berhenti sebentar. “Ternyata sumbernya kamu.”
Bahu Vonna langsung bergetar. Perempuan itu buru-buru menundukkan wajah untuk menyembunyikan tawanya.
Haifa menahan napas. Ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada pria itu. Ia ingin bertanya apakah Mas Althaf khawatir. Ia ingin mengatakan bahwa kepalanya memang sedikit sakit. Ia bahkan ingin bertanya mengapa Mas Althaf tidak mengirim pesan kepadanya setelah mengetahui kecelakaan itu. Namun, semua pertanyaan tersebut tidak mungkin keluar selama Vonna masih berdiri di sampingnya.
Akhirnya Haifa memilih cara paling aman. “Maaf sebelumnya, setahu saya pasien harus beristirahat. Para dokter di sini malah berbaik hati datang untuk mengejek saya.”
Vonna semakin sulit menahan tawa.
Haifa mengabaikannya. Ia sudah terlanjur malu. Tidak ada gunanya berhenti sekarang. “Jadi, daripada waktu dokter terbuang percuma di sini, lebih baik Dokter Vonna dan Dokter Althaf kembali ke pasien masing-masing yang lebih membutuhkan.”
Althaf hanya memandanginya. Wajah pria itu tetap sama datarnya dan tenang. Tidak menunjukkan sedikit pun bahwa perkataan Haifa berhasil mengusiknya. Justru ketenangan itulah yang membuat Haifa semakin kesal. Seolah-olah semua perkataannya tidak memiliki pengaruh apa pun.
“Baik.” Jawaban singkat itu membuat Haifa sedikit terkejut. Ia bahkan sempat berpikir bahwa dirinya akhirnya berhasil mengusir dosennya. Namun, sebelum rasa lega itu benar-benar muncul, Althaf menambahkan dengan nada yang tetap tenang, “Besok tetap istirahat. Jangan datang ke kampus.”
Haifa menghela napas. “Seperti saya punya pilihan saja.”
Althaf tidak menjawab. Ia hanya memandang Haifa sejenak sebelum mengalihkan perhatian ketika seorang perawat masuk membawa obat dan beberapa perlengkapan untuk merawat benjolan di dahi gadis itu.
“Nona Haifa, saya oleskan salepnya dulu, ya.” Perawat tersebut berhenti begitu menyadari ada dua dokter senior berdiri di dekat brankar. Wajahnya seketika berubah tegang. “Selamat siang, Dokter Vonna. Dokter Althaf.”
Vonna tersenyum ramah. “Siang.”
Althaf hanya memberikan anggukan singkat.
Perawat itu kemudian mendekati Haifa. Ia membuka tutup salep dengan hati-hati, tetapi gerakan tangannya tampak sedikit kaku.
Haifa yang memperhatikannya langsung mengernyit. “Nurse.”
“Ya, Nona?”
“Kok tangannya gemetaran?”
Perawat itu tersenyum kaku. “Enggak, kok.”
Haifa menatap tangan perawat tersebut. Jelas-jelas gemetar. Ia kemudian melirik ke arah Vonna dan Althaf yang masih berdiri di sana. Baru saat itu Haifa memahami penyebabnya. Bukan karena luka di dahinya. Perawat itu gugup karena dua dokter senior masih berdiri di dalam ruangan.
Haifa mengembuskan napas panjang. “Kalau kalian masih di sini, susternya enggak akan selesai kerja.”
Vonna akhirnya tidak mampu menahan tawanya. “Baiklah.” Ia bangkit dari kursinya dan merapikan jas dokternya. “Pulang sama Kakak nanti. Mobil kamu sudah jadi rongsokan, kan?”
Haifa membuka mata dan menatap kakaknya. “Belum jadi rongsokan.”
“Sudah.”
Haifa berpikir sejenak sebelum menjawab dengan wajah serius, “Masih berbentuk mobil kok.”
Vonna terkekeh. “Ya sudah. Tunggu Kakak sampai jam lima. Setelah itu kita pulang.”
Haifa hanya mengangguk tipis.
Vonna kemudian berbalik menghadap Althaf. “Dok, mari.”
Althaf mengangguk dan mengikuti langkah Vonna menuju pintu. Namun, tepat sebelum meninggalkan ruangan, ia kembali menoleh. Tatapannya jatuh kepada Haifa. Gadis itu sudah memejamkan mata lagi. Wajahnya tampak tenang, meskipun Althaf tidak yakin apakah ia benar-benar tertidur atau sengaja menghindari tatapannya.
Untuk sesaat, Althaf hanya diam. Ia kemudian berbalik dan meninggalkan ruang IGD bersama Vonna. Suara langkah mereka perlahan menjauh di sepanjang lorong.
Haifa baru membuka mata setelah suara tersebut benar-benar menghilang. Ia menatap langit-langit ruangan dengan wajah muram.
Kecelakaan, mobil rusak, kepala benjol, dan sekarang dosennya tahu.
Haifa menutup wajah dengan kedua tangannya. Hari ini benar-benar hari sial. Seharusnya ia pulang lebih awal. Seharusnya ia tidak pernah melewati jalan itu. Dan yang paling penting, seharusnya ia tidak pernah bertemu Mas Althaf dalam keadaan seperti ini.