Bab 73

1931 Kata
Song: Padi-Kasih Tak Sampai   Indah, terasa indah Bila kita terbuai dalam alunan cinta Sedapat mungkin terciptakan rasa Keinginan saling memiliki Namun bisa itu semua  Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta Tak semudah yang pernah terbayangkan Menyatukan perasaan kita Tetaplah menjadi bintang di langit Agar cinta kita akan abadi Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini Agar menjadi saksi cinta kita Berdua Berdua Sudah, terlambat sudah Kini semua harus berakhir Mungkin inilah jalan yang terbaik Dan kita mesti relakan kenyataan ini Tetaplah menjadi bintang di langit Agar cinta kita akan abadi Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini Agar menjadi saksi cinta kita Berdua Berdua   *** 32 Hari Sebelum Persidangan   Ken menatap Feli yang sedang terbaring di depannya. Iya, wanita itu sangat cantik. Feli terlihat begitu cantik ketika dia mengenakan gaun putih bersih yang terlihat sangat cocok dengan tubuhnya. Benar, wanita itu memang selalu cantik dalam pakaian apapun. Ken menggenggam tangan Feli dengan erat. Sampai kapanpun Ken juga akan tetap berada di sini, terus menemani Feli dalam setiap hal yang harus dia hadapi. Ken melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan Feli sendirian. Dua hari lalu, seandaianya Ken ada di samping Feli, wanita itu sekarang pasti masih hidup. Dia pasti masih tersenyum dan tertawa ketika Ken meneleponnya. Ken menggerakkan satu tangannya yang lain untuk menyentuh pipi Feli yang terasa sangat dingin. Kulit Feli memang sudah tidak terlihat terlalu pucat karena Feli sudah dirias dengan sangat cantik. Rambutnya yang panjang dengan warna kecoklatan terurai di sisi kepalanya. Ken menyentuh rambut Feli dengan pelan seakan dia takut kalau setiap sentuhan yang dia berikan akan membuat Feli terluka. Feli masih ada di sini. Dengan menyentuh rambut Feli, Ken merasa kalau wanita itu masih ada di sini. Ken kembali merapikan rambut Feli dengan pelan karena dia tidak ingin kekasihnya terlihat tidak rapi. Hari ini Feli akan menjadi manusia yang paling cantik di tempat ini. Ah, iya! Ken lupa kalau Feli memang akan selalu menjadi yang paling cantik apapun yang terjadi. Feli terlihat begitu bersinar dengan gaun putih yang sangat cantik. Feli benar-benar kontras dengan semua orang yang ada di sini dimana mereka semua menggunakan pakaian berwarna hitam, Ken juga menggunakan pakaian hitam. Ken menghembuskan napasnya dengan pelan ketika akhirnya dia melihat Farel datang mendekati Feli lalu ikut menyentuh tangan Feli. Ken mengangkat pandangannya untuk melihat Farel yang masih menangis sejak tadi. Bagaimanapun juga ini memang sangat menyakitkan. Kenyataan ini membuat Ken tidak bisa tertidur semalaman penuh. Sejak kemarin, hanya Ken satu-satunya orang yang tetap menemani Feli ketika dia sedang menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Iya, Ken memang tidak ingin pergi jauh dari Feli karena Ken takut jika Feli akan mencari keberadaannya. Tidak, Ken akan tetap bersama dengan Feli apapun yang terjadi, sama seperti yang dilakukan oleh wanita itu selama ini. Feli yang akan selalu menemani Ken dalam setiap hal, sekarang Ken ingin melakukan hal yang sama. Sudah tidak terhitung berapa banyak orang yang datang mendekati Ken hanya untuk mengucapkan kalimat bela sungkawa. Tidak, Ken sama sekali tidak membutuhkan kalimat itu. Ken hanya membutuhkan Feli kembali membuka matanya lalu berseru dengan kencang dan mengatakan kalau selama beberapa saat ini wanita itu hanya sedang menipu Ken saja. Tidak, sejak kemarin Ken menunggu di dekat Feli dan wanita itu sama sekali tidak mengatakan apapun. Bahkan Feli sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali. Feli hanya diam, hanya diam saja.. Ken menatap air mata Farel yang menetes tepat di atas pipi Feli. Ken baru akan mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata itu, tapi Farel sudah lebih dulu melakukannya. “Feli..” Ken menatap tangan Farel yang sekarang juga sedang menggenggam tangan Feli. Ken menghembuskan napasnya dengan pelan. Dia sama sekali tidak sanggup kalau harus kembali menyadari jika Feli sudah tidak ada di sini. Feli-nya sudah meninggal.. Tidak, itu sama sekali tidak mungkin. Ken masih ada di samping Feli, jadi seharusnya wanita itu masih baik-baik saja. Iya, Ken memang melakukan kesalahan dengan meninggalkan Feli sendirian, tapi bukankah Feli sudah berjanji kalau dia tidak akan meninggalkan Ken? Feli sendiri yang mengatakan kalau dia akan selalu bersama dengan Ken, lalu sekarang kenapa dia harus pergi? Ken masih terus menatap ke arah Feli. Wanita itu tersenyum, seakan tahu kalau Ken sedang menggenggam tangannya, tangan Feli juga ikut mengepal secara alami sehingga terlihat seperti sedang membalas pegangan tangan Ken. Benar, Feli memang sangat cantik seperti biasanya. Sekalipun sekarang Ken sudah tidak bisa mendengarkan detak jantungnya ataupun merasakan aliran darahnya, Ken tetap bisa merasa bahagia. Yang penting dia masih bisa melihat Feli di sini.. “Adikku tidak bisa bangun lagi, Rosaline..” Kata Farel dengan pelan.  Ken mengangkat kepalanya. Satu lagi kalimat yang membuat Ken kembali merasa hancur. Kenyataan yang ada di depannya ini masih sulit untuk bisa dia terima. Iya, mungkin Ken memang melihat dengan matanya sendiri jika sekarang Feli sudah tidak bergerak, sudah tidak bernapas, juga.. tidak bernyawa. Kekasihnya itu tidak membuka matanya sama sekali padahal sejak tadi pagi Ken sudah ada di depannya. Ken selalu ada di sisinya karena Ken memang tidak ingin membuat Feli merasa sendirian. Ken menunggu Feli di depan ruangan pemeriksaan, Ken juga terus menemani Feli hingga akhirnya mereka sampai di rumah ini. Di rumah dimana Feli dibesarkan, sekarang rumah ini akan menjadi tempat yang sangat sunyi karena Feli sudah tidak ada lagi. Benar, Ken memang menyadari apa yang terjadi saat ini. Ken menyadari kalau dia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk tetap bersama dengan Feli. Pada akhirnya, sama seperti yang sudah Ken perkirakan, dia akan sendirian selamanya. Feli mungkin akan pergi meninggalkan dirinya, tapi Ken tidak akan melakukan hal yang sama. Sampai kapanpun Ken akan tetap berdiri di tempat yang sama sambil terus menatap ke arah langit, terus berharap jika ada satu keajaiban yang datang sehingga akhirnya Ken bisa ikut dengan Feli. Tidak masalah, Ken sama sekali tidak masalah kalau dia harus meninggalkan dunia ini. Ketika Feli pergi, Ken sudah tidak memiliki apapun. Akan terasa jauh lebih mudah jika Ken ikut bersama dengan Feli. Ken sadar kalau dia terus berada di sini, dia hanya akan merasakan rasa sakit sendirian. Satu persatu orang yang ditinggalkan oleh Feli akan mulai bangkit dan belajar untuk menerima semua yang sudah terlajur terjadi. Mereka akan tetap mengenang Feli, tapi mereka juga akan bangkit dari semua ini. Sampai suatu saat nanti akan tersisa Ken sendiri. Ken akan tetap di sini, berdiri dengan hati yang sama, dengan kerinduan akan kehadiran Feli. Mungkin sampai kapanpun Ken juga akan tetap menyedihkan seperti ini. Tidak ada yang baik-baik saja ketika Feli melangkah pergi dari hidup Ken. Bersama dengan kepergian Feli, dunia Ken juga akhirnya runtuh dengan perlahan. Ken sama sekali tidak bisa menahan kehancuran itu karena Ken tahu dengan benar jika dia memang tidak akan memiliki apapun lagi tepat ketika Feli meninggalkannya. Ken mengangkat kepalanya dengan pelan, dia menatap ke arah Farel yang sedang memeluk Rosaline dengan sangat erat seakan pria itu menyerahkan segala hal yang dia rasakan pada Rosaline. Ken tahu, Ken sangat tahu jika pelukan seperti itu hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai. Ken tersenyum kecil. Apakah memang kecurigaannya selama ini benar? “Feli tidak akan pernah bangun lagi.. dia tidak akan bisa memelukku lagi..” Kata Farel sambil terus menangis dengan suara yang keras. Ken kembali menundukkan kepalanya untuk menatap Feli yang masih tetap diam dalam posisi yang sama. Kenapa rasa sakit ini terus menghancurkan Ken? Ken tahu kalau dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk bahagia karena ketika tidak ada Feli, apalagi yang bisa membuat Ken bahagia? Apa yang bisa Ken lakukan untuk membahagiakan dirinya sendiri? Selama ini Ken hanya tahu caranya untuk membahagiakan Feli dan juga hanya Feli yang tahu bagaimana cara untuk membahagiakannya. Hanya Feli yang tahu, hanya Feli saja.. Ken sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk menyenangkan hatinya sendiri. Kalau sudah seperti ini, apa yang bisa Ken harapkan? Kebahagiaan? Tidak, ketika tidak ada Feli, maka kebahagiaan juga tidak akan pernah menjadi milik Ken. Ken akan hancur, dia akan menghilang dengan pelan bersama dengan kenangan yang dia miliki ketika sedang tertawa bersama dengan Feli. Wanita itu adalah satu-satunya wanita yang pernah menyentuh hati Ken. Sejak kecil mereka memang sudah diciptakan untuk saling bersama. Untuk saling mencintai dengan cara yang paling sederhana. Ken tidak memiliki siapapun selain Feli, hanya Feli yang bisa dia andalkan untuk bertanggung jawab atas kebahagiaannya. Sayangnya Feli memberi tahu Ken jika sebenarnya tidak ada orang yang bisa bertanggung jawab untuk kebahagiaan Ken selain Ken sendiri. Tapi sekarang Ken sudah memutuskan untuk tetap tenggelam di dalam jurang kegelapan bersama dengan bayangan Feli yang sampai sekarang masih coba dicari oleh Ken. Ken akan mengikuti kemanapun Feli pergi bahkan jika itu berarti dia harus meninggalkan dunia ini. Iya, untuk bisa tetap bersama dengan Feli, Ken bisa melakukan apapun. Dia bisa merelakan apapun. Lagi pula untuk apa Ken tetap hidup jika dia tidak memiliki Feli? Untuk apa dia tetap hidup kalau sudah tidak ada cahaya apapun yang akan menerangi langkahnya? Benar, Ken memang kehilangan harapan atas masa depannya ketika dia tahu bahwa tidak tidak bisa lagi hidup bersama dengan Feli. “Feli, kamu sebenarnya ada di mana? Biarkan aku ikut denganmu..” Kata Ken dengan pelan. Ken sudah cukup menangis sejak kemarin. Hari ini Ken berharap kalau dia sudah tidak mengeluarkan air mata apapun. Ken ingin memandang Feli dengan matanya yang bersih, bukan dengan mata yang tertutup oleh selaput tipis air matanya sendiri. “Menangislah, Ken.. menangislah agar kamu merasa jauh lebih lebih baik..” Ken menolehkan kepalanya dan menatap Mamanya yang sedang berdiri sambil menyentuh pundak Ken. Wanita itu terlihat sangat kacau karena Ken bisa melihat jika air matanya mengalir memenuhi wajahnya, matanya memerah karena terlalu banyak menangis, tubuhnya juga terlihat sangat rapuh karena rasa sakit yang harus ditanggung saat ini. Ken menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu kembali menatap ke arah Feli yang masih ada di depannya. Semua orang yang ada di sini sama sekali tidak penting. Sekarang Ken hanya bisa menatap ke arah Feli karena Ken tahu jika dia tidak akan memiliki banyak waktu yang tersisa. Feli akan benar-benar menghilang dari dunianya.. wanita itu akan hilang dan Ken akan selalu sibuk mencari jejaknya dimanapun dan kapanpun. Ken tidak akan pernah bisa menyentuh tangan Feli, juga tidak bisa memeluk wanita itu, Ken tidak akan bisa menatap matanya yang indah, sepasang mata yang selalu menyimpan satu harapan yang besar. Iya, Ken tidak akan pernah bisa melakukan hal itu lagi. Feli sudah pergi.. wanita yang sangat dia cintai sudah pergi. Sampai kapanpun kisah ini tidak akan bisa dilupakan dengan mudah. Ken dan Feli adalah sepasang kekasih, bukan hanya itu.. mereka adalah belahan jiwa yang saling membutuhkan satu dengan yang lain. Ketika Feli tidak ada di sini, apa yang bisa dilakukan oleh Ken? “Kamu terlihat sangat hancur.. menangislah, Ken.. itu tidak akan membuatmu menjadi—” “Tidak, aku tidak ingin menangis. Pergilah, Ma.. aku ingin sendirian di sini bersama dengan Feli..” Kata Ken dengan pelan. Ken masih menggenggam tangan Feli. Ken masih menyentuh wanita itu dengan tangannya sendiri, itu artinya Ken masih baik-baik saja. Tapi setelah ini, Ken sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Ken sama sekali tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi di dalam hidupnya. Terima atau tidak, pada akhirnya Ken memang harus menjalani kehidupannya sendirian. Usianya baru 27 tahun, kapan dia akan mati? Kapan dia bisa mengikuti Feli? Ken sudah muak dengan dunia ini. Ken sudah tidak punya tujuan hidup, dia hanya menginginkan Feli saja, jika Feli tidak ada, akan lebih baik kalau dia ikut menghilang. Menjalani kehidupan sendirian bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Ken akan selalu sendirian seumur hidupnya, dia akan selalu sendirian.. Tanpa Feli, tidak ada gunanya kalau Ken memperjuangkan kehidupannya. Akan lebih baik kalau Ken mati saat ini juga. Ken ingin agar dia tetap bisa menemani Feli bahkan ketika wanita itu masuk ke dalam tanah..    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN