Bab 72

1582 Kata
32 Hari Sebelum Persidangan Bersama dengan suara gerimis air hujan yang mulai turun membasahi bumi, bersama dengan semua itu, Farel melihat dengan matanya sendiri bagaimana adiknya terbujur kaku di dalam sebuah peti yang ada di rumahnya. Setelah seharian penuh menjalani pemeriksaan secara menyeluruh di rumah sakit, akhirnya hari ini Feli datang ke rumah. Adiknya pulang, tapi dengan keadaan yang sangat berbeda dari biasanya. Feli, adiknya yang paling dia cintai, adiknya tidak bisa lagi membuka matanya. Farel menatap kosong ke arah banyaknya orang yang datang dengan pakaian hitam yang menandakan jika mereka juga ikut bersedih atas berita duka ini. Tidak, Farel sama sekali tidak membutuhkan kedatangan mereka semua, hari ini yang Farel butuhkan adalah Feli. Farel ingin Feli kembali.. Feli harus kembali kepadanya. Farel tidak akan bisa menerima semua ini.. Feli harus kembali.. “Lihatlah Feli, Farel.. aku sudah merias wajahnya.. Aku mendapatkan kehormatan.. aku mendapatkan kehormatan untuk merias wajah adikku sendiri..” Farel menolehkan kepalanya untuk menatap Rosaline yang ada di sampingnya. Farel tidak sanggup melihat adiknya sendiri. Farel tidak memiliki kekuatan sebesar Ken yang sejak jenazah Feli sampai ke rumah ini, pria itu selalu berdiri di samping tubuh Feli. Selalu menatapnya dengan tatapan kosong yang menjelaskan betapa terluka hati pria itu. Farel tidak sanggup melihat Feli, sama sekali tidak sanggup.. “Ini.. ini juga sangat berat untukku. Tapi aku mohon, lihatlah dia, Farel.. jangan hanya diam seperti ini..” Sambil menangis sesenggukan, Rosaline menjatuhkan dirinya di depan kaki Farel. Farel hanya menatap Rosaline sebentar lalu kembali menghapus air matanya yang mengalir dengan pelan. Penderitaan ini menyiksanya tanpa ampun. Farel sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi semua ini. kepergian Feli adalah hal yang tidak akan pernah bisa diterima oleh Farel. “Jangan menghukum dirimu seperti ini. Ayo lihatlah dia sebelum kamu terlambat..” Farel kembali menolehkan kepalanya ke arah Rosaline yang masih duduk samping menatap Farel yang diam saja sejak tadi. Wanita itu terlihat sangat terpukul dengan keadaan ini. Wajah Rosaline pucat, matanya merah dan mulai membengkak. Semua itu menunjukkan kalau bukan hanya Farel saja yang hancur di sini.. “Kita tidak punya banyak waktu, besok Feli akan dikuburkan—” “Siapa yang mengatakan itu? Aku tidak akan mengizinkan siapapun menyentuh adikku..” Kata Farel sambil menatap Rosaline yang kembali menangis sesenggukan. Tidak, Farel tidak akan sanggup kalau harus melihat tubuh adiknya berada di bawah tanah. Selama ini Feli memang tidak pernah memiliki rasa takut pada apapun juga, tapi bagaimana kalau kalau kali ini Feli akan ketakutan? Bagaimana kalau adiknya itu merasa takut? Farel tidak ingin kehilangan Feli, tidak Feli harus tetap di sini.. “Farel..” “Tidak akan ada yang bisa menyentuh adikku tanpa izin dariku.. tidak akan ada yang bisa, Rosaline..” Kata Farel sambil menatap Rosaline. Suara Farel bergetar setiap kali dia menyebut nama Feli. Benar, keadaan ini memang menghancurkan dirinya. Lagi dan lagi, Farel harus tetap duduk di sini hanya agar tubuhnya tidak limbung ketika dia kembali menyadari jika Feli sudah tidak ada. Adiknya sudah tidak ada lagi.. Farel kembali menangis dengan suara keras setiap kali ada sesuatu yang mengingatkan dirinya tentang keadaan Feli. Adiknya sudah meninggal, untuk apa Farel terus ada di sini? Farel tidak bisa menjaga Feli dengan baik, untuk apa dia ada di sini? Untuk apa? “Sadarlah, Farel.. Sadarlah dengan semua ini. Aku tidak akan memintamu berhenti menangis, iya.. menangislah kalau memang kamu menginginkannya.. Tapi sekarang, ikutlah denganku, ayo kita lihat Feli bersama dengan yang lainnya..” Farel kembali menjatuhkan air matanya. Kenapa harus Farel yang datang? Dulu, setiap kali Feli ingin melihatnya, wanita itu akan langsung datang sambil memeluk Farel dengan erat. Kenapa.. kenapa sekarang Farel yang harus mendatanginya? “Feli.. apakah dia sudah meninggal?” Tanya Farel dengan pelan. Farel melihat jika Rosaline kembali menangis ketika dia mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Farel. “Iya, dia sudah meninggal, Farel! Dia sudah meninggal!” Kata Rosaline sambil menutup wajahnya dengan tangannya sendiri. Meninggal.. adiknya sudah meninggal? Kenapa terasa sangat sulit ketika dia harus menerima kenyataan ini? Kenapa sangat sakit ketika Farel terus mengatakan jika Feli sudah meninggal? Iya, bukankah adiknya memang sudah meninggal? Kenapa bukan Farel saja yang meninggal? Kenapa harus Feli? Farel tidak bisa hidup tanpa adiknya itu. Selama ini, satu-satunya alasan yang membuat Farel tetap bertahan adalah Feli. Senyuman yang selalu ditunjukkan oleh Feli membuat Farel sadar kalau dia harus berjuang untuk adiknya. Farel harus melakukan segalanya untuk membahagiakan Feli. Tapi sekarang.. ketika Feli sudah meninggal, apa yang harus dilakukan oleh Farel? “Kamu akan menyesal kalau dia melihatnya. Besok pagi dia akan dikuburkan, Farel..” Farel kembali menggelengkan kepalanya dengan pelan. Jangan, jangan ada yang menyentuh adiknya. Feli tidak boleh pergi dari rumah ini. Apa yang bisa dilakukan oleh Farel untuk membuat Feli kembali? Sungguh, Farel benar-benar sanggup merelakan segala hal yang dia miliki untuk ditukar dengan kehidupan Feli. Adiknya itu harus kembali bagaimanapun caranya. Feli harus kembali.. harus kembali.. “Jangan ada yang menyentuhnya, Rosaline..” Kata Farel dengan pelan. Rosaline menggelengkan kepalanya. Tidak, Farel tidak sanggup melepaskan adiknya. Farel tidak akan sanggup kalau dia harus melihat adiknya pergi, Farel tidak akan bisa melihat Feli lagi.. Tolong, siapapun.. tolonglah Farel.. Farel tidak sanggup menahan sakit yang luar biasa ini. “Semua orang sedang bersedih sekarang. Semua orang kehilangan Feli yang sangat mereka cintai. Farel, jangan duduk di sini, ayo.. lihatlah betapa cantiknya adikmu.. dia menggunakan gaun putih yang begitu cantik.. dia terlihat seperti pengantin wanita yang paling cantik di dunia ini..” Kata Rosaline sekali lagi. Pengantin wanita? Iya, adiknya memang akan menikah sebentar lagi. Farel tidak bisa menahan tangisannya karena dia mengingat semua kesalahan yang dia lakukan pada Feli. Adiknya itu pasti sangat membencinya.. Farel belum sempat meminta maaf dan mengatakan pada Feli kalau dia sangat mencintai adiknya itu. Farel terlambat.. sekarang Feli sudah tidak ada di dunia ini lagi. Apakah selama ini Farel sudah cukup sering mengatakan kalau dia sangat menyayangi adiknya itu? Farel melakukan kesalahan besar, iya.. satu kesalahan yang sangat besar.. “Dia harusnya menikah dengan Ken. Dia harusnya berbahagia, Rosaline.. ini sama sekali tidak adil untuknya..” Rosaline menganggukkan kepalanya dengan pelan. Benar, ini memang sangat tidak adil. Kenapa harus Feli yang diambil oleh Tuhan? Apa Tuhan memang ingin melihat kehancuran semua orang? Selama ini mereka memiliki harapan yang besar untuk Feli, kebahagiaan Feli juga kebahagiaan mereka. Tapi bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? “Adikku sangat hancur karena keadaan ini. Lihatlah dia, dia seperti manusia yang tidak bernyawa. Dia hanya diam sambil terus memegang tangan Feli. Kamu pikir semua orang baik-baik saja? Tidak, Farel! Kami juga hancur sama seperti dirimu.. Jadi aku katakan padamu, sebelum kamu terlambat dan melewatkan Feli, ayo.. lihatlah dia..” Kata Rosaline dengan pelan. Farel melayangkan tatapannya ke arah Ken yang sudah duduk di samping Feli sejak beberapa jam yang lalu. Ken terus menggenggam tangan Feli, dan seakan tahu kalau di sana ada Ken, Feli juga terlihat sedang membalas genggaman tangan Ken. Sekarang, bagaimana cara mereka melanjutkan hidup tanpa Feli? Bagaimana cara mereka tetap melangkahkan kaki ketika satu-satunya orang yang diharapkan untuk tetap ada bersama adalah Feli? Bagaimana cara Ken melanjutkan hidupnya sekarang? Mereka akan menikah, demi Tuhan mereka akan segera menikah. Farel memang sangat hancur sekarang, tapi Farel juga melihat kehancuran yang sama pada Ken yang sejak tadi tidak meneteskan air matanya. Pria itu terlalu hancur sehingga dia sama sekali tidak bisa menunjukkan air matanya. “Bawa aku ke sana, Rosaline..” Kata Farel dengan pelan. Rosaline menatap Farel lalu kembali menangis. Wanita itu menarik tangan Farel dan menuntun langkah Farel untuk mendekati Feli yang ada di dalam peti jenazah. Farel tidak bisa menahan tangisannya lagi ketika dia melihat wajah adiknya ada di sana. Teringat dengan jelas bagaimana suasana bahagia yang menyelimuti keluarga ini ketika Feli akhirnya lahir ke dunia. Farel bahkan masih mengingat dengan sangat jelas kalau tangannya langsung memeluk Feli saat itu. Farel selalu berjanji untuk menjaga dan melindungi adiknya, Farel akan selalu berusaha untuk melakukan segala hal yang terbaik untuk Feli tapi kenapa akhirnya seperti ini? Farel mengusap air matanya yang menetes tepat di wajah Feli. Adiknya sangat cantik. Iya, benar apa yang dikatakan oleh Rosaline, Feli memang terlihat cantik seperti seorang pengantin. Adiknya tersenyum padahal semua orang bisa melihat dengan jelas kalau ada banyak bekas luka yang ada di leher Feli. Kenapa hal kejam seperti ini harus terjadi pada Feli? “Feli..” Farel menyentuh satu tangan adiknya yang lain ketika tangan yang satunya sedang digenggam oleh Ken dengan sangat erat. Farel mengangkat pandangannya untuk melihat Ken yang terus diam. Ken sama sekali tidak berbicara ataupun menangis, tapi semua orang melihat dengan benar kalau sekarang Ken hancur dengan cara yang paling menyakitkan. Farel mencoba untuk mengalihkan tatapannya, dia tidak akan sanggup kalau terus menatap luka yang ada di mata Ken. Ini semua sangat tidak adil. Seharusnya sekarang Feli sedang berbahagia karena dia akan segera menikah dengan Ken. Kenapa hal buruk ini harus terjadi pada Feli? Farel membalikkan tubuhnya dengan pelan lalu memeluk Rosaline yang ada di sampingnya. Entahlah, Farel merasa tidak sanggup ketika harus menerima semua ini sendirian. Dia membutuhkan pelukan dari seseorang.. “Adikku tidak bisa bangun lagi, Rosaline..” Kata Farel dengan pelan. Rosaline membalas pelukan Farel dengan erat juga. Sama seperti Farel, Rosaline juga terlihat sangat hancur dengan kenyataan ini. “Feli tidak akan pernah bangun lagi.. dia tidak akan bisa memelukku lagi..” Kata Farel sambil terus menangis dengan suara yang keras. Tidak, Farel sama sekali tidak mempedulikan keadaan rumah ini yang jadi semakin gaduh ketika Farel menangis dengan keras, sekarang Farel sama sekali tidak peduli pada apapun. Keadaan hatinya sedang sangat kacau, Farel tidak sanggup menahannya..      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN