34 Hari Sebelum Persidangan
Ken tidak percaya dengan semua ini..
Tidak, ini pasti mimpi.. ini tidak mungkin terjadi.
Feli, Feli pasti masih hidup.
Ken menjatuhkan dirinya ke atas lantai, bersama dengan suara tangisan semua orang yang sudah lebih dulu sampai di rumah sakit, Ken merasa kalau dunianya menghilang.
Bersama dengan pengumuman yang dikatakan oleh seorang dokter, Ken merasa kalau hidupnya hancur.
Tidak, Ken sudah merancang semuanya.. Ken sudah merencanakan kehidupan bahagia bersama dengan Feli, tapi kenapa semuanya seperti ini..
“Tidak, ini tidak mungkin.. dimana Feli?! Katakan padaku, dimana adikku?!”
Ken sama sekali tidak bisa melakukan apapun ketika melihat Farel mencoba masuk ke dalam ruangan dimana ada Feli di dalamnya.
Semua ini menghancurkan hati Ken dengan rasa yang sungguh menyakitkan.
Kenapa harus Feli? Kenapa semua ini harus terjadi pada Feli?
“Feli.. Kenapa harus kamu?” Tidak ada yang bisa Ken katakan selain pertanyaan itu.
Di saat mereka akan hidup bahagia bersama, kenapa harus Feli? Kenapa semua ini harus terjadi?
“Feli.. ini tidak mungkin..”
Banyak sekali suara yang menyebut nama Feli. banyak yang menangis dan terus memanggil nama Feli dengan pilu, tapi tidak ada satupun yang berubah. Feli tetap pergi meninggalkan mereka semua..
Feli, iya.. wanita itu tetap pergi tanpa pernah bisa kembali.
Ken memukul dadanya yang terasa sesak dengan rasa sakit, ini menyiksa dirinya jauh lebih sakit dari yang pernah Ken bayangkan.
Menyadari fakta jika Feli tidak akan pernah ada di hidupnya, tidak akan pernah bisa memeluknya lagi, tidak akan tersenyum padanya dan memberikan dukungan dalam setiap langkahnya, semua itu menyakiti Ken dengan rasa yang luar biasa.
Kenapa ini harus terjadi?
Kenapa Feli harus meninggalkan dirinya seperti ini? Kenapa?
“Ken..”
Ken mengangkat kepalanya dan menatap Kakaknya yang sedang duduk di depannya. Sama seperti yang lainnya, Kakaknya juga menangis, kehancuran itu terlihat dengan jelas di dalam tatapan matanya.
Semua ini tidak mungkin..
Feli tidak mungkin meninggalkannya. Wanita itu harusnya masih masih hidup, bukan seperti ini cara yang tepat untuk meninggalkan Ken.
Ken merencanakan segalanya, dia sudah mempersiapkan semua kebahagiaan yang akan dia miliki bersama dengan Feli.
Kenapa harus seperti ini?
“Ken.. kendalikan dirimu..”
Ken menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Tidak apa yang bisa Ken lakukan ketika satu-satunya manusia yang dia harapkan akan terus menemani perjalanan hidupnya, dia malah pergi lebih dulu? Apa yang bisa Ken lakukan untuk menghadapi semua rasa sakit ini?
“Feli sudah pergi.. dia sudah pergi..” Kata Rosaline sambil membawa Ken ke dalam pelukannya.
“Tidak.. tidak, Feli tidak pergi.. tolong panggilkan dia.. aku sanggup hidup tanpanya..” Ken sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya. Rasa sakit ini menyiksa hatinya tanpa ampun. Semua yang terjadi di ruangan ini terasa seperti mimpi buruk, ini neraka.. hidup tanpa Feli adalah neraka.
Ken tidak akan sanggup melakukan apapun. Ken membutuhkan Feli.
Kenapa hal ini harus terjadi di saat mereka sudah menyiapkan rencana indah untuk hidup bersama? Bagaimana cara Ken menghadapi rasa sakit ini?
Bagaimana cara Ken terus bertahan ketika kenangannya bersama dengan Feli terus berputar di dalam kepalanya?
Apa yang bisa Ken lakukan untuk menghadapi semua ini? Ken butuh kehadiran Feli, Ken tidak akan sanggup hidup tanpa wanita itu..
Semua rasa sakit ini semakin menghancurkan hati Ken.
Bagaimana manusia bisa bertahan hidup tanpa nyawanya? Bagaimana Ken bisa bertahan tanpa Feli?
“Inilah kenyataannya! Jangan menghancurkan hatimu sendiri, Ken..”
Ken mendengar suara tangisan Rosaline yang tidak kalah pilu dengan tangisan semua orang yang ada di sini.
Tidak, seharusnya Ken tidak meninggalkan Feli sendirian. Seharusnya Ken selalu bersama dengan wanita itu.
Ken tidak akan bisa melakukan apapun lagi karena dia sudah kehilangan hidupnya sendiri. Ken sudah kehilangan satu-satunya orang yang dia miliki selama hidupnya.
Bagaimana cara Ken menghadapi dunia tanpa kehadiran Feli?
Bagaimana cara Ken bertahan jika Feli tidak ada di sisinya?
“Ini sama sekali tidak mungkin.. Feli pasti masih hidup..” Ken kembali memukul dadanya sendiri. Rasanya sangat sesak, rasa sakit yang nyata, sesuatu yang terus menyerang dirinya dan membuat napasnya terasa sangat menyakitkan.
Jika Feli sudah tidak ada, untuk apa Ken tetap ada di sini? Untuk apa Ken tetap hidup? Bukankah akan lebih baik kalau dia ikut bersama dengan Feli?
“Aku ingin bersamanya.. aku ingin bersama dengan Feli..” Kata Ken sambil terus memeluk Rosaline.
Rasa sakit ini terasa sangat nyata, Ken sama sekali tidak bisa melakukan apapun.. Ken sama sekali tidak bisa menahannya..
Tidak, Feli.. kenapa dia harus pergi? Apa yang harus Ken lakukan jika tanpa Feli? Apa yang bisa Ken lakukan ketika semua kekuatannya terletak pada Feli?
“Kendalikan dirimu, Ken. Terima kenyataan ini.. Terima kenyataan jika Feli memang sudah meninggal!”
Ken menggelengkan kepalanya.
Tidak, Feli tidak mungkin meninggalkan dirinya. Feli tidak mungkin pergi..
Jangan lakukan ini pada Ken, dia sama sekali tidak sanggup kalau harus menghadapi semua rasa sakit ini. Ken sama sekali tidak sanggup.
“Tidak, tidak mungkin Feli meninggalkan aku, Kak.. dia sendiri yang mengatakan kalau dia mencintaiku, dia berjanji untuk tidak meninggalkan aku..” Ken kembali berbicara.
Ini mimpi buruk. Ini mimpi buruk.. Ken tidak akan pernah bisa terbangun dari mimpi ini. Ken akan selamanya ada di sini, dia akan selalu menangisi kepergian kekasihnya, Ken akan hancur bersama dengan kepergian Feli.
Wanita itu adalah segalanya untuk Ken, bagaimana mungkin Ken bisa bertahan hidup jika tanpa kehadiran Feli? Bagaimana caranya hidup tanpa Feli ketika sejak kecil mereka selalu bersama dalam keadaan apapun. Mereka berbagi kebahagiaan yang sama, berbagi rasa sakit yang sama. Lalu, kenapa sekarang Feli tidak berbagi kematiannya dengan Ken? Kenapa Feli harus meninggalkan Ken seperti ini?
“Dia tidak pernah meninggalkanmu, Ken. Dia tidak pernah meninggalkanmu..” Kata Rosaline sambil terus mendekap Ken yang semakin tidak sanggup menahan tubuhnya sendiri.
Rasa sakit ini bukan hanya menyerang hatinya saja. Rasa sakit ini menghancurkan tubuhnya dan semua tulang-tulangnya. Ken tidak sanggup menahan tubuhnya sendiri ketika rasa sakit itu terus melemahkan keadaan Ken.
Feli mencintainya, iya.. Wanita itu sangat mencintainya. Ken juga merasa hal yang sama, tapi kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa takdir membuat Feli meninggalkannya lebih dulu? Apa yang bisa Ken lakukan untuk bertahan hidup?
Ken mengira kalau setelah ini mereka akan hidup bahagia bersama, mereka akan melakukan segala hal bersama, menghabiskan waktu berdua selamanya.
Ken akan berbagi seluruh kebahagiaannya dan seluruh hidupnya bersama dengan Feli, begitu juga dengan Feli. Ken akan menemukan Feli sedang sibuk di dapur rumah mereka ketika pagi hari. Wanita itu akan selalu tersenyum dan menyambut kepulangan Ken ketika sore hari. Ken akan tertawa bersama dengan Feli sambil menghabiskan waktu di taman belakang. Ken akan menghabiskan sorenya untuk bermain tenis bersama dengan Feli. Mereka akan tertawa sambil berenang di kolam renang. Ken akan memetik buah anggur dan mereka akan menikmati malam di bawah taburan bintang. Iya, Mereka akan sangat bahagia..
Semua kebahagiaan itu sudah terancang di kepala Ken.
Semuanya.. semuanya ternyata sudah hancur hanya dalam sekejap mata.
Sampai kapanpun Ken tidak akan pernah bisa mendapatkan semua kebahagiaan itu. Ken akan terus sendirian, dia harus menghadapi dunia sendiri, Ken harus menua sendirian.. Semua yang terjadi di dalam kehidupan Ken setelah ini, dia akan terus sendirian. Ken tidak akan pernah bisa bersama dengan Feli lagi.
Apa yang lebih sakit dari semua ini? Apa yang lebih sakit dari kenyataan jika mulai detik ini, Ken akan terus berjalan sendirian.. Ken akan terus sendirian hingga akhirnya dia menemukan jalan untuk bisa datang kepada Feli. Ken akan terus sendirian, dia akan menjadi manusia yang kesepian, sampai kapanpun, Ken harus menerima fakta kalau hanya dia saja yang tidak akan pernah bisa bisa beranjak dari duka ini. Hanya Ken saja yang tidak akan pernah bisa menerima kenyataan pahit ini.
“Feli meninggalkanku.. pada kenyataannya dia meninggalkan aku..”
Dada Ken terasa semakin sakit.
Kehilangan Feli adalah hal yang tidak pernah sanggup untuk Ken bayangkan. Selama ini Ken selalu merasa kesakitan ketika dia mulai memikirkan bagaimana caranya hidup tanpa Feli. Tapi sekarang, Ken bukan hanya akan membayangkan saja, Ken harus menjalani kenyataan ini. Ken harus menghadapi segala hal sendirian tanpa adanya Feli di sampingnya.
Ketika seluruh kehidupan Ken terlanjur tertuju pada Feli, apa yang bisa Ken lakukan ketika wanita itu pergi?
Apa yang bisa Ken lakukan untuk menghentikan semua rasa sakit ini?
Ken akan sendirian, itulah faktanya.. Ken akan terus berjalan sendirian sebagai seorang manusia yang tidak beruntung karena dia kehilangan kekasihnya.
“Feli.. kenapa kamu meninggalkan aku seperti ini?” Ken kembali mencoba bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Feli memang pergi..
Wanita itu memang sudah pergi.. Dan Ken sama sekali tidak bisa melakukan apapun.
Mulai dari sekarang sampai selamanya, Ken tidak akan pernah bisa mendapatkan senyuman Feli, tidak akan merasakan pelukan Feli, tidak akan mendengarkan suara Feli.
Semua mimpi yang Ken miliki sudah hancur bersama dengan kepergian Feli dari hidupnya.. semuanya hancur..