Song: Cakra Khan-Mencari Sinta Sejati
Hembusan angin meniup wajah alam
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luas tak bertepi pandang
Bisakah aku menyentuh awan?
Berwaktu-waktu aku mengasuh ras
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagi tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganmu
Senyumku melepaskan kau pergi
***
34 Hari Sebelum Persidangan
Sagara melangkahkan kakinya dengan cepat. Sejak tadi sudah tidak terhitung berapa kali Sagara menabrak orang yang ada di depannya, saat ini Sagara sama sekali tidak bisa memikirkan apapun lagi selain cara agar dia bisa cepat sampai kepada Feli.
Tidak, ini terasa seperti mimpi.. Sagara sama sekali tidak bisa memikirkan apapun lagi, langkahnya goyah bersama dengan air matanya yang mengalir dengan pelan.
“Sagara..” Tristan menyentuh bahu Sagara.
Tidak, keramaian di taman ini menunjukkan jika memang terjadi sesuatu di sini.
Sagara tetap melangkahkan kakinya untuk mendekati garis polisi yang ada di depannya.
Ini sama sekali tidak mungkin.. Ini sama sekali tidak mungkin.
“Berhenti di sini, tidak ada satupun orang yang diizinkan mendekat. Sedang ada pemeriksaan dan juga pengambilan gambar di lokasi ini..”
Sagara menggerakkan tubuhnya dengan pelan ketika dua orang polisi menghentikan langkah kakinya.
Sagara menatap mereka dengan pandangan tidak suka. Tidak, kenapa harus ada pengambil gambar lebih dulu? Kenapa tidak memberikan pertolongan pertama pada Feli?
Apa ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini?
“Kalian harus menolongnya! Kenapa kalian hanya diam saja?!” Sagara memberontak dan berusaha untuk melepaskan dirinya.
Tidak, Seharusnya Feli segera dibawa ke rumah sakit.
“Sudah dilakukan pemeriksaan, dia sudah meninggal. Kepolisian akan segera mengumumkan berita ini..”
Sagara tidak sanggup mendengar semua ini..
Tidak, ini sama sekali tidak mungkin.
“Feli, di sana ada Feli! di sana ada Feli, Tristan! Kita harus membantunya!” Suara Tarisha terdengar di belakang Sagara.
Tidak, Sagara sama sekali tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
Feli, apa yang terjadi pada Feli?
Sagara melihat ke arah sekeliling, dimana Yuda? Dimana pria itu? Kenapa dia tidak ada di sekitar sini? Bukankah pria itu yang membawa berita ini? Seharusnya dia ada di sini..
Sagara menolehkan kepalanya dengan pelan. Tristan berdiri di belakangnya sambil tetap memeluk Tarisha yang menangis dengan suara keras.
Tidak, ini sama sekali tidak mungkin.
Sagara menatap tangannya sendiri. Baru tadi siang dia menggunakan tangannya untuk memeluk Feli..
Tapi kenapa sekarang semuanya jadi berubah? Kenapa Feli ada di sana dengan keadaan seperti ini? Kenapa? Kenapa?
Sagara sama sekali tidak bisa menahan tangisannya lagi.
Ini sangat menyakiti hatinya. Sangat menyakiti dirinya..
“Tidak! Feli! Tristan, kita harus melakukan sesuatu..”
Di tengah keributan malam ini, Sagara benar-benar merasa kalau dunianya hancur di bawah kakinya sendiri.
Semua yang terjadi memang sangat tidak bisa untuk dipercaya. Feli ada di sana, wanita itu sudah meninggal.
Bagaimana bisa semua ini terjadi ketika beberapa jam yang lalu Sagara masih bersama dengan Feli, masih berbicara dengan wanita itu.
Astaga, Tuhan.. sungguh, Sagara tidak sanggup menahan rasa sakit ini.
Sagara kembali mendengar suara tangisan yang berada dari sisi yang lain dari taman ini. Di sana ada Rosaline yang sedang memeluk Caleb.
Caleb? Pria itu bahkan sudah ada di sini? Lalu dimana Ken? Kenapa Sagara masih belum bisa menemukan Ken?
Iya, semua yang terjadi saat ini memang terasa seperti sebuah mimpi buruk. Yang paling menyakitkan adalah, Feli harus pergi ketika hanya wanita itu alasan Sagara untuk bisa bertahan selama ini.
Sagara selalu merasa tidak masalah kalau Feli tidak bisa menjadi miliknya, yang penting Feli tetap ada di dunia ini. Tetap tersenyum dengan cara yang sama..
Sagara tidak akan bisa menerima fakta jika Feli sudah pergi, wanita itu tidak akan pernah bisa dilihat lagi oleh Sagara. Tidak, Sagara tidak akan sanggup melewati semua ini.
Bagaimana mungkin Sagara bisa bertahan jika satu-satunya alasan dia bertahan hidup adalah Feli? Bagaimana caranya melewati semua rasa sakit ini?
Siapa yang tega melakukan ini pada Feli? Siapa yang telah membuat Feli seperti ini?
Di dunia ini, siapa yang tidak menyukai Feli? Dia wanita yang baik, Feli tidak pernah membuat orang lain bersedih, justru sebaliknya.. Feli adalah alasan dari setiap senyuman yang selama ini ditunjukkan oleh orang yang ada di sekitarnya. Lalu kenapa harus seperti ini? Jika Feli pergi, kehancuran apa yang harus diterima oleh semua orang? Tidak akan ada yang sanggup menerima kenyataan ini.. tidak, tidak akan ada..
“Sagara.. Feli.. dia meninggal..”
Sagara menolehkan kepalanya ketika dia melihat Yuda berdiri di sampingnya.
Feli meninggal? Kenapa Sagara masih tidak bisa menerima fakta itu? Sagara masih tidak sanggup mendengarkan kenyataan pahit itu.
“Apa yang terjadi?” Tanya Sagara sambil menatap Yuda.
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan pelan sehingga Sagara sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa harus Feli yang menerima keadaan ini?
Banyak orang yang selalu mengharapkan kebahagiaan Feli karena memang dengan melihat Feli bahagia, semua orang juga akan merasa bahagia. Jika Feli tidak ada.. apa yang akan terjadi sekarang? Bagaimana cara Sagara menghadapi semua ini?
“Apa yang terjadi di sini, Yuda? Kenapa seperti ini?” Tristan bertanya pada Yuda.
Yuda kembali menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
“Aku mendapatkan kabar ini dan begitu aku sampai, semuanya sudah seperti ini..”
Sagara mengusap kepalanya dengan asar. Ini tidak benar! Ini sama sekali tidak benar! Feli tidak seharusnya ada di sini, wanita itu harusnya tetap hidup, wanita itu tidak boleh mati dengan cepat. Tidak, tidak boleh..
“Ini tidak benar.. ini sama sekali tidak benar..” Kata Tristan dengan pelan.
Sagara tahu kalau Tristan juga sangat terpukul karena hal ini, tapi mereka semua sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Feli meninggal.. itulah fakta yang sebenarnya.
Sagara kembali mengusap air matanya yang mengalir dengan cepat, dia tidak sanggup menahan rasa sakit ini. Dia sama sekali tidak sanggup..
Feli boleh menikah dengan Ken, Feli bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tapi Feli tidak boleh menghilang dari bumi. Feli harus tetap hidup agar Sagara juga bisa tetap bertahan hidup.
Kenyataan jika sekarang Feli berada di dalam kantung jenazah, semua itu menghancurkan Sagara dengan cara yang paling menyakitkan.
Jika satu-satunya orang yang menjadi alasannya bertahan selama ini telah pergi, apa yang bisa dilakukan oleh Sagara?
***
Sagara menatap pintu putih yang sudah tertutup sejak satu jam yang lalu.
Iya, mereka semua memang menunggu hal yang sama sekali tidak berguna.
Pada kenyataannya, mereka sudah tahu kalau tidak ada satupun yang bisa diselamatkan dari hidup Feli. wanita itu sudah meninggal, dia sudah meninggal..
Pihak rumah sakit hanya melakukan beberapa pemeriksaan untuk benar-benar mengetahui apa yang menjadi penyebab kematian Feli.
Ini adalah hal yang lebih menyakitkan lagi.
Feli sudah meninggal.. wanita itu sudah meninggal..
Kenapa hal ini harus menimpa Feli? Bagaimana cara mereka melanjutkan hidup mereka kalau tidak ada Feli? Siapa yang akan sanggup menahan duka ini?
Sagara menatap semua orang yang sedang berdiri samping menangis di ruangan ini.
Tidak, tidak ada Ken di sini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Sagara tidak bisa bertanya pada siapapun karena pada kenyataannya sekarang tidak ada satupun orang yang bisa berbicara. Keadaan ini menghancurkan semua orang yang ada di sini.
Tadi ketika di taman, Sagara masih bisa menemukan Caleb, tapi sekarang Sagara tidak melihat pria itu lagi.
Hanya ada Rosaline dan Farel yang duduk berdampingan sambil terus menangis.
Feli, apa wanita itu melihat kesedihan mereka sekarang? Apakah Feli tahu kalau kehadiran wanita itu sangat berarti untuk orang lain? Apakah Feli tahu kalau hanya dengan melihatnya bernafas saja, semua orang sudah merasa senang.
Iya, memang ada banyak hal yang sangat Sagara sesali. Salah satunya adalah perasaannya yang sejak dulu selalu dia pendam.
Sekalipun pada akhirnya Feli akan menolak cintanya, bukankah akan lebih baik kalau saat itu Sagara mengatakan segalanya pada Feli?
Sagara terlambat, sekarang Feli tidak akan pernah tahu betapa Sagara sangat mencintai Feli. Wanita itu pergi.. dia benar-benar pergi..
“Feli, kenapa harus kamu? Kenapa harus kamu?” Tanya Sagara dengan sangat pelan.
Sagara kembali menghembuskan napasnya. Dia merasakan sesak yang luar biasa ketika kembali menyadari kalau Feli sudah tidak ada lagi. Wanita itu tidak lagi bernapas, tidak lagi tinggal di atas bumi yang sama, di bawah langit yang sama.
Feli sudah tidak ada dan Sagara sama sekali tidak bisa melakukan apapun.
Di saat Sagara menemukan seseorang yang menjadi alasannya bertahan selama ini, kenapa dia harus diambil juga?
Apakah Tuhan memang sangat ingin menghukum Sagara dengan semua rasa sakit ini?
“Apa kamu mau pulang, Tarisha?” Tanya Tristan.
Sagara menolehkan kepalanya dengan pelan untuk menatap keadaan teman-temannya yang juga terlihat sangat kacau.
Iya, mereka semua sangat kacau, semuanya hancur bersama dengan kenyataan yang mengatakan kalau mereka tidak akan pernah bisa melihat Feli lagi. Wanita itu akan menghilang bersama dengan senyumannya yang menenangkan.
“Aku mau di sini. Aku mau menemani Feli..” Dengan suara bergetar karena terus berusaha menghentikan tangisannya, Tarisha menjawab pertanyaan Tristan.
“Tarisha—”
“Tidak, aku mau menemani Feli di sini. Biarkan aku menemani sahabatku, Tristan..” Kata Tarisha dengan pelan.
Bersama dengan kalimat yang dia katakan, Tarisha kembali meneteskan air matanya lalu diikuti dengan tetesan yang lainnya.
Benar, siapa yang tidak merasa kehilangan kalau mereka harus menerima kenyataan menyakitkan ini?
Sagara sendiri tidak bisa menghentikan air matanya. Feli adalah segalanya bagi Sagara.
“Kuatkan hatimu, Sagara.. kita harus menghadapi ini. Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama..” Kata Tristan sambil menyentuh bahu Sagara.
Sagara sama sekali tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Tristan. Pria itu mencoba menguatkan orang lain ketika Sagara bisa melihat dengan jelas kalau Tristan juga sedang terluka. Pria itu juga hancur karena untuk yang kedua kalinya dia harus melihat wanita yang sangat dia sayangi mati dengan cara yang sangat tidak wajar..
Kenapa harus Feli? Kepergian wanita itu melukai semua orang.
Bukan hanya Sagara saja, Tristan juga juga sedang merasa hancur. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Tristan mengatakan kalau dia menganggap Feli sebagai adiknya, dia akan menjaga Feli karena tidak ingin ada hal buruk yang akan terjadi pada wanita itu, tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang ini.. Bisakah membayangkan betapa hancurnya Tristan sekarang?
Sagara kembali mengusap air matanya. Ini sangat sulit untuk dimengerti..
“Menangislah kalau kamu memang ingin menangis, Tristan. Ini sangat sulit untuk kita semua..” Kata Sagara sambil menatap Tristan.
Saat itu juga Sagara melihat jika pertahanan Tristan mulai runtuh. Bersamaan dengan semua itu, Tristan kembali meneteskan air matanya dengan pelan.