Bab 69

1436 Kata
34 Hari Sebelum Persidangan Ken melangkahkan kakinya dengan pelan untuk masuk ke dalam sebuah tempat dengan cahaya minim. Ini memang sebuah rumah makan yang cukup mewah, tapi entah kenapa auranya terasa sangat berbeda ketika Ken melangkahkan kakinya untuk masuk. Kalau tempat ini nyaman dan menyenangkan, besok Ken akan mengajak Feli datang ke sini dan menikmati hari mereka bersama. Ken tersenyum ketika mengingat wanita itu. Feli pasti sedang bersenang-senang bersama dengan Caleb. Ken harap tidak ada hal buruk yang akan terjadi karena jujur saja, setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Ken merasa sedikit khawatir jika Feli pergi hanya bersama dengan Caleb saja. Bagaimanapun juga Feli tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan Caleb yang kadang-kadang sama sekali tidak bisa dikendalikan dengan mudah. Ken menghembuskan napasnya dengan pelan. Setiap kali mendapatkan terapi, Caleb akan berubah menjadi lebih baik, pria itu akan lebih mudah dalam mengendalikan emosinya karena memang itulah tujuan dia diberikan terapi tidur. Ken sebenarnya juga tidak terlalu tahu dengan apa yang dilakukan oleh terapis itu, tapi dulu Caleb pernah mengatakan kalau setiap kali terapi, Caleb akan diminta untuk menceritakan kesehariannya lebih dulu, setelah itu Caleb akan memilih lagu yang akan dia dengarkan untuk tidur. Iya, kata Caleb hanya itu saja.. Ken memang tidak memiliki banyak waktu untuk selalu mengurusi Kakaknya, Ken hanya mencoba untuk tetap memberikan segala hal yang terbaik agar Caleb juga tetap merasa nyaman dengan semuanya. Ken sudah melakukan kesalahan hingga akhirnya membuat Rosaline memutuskan untuk keluar drai rumah, sekarang Ken tidak akan melakukan hal yang sama dengan membuat Caleb merasa tidak nyaman dengan sikapnya. Seperti apa yang dikatakan oleh Feli, Ken memang harus mulai memperbaiki semuanya. Ken harus datang kepada Rosaline dan meminta maaf pada Kakaknya itu. Kata Feli, jika Ken berbicara dengan baik-baik, Rosaline pasti akan memberikan restunya. Iya, Ken memang sedang sangat sibuk beberapa hari ini, tapi Ken pasti akan segera meluangkan waktunya untuk berbicara serius dengan Rosaline. Bagaimanapun juga pernikahannya dengan Feli tidak boleh diundur. Ken memang melakukan kesalahan dengan berpikir kalau pernikahannya diundur saja. Tidak, itu bukanlah solusi dari masalah yang sedang terjadi. Sebenarnya, satu-satunya hal yang harus Feli lakukan adalah datang pada Rosaline dan meminta dengan baik-baik agar Kakaknya itu mau mengerti dengan keadaannya, ya.. sama seperti yang dilakukan oleh Feli ketika wanita itu meminta restu pada Rosalne. Feli mengatakan kalau Rosaline sudah memberikan restunya, Ken hanya harus memperbaiki hubungan mereka saja. Sebenarnya Ken juga merasa tidak nyaman kalau dia harus terus bermasalah seperti ini. Rosaline adalah Kakaknya sendiri, sangat tidak mudah kalau kita harus bermusuhan dengan seseorang yang kita panggil sebagai Kakak. Ken melihat seseorang melambaikan tangannya ketika Ken mulai melangkahkan kakinya untuk masuk. Baiklah, entah apa pembicaraan penting yang akan terjadi kali ini, tapi Ken harus menyiapkan semuanya agar tidak terlihat canggung dan gugup. Ken menghembuskan napasnya lalu melangkahkan kakinya untuk mendekati meja itu. “Maaf membuatmu menunggu, Daddy..” Kata Ken sambil duduk di depan seorang pria paruh baya yang usianya mungkin sama dengan usia Papanya jika saja beliau masih hidup. *** Ken sungguh tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Semua ini memang sangat sulit untuk dipercaya. Ken meletakkan kepalanya pada sandaran kursi. Seharusnya Ken sudah dalam perjalanan pulang sekarang, tapi Ken benar-benar masih mencoba menyadarkan dirinya dari keterkejutan yang baru saja melandanya. Tidak cerita yang baru saja dia dapatkan memang sebuah cerita lama yang seharusnya tidak mempengaruhi Ken sama sekali. Tapi entah kenapa Ken jadi merasa jika.. jika ada sesuatu yang salah di sini. Iya, Ken memang sudah berjanji untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang pertemuan ini. Benar, Ken memang bukan orang yang suka mengingkari janjinya. Ken tidak akan mengatakan apapun tentang pertemuan ini tapi sungguh.. Ken juga tisak akan sanggup menyimpan sendiri apa yang baru saja dia ketahui. Ini memang sebuah cerita masa lalu, tapi Ken benar-benar merasa tidak bisa mempercayainya. Tidak, Ken tidak bisa mempercayainya. Apa yang harus Ken lakukan sekarang? Iya, Ken memang sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun yang dia dengar hari ini kepada siapapun terlebih pada Feli. Ini rahasia besar yang harus Ken jaga dengan baik. Ken mengusap kepalanya dengan pelan. Sepertinya Ken harus segera kembali karena ini sudah cukup malam. Kenapa Feli tidak menghubunginya sejak tadi? Dimana wanita itu? Ken langsung mencari letak ponselnya ketika dia menyadari kalau sejak tadi dia sama sekali tidak mendapatkan kabar apapun tentang Feli yang sedang berjalan-jalan bersama dengan Caleb. Ah, Ken harap kalau semuanya baik-baik saja. Ken menghembuskan napasnya dengan pelan ketika dia melihat jika ponselnya mati. Iya, benda pipih itu kehabisan daya hingga akhirnya mati. Baiklah, sepertinya Ken memang harus bersabar selama beberapa menit lagi karena sekarang ponselnya masih belum bisa dinyalakan. Sambil mengisi daya ponselnya, akhirnya Ken memutuskan untuk segera menjalankan mobilnya dengan pelan untuk segera melaju menuju ke rumah. Ken harap kalau Feli sudah ada di rumah dan sekarang sedang menunggunya dengan semangkuk sereal kesukaan wanita itu. Ken tersenyum ketika menyadari apa yang akan segera dia miliki. Iya, cerita yang tadi Ken dengar adalah bagian dari masa lalu seseorang yang seharusnya tidak mempengaruhi Ken sama sekali. Apapun yang terjadi, Ken tetap akan menikah Feli karena sebenarnya mereka berdua diciptakan untuk saling memiliki. Ken adalah milik Feli dan begitu juga sebaliknya. Mereka tidak akan pernah ada tanpa satu sama lain. Iya, hanya tinggal sebentar lagi. Hanya tinggal menunggu selama beberapa saat sampai akhirnya Ken bisa sepenuhnya memiliki Feli, menjadikan Feli istrinya, mencintai wanita itu dengan cara yang lebih luar biasa lagi. Ken sama sekali tidak percaya kalau akhirnya mereka sampai pada titik ini. Feli dan Ken mampu melewati semua ini. Mereka mampu melewati sebuah perjalanan panjang yang akhirnya membawa mereka sampai pada titik ini. Akhirnya, setelah sekian lama berjuang bersama, sekarang mereka bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia. Tidak ada yang bisa memisahkan Feli dan Ken kecuali maut. Ken menyentuh ponselnya yang mulai kembali menyala sekalipun jumlah daya ponselnya masih sangat rendah. Ken mengernyitkan dahinya ketika dia mendapatkan banyak sekali notifikasi panggilan tidak terjawab dari.. dari Rosaline? Ada apa? Kenapa Kakaknya menghubunginya sampai sebanyak ini? Ken memang merasa sedikit cemas karena jujur saja seharian ini dia merasa tidak enak. Ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran Ken. Apakah ada hal yang buruk? Tidak mungkin Rosaline menghubungi dirinya jika tanpa alasan yang jelas, bukan? Astaga, apa yang sebenarnya terjadi? Ken menepikan mobilnya lalu kembali fokus pada ponselnya yang masih tersambung dengan kabel ke mobilnya agar tetap bisa mengisi daya ponsel itu. Ken mencari nama Kakaknya lalu langsung menghubunginya dengan cepat. Tidak perlu waktu yang lama bagi Rosaline untuk langsung menjawab panggilan Ken. Lagi, Ken kembali merasa khawatir tanpa alasan yang jelas. Perasaan ini memang sudah ada sejak tadi pagi, Ken mencoba untuk mengabaikan perasaan khawatir ini karena dia ingin selalu berpikiran positif, tapi sekarang ketika Ken mendengarkan suara tangisan Rosaline, Ken merasa kalau memang ada hal buruk yang terjadi. Ken menghentikan mobilnya di bahu jalan, dia harus menenangkan dirinya dulu sebelum mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Rosaline. “Kak, ada apa?” Tanya Ken dengan cepat. Ken tahu kalau ada sesuatu yang buruk, perasaan Ken tidak bisa dibohongi. Apapun yang terjadi, Ken berharap kalau semuanya tetap baik-baik saja. “Kak Rosaline, ada apa? Katakan dengan jelas!” Ken kembali berbicara ketika satu-satunya suara yang dia dengar adalah tangisan Rosaline. Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau Kakaknya itu bisa menghubungi Ken, itu artinya dia masih baik-baik saja. Lalu, apa yang terjadi. “Ka-kamu dimana, Ken?” Dalam tangisannya Ken mendengar Kakaknya berusaha keras untuk bertanya dengan suara yang jelas. Apa ini? “Ada apa, Kak? Katakan dengan jelas, ada apa?” Tanya Ken dengan keras. Ken sama sekali tidak bisa menahan dirinya saat ini. Apa yang sedang terjadi? Kenapa Kakaknya menangis dengan pilu? “Datanglah ke sini.. tolong datanglah ke sini.. Cepatlah datang.. aku akan mengirimkan alamatnya padamu..” Ken semakin mengernyitkan dahinya. Ada apa? Kenapa Ken harus cepat datang? Ken mendengar suara detak jantungnya sendiri karena sungguh, sekarang dia sama sekali tidak bisa menghentikan perasaan cemas yang terus menghimpit dadanya. Ken sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi tangisan Rosaline menjelaskan kalau memang ada hal yang salah.. Ken menghembuskan napasnya dengan pelan. Dia harus tetap tenang karena sekarang dia berada jauh dari rumahnya. “Katakan padaku, ada apa? Ada apa, Kak?” Tanya Ken sekali lagi. Lalu, kalimat yang dikatakan oleh Rosaline beberapa detik kemudian membuat Ken merasa kalau dia kehilangan dirinya. Ken merasa kalau detak jantungnya berhenti bersama dengan aliran darahnya yang membeku. “Feli.. Feli, Ken. Tolong datanglah ke sini.. Aku mohon, aku akan menjelaskan semuanya.. Datanglah ke sini..” Feli? Ada apa dengan wanita itu? Apa yang terjadi pada Feli? Tidak, jangan sampai ada hal buruk yang terjadi pada Feli. Tolong, jangan sampai ada hal buruk yang terjadi. Tolong, jangan menghancurkan satu-satunya orang yang menjadi dunianya.. jangan..  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN