34 Hari Sebelum Persidangan
“Apakah perjalanannya masih jauh? Aku merasa kalau aku ingin buang air kecil..”
Sagara menggelengkan kepalanya dengan pelan ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Tarisha.
Sejak tadi wanita itu memang membuat perjalanan ini menjadi sedikit lebih rumit dibandingkan dengan yang biasanya. Tarisha meminta berhenti di mini market karena wanita itu merasa lapar dan bosan, lalu sekarang dia kembali meminta berhenti.
Baiklah, seharusnya Sagara sudah tahu kalau wanita akan membuat perjalanan jauh ini menjadi sedikit lebih rumit dibandingkan dengan yang biasanya.
“Aku akan menjadi pom bensin terdekat di sini..”
Seperti biasanya, Tristan adalah pria yang paling sabar dalam menghadapi apapun yang diinginkan oleh seorang wanita. Bukan hanya dengan kekasihnya saja, pria itu memang selalu mengerti apapun yang diinginkan oleh semua wanita.
Sagara hanya bisa menghembuskan napasnya dengan pelan sambil mendengarkan penjelasan Tristan jika beberapa ratus meter lagi mereka akan menemukan pom bensin.
Sagara seharusnya sudah mempersiapkan semua ini. Menganjak seorang wanita untuk melakukan perjalanan yang sedikit jauh memang akan merepotakan, tapi Sagara sudah terlanjur mengajak Tarisha yang artinya dia harus menerima semua konsekuensi dari ini semua.
“Aku tidak mengerti kenapa aku harus mengajakmu hari ini..” Kata Sagara setelah menghentikan mobilnya di pom bensin yang dikatakan oleh Tristan.
Tristan tertawa pelan ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Sagara. Iya, dibandingkan dengan Sagara, Tristan jelas jauh lebih mengerti dengan beberapa hal aneh yang sering dilakukan oleh seorang wanita.
Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa sampai sekarang Sagara masih betah dengan kesendiriannya ini. Selain karena Sagara memang tidak sedang menyukai siapapun selain Feli, Sagara sebenarnya juga belum siap dengan semua kerumitan yang dilakukan oleh seorang wanita.
“Wanita memang seperti itu. Belajarlah untuk mengerti bagaimana sifat mereka sekalipun sampai sekarang sebenarnya aku juga belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Tarisha. Jujur saja selama ini Tarisha memang masih sering merasa cemburu ketika melihat aku bersama dengan Feli, tapi dia mencoba untuk menyembunyikan perasaan itu..”
Sagara sama sekali tidak mengerti kenapa Tristan malah jadi menceritakan tentang kekasihnya pada Sagara.
Entahlah, selama ini Sagara memang masih tidak memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan wanita. Sagara masih menikmati kehidupan yang bebas. Sagara bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, oleh sebab itulah dia belum berminat untuk menjalin hubungan serius dengan satu wanita saja. Mungkin suatu saat nanti Sagara akan menemukan seorang wanita yang akan mengerti dengan keadaannya, tapi tidak dalam waktu dekat.
Bukankah hati seseorang hanya bisa terisi dengan satu nama saja? Selama ini Sagara masih mempertahankan nama Feli, Sagara juga belum berniat untuk menghapusnya. Ya sudah, biarkan saja seperti ini selama beberapa saat yang akan datang.
“Lalu kenapa kamu berdekatan dengan Feli? Aku pikir selama ini Tarisha sudah mengerti dengan kedekatanmu dan Feli..” Kata Sagara dengan tenang.
Sagara mengulurkan tangannya ke arah jok belakang dimana ada dua kantung penuh yang berisi makanan ringan yang dibeli oleh Tarisha ketika mereka mampir ke mini market beberapa menit yang lalu.
Jika mereka baru saja berhenti di mini market, kenapa tidak sejak tadi saja Tarisha ke toilet?
Astaga, Sagara seharusnya sudah menyadari resiko apa yang harus dia terima kalau dia mengajak kekasih Tristan itu. Berbeda dengan Feli tidak terlalu merepotkan, Tarisha adalah sebaliknya. Kadang-kadang wanita itu bisa menjadi sangat pengertian tapi kadang dia juga bisa jadi sangat merepotkan.
Sudahlah, Sagara harus menikmati semua ini karena dia sudah terlanjur membawa Tarisha sampai ke sini. Tristan akan membunuhnya kalau Sagara mengurungkan niatnya untuk mengajak Tarisha.
“Mau bagaimana lagi? Aku memang tidak akan bisa menjauhi Feli. Dia seperti adikku sendiri. Sekarang Tarisha memang sudah sangat dekat dengan Feli, tapi kita tidak tahu betapa rumitnya pikiran seorang wanita. Dia bisa cemburu bahkan kepada kakak perempuannya sendiri..”
Sagara menggelengkan kepalanya dengan pelan. Benar, tidak ada yang tahu betapa rumitnya pikiran seorang wanita. Selama ini Sagara tidak ingin tahu dan sampai sekarang Sagara juga masih tidak ingin tahu.
Sagara sudah berusaha mengerti dengan satu wanita, itu saja sudah cukup untuk Sagara. Dengan segenap kekuataannya, Sagara mencoba untuk mengerti setiap keadaan Feli, mencoba mengerti jika Feli sangat mencintai Ken, mencoba mengerti kalau selama ini kebahagiaan Feli adalah yang utama. Iya, mengerti tentang hal-hal yang selama ini tidak pernah ingin dia mengerti. Sagara melakukan hal yang benar kalau dia menjaga jaraknya dengan Feli dan terus memastikan kalau Feli tetap bahagia.
“Tapi kamu sangat mencintainya..” Kata Sagara dengan pelan.
Sagara melihat Tristan langsung tersenyum ketika mendengar apa yang Sagara katakan.
Selama ini, semenjak adiknya meninggal, Tristan memang berubah menjadi orang yang sulit dimengerti oleh Sagara. Tristan lebih banyak diam dan merenung sendirian.
Sagara adalah salah satu orang yang menjadi saksi atas kehancuran yang dirasakan oleh Tristan. Sagara melihat setiap usaha yang dilakukan Tristan agar dia bisa tetap melanjutkan hidupnya, Sagara melihat bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh Tristan untuk melawan segala rasa sakit yang terus bersarang di dalam hatinya. Sagara tahu kalau selama ini Tristan sangat terpuruk dengan keadaannya, tapi pria itu tetap berusaha bangkit karena dia ingin menunjukkan pada semua orang kalau bertahan hidup adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan.
Setelah beberapa tahu berlalu, Tristan memang mulai membaik. Ya, apalagi setelah Tristan bertemu dengan Feli. Tristan seperti kembali menemukan harapan baru di dalam hidupnya.
Sagara tahu kalau Tristan sangat menyayangi Feli. Bukan, bukan sebagai seorang wanita, lebih tepatnya sebagai adiknya yang pernah menghilang. Selama ini Tristan kembali menghidupkan dirinya lewat kehadiran Feli dan kedatangan Tarisha di dalam hidup Tristan membuat pria itu menjadi lebih baik lagi..
“Aku menemukan kembali harapan di mata Feli, tapi aku sadar kalau wanita itu adalah adikku. Aku tidak pernah berharap kalau aku akan jatuh cinta padanya dan memiliki keinginan untuk menikahinya. Tidak, bukan seperti itu perasaan yang aku rasakan pada Feli. Wanita itu akan tetap menjadi adikku, aku sadar akan hal itu sejak pertama aku bertemu dengannya. Tapi bersama Tarisha aku merasakan hal yang berbeda. Tarisha adalah satu-satunya orang yang membuat aku kembali memiliki keinginan dalam hidupku.. dia adalah harapan yang tidak pernah sanggup aku katakan dalam setiap doaku..” Kata Tristan dengan pelan.
Sagara menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia sama sekali tidak menyaka kalau Tristan ternyata sangat menggelikan seperti ini.
“Bagaimana denganmu? Keadaan hatimu baik-baik saja?” Tanya Tristan sambil menatap Sagara.
Entahlah, sepanjang hari ini Sagara merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres. Perasaannya sangat tidak nyaman. Sagara terus merasa khawatir tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sagara mengendikkan bahunya dengan pelan, ini memang bukan pertanda yang baik, tapi Sagara juga tidak bisa langsung mempercaya apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Ini hanya perasaan saja, bisa benar dan bisa tidak benar.
Akhirnya, hal yang bisa dilakukan oleh Sagara adalah menghembuskan napasnya dengan pelan.
“Semakin hari semuanya semakin berat. Aku sungguh tidak tahu harus melakukan apa lagi..” Kata Sagara.
“Iya, aku sangat mengerti dengan posisimu. Segeralah berbaikan dengan keadaan. Bukankah kamu mengatakan kalau kamu akan selalu bahagia jika melihat Feli bahagia? Wanita itu akan mendapatkan kebahagiaannya ketika dia bersama dengan Ken..” Kata Tristan.
Sagara menganggukkan kepalanya dengan pelan. Iya, Sagara juga tahu kalau Feli akan selalu bahagia kalau dia bersama dengan Ken.
Tidak masalah, mau tidak mau Sagara harus tetap merelakannya.
“Aku sudah mengusahakan yang terbaik..”
***
Sagara sedang mengemudikan mobilnya dengan santai ketika dia mendengar suara ponselnya yang berdering dengan nyaring.
Sagara mengernyitkan dahinya ketika dia melihat nama Yuda yang muncul di layar itu.
Untuk apa Yuda menghubunginya?
Sagara mengambil ponsel untuk ditempelkan ke telinganya. Sambil tetap memperhatikan jalan yang ada di depannya, Sagara mengangkat panggilan itu dengan sangat santai.
“Ya, Yuda?”
Sagara tahu kalau sekarang Tristan juga sedang menatap kebingungan ke arah Sagara karena panggilan yang dilakukan oleh Yuda.
Sagara mengernyitkan dahinya ketika dia mendengar suara ribut di ujung teleponnya.
Apa yang sedang terjadi?
Tiba-tiba Sagara kembali merasakan perasaan yang sangat tidak tenang.
Apa yang dilakukan oleh Yuda? Kenapa Sagara bisa mendengar suara keributan dan juga sirine polisi? Apakah temannya itu sedang dalam bahaya? Atau sedang dalam masalah?
Sagara semakin mengernyitkan dahinya ketika sekarang suara keributan itu semakin terdengar dengan jelas. Bahkan beberapa kali Sagara sempat mendengar suara jeritan dan tangisan.
Astaga, apa yang terjadi?
“Yuda? Ada apa?” Tanpa sadar Sagara meninggikan suaranya karena sekarang jantungnya sedang berdetak dengan kencang. Perasaan tidak enak kembali menguasai dirinya.
“Ada apa?” Tanya Tristan yang duduk di sampingnya.
Sagara menggelengkan kepalanya dengan pelan karena dia masih belum mendapatkan informasi apapun dari Yuda.
Apa-apaan pria itu? Kenapa dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sagara.
“Biarkan aku saja yang berbicara dengannya..” Kata Tristan sekali lagi.
Sagara kembali menggelengkan kepalanya karena dia benar-benar ingin mendengar sendiri dari Yuda tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Yuda, ada ap—”
“Kamu sedang dimana, Sagara?”
Sagara merasa kalau jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Kenapa suara Yuda terdengar bergetar? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Aku sedang di jalan. Ada apa sebenarnya?” Tanya Sagara dengan cepat.
Sagara memperhatikan jalanan di depan yang gelap. Ini sudah malam, apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Yuda.
“Kembalilah.. kembalilah ke sini dengan cepat..”
Sagara kembali mengernyitkan dahinya. Ada sesuatu yang salah dengan suara Yuda. Apa yang sebenarnya terjadi? Pria itu terdengar seperti sedang menahan tangisannya..
“Ada apa sebenarnya?!”
“Feli.. Feli meninggal, Sagara. Dia sudah meninggal..”
Saat itu juga Sagara merasa kalau dia kehilangan pijakannya di bumi.
Tidak..
Tidak..
Ini sama sekali tidak mungkin.
“Ada apa, Sagara?” Tristan dan Tarisha langsung menanyakan hal yang sama tapi Sagara sama sekali tidak bisa mengatakan apapun.
Sagara hanya meletakkan ponselnya dengan pelan lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ini sama sekali tidak mungkin.. ini tidak mungkin terjadi.
“Ada apa, Yuda?”
Samar-sama Sagara masih mendengar jika sekarang Tristan menggunakan ponselnya untuk berbicara dengan Yuda.
Entahlah, Sagara sama sekali tidak bisa melakukan apapun..
Sagara seperti kehilangan dirinya sendiri.. dia kehilangan hidupnya..
Feli..
Tidak, ini sama sekali tidak mungkin..
Sagara sudah tidak mempedulikan air matanya yang langsung mengalir begitu saja, Sagara sama sekali tidak peduli akan apapun juga..
Sekarang hanya ada satu hal yang ingin dilakukan oleh Sagara. Sagara ingin menemui Feli..
Ini sama sekali tidak mungkin.. ini tidak mungkin..
Tidak, ini tidak mungkin!